Read More >>"> fixing a broken heart (12. MIsi Vano) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - fixing a broken heart
MENU
About Us  

Arungi Muara - Keping Dua Belas

"Misi Vano"

"Kalo lo mau dapetin Risa, lo harus—"

"Ralat, yang gue mau cuma dia ngemaafin gue, bukan gue yang mau dapetin dia. Lanjutkan."

"Enggak, misi gue berbeda dengan misi lo."

Rain merengut. "Lah, yang ngejalanin misinya 'kan gue, kok lo yang ngatur-ngatur?"

Vano tak mau kalah, "Kan yang bikin misinya gue, kok lo yang sewot?"

Rain mengusap wajahnya kasar. Rain sudah lama tidak berurusan dengan ketengilan Vano. Di Surabaya Rain merasa beruntung karena ia tak menemui spesies semacam Vano. Lagipula, Rain yakin misi ini—apa pun itu—tidak akan berhasil. Mungkin akan berhasil pada gadis lain, tetapi tidak dengan Risa. Vano tidak tahu bagaimana dinginnya gadis kutub utara satu ini.

"Udah, deh, ya, gue ngalah. Misi lo kayak gimana?" pada akhirnya Rain memutuskan untuk tidak berdebat dengan Vano. Percuma saja, tak akan ada habisnya.

"Oke," Vano berdeham. "Jadi gini, lo jangan balik ke Jakarta dulu sebelum Risa wisuda dan—"

"Lo bercanda? Wisuda angkatannya Risa itu masih 4 bulan lagi dan gimana bisa gue—"

"Raindra Sanjaya, Sayang, dengerin Abang Vano dulu, ya?" sela Vano, kehilangan kesabaran.

Rain mendengus. "Oke."

"Gue punya rencana, ini bakalan ajib banget. Tapi, lo bakal butuh bantuan temen lo."

Rain mengangguk. Setengah mati dia berusaha fokus pada apa yang diucapkan Vano. "Itu perkara gampang, Van. Jadi rencananya apa?"

Selagi menatap langit-langit graha kampus yang kini gelap dan sepi itu, ingatan Rain terdampar pada saat Vano memberikannya masukan yang super ngaco. Dan yang lebih ngaco lagi, Rain menyetujui dan bahkan sedang menjalankan misi itu. Sebenarnya Rain sendiri gamang. Ia tak yakin misinya bakalan berhasil. Tetapi, jika dipikir lagi, tak ada salahnya mencoba. Kalau pada akhirnya Risa tak mau memaafkannya pun, Rain tak masalah. Yang terpenting, dia sudah mencoba.

Rain pun memejamkan mata selagi membenamkan punggungnya lebih dalam ke sandaran kursi graha yang empuk.

Misi itu memang sangat sederhana. Rain hanya perlu memancing Risa untuk kembali ke kampus dan masuk ke dalam graha. Caranya adalah dengan mengambil ponsel Risa secara diam-diam. Namun Rain memiliki ide yang lebih baik. Dia bekerja sama dengan Dea.

"Mas, Risa udah otw ke sini," gugah Dea dari ambang pintu graha yang super besar itu. Rain yang sedari tadi melamun langsung tergugah. Siluet Dea tampak samar-samar lantaran graha sudah sangat gelap. Bahkan hanya ada Rain dan Dea saja di sana. Maklum saja, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam lewat.

"Kamu tadi pake jurus apa, De, kok, bisa bikin Risa kelupaan?" tanya Rain.

Dea yang sudah menghenyakkan tubuh di samping Rain pun menjawab, "Tadi aku buat dia ketemu sama Pak Kris, itu, tuh, dosen yang nawarin Risa beasiswa S2. Aku sengaja pinjem hape Risa sebelumnya. Terus pas mereka berdua serius ngomong, aku pura-pura mau balikin hapenya. Tapi dikacangin. Ya udah, deh, aku jalan duluan. Hapenya udah di kantung. Rencananya jadi makin gampang 'kan?" Dea mengerlingkan mata.

Rain tertawa kecil. "Boleh juga kamu, De," komentar Rain. "Anyway, kamu kenapa belum pulang?"

"Biasalah, Mas, nggarap skripsi sama anak-anak di lab."

Rain pun ber oh panjang. Kemudian mengalihkan pandangan. Kembali menatap langit-langit. Melamun.

Dea mendengus keras. "Mas Rain kayaknya naksir berat sama Risa, ya? Sampe dibela-belain beginian segala."

Rain mengusap wajah frustasi. "Udah berapa kali aku bilang, aku enggak naksir Risa. Aku cuma pingin dia maafin aku, itu aja."

Dea tersenyum miring. "Terserah, deh. Pokoknya good luck buat Mas Rain," ujar Dea selagi bangkit. "Aku duluan. Mau ngantin. Laper maksimal."

Sepeninggalan Dea, Rain pun berduaan lagi dengan heningnya malam. Di samping Rain sudah ada plastik putih berisi pisang susu goreng yang sudah secara resmi dia pesan dari Ibu Kantin beberapa saat lalu. Isinya masih hangat. Niatnya, sih, ingin disantap bersama dengan Risa, tetapi jika gadis itu tak kunjung datang, pisang-pisang itu bisa dingin sia-sia.

Tetapi ternyata tidak. Karena rupanya Risa tengah tergesa-gesa menuruni mobil Kayla untuk segera menemui Dea yang katanya sedang menunggunya di graha. Dari dalam mobil, Kayla memekik keras, "Ris, jangan lama-lama! Dasar teledor!"

Risa tak membalas omelan itu dan mempercepat langkah kakinya. Risa bolak-balik menyumpah serapah. Bisa-bisanya dia lupa dengan ponselnya sendiri. Dia baru sadar bahwa ponselnya raib ketika Risa baru saja tiba di rumah sejam lalu. Wisuda hari itu benar-benar membuat Risa lupa segalanya. Yang Risa ingin hanyalah pulang, lepaskan baju super panas itu, lalu tidur. Tak sadarlah ia bahwa ponsel keluaran merek tersohor itu tak ada lagi di tasnya. Dan setelah diselidiki, tanya sana-sini, ponsel Risa ada di tangan Dea.

Tidak butuh waktu lama bagi Risa untuk mencapai graha. Risa langsung melangkah masuk. Ia pun disambut oleh suasana gelap dan dingin graha kampusnya. Dia menatap sekeliling, tak ada tanda-tanda Dea di sini. Ketika Risa baru saja hendak memutar badan, satu suara itu menyapa.

"Nyari Dea, ya?"

Risa nyaris terjengit dari tempatnya berdiri. Kedua matanya awas menatap arah sumber suara. Kemudian dari tengah-tengah bangku graha yang berjajar rapi itu, muncullah seseorang yang amat Risa kenal. Sosok itu perlahan mendekat ke arah Risa berdiri, ke tempat yang lebih terang. Saat sosok tersebut sudah sepenuhnya terlihat oleh Risa, Risa pun menelan ludah. Ia tegang. Dan tanpa sepengetahuan Risa, Rain pun tak kalah tegangnya, jauh dari sikap tenang yang ia tunjukkan.

Pada akhirnya, Risa memutuskan untuk memecah hening. "Ya, saya nyari Dea. Dia ada di sini, enggak?"

Tak menjawab, Rain malah balik bertanya. "Kamu nyari hape kamu, kan?"

Risa mulai tak sabaran dengan basa-basi itu. "Ya, hape saya hilang. Kalau Mas Rain enggak liat Dea, mending saya pergi." Risa bersiap pergi, tetapi gerakkannya terhenti begitu Rain memamerkan ponsel berwarna putih itu tepat di hadapannya. Seketika Risa mengerutkan kening.

"Kok bisa di Mas Rain?"

Rain membuang napas. "Sorry, Ris. Tapi aku emang sengaja minta Dea buat bikin kamu lupa sama hapemu."

Risa semakin tidak paham. Kedua alis Risa nyaris bertautan melihat betapa kerasnya gadis itu mencoba untuk berpikir. "Buat apa Mas Rain ngelakuin itu?"

"Aku cuma pingin ngobrol sama kamu," ujar Rain, pasrah.

"Kalau Mas Rain pingin ngobrol, kenapa enggak di rumah aja? Kenapa pake acara beginian segala?" tanya Risa geram.

"Gimana aku mau ngobrol sama kamu kalau kamu cuekin aku terus?"

Kedua bibir Risa terbuka, tetapi tak sanggup mengucapkan apa-apa. Pada akhirnya Risa hanya bisa memejamkan mata dan menghirup napas dalam, mencoba untuk menenangkan diri. Apa yang Rain bilang itu ada benarnya. "Oke. Saya... ngerti, oke? Salah saya juga karena saya enggak kasih Mas Rain kesempatan buat ngomong. Tapi sekarang saya enggak bisa lama-lama. Saya ditunggu sama Kakak saya."

Rain tersenyum miring. "Sayangnya kali ini kamu bisa lama-lama, kok, Ris." Rain menunjukkan layar ponsel Risa yang tengah menyala. Di sana jelas terlihat sebuah percakapan yang tertuju untuk Kayla.

Kak, aku ada urusan sebentar. Kakak tinggal aja. Aku pulang sendiri.

Oke, Ris. Pulangnya Kakak jemput aja. Cewek pulang sendirian malem-malem itu horor, ah.

Aku pulang bareng Mas Rain, kok, Kak.

Hmm, tumben. Nge-date, ya?

Cuma ngobrol biasa, kok.

Kakak, kok, enggak percaya ya? Pokoknya ceritain waktu udah sampe rumah. Kepo maksimal ini.

Oke.

Risa dibuat melongo oleh perbuatan Rain. Ini jelas keterlaluan namanya! Risa jarang meminjamkan ponselnya pada orang. Ponsel Risa adalah privasi nomor satu Risa. Namun sekarang Rain sudah menjamah isi ponselnya itu bahkan saat Risa tak memberi izin sama sekali. "Gimana Mas Rain bisa tahu password hape saya? Enggak mungkin dari Dea. Dia aja enggak tahu password-nya."

Rain tertawa geli, tampak sekali kalau dipaksakan. "Aku ini emang goblok, Ris. Tapi aku tahu cara nge-hack hape orang. Bahkan saat hapenya enggak aku pegang."

Risa terdiam. Banyak hal berputar di sekitar kepalanya.

"Mungkin kamu lupa kalau aku anak programming, ya?" tanya Rain. "Ah, ralat. Kamu emang enggak pernah tahu kalau aku anak programming." Ia tersenyum pahit.

"Saya tahu kalau Mas Rain ambil jurusan programming. Yang enggak saya paham adalah kenapa Mas Rain lancang nyolong hape saya kayak enggak ada kerjaan gini," sanggah Risa.

Rain tergelak. "Aku emang enggak ada kerjaan, Ris. Ingat?"

Risa spontan memijat pelipisnya sendiri. "Katanya Mas Rain mau ngomong sama saya. Nah, dari tadi kita udah ngobrol, kan? Saya pulang, oke?"

"Enggak secepat itu, Ris," sahut Rain.

Risa mendongak menatap Rain, hendak memprotes dengan sengit. Tetapi urung sebab tiba-tiba saja Rain sudah melangkah lebih dekat ke arah Risa. Risa pun dibuat mundur beberapa jengkal karenanya.

Risa langsung terbelalak melihat perbuatan Rain. Risa ingin memaki, tetapi lagi-lagi tak jadi sebab Rain sudah menjengukkan kepala ke arah telinga Risa, kemudian berbisik, "Aku pinjam kamu buat beberapa jam ke depan, ya. Ada pisang susu sebagai upahnya, kok...."

*

Tags: twm18

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Rumah Laut Chronicles
57      47     0     
Horror
Sebuah rumah bisa menyimpan misteri. Dan kematian. Banyak kematian. Sebuah penjara bagi jiwa-jiwa yang tak bersalah, juga gudang cerita yang memberi mimpi buruk.
Zo'r : The Teenagers
146      112     0     
Science Fiction
Book One of Zo'r The Series Book Two = Zo'r : The Scientist 7 orang remaja di belahan dunia yang berbeda-beda. Bagaimana jadinya jika mereka ternyata adalah satu? Satu sebagai kelinci percobaan dan ... mesin penghancur dunia. Zo'r : The Teenagers FelitaS3 | 5 Juni - 2 September 2018
Garden
130      96     0     
Fantasy
Suatu hari dimanapun kamu berada,selama kita menatap langit yang sama. Bolehkah aku merindukanmu?
Sweetest Thing
107      65     0     
Romance
Adinda Anandari Hanindito "Dinda, kamu seperti es krim. Manis tapi dingin" R-
Antara Jarak Dan Waktu
413      238     0     
Romance
Meski antara jarak dan waktu yang telah memisahkan kita namun hati ini selalu menyatu.Kekuatan cinta mampu mengalahkan segalanya.Miyomi bersyukur selamat dari maut atas pembunuhan sang mantan yang gila.Meskipun Zea dan Miyomi 8 tahun menghilang terpisah namun kekuatan cinta sejati yang akan mempertemukan dan mempersatukan mereka kembali.Antara Jarak Dan Waktu biarkan bicara dalam bisu.
Parloha
269      175     0     
Humor
Darmawan Purba harus menghapus jejak mayat yang kepalanya pecah berantakan di kedai, dalam waktu kurang dari tujuh jam.
SERENA (Terbit)
360      217     0     
Inspirational
Lahir dalam sebuah keluarga kaya raya tidak menjamin kebahagiaan. Hidup dalam lika-liku perebutan kekuasaan tidak selalu menyenangkan. Tuntutan untuk menjadi sosok sempurna luar dalam adalah suatu keharusan. Namun, ketika kau tak diinginkan. Segala kemewahan akan menghilang. Yang menunggu hanyalah penderitaan yang datang menghadang. Akankah serena bisa memutar roda kehidupan untuk beranjak keatas...
Bulan Dan Bintang
159      118     0     
Romance
Cinta itu butuh sebuah ungkapan, dan cinta terkadang tidak bisa menjadi arti. Cinta tidak bisa di deskripsikan namun cinta adalah sebuah rasa yang terletak di dalam dua hati seseorang. Terkadang di balik cinta ada kebencian, benci yang tidak bisa di pahami. yang mungkin perlahan-lahan akan menjadi sebuah kata dan rasa, dan itulah yang dirasakan oleh dua hati seseorang. Bulan Dan Bintang. M...
unREDAMANCY
249      158     0     
Romance
Bagi Ran, Dai adalah semestanya. Ran menyukai Dai. Ran ingin Dai tahu. Simple. Celakanya, waktu tak pernah berpihak pada Ran. Ini membingungkan. Ran tak pernah berpikir akan mengalami cinta sendirian begini. Semacam ingin bersama tapi dianya nggak cinta. Semacam ingin memaksa tapi nggak punya kuasa. Semacam terluka tapi ingin melihatnya bahagia. Ini yang namanya bunuh dir...
Mendadak Pacar
198      109     0     
Romance
Rio adalah seorang pelajar yang jatuh cinta pada teman sekelasnya, Rena. Suatu hari, suatu peristiwa mengubah jalannya hari-hari Rio di tahun terakhirnya sebagai siswa SMA