Read More >>"> L & A (Makan Malam) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - L & A
MENU
About Us  

Di sinilah Leo. Duduk di ruang tamu dengan televisi menyala dan bunyi berisik dari dapur. Dia masih mencoba meningat-ingat kapan ia telah mengiyakan ajakan Riu untuk makan malam di rumah gadis itu. Hal yang lebih gila lagi, Leo harus menginap di sini. Padahal kurang dalam satu jam dia bisa sampai di apartmennya dan tidur saja.

Mata Leo menyisir setiap sudut ruangan berukuran 5m x 5m ini. Dari awal masuk, Leo bisa mencium wangi buah-buahan di ruangan itu. Di bagian sebelah kanan ada televisi berukuran 42 inci bertengger di atas lemari televisi ukuran kecil lengkap di dalamnya ada banyak kaset film atau musik, mungkin. Di kedua belah sisi lemari itu ada 2 pot besar bunga plastik. 

Tidak ada gantungan gambar atau foto di dinding. Bercat warna putih polos dan rumah ini benar-benar tidak bernilai seni sedikitpun, sama seperti pemiliknya.

Merasa bosan dengan acara televisi, Leo berniat untuk mengintip Riu di dapur. Ingin tahu gadis itu sedang memasak apa untuk makan malam yang dijanjikannya.

"Hai, Kak. Sudah lapar, ya?" sapa Riu saat melihat Leo datang.

Leo menatap Riu yang sedang membalik ikan yang sedang ia goreng. "Belum. Ada yang bisa aku bantu?" tanya Leo.

Leo berbicara dengan sebutan 'aku' sejak beberapa saat lalu karena Riu mengeluhkan Leo menggunakan kata 'saya'.

"Kak, bisa ngga pakai saya, ngga? Aku merasa asing."

Asing? Kamu memang asing buatku.

Riu tertawa kecil. "Ngga usah. Ini pekerjaan perempuan. Kakak duduk saja. Tunggu di sana. Aku punya makanan di dalam kantong di atas meja" kata Riu tanpa menoleh.

Leo menghela napas, melihat wajah berkeringat Riu. "Kita kan sama-sama lapar. Biarkan aku membantu agar cepat selesai. Mana yang harus aku kerjakan? Membuka kulit bawang? Kentang ini? Aku bisa," kata Leo duduk di kursi dan mencari pisau.

Riu terdiam. Dia mencuci tangan dan melihat ke arah Leo yang sedang membuka kulit kentang. Riu mengambil sebuah panci kecil, mengisinya dengan air dan meletakkan di samping Leo.

Leo menoleh. Dia tersenyum pada Riu. "Terimakasih," katanya.

Gadis itu masih dirundung kebingungan, meski Leo sudah selesai memotong kentang dan memberikannya pada Riu untuk digoreng. "Orang tua kamu di mana? Kenapa tinggal sendiri?" tanya Leo tiba-tiba.

Riu mengerjap menatap kentang di dalam panci itu. "Ada di rumah mereka masing-masing," jawab Riu.

"Masing-masing?" tanya Leo tidak mengerti.

"Mereka bercerai," sahut Riu.

"Di kota ini?" tanya Leo lagi.

"Tidak."

Leo diam. Jawaban dari Riu membuat dia tidak punya pertanyaan lain.

"Kenapa nama Kakak, Leo?" tanya Riu tiba-tiba.

Leo tersentak. Dia menatap Riu bingung. Tidak ada yang pernah menanyakan kenapa dia bernama Leo sebelumnya. Bahkan Leo juga tidak pernah mencari tahu kenapa orang tuanya memberi nama Leo.

"Lahir di bulan Agustus, ya? Atau akhir Juli?" tanya Riu lagi.

"1 Agustus," sahut Leo.

Riu melirik Leo sekilas. Dia tersenyum kecil. Kemudian berbalik untuk mengambil sebuah piring untuk menyalin ikan yang sudah matang. "Aku sudah menduga," katanya.

"Menduga apa?"

"Kenapa nama Kakak Leo."

"Memangnya kenapa?"

"Orang-orang yang lahir di antara tanggal 22 Juli sampai 20 Agustus adalah pemilik zodiak Leo," sahut Riu, kemudian menggoreng kentang-kentang tadi.

"Kamu peramal?"

"Iya," sahut Riu asal.

"Benarkah?"

Riu melirik sekilas. Lalu mengangguk.

Pria itu mengerutkan dahi. Merasa tidak percaya dengan apa yang telah Riu ucapkan. "Coba ramal aku," ucapnya penasaran.

Riu tampak berpikir-pikir sejenak. Dia bergumam. "Baiklah, aku akan mencobanya." Dia memejamkan mata seolah sedang berpikir keras.

"Kakak orang yang keras kepala. Berjiwa pemimpin, populer di dalam satu kelompok, maksudku mencolok. Tidak suka pada wanita yang melebihi diri kakak. Suka memimpin hubungan, cemburuan mungkin..hm" Riu berpikir-pikir lagi.

"Mudah jatuh cinta?"

Leo terkekeh. "Dari mana kamu tahu aku mudah jatuh cinta?"

"Maksudku, mudah suka pada wanita cantik, mewah, yah.. bergitulah.." kata Riu acuh sambil mengaduk kentang gorengnya di dalam kuali.

"Lalu apa lagi?" tanya Leo, mulai tertarik.

"Unsur zodiak Leo adalah api. Api itu panas. Jadi orangnya mudah terpancing amarah. Terbakar api cemburu. Energik terhadap sesuatu. Selalu ingin mendapatkan apa yang ia mau dengan berbagai cara..."

"Dan memiliki rasa humor.. yah, sedikit," tambahnya.

"Sedikit?" Leo mengernyit.

"Coba nilai sendiri," sahut Riu.

Riu selesai menggoreng semua kentangnya, lalu dia mengambil semua cabai yang sudah dia ulek dengan cobek, dan memasukkannya ke dalam minyak panas bekas menggoreng kentang tadi.

"Kakak suka cabai begini?" tanya Riu.

"Ngga ditambahin gula?" Leo bertanya.

"Kakak orang mana, sih?" tanya Riu.

"Sunda."

Riu tertawa kecil. "Pantas saja."

"Jadi mau ditambahin gula?" tanya Leo lagi.

"Nanti saja, saat terakhir. Akan aku pisah."

"Kenapa?"

"Aku ngga suka manis."

Leo diam. Tidak bertanya lagi. Riu mulai membersihkan beberapa peralatan masak. Mengelap meja, meletakkan bahan-bahan masakan ke dalam kulkas dan beberapa lainnya.

Akhirnya memasak selesai. Riu sudah mempersiapkan segala keperluan untuk makan malam, maksudnya makan larut malam di jam 10 ini. Sudah ada piring, gelas berisi air minum, ikan goreng, dua mangkuk sambal, satu botol saus sambal, kerupuk, kentang goreng, dan itu saja. Riu tidak memasak yang lain. Karena akan memakan waktu.

Gadis itu berjalan ke ruang tamu, mencari Leo. Tidak ada. Saat melihat pintu terbuka Riu bisa mengintip Leo dari celah pintu. Dia membuka pintu tersebut dan melihat Leo sedang berjongkok duduk di depan teras rumah menghadap ke jalan.

"Kakak merokok?" tanya Riu.

Pria itu terkejut. Dia berbalik dan melihat Riu yang masih menggunakan celemek berwarna kuning dengan gambar spongebob. Leo melirik batang rokoknya yang tinggal setengah, lalu menatap Riu. "Iya," jawabnya. "Aku tidak mungkin mengisapnya di dalam. Oh, iya. Aku akan matikan," tambahnya.

"Tidak usah. Habiskan saja," kata Riu cepat. "Aku cuma mau memberi tahu kalau makan malamnya sudah selesai. Aku tunggu di meja makan," lanjutnya.

Riu berlalu dari pintu, masuk ke dalam dan melepas celemeknya.

Leo menghisap batang rokoknya sekali, lalu membuangnya ke tanah dan menginjaknya. Kemudian dia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.

***

"Kaca mata Kakak ukuran berapa?" tanya Riu saat melihat Leo sedang membetulkan kaca matanya, di sela-sela makan.

Leo mengangkat kepala. "Oh? Kiri 1,75 silinder dan kanan 0,75 silinder."

Gadis itu mengangguk mengerti. "Ngomong-ngomong, jauh ya bedanya," katanya sambil mengamati mata Leo. "Tapi sama aja ya, bentuk matanya," tambahnya lagi.

Leo terkejut. "Memangnya kalau ukuran lensa matanya berbeda matanya akan terlihat berbeda, begitu?" tanya Leo bingung.

Riu tertawa, lalu dia menegak minuman dari gelasnya. "Aku bercanda," kekehnya. "Makan lagi. Ini tambahkan kerupuk. Yang putih ini kerupuk ikan, yang ada warna pink ini kerupuk udang. Pilih saja," tawar Riu menyodorkan kedua kaleng kerupuk dengan rasa berdeba.

Leo terdiam saat Riu tertawa. Jadi saat Riu mengalihkan pembicaraan dengan menawarkan kerupuk ke depannya, Leo tidak ingin bertanya apa-apa. Dia mengambil satu kerupuk udang, mengunyahnya dengan nasi agar suaranya tidak kentara.

"Oh, iya. Maaf ya aku hanya memasak ini. Aku takut memakan waktu, dan kita ngga akan makan sampai tengah malam," kata Riu memecah kebisuan.

Di antara bunyi sendok yang beradu dengan piring, Leo menganggukkan kepala. "Tidak masalah. Terimakasih banyak," ucapnya, tulus.

Sebenarnya sejak bertemu Riu tadi Leo sudah membayangkan bagaimana kakunya dirinya di depan Riu. Gadis kecil yang banyak bertanya ini membuat Leo salah tingkah. Tapi gadis itu sepertinya tidak memperhatikan kegugupan Leo atau memang dia tidak peduli dengan hal itu. 

***

"Ini dia.." seru Riu ketika membawa selimut besar di pelukannya ke ruang tamu. Semua keadaan sudah dikondusifkan. Sofa sudah di susun rapi di sudut dengan dinding, jadi kasur berukuran 1m x 2m bisa terbentang dengan nyaman di atas karpet.

"Aw!"

Riu tersandung kakinya sendiri. Alhasil dia terjun bebas ke kasur itu dengan keadaan tengkurap. Bukannya cepat-cepat berdiri Riu malah tertawa keras dan membalik badannya. Ketika matanya bertemu wajah Leo yang cemas sekaligus bingung Riu berhenti tertawa.

"Ada yang kurang?" tanya Riu seraya bangkit dari duduknya.

Tampak Leo menganggukkan kepala. "Sudah cukup, kok. Terimakasih," katanya, merasa tersanjung.

"Sama-sama," balas Riu ceria. Senyum lebar itu terpampang di wajahnya. Rambut panjangnya tergerai menari-nari di belakang punggungnya. "Selamat malam," ucapnya sambil berjalan ke kamarnya.

"Eh, Riu?" panggil Leo.

Riu berbalik. "Ya?"

"Tolong matikan lampunya," pinta Leo.

Tik!

Riu yang tidak jauh dari kontak lampu langsung menekannya tanpa aba-aba. Dia terkekeh. "Selamat malam Kak Leo. Mimpi seram," ucapnya.

Setelah itu terdengar bunyi pintu tertutup, menandakan Riu sudah di kamarnya. Leo menghela napas. Dia berjongkok, meraba kasur, berbaring dan membentangkan selimut menutupi tubuhnya.

Di antara temaramnya cahaya yang masuk dari lampu di luar rumah, Leo merenung menatap langit-langit ruang tamu. Sesekali Leo tersadar, apa yang sedang dia lalukan di sini. Mengapa dia ikut makan malam dengan anak baru itu dan sekarang tidur di sini seperti sedang menumpang.

Leo menggeser tidurnya ke samping. Apa yang sebaiknya dia lakukan besok pagi. Kabur begitu saja? Atau menunggu Riu bangun dan berpamitan pulang?

Dia menghela napas. Leo yakin gadis itu akan membuat sarapan dahulu, menyuruhnya mandi, dan membuatkan kopi mungkin. Leo berdecak, kenapa juga dia memikirkan hal tersebut. Tidak ada alasan Riu akan melakukan itu dengan senang hati untuk Leo.

Bunyi jarum jam berdetak teratur seperti nyanyian sebelum tidur yang biasa membuat Leo mengantuk. Dia menguap, memejamkan mata, dan melelapkan lelah malam ini. Di rumah Riu, dengan selimut dan kasur Riu, suatu keadaan yang tidak terbayangkan olehnya.

***

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Kisah yang Kita Tahu
30      20     0     
Romance
Dia selalu duduk di tempat yang sama, dengan posisi yang sama, begitu diam seperti patung, sampai-sampai awalnya kupikir dia cuma dekorasi kolam di pojok taman itu. Tapi hari itu angin kencang, rambutnya yang panjang berkibar-kibar ditiup angin, dan poninya yang selalu merumbai ke depan wajahnya, tersibak saat itu, sehingga aku bisa melihatnya dari samping. Sebuah senyuman. * Selama lima...
Puisi yang Dititipkan
3      3     0     
Romance
Puisi salah satu sarana menyampaikan perasaan seseorang. Puisi itu indah. Meski perasaan seseorang tersebut terluka, puisi masih saja tetap indah.
Ruang, Waktu Dan Cinta
40      4     0     
Romance
Piya Laluna, Gadis yang riang itu berubah kala ia ditinggal ayahnya untuk selama-lamanya. Ia kehilangan semangat, bahkan ia juga jarang aktif dalam komunitas sosialnya. Selang beberapa waktu, ia bertemu dengan sosok laki-laki yang ia temui di beberapa tempat , seperti toku buku, halte, toko kue, dan kedai kopi. Dan di ruang waktu itulah yang memunculkan rasa cinta diantara keduanya. Piya yang sed...
SOLITUDE
15      8     0     
Mystery
Lelaki tampan, atau gentleman? Cecilia tidak pernah menyangka keduanya menyimpan rahasia dibalik koma lima tahunnya. Siapa yang harus Cecilia percaya?
Cinta (tak) Harus Memiliki
17      17     0     
Romance
Dua kepingan hati yang berbeda dalam satu raga yang sama. Sepi. Sedih. Sendiri. Termenung dalam gelapnya malam. Berpangku tangan menatap bintang, berharap pelangi itu kembali. Kembali menghiasi hari yang kelam. Hari yang telah sirna nan hampa dengan bayangan semu. Hari yang mengingatkannya pada pusaran waktu. Kini perlahan kepingan hati yang telah lama hancur, kembali bersatu. Berubah menja...
Praha
7      7     0     
Short Story
Praha lahir di antara badai dan di sepertiga malam. Malam itu saat dingin menelusup ke tengkuk orang-orang di jalan-jalan sepi, termasuk bapak dan terutama ibunya yang mengejan, Praha lahir di rumah sakit kecil tengah hutan, supranatural, dan misteri.
pendiam dan periang
4      4     0     
Romance
Dimana hari penyendiriku menghilang, saat dia ingin sekali mengajakku menjadi sahabatnya
Jingga
75      25     0     
Romance
Kehilangan memang sangat menyakitkan... Terkadang kita tak mampu mengekspresikan kesedihan kita membuat hati kita memendam sakit... Tak berakhir bila kita tidak mau mengakui dan melepas kesedihan... Bayang-bayang masa lalu akan selalu menghantui kita... Ya... seperti hantu... Jingga selalu dibayangi oleh abangnya yang sudah meninggal karena kecelakaan... Karena luka yang mendalam membuatnya selal...
TAKSA
2      2     0     
Romance
[A] Mempunyai makna lebih dari satu;Kabur atau meragukan ; Ambigu. Kamu mau jadi pacarku? Dia menggeleng, Musuhan aja, Yok! Adelia Deolinda hanya Siswi perempuan gak bisa dikatakan good girl, gak bisa juga dikatakan bad girl. dia hanya tak tertebak, bahkan seorang Adnan Amzari pun tak bisa.
Good Guy in Disguise
458      360     4     
Inspirational
It started with an affair.