Arungi Muara – Keping Tiga Belas
“Malam di Graha”
Awalnya, berbagai pikiran buruk menghantui benak Risa begitu Rain mengatakan jika dia hendak ‘meminjamnya’ untuk beberapa jam ke depan. Kemudian, lantaran sudah lelah berdebat, Risa terpaksa mengiyakan keinginan Rain.
Skenario-skenario mengenai hal yang bisa terjadi di dalam graha yang gelap itu berputar di dalam kepala Risa selagi ia mengikuti Rain yang berjalan di depannya. Bagaimana jika ternyata Rain adalah psikopat yang terobsesi terhadap Risa dan ingin menjadikannya tawanan? Bagaimana jika Rain adalah seorang pembunuh berantai yang hendak memutilasi Risa saat tidak ada yang melihat seperti ini?
Namun, segala pemikiran abstrak itu segera pupus begitu Risa mengingat bahwa Rain terlalu konyol untuk itu semua. Lagipula, Risa bisa bela diri. Apabila Rain berani macam-macam, maka seharusnya lelaki itulah yang patut untuk merasa takut.
Setelah melonjak ke atas panggung graha, Rain segera menyalakan salah satu lampu panggung yang menyorot langsung ke tengah-tengah. Bisa dibilang itu adalah satu-satunya penerangan di dalam graha yang gelap gulita itu. Melihat perbuatan Rain, Risa masih termenung menunggu di bawah. Hingga akhirnya, Rain menjulurkan tangannya ke arah Risa.
“Ayo, naik,” ujar Rain.
Risa membuang napas. Lalu, tanpa menyambut uluran tangan Rain itu, Risa naik ke atas panggung dengan usahanya sendiri. Dengan kecewa, Rain menarik kembali tangannya. Setelah itu, Risa langsung melipat dada begitu sudah sampai di atas. “Kita mau ngapain?” tanya dingin.
“Ikut aku.” Rain meraih lengan Risa dan mengajak gadis itu duduk di bawah naungan lampu panggung yang baru saja Rain nyalakan. Mereka duduk bersila dan berhadapan di bawah benderangnya sinar itu. Dan, di tengah-tengah mereka, sudah terdapat sebungkus pisang susu goreng hangat yang siap disantap.
“Ini apa?” tanya Risa, menunjuk ke arah plastik yang berisi pisang susu.
“Ini makanan favoritmu,” jawab Rain sambil membuka plastik itu. Kemudian, pisang-pisang berlumuran cokelat dan keju itu pun mutlak terpampang di hadapan Risa.
Risa melipat dahi. “Gimana Mas Rain tahu saya suka ini?”
“Just a lucky guess?” Rain tersenyum kecil. Jantungnya sudah joget oplosan dengan riang di dalam sana. Kadang, Rain dibuat tidak paham. Ia bolak-balik menjadi pembicara publik, bahkan orator untuk demo mahasiswa, tetapi, berhadapan dengan satu orang saja—Risa—mengapa malah membuat lidahnya mendadak kelu?
Selagi mencomot pisang itu dan memasukannya ke mulut, Risa kembali berkata, “Jadi, kita mau ngapain di sini?”
“Kamu udah buka kado yang aku kasih, belum?” tanya Rain tiba-tiba.
“Belum,” jawab Risa singkat.
Rain langsung tertawa miris. “Gimana mau kamu buka? Kadonya aja kamu tinggal.” Rain mengeluarkan sebingkis kado yang terlihat familiar. Risa langsung mengutuki dirinya keras-keras.
“Dammit, Mas, sorry banget, ya, hari ini saya emang teledor parah,” ujar Risa dengan sungguh-sungguh.
Rain menggelengkan kepala. “Nggak pa-pa,” jawab Rain seadanya. “Sebagai gantinya, aku mau kamu buka kado itu sekarang.”
“Sekarang?” ulang Risa. Rain mengangguk. “Oke.”
Dengan gerakkan cepat, Risa membuka kado dengan satu tangan. Dan, apa yang ada di baliknya membuat gadis itu tercenung untuk beberapa saat. Ia menemukan secarik kertas dengan tulisan ‘Maaf’ di dalamnya.
“Maaf…?” ulang Risa selagi mendongak ke arah Rain, berusaha mengonfirmasi apa yang ada di hadapannya.
Rain mengangguk. “Aku minta maaf,” ujar Rain. Lelaki itu kini menunduk dalam-dalam. “Aku minta maaf karena aku udah bikin semuanya complicated buat kamu.”
Mendengar hal itu, Risa terpaku.
“Aku minta maaf karena udah bohong ke Kirana dan bikin kamu makin susah. Aku minta maaf karena aku udah bikin kamu diomongin sama anak satu kampus….”
“Mas,” sela Risa.
Namun, tampaknya Rain masih tak ingin berhenti. “Aku minta maaf karena aku… aku udah—”
Ucapan Rain terhenti, sebab tiba-tiba Risa sudah membungkam Rain dengan cara menjejalkan satu pisang susu ke dalam mulutnya. Rain yang masih terkejut, hanya mampu memandang Risa dan berkedip-kedip saja dengan keadaan mulut yang penuh. Mau tak mau, Risa pun nyaris tertawa melihat ekspresi Rain yang begitu jenaka.
Setelah mengunyah dan menelan isi mulutnya dengan setengah mati, Rain akhirnya bertanya, “Kenapa?”
“Kalau mau ngomong, pake spasi, dong,” ujar Risa geli.
Wajah Rain langsung semburat dengan warna merah. “So-sorry….”
Risa menghela napas lelah. “Nggak peduli berapa kali Mas Rain minta maaf, itu nggak bakal mengubah fakta kalo image saya udah tercemar,” ujar Risa, datar.
Tanpa izin, hal itu malah membuat hati Rain terasa seperti terpilin. “Maaf….”
Melihat Rain yang tampaknya begitu tersiksa, mau tak mau Risa memaksakan senyum. “Mas, nggak usah dipikirin. Saya maafin Mas Rain, kok.”
Selagi mendongak, wajah Rain berubah cerah. Kedua matanya berbinar hanya dengan mendengar Risa mengucapkan hal itu. “Serius?!”
Sambil mencomot pisang susu, Risa mengangguk. “Heem.”
Rain tak bisa menyembunyikan senyum 10 sentinya yang langsung mengembang. Rasanya ia bisa meledak saking bahagianya.
“Mas juga nggak usah mengkhawatirkan apa yang dipikirin orang-orang,” tambah Risa. “Karena saya juga nggak pernah mikirin apa yang orang lain pikir tentang saya.”
Rain menatap gadis di hadapannya dengan penuh tanda tanya. “Kok kayak gitu?”
“Kita nggak bakal dapat apa-apa dari memedulikan apa yang orang lain pikir tentang kita, jadi, buat apa?” Risa mengidikkan bahu.
Mendengar hal itu, Rain tersenyum kecil. Ia hampir lupa bahwa sosok di hadapannya adalah Risa yang sama seperti sebelumnya. Gadis yang dingin dan menjunjung tinggi rasionalitas di atas segalanya.
“Tapi… apa kamu nggak terganggu dengan pandangan dan sikap orang lain ke kamu?” tanya Rain sejurus kemudian.
“Terganggu, sih, iya. Terutama banyak orang-orang yang ‘pro Mbak Kirana’ yang neror akun sosial media saya,” jawab Risa enteng.
Rain seketika terbelalak. “Kamu diteror?” ulangnya setengah tak percaya. “Astaga….” Rain mengusap wajah kasar. Dengan begini, rasa bersalahnya lengkaplah sudah. “Terus… sikap kamu ke mereka gimana?”
“Sikap saya, ya? Saya, sih, nggak nanggepin mereka. Lagian, buat apa? Cuma buang-buang waktu.” Risa mengangkat bahu tak peduli. “Akhirnya, saya nonaktifkan semua akun saya, supaya mereka nggak bisa gangguin saya lagi. Selesai perkara.”
“Astaga, Ris, aku bener-bener minta maaf…. Kalo misalkan aku nggak bilang yang macem-macem waktu itu, kamu pasti—”
“Mas,” potong Risa. Kali ini Rain berhasil ia bungkam. “Saya sama sekali nggak masalah. Lagipula, sekarang yang terpenting adalah gimana cara kita mengatasi masalah ini. Nggak ada gunanya terus-terusan merasa bersalah, oke?”
Lesu, Rain mengangguk.
“Seharusnya saya yang minta maaf,” ujar Risa, setengah enggan untuk mengakui. “Saya yang udah menghindar dari Mas Rain dan ngebuat ini semua jadi makin rumit. Seharusnya udah dari awal kita bisa mengesampingkan urusan emosional dan fokus ke problem solving ini.”
Rain memangut-mangutkan kepala pertanda setuju. Senyumnya mengembang. Apa yang orang-orang bilang itu mungkin benar. Apabila Risa sudah berbicara panjang lebar mengenai pemikirannya, tiada yang bisa orang lain lakukan selain merasa takjub dan setuju dengan apa yang gadis ini ucapkan. “Tapi kalo dipikir-pikir, I did deserve your silent treatment, though.”
Risa terkekeh. “Did you?”
“Jadi… ke depannya kita harus gimana?” tanya Rain.
“Mungkin kita harus saling menjauhi satu sama lain?” Risa mengangkat alis.
Mendengar ucapan Risa, Rain dibuat tersedak dengan pisang susu yang sedang dikunyahnya. “Hah…? Menjauhi satu sama lain? Maksud kamu gimana?”
“Bukannya udah jelas?” Risa menatap Rain lurus-lurus dengan tatapannya yang datar. “Lagian, kalau orang-orang tahu kita deket—bahkan tinggal serumah—gosip yang selama ini nyebar bisa makin rame.”
Rain menundukkan kepala. Seharusnya ini tak menjadi sesuatu yang berat baginya, apalagi menyakitkan. Namun, mengapa ketika Risa mengatakan hal itu dengan mudah, Rain malah merasa… sakit hati?
“Menurut saya, Mas Rain harus cepat cari tempat kos baru,” tambah Risa. “Saya yakin, lambat laun pasti orang-orang bakal tahu kalau kita tinggal serumah, meskipun di sini bukan dalam konteks yang orang lain pikir.”
Aku nggak bakal bisa jauhin kamu. Batin Rain menolak keras. Namun, lidahnya kelu. Ia tak sanggup mengatakan apa pun. Memang siapa Rain hingga bisa meminta Risa untuk mengakhiri pemikiran bodoh itu?
“Tapi… bukannya kamu nggak peduli apa yang orang lain pikir, ya?”
“Iya, lalu?” Risa mengangkat kedua alis.
“Jadi, seharusnya kamu tetap ngelakuin apa yang mau kamu lakuin dan mengabaikan apa yang orang pikir tentang kamu,” Rain berkesimpulan.
Untuk pertama kalinya hari itu, Risa tersenyum. Benar-benar tersenyum. Mendadak darah Rain berdesir. Ia tengah terpesona dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Seorang Risa, yang jauh dari kata ramah, kini sedang tersenyum di bawah cahaya benderang lampu sorot panggung graha setelah mendengar apa yang baru saja Rain katakan. Mirip bidadari turun dari khayangan. Batin Rain terkagum-kagum.
“Bener juga,” ujar Risa pada akhirnya. “Tapi kalo kita tetap dekat dan nggak jaga jarak, apa Mas Rain nyaman dicap sebagai pacar saya?”
“Nggak,” jawab Rain cepat, bahkan terlalu cepat. Sesaat kemudian, ia merasa canggung. “Eh, maksudnya bukan gitu, maksudku itu….”
Risa nyaris saja terpingkal. “Maksudnya Mas Rain adalah…?” Tanpa sadar, benak Risa digelitik oleh rasa penasaran.
“Maksudku… aku nggak keberatan kalo… dicap sebagai… pacar… mu,” jawab Rain, terpotong-potong.
Risa melipat dahi. “Kenapa?”
“Ya… bukannya kenapa-napa, sih… tapi… ya… gimana jelasinnya, ya?” Rain menggaruk rambutnya sendiri yang sejatinya tidak gatal.
“Mas Rain… nggak mau bilang kalau Mas Rain nggak keberatan kalau jadi pacar saya, kan?” tanya Risa, tepat sasaran.
Rain langsung merasa tertohok dengan ucapan Risa. Namun, untuk menutupi rasa mati gayanya, Rain malah tertawa terbahak-bahak. “Ris, kamu, kok, geer banget jadi orang?”
Risa mengulum lidah. “Ya bagus, deh, kalau bukan gitu ceritanya,” ujar gadis itu. “Lagian, itu juga nggak boleh terjadi.”
Rain langsung terdiam. “Kenapa nggak?”
“Karena Mas Rain nggak tahu siapa saya,” jawab Risa singkat.
“Kamu Risa,” timpal Rain. “Almamater SI yang dicap sebagai Cewek Kutub Utara yang berhasil jadi lulusan terbaik tahun ini.”
Sontak, Risa tertawa sarkastik. “Kalau itu, sih, semua orang juga udah tahu, Mas.”
“Memang apa yang masih belum aku tahu tentang kamu?” tanya Rain, penasaran.
“Harusnya saya yang nanya, memang Mas Rain siapa sampai harus tahu banyak tentang saya?”
Lagi-lagi, Rain dibuat tak mampu berkata-kata.
“Saya kasih tahu Mas Rain satu hal,” ujar Risa. Gadis itu menjengukan kepalanya mendekat ke sisi telinga Rain. Lantas, ia berbisik lirih, “Yang Mas Rain tahu tentang saya itu, masih permukaan dari jati diri saya yang sebenernya. Jadi, hati-hati… oke?”
*
"Kata orang aku air tak beriak,
mengalir tenang, tanpa gejolak
Namun, hati-hati
Jangan percaya dengan apa yang kamu lihat dariku,
jangan pula percaya dengan mereka yang sok tahu
Karena aku,
lebih ganas dari ombak" - NLH
litaanaya








