Read More >>"> L & A (Perjalanan Pulang) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - L & A
MENU
About Us  

"Ah, waktunya pulang," seru Fira, berdiri dari kursinya sambil membereskan barang-barang di atas meja dan mematikan komputer dengan buru-buru.

"Aku akan berendam air panas di rumah. Ah.. otot-ototku..." erang Tara. Dia memasukkan buku, ponsel, cermin kecilnya ke dalam tas. "Aku duluan Ri," katanya pada Riu, kemudian berlalu pergi.

"Oke," sahut Riu singkat. Dilihatnya yang lain juga sudah berangsur keluar, tinggal Gilang yang masih duduk di kursinya. Dia bekerja dengan keras sepertinya.

Riu tersenyum. Dia bangkit dari kursinya, menyampirkan tas di bahu kanan lalu beranjak ke ruangan Gilang.

"Hai," sapa Riu. "Sudah mau pulang?" tanyanya.

Gilang menoleh pada Riu yang masih berdiri di ambang pintu. Dia tersenyum seraya berkata dengan nada menyesal, "Hai, Bii. Kamu ngga apa-apa pulang sendiri? Aku harus menyelesaikan ini, mungkin satu jam lagi."

"Oh," Riu mengerjap, "Oke, ngga apa-apa. Kalau begitu aku akan pulang duluan. Dah, Gilang. Jangan bekerja terlalu keras." Dia melambai pada Gilang seraya pergi dari sana.

Gilang tersenyum kecil, dia lihat Riu keluar dari ruangan itu dari balik kacanya. "Hati-hati, Bii," bisiknya.

***

"Mau ke mana kita.." Riu bersenandung kecil sambil menunggu pintu lift terbuka. "Makan ice cream.. beli permen.. atau beli semua cemilan..." Dia terkikik geli sendiri.

Saat menyadari ada seseorang yang sedang menunggu juga di sampingnya, Riu menoleh. Dia terlonjak kaget, pria di sampingnya juga sedikit terkejut melihat reaksi Riu yang berlebihan.

Sontak gadis itu langsung menutupi wajah dengan tas berukuran kecil di samping kanannya. Dia berdecak dalam hati, waktu yang tidak tepat untuk bertemu laki-laki itu.

Terdengar bunyi denting lift, sedetik kemudian pintu terbuka. Lagi, Riu menahan napas melihat tidak ada satu orang pun di ruangan persegi empat itu. 

Leo sudah lebih dulu masuk ke dalam. Dia hanya menatap Riu biasa. Melihat gadis itu masih berdiri di luar, dia berucap pelan, "Ngga masuk?"

Riu tersadar, dia mengerjapkan mata, lalu melangkah masuk ke dalam. Tiba-tiba dari arah depan, seseorang terburu-buru berlari ke arah dalam lift.

"Tungguin!" teriaknya dengan wajah penuh perjuangan. Berlari secepat yang ia bisa sebelum pintu lift tertutup.

"Hah? Kak Dani," gumam Riu. Sontak dia langsung menekan salah satu tombol di samping pintu lift untuk menahan agar pintu itu tetap terbuka.

Pria itu masuk ke dalam lift dengan selamat. Dia terengah-engah mengambil napas. Setelah beberapa saat, dia menegakkan tubuh. Menatap Riu dengan pandangan bahagia. "Makasih, Riu."

Riu tersenyum manis. "Sama-sama Kak Dani," katanya.

Lalu Dani beralih menatap Leo di sampingnya. Pria itu terlihat biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa. "Woi!"

Leo melirik Dani kesal. Dia hanya membalas berdecak.

"Tungguin temen kenapa, sih?" gerutu Dani.

"Kan kamu sudah di sini," sahut Leo malas.

Dani melototkan mata. "Yee... harusnya kamu tadi menahan pintunya. Tidak ada manis-manisnya jadi pria," cetus Dani.

Lalu terdengar suara tawa Riu. Kedua lelaki itu menoleh, menatap Riu bingung. "Tidak ada manis-manisnya," katanya, lalu tertawa lagi.

Leo memandang Riu dengan dahi berkerut. Untuk kedua kalinya Leo kebingungan mencari apa yang lucu dari yang Riu tertawakan.

Dahi mengangguk, lalu menyahut antusias, "Dia pria tidak menyenangkan di kantor ini. Auranya dingin dan punya ekspresi muka datar seperti tembok ini," dia menunjuk wajah datar Leo.

Leo mengenyahkan tangan Dani dari wajahnya. Dia menatap lurus ke depan, membiarkan kedua orang itu menertawakan Leo. Tampaknya lelaki itu tidak memperdulikannya.

***

Riu berjingkat senang berjalan di trotoar. Dia melihat ke kanan dan ke kiri. Mencari apakah ada sesuatu yang menarik untuk dibeli.

"Wah.." dia berdecak melihat swalayan di depannya. Lalu berpikir-pikir sejenak. "Satu minggu lagi gajian. Ngga apa-apa, habiskan uang..." serunya gembira sambil berlari kecil masuk ke dalam swalayan itu. Karena besok hari minggu, malam ini Riu akan menonton televisi dengan lautan makanan.

Dengan segera Riu menuju rak makanan dengan mendorong troli di depannya. Dia mengambil beberapa ciki rasa keju, jagung bakar dan balado. Mengambil roti gandum, selai coklat, sereal, snack dan dua bungkus permen. Kemudian dia berjalan ke tempat buah-buahan, mengambil satu kilo buah pir dan jeruk. Lalu beralih membeli bahan masakan dan beberapa keperluan mandi lainnya. Riu benar-benar ingin menghabiskan uangnya.

***

Leo berdecak, dia kehabisan gula dan beberapa minuman kaleng di kulkas. Pizza beku yang ia miliki hanya tinggal satu kotak. Dia menghela napas. Saat-saat tidak menyenangkan bagi Leo berbelanja keperluan dapur sendirian.

Dengan langkah malas, dia mengambil kunci mobil dan dompetnya di dalam kamar. Berjalan keluar apartemennya dan meluncur mulus ke parkiran di bawah gedung itu. Lagi, Leo berdecak kesal. Dia lupa membawa ponsel. Leo ingin menanyakan keberadaan Ana, mungkin gadis itu bisa membantunya berbelanja kali ini.

Leo masuk ke dalam swalayan. Karena malas mengambil keranjang, dia melenggang saja berjalan ke dalam dan mencari gula. Leo mengambil 3 bungkus gula agar tidak membelinya lagi dalam beberapa waktu ke depan. Lalu dia mengambil beberapa minuman kaleng, meletakkanya di lengan sebelah kiri yang ia apit di depan dada.

Saat Leo sedang memperhatikan rak shampoo dan ingin mengambil salah satunya, Leo menabrak punggung seseorang dan menjatuhkan belanjaannya. Alhasil kaleng-kaleng itu menghasilkan bunyi yang berisik dan menarik perhatian beberapa orang yang berbelanja di sana.

"Maafkan saya," kata Leo pada wanita di depannya.

"Sini aku bantu," kata seorang gadis di samping Leo, membantu mengambil barang-barang Leo dan memasukkan ke dalam troli belanjaannya.

Leo terdiam. Ada Riu di sana, memungut kaleng-kaleng minuman dan belanjaannya, lalu memasukkannya ke dalam troli di dekatnya. Leo berdiri, menatap Riu ragu-ragu.

"Masukin ini juga," katanya mengambil dua bungkus gula di tangan Leo dan memasukkan ke dalam trolinya.

"Loh? Ada tiga? Kakak beli tiga? Mau bikin apa?" tanya Riu, melihat trolinya lalu menatap Leo penasaran.

Leo tersadar. "Oh? Itu untuk satu bulan," jawabnya tergagap.

"Untuk satu bulan?" Riu menatap Leo tidak percaya. "Nanti kadaluarsa," gumamnya.

"Enggak, kok," sahut Leo kikuk.

Riu mengangguk-anggukkan kepala, menatap Leo sebentar lalu mengangguk lagi.

Apa? Batin Leo melihat sikap Riu.

"Ngga ada," kata Riu seolah bisa membaca pikiran Leo. "Aku mau ke kasir. Masih mau beli yang lain lagi, Kak?" tambahnya.

"Ada satu lagi," kata Leo. Lalu mengambil salah satu shampoo berukuran besar di sampingnya dan memasukkan ke dalam troli Riu.

"Oke, ayo," ajak Riu melenggang lebih dulu ke meja kasir, sementara Leo mengikuti dengan patuh.

Setelah membayar belanjaan, mereka meneteng kantong plastik masing-masing. Leo dengan satu kantong plastik berukuran sedang dan Riu dengan dua kantong plastik besar di kedua belah tangannya.

"Duluan, kak," kata Riu, dia berjalan menuju trotoar dan menunggu angkot.

Leo hanya mengangguk dan memperhatikan Riu berdiri di trotoar yang melihat ke kanan dan ke kiri. Saat Riu menoleh ke belakang untuk melihat Leo, pria itu tersentak dan segera memalingkan wajah, berjalan ke arah mobilnya.

Dia menghidupkan mesin mobil, melaju sangat pelan. Diperhatikannya Riu mengernyitkan dahi, mengusapnya dengan punggung tangan. Lalu Leo dengan sengaja berhenti di depan Riu berdiri. Menurunkan kaca mobil dan mendongak menatap gadis itu. "Mau bareng?" tawar Leo ragu-ragu.

Riu menunduk. Menatap Leo sebentar. "Kakak mau ke mana?" tanyanya dengan wajah anak-anak itu.

"Mau mengantar kamu pulang," jawab Leo.

Mata Riu membulat. Dia mengangkat alis bingung. Namun cepat-cepat Leo menambahkan, "Sudah jam 6. Angkot ke rumah kamu pasti sudah ngga ada. Biar aku yang mengantar."

Riu nampak berpikir-pikir sejenak. Namun Leo sudah keluar dari mobil. Membuka pintu mobil di belakang. "Masukan ke sini belanjaan kamu," katanya.

Gadis itu mengerjap. Masih terlihat agak bingung. Namun tak urung dia mengambil kantong plastik tersebut dan menyerahkannya pada Leo. Pria itu mengikatnya terlebih dahulu. Lalu meletakkan di jok mobil.

"Ayo," katanya pada Riu, lalu masuk lebih dulu ke bangku pengemudi.

"Oh?" Riu mengerjap lagi, dia tersadar lalu berjalan mengitari mobil dan masuk dari sebelah kiri.

Riu duduk dengan tenang di tempatnya. Tidak mengucapkan apa-apa, memilih menatap keluar jendela memperhatikan kendaraan lain. Merasa agak aneh berada di dalam mobil berdua dengan Leo, mengingat selama ini dia sudah mati-matian menghindari Leo. Namun melihat kejadian tadi, Leo dan barang belanjaannya jatuh dan menjadi perhatian orang banyak, Riu tidak sampai hati menjadi sama dengan orang-orang yang menonton saja sementara dia mengenal Leo.

***

Leo menyetir dengan santai, menikmati macet yang menahan mereka di perjalanan sampai jam 8 malam. Dia tidak menunjukkan raut lelah ataupun menyesal telah menawarkan untuk mengantar Riu pulang.

"Kakak tinggal di mana?" tanya Riu memecah kesunyian di dalam mobil.

Leo menoleh. "Saya tinggal di apartemen," sahut Leo. Dia menggunakan kata 'saya' dan itu terdengar formal sekali membuat Riu terdiam.

"Di mana?" tanya Riu setelah beberapa saat diam.

"Di Grogol," jawab Leo. Lalu dia menatap Riu ketika mobil berhenti saat lampu merah. "Kamu tinggal dengan siapa di rumah itu?" tanyanya

"Oh? Aku tinggal sendiri," jawab Riu.

"Sendiri?" Dahi Leo mengernyit.

"Sebenarnya rumah itu yang bayar kontrakannya Gilang," kata Riu.

Mendadak Leo terbatuk-batuk setelah mendengar jawaban Riu. Gadis itu menatapnya bingung. Melihat lampu sudah menjadi hijau, Leo menginjak pedal gas dan berbelok ke kiri, berjalan lurus masuk ke dalam perumahan tempat Riu tinggal.

"Kenapa, Kak?"

"Ngga apa-apa," sahut Leo cepat. Matanya memperhatikan setiap rumah yang dilewati agar tidak salah berhenti.

"Di sini, Kak," kata Riu mengingatkan.

Leo segera berhenti. Dia menghela napas, akhirnya waktu yang lama itu berhenti di sini. Leo keluar dari mobil, mengambil kantong belanjaan Riu dan mengantar sampai di depan pintu.

"Makasih, Kak." Riu tersenyum. Dia sangat bersyukur.

Leo tertegun sebentar. Ada yang aneh pada Riu hari ini. Tadi sore dia menutup wajahnya seperti biasa untuk menghindari Leo, lalu dia bisa tertawa mendengar lelucon receh Dani, lalu membantunya ketika barang belanjaan Leo jatuh dan sekarang tersenyum padanya seperti tidak terjadi apa-apa.

"Sama-sama," sahut Leo kemudian. Dia berdeham kecil, menghilangkan rasa canggung di antara mereka.

Riu melihat jam di tangannya menujukkan pukul 9 malam, lalu dia menatap Leo. Wajah pria itu terlihat lelah. "Oh, iya. Kakak mau mampir dulu?" tawarnya.

"Ngomong-ngomong, ini sudah malam. Kita belum makan, aku akan masak. Kakak boleh menunggu," tambah Riu lagi, tulus.

"Eh? Ngga usah, saya akan pulang dan makan di rumah," tolak Leo. Dia merasa tidak enak.

"Tapi sudah jam 9."

"Karena itu harus cepat-cepat pergi."

"Anggap saja ini ucapan terimakasih, Kak. Jangan menolak. Aku mohon.."

***

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Dialog Hujan
331      262     3     
Short Story
Tak peduli orang-orang di sekitarku merutuki kedatanganmu, aku akan tetap tersenyum malu-malu. Karena kau datang untuk menemaniku, untuk menenangkanku, untuk menyejukkanku. Aku selalu bersyukur akan kedatanganmu, karena kau akan selalu memelukku di dalam sepiku, karena kau selalu bernyanyi indah bersama rumput-rumput yang basah untukku, karena kau selalu menyebunyikan tangisku di balik basahmu.
Fairytale Love
381      291     4     
Short Story
Peri? Kata orang cuma ada didongeng. Tapi bagi Daffa peri ada di dunia nyata. Selain itu, peri ini juga mempunyai hati yang sangat baik.
SAMIRA
3      3     0     
Short Story
Pernikahan Samira tidak berjalan harmonis. Dia selalu disiksa dan disakiti oleh suaminya. Namun, dia berusaha sabar menjalaninya. Setiap hari, dia bertemu dengan Fahri. Saat dia sakit dan berada di klinik, Fahri yang selalu menemaninya. Bahkan, Fahri juga yang membawanya pergi dari suaminya. Samira dan Fahri menikah dua bulan kemudian dan tinggal bersama. Namun, kebahagiaan yang mereka rasakan...
One-room Couples
8      4     0     
Romance
"Aku tidak suka dengan kehadiranmu disini. Enyahlah!" Kata cowok itu dalam tatapan dingin ke arah Eri. Eri mengerjap sebentar. Pasalnya asrama kuliahnya tinggal dekat sama universitas favorit Eri. Pak satpam tadi memberikan kuncinya dan berakhir disini. "Cih, aku biarkan kamu dengan syaratku" Eri membalikkan badan lalu mematung di tempat. Tangan besar menggapai tubuh Eri lay...
Broken Wings
20      10     0     
Inspirational
Hidup dengan serba kecukupan dan juga kemewahan itu sudah biasa bagiku. Jelas saja, kedua orang tuaku termasuk pengusaha furniture ternama dieranya. Mereka juga memberiku kehidupan yang orang lain mungkin tidak mampu membayangkannya. Namun, kebahagiaan itu tidak hanya diukur dengan adanya kekayaan. Mereka berhasil jika harus memberiku kebahagian berupa kemewahan, namun tidak untuk kebahagiaan s...
LASKAR BIRU
62      23     0     
Science Fiction
Sebuah Action Science-Fiction bertema Filsafat tentang persepsi dan cara manusia hidup. Tentang orang-orang yang ingin membuat dunia baru, cara pandang baru, dan pulau Biru. Akan diupdate tiap hari yah, kalau bisa. Hehehe.. Jadi jangan lupa dicek tiap malamnya. Ok?
UnMate
14      8     0     
Fantasy
Apapun yang terjadi, ia hanya berjalan lurus sesuai dengan kehendak dirinya karena ini adalah hidup nya. Ya, ini adalah hidup nya, ia tak akan peduli apapun meskipun...... ...... ia harus menentang Moon Goddes untuk mencapai hal itu
When Heartbreak
34      11     0     
Romance
Sebuah rasa dariku. Yang tak pernah hilang untukmu. Menyatu dengan jiwa dan imajinasiku. Ah, imajinasi. Aku menyukainya. Karenanya aku akan selalu bisa bersamamu kapanpun aku mau. Teruntukmu sahabat kecilku. Yang aku harap menjadi sahabat hidupku.
Mengejarmu lewat mimpi
12      6     0     
Fantasy
Saat aku jatuh cinta padamu di mimpiku. Ya,hanya di mimpiku.
Nona Tak Terlihat
4      4     0     
Short Story
Ada seorang gadis yang selalu sendiri, tak ada teman disampingnya. Keberadaannya tak pernah dihiraukan oleh sekitar. Ia terus menyembunyikan diri dalam keramaian. Usahanya berkali-kali mendekati temannya namun sebanyak itu pula ia gagal. Kesepian dan ksedihan selalu menyelimuti hari-harinya. Nona tak terlihat, itulah sebutan yang melekat untuknya. Dan tak ada satupun yang memahami keinginan dan k...