Read More >>"> fixing a broken heart (11. Kembalinya Rain) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - fixing a broken heart
MENU
About Us  

Arungi Muara - Keping Sebelas

"Kembali"

Untuk kesekian kalinya Risa mematut diri di depan kaca. Tubuhnya telah berbalut kebaya dan toga yang kini tidak lagi berbentuk. Dandanan yang tadi terpoles cantik di wajahnya kini luntur tak bersisa, meninggalkan kedua pipi Risa yang kemerahan lantaran sengatan matahari. Gadis itu mengeram sebal sambil memutar keran wastafel. Itu sudah ke tujuh kalinya Risa membasuh wajah dalam kurun waktu 10 menit.

"For god's sake, can't you just calm down?" ujar Kayla selagi menatap ke arah Risa geram. "Kamu tahu, make up yang barusan kamu hapus dari mukamu itu totalnya lebih dari dua juta."

Kedua mata Risa melebar seketika. Ia membalikan badan lalu tatapannya jatuh kepada Kayla. "Dua juta? You're kidding me," ucapnya. "But I don't regret at all, though."

Kayla memutar bola mata sambil berkacak pinggang. "Kamu enggak tahu kalau di Amerika make up dengan brand ini itu—"

"Ini bukan Amerika," potong Risa.

Gadis itu berbalik lagi menghadap cermin. Ia kembali menatap refleksi dirinya yang saat ini sudah bagai sarjana baru lulus dengan pakaian compang-camping. Risa menyumpah serapah. Dia tak pernah berdiri di depan cermin selama itu. Risa pun mencomot tisu yang ada di dekatnya kemudian segera menyapu wajahnya sekali lagi. Risa tak ingin meninggalkan sesenti pun make up di pipi atau matanya.

"Habis ini masih ada acara makan-makan, kan?" tanya Kayla, wanita itu memoles bibirnya dengan gincu merah. Bibirnya tampak begitu berisi saat ini. Risa mendengus. Kakaknya itu terlampau seksi untuk menjadi kakaknya. Seluruh perhatian para lelaki di kampus langsung tertuju pada Kayla ketika kakak beradik itu melampaui anak tangga graha kampus. Risa bukannya iri, ia tak ingin jadi wanita pesolek seperti Kayla. Tetapi dia hanya tidak nyaman dengan curahan perhatian dari sekeliling yang ia dapat saat ia berada di sebelah Kayla.

Hal itu membuat Risa ingin menghilang seketika bagai jin botol.

"Ris?" gugah Kayla. Adiknya itu tak menjawab pertanyaannya.

"Ah," ucap Risa. "Iya, masih ada acara makan-makan. Kita enggak usah datang enggak masalah. Pulang aja, oke? Aku udah enggak betah pake baju ini, astaga, Tuhan." Risa mengibaskan tangannya ke arah wajahnya, berusaha menepis panas.

"Risa, big no," kata Kayla, tak setuju.

Risa langsung memberengut. "Kak, aku udah enggak tahan—"

"Risa, enggak boleh, oke?" potong Kayla. "Ini hari wisudamu dan gimana bisa kamu main pulang aja? Emang kamu enggak mau ngobrol sama temen-temenmu atau—"

"You have to note it, aku enggak punya temen," kata Risa jengah.

Kayla memijat pelipis kepalanya sendiri. "Ris, kamu udah bukan anak SMA yang sok-sok nerd dan cupu lagi, ya. Kamu butuh setidaknya satu atau dua temen."

"Aku enggak sok-sok nerd atau cupu. Dan aku enggak berasumsi kalau aku ini nerd atau cupu. Dan masalah butuh enggaknya aku terhadap temen, aku enggak butuh temen. Aku berhasil jadi lulusan cum laude terbaik dari universitas terbaik di Surabaya tanpa bantuan seorang temen pun. Jadi berhenti bilang kalau aku butuh temen. Aku enggak mau punya temen cuma karena aku takut sendirian. Aku enggak takut sendirian. Dan aku enggak kesepian. Stop treating me like I'm just a pathetic little kid, please?"

"Kamu bakalan kerja abis ini dan di dunia kerja kamu perlu punya soft skills dan—"

"Kak, cukup ngomelnya, oke? Aku ngalah. Kita ikut makan-makan. Yuk, keluar."

*

Jalanan di depan graha kampus hiruk pikuk oleh manusia. Kebanyakan dari mereka mengenakan pakaian ala sarjana baru lulus yang panasnya bukan main itu. Masing-masing dari mahasiswa sibuk mengamit tangan orang tua atau pendamping yang ada di samping mereka. Seolah mereka tak ingin orang tua mereka hilang di telan keramaian. Jalanan pun sesak. Berjubel dengan ratusan sarjana yang baru diwisuda sejam lalu di bawah teriknya matahari bukan hal yang mudah. Namun nyatanya, Risa dan Kayla ada di tengah-tengah kepadatan itu.

"Oke, Ris. Ini panas," kata Kayla. Ia mengedarkan pandangan dari balik kacamata hitam necisnya itu. "Eh, apaan, tuh? Kok ada yang bawa-bawa payung merah di depan?"

Risa mengikuti arah pandangan Kayla. Ia menjumpai sederet junior berpakaian rapi dengan kemeja putih dan dasi hitam di tepi jalan graha. Masing-masing dari mereka membawa payung merah di tangan. "Oh. Itu mahasiswa tiga tingkat di bawahku. Emang udah tradisinya kalau senior lulus, junior bakalan jadi ojek payung gitu buat senior-senior yang mau ke gedung jamuan makan."

"Ya udah, buruan ke sana. My skin is getting darker out here."

Kayla segera mengamit lengan Risa erat-erat. Di atas heels tujuh sentinya itu Kayla melangkah panjang-panjang menyebrangi keramaian, bahkan hingga beberapa kali menabrak orang. Tetapi sudah jelas, orang-orang itu langsung mengalah begitu menyadari betapa cantiknya Kayla. Hal itu membuat Risa dan Kayla dengan cepat sudah berada di barisan tepat di sisi junior-junior si ojek payung.

Risa mengenal satu wajah di situ. Junior lelaki yang berkacamata tebal dan berbadan cungkring itu bukanlah sosok yang asing. Maka Risa pun langsung melambai ke arahnya. "Judi!" panggil Risa. Lelaki yang merasa namanya dipanggil langsung menoleh. Wajahnya sumringah begitu melihat Risa.

"Siapa ini? Temen?" tanya Kayla.

"Bukan," jawab Risa singkat. Risa memerhatikan Judi tengah berusaha mencapai posisi dimana ia dan Kayla berada. Badan Judi yang keceng seakan terhuyung di tengah keramaian.

"Then?" desak Kayla penasaran.

"Fans," sahut Risa.

"Hai, Mbak Ris," sapa lelaki bernama Judi itu begitu sampai di hadapan Risa. Ia segera memayungi Kayla serta Risa dengan payung merah yang sedari tadi ia bawa dengan lagak malu-malu khas lelaki kasmaran.

Risa memaksakan senyum terbaiknya. "Hai. Tolong payungya, ya, Jud."

"Siap, Mbak," kata Judi sigap. "Omong-omong, Mbak Risa tadi keren banget. Kasih pidato di depan rektor kampus. Doain kuliahku lancar biar bisa kayak Mbak, ya," kata Judi penuh harap.

Risa tersenyum kecil. "Masalah kecil itu, Jud. Rajin aja nambah SKS biar cepet lulus." Risa tertawa garing, tak mau terdengar seperti robot, terutama di hadapan Kayla. Risa bisa diceramahi habis-habisan oleh kakaknya itu apabila dia tidak berpura-pura ramah di hadapan orang. "Tapi aku yakin, kok, kamu pasti bisa jadi cum laude, Jud. I'm sure, soon as I graduated, you're gonna be the best student here. You're gonna replace me."

Mendengar pujian itu, wajah Judi yang tadi sumringah, jadi semakin sumringah. Senyum sepuluh senti Judi itu nyaris membuat Risa bertanya, apa bibirnya tidak sobek jika terlalu lama begitu?

Risa, Kayla, dan Judi baru saja hendak melangkah maju beberapa jengkal. Namun sebuah suara menghentikan gerakkan mereka bertiga. "Jud, yang ini biar aku aja."

Risa langsung membalikan tubuhnya dengan cepat. Kemudian ia mendapati sosok Rain sudah menjulang tinggi di hadapannya. Mulut Risa terbuka separuh tanpa mampu berkata apa-apa.

Rain muncul di hadapan Risa dengan mengenakan pakaian layaknya junior ojek payung itu. Tatapan mereka berdua beradu untuk waktu yang cukup lama. Risa masih tak mampu memalingkan wajahnya dari Rain. Keterkejutan yang teramat sangat dan sengatan matahari membuat otak cemerlang Risa mendadak menjadi mendung, lemot, ngadat, hingga pada akhirnya berhenti bekerja.

"Hai, Ris. Lama enggak ketemu, ya?"

*

"Cie, kamu keren, ya, pidato depan rektor," ujar Rain selagi melahap telur dadar gulung yang ada di atas piringnya, "tadi aku liat di layar yang ada di depan graha. Pidatomu oke juga. Enggak terkesan nyombong kayak mahasiswa terbaik tahun-tahun sebelumnya."

Risa yang duduk tepat di samping Rain tak bergeming. Ia hanya memerhatikan wajah tanpa dosa Rain yang sedang sibuk makan.

Disepanjang jalan ke gedung dimana acara jamuan makan diadakan, Risa dan Rain sama sekali tak berbicara. Rain memang beberapa kali melontarkan pertanyaan, tetapi melihat diamnya Risa, malah Kayla yang harus menutupi kecanggungan itu dengan balik bertanya mengenai hal-hal tak penting kepada Rain. Sesampainya di gedung pun, Kayla memutuskan untuk meninggalkan Risa dan Rain berdua. Dia tak kuat jika harus menjadi penengah terus menerus.

Kemudian di sanalah Risa dan Rain. Lagi-lagi terdampar di tempat ramai, dengan lagu riang yang dimainkan oleh band kampus, di antara ramainya percakapan orang-orang, mereka berdua malah sibuk terlibat argumen dengan batin masing-masing.

Risa pun tak jemu menatap Rain dengan sorot mata waspada. Menyadari hal itu, Rain langsung mengajukan pertanyaan, "Kamu ngapain?"

"Harusnya saya yang nanya gitu ke Mas Rain," ujar Risa tajam. "Mas Rain ngapain ke sini?"

Rain tersenyum. "Aku ke sini karena aku pingin nyelametin junior aku yang paling jutek yang sekarang udah lulus bernama Risa Naveena Veronica," kata Rain. Setelah mengucapkan itu, ia segera menyerahkan sebingkis kotak yang telah dibalut kertas kado polkadot biru dengan pita di atasnya. "Congrats, Risa, karena udah jadi lulusan terbaik tahun ini."

Risa menerima hadiah itu, namun segera meletakannya ke atas meja. Sama sekali tak penasaran dengan apa yang ada di dalamnya. "Maksud Mas Rain itu apa, sih?" Risa bertanya dengan geram.

Rain melipat dahi. "Maksudmu apa?"

Barulah Risa mengalihkan pandangan dari Rain. Ia membenamkan punggungnya yang letih itu ke atas sandaran kursi. Sejenak ia mengatur napasnya yang memburu. "Mas Rain ngilang nyaris 4 bulan tanpa kabar dan tiba-tiba Mas muncul di sini gitu aja?"

"Lho, jadi kamu enggak suka lihat aku balik?" Rain malah balik bertanya. "Oke, aku ke Jakarta lagi, deh."

Risa berdecak. "Bukan itu maksud saya," katanya. "Maksud Mas Rain pake acara ngilang 4 bulan dari Surabaya itu apa? Kenapa Mas Rain pergi tanpa kabar, dan kenapa ke Jakarta? Mas Rain udah ngebuat saya mempertanyakan hal yang sama nyaris tiap hari, ngebuat saya stres sendiri mikirin Mas Rain, dan sekarang Mas bisa gitu aja balik tanpa ngerasa bersalah? Great!"

Rain takjub dengan ucapan Risa. Risa, gadis yang banyak dibilang Cewek Kutub Utara ini kini jelas-jelas berkata bahwa ia memikirkan Rain tiap hari. Bahkan Risa, sangat mengkhawatirkan Rain.

"Aku enggak nyangka kamu ngelakuin itu," jawab Rain, tak tahu harus merespon apa.

"Ya, saya juga enggak nyangka saya bisa jadi kayak gitu cuma karena Mas Rain," kata Risa, nyaris tanpa sadar. Risa langsung mengutuki dirinya sendiri begitu menyadari perkataannya. "Well, tapi saya rasa itu wajar karena saya orang paling dekat dengan Mas Rain beberapa bulan terakhir."

Ada sekelumit rasa kecewa yang tak bisa Rain sembunyikan setelah mendengar itu. Namun Rain menyamarkannya dengan tawa renyah. "Barusan aja aku seneng. Tapi ternyata aku cuma geer."

Risa menoleh dan menatap Rain. "Apa?"

"Kukira kamu mikirin aku karena kamu anggap aku teman," ujar Rain, lirih.

Mendengar kalimat Rain tersebut, Risa langsung tahu kemana arah pembicaraan itu. Risa yang tak mau terlibat bercakapan yang terlalu sentimental, langsung mengalihkan topik, "Mas Rain ngapain aja di Jakarta?"

"Yah, gitu-gitu doang," jawab Rain, kini kehilangan selera untuk berbicara, "apply CV online, nyari-nyari lowongan kerja di internet, nge-gym buat balikin abs, terus—"

"Hah? Poin yang terakhir bisa diulang?" sela Risa, nyaris tak memercayai pendengarannya sendiri. Perutnya terasa digelitik perasaan geli.

Rain dengan senang hati mengulang, tetapi sebelum kalimatnya usai, seseorang menepuk pundak Rain keras.

"In! Kemana aja, hah? Main ngilang mulu ini anak!"

Rain pun menoleh. Menyadari ada rekan satu angkatannya di acara tersebut, Rain langsung tersenyum lebar. "Yoo, what's up, Bim?" Rain menjabat tangan lelaki berkumis tipis bernama Bima itu.

"Not much, Bro. Cuma nemenin Andin wisuda. Biasalah, aku 'kan pacar idaman." Bima berlagak angkuh selagi mengangkat kerah kemejanya. Melihat hal itu, Rain terbahak lalu menendang tulang kering Bima keras-keras. Bima pun teraduh-aduh karenanya.

Menyadari kehadiran sosok asing, Risa langsung merasa tak nyaman. Risa yakin ia pasti akan menjadi obat nyamuk di sana. Oleh karena itu Risa mengedarkan pandangan. Dia menemukan Kayla yang sedang duduk tak jauh dari tempat Risa berada. Kayla pun sedang menatap ke arah Risa. Kayla mengisyaratkan kepada Risa untuk duduk di sampingnya. Risa mengangguk kecil. Lalu setelah mohon undur diri kepada Rain, Risa langsung meninggalkan dua lelaki itu.

Saat Risa berjalan dengan tenang meninggalkan dua kamu adam tersebut, kedua mata Bima tak lekang dari gadis itu. Kemudian ia menyikut lengan Rain. "In," katanya.

"Hah?"

"Kamu deket, ta, sama Risa?"

Rain menghembuskan napas keras. "Iya. Tapi bukan dalam artian kita punya hubungan yang enggak-enggak kayak yang orang bilang, kok."

Bima mengangguk. "Aku tahu. Cewek kayak Risa enggak bakal jadi perusak hubunganmu sama Kirana. Mungkin kalau orang lain yang digosipin aku bakal percaya, tapi kalau Risa, enggak."

Risa mengerutkan dahi. "Kenapa bisa gitu?"

"Aku dulu pernah sempet penasaran sama Risa," jawab Bima, gamblang. "No offense, tapi siapa juga, sih, yang enggak penasaran sama cewek diem dengan otak cemerlang kayak dia?"

Kini, Rain dan Bima mutlak memerhatikan seluruh gerak-gerik Risa yang kini tengah nikmat menyeruput sop buah di samping Kayla.

"Maksudmu... kamu pernah sempet naksir gitu sama Risa?"

Bima menggeleng. "Enggak, enggak. Dari dulu hatiku cuma buat Andin seorang." Bima terbahak. "Aku cuma kepo aja. Dulu sempat ngobrol-ngobrol, tukar pikiran. Dan aku rasa dia enggak sekaku kelihatannya. Dia punya sisi humoris juga, kok. Tetapi emang jarang banget dia tunjukin. Pas dia ketawa aja aku kaget." Bima terkikik sendiri.

Rain mengangguk setuju. "Iya, emang bener."

Bima mengangkat alis. "Jadi kamu udah lumayan tahu tentang Risa, In?"

"Seems like, Bro."

"Naksir?"

Rain tertawa hambar. Tak berniat menjawab.

"Emang kayaknya menantang kalo naksir dia, Bro. Apalagi dia cuek enggak ketulungan gitu," komentar Bima. "Eh, tapi kamu itu kemana aja, sih, belakangan ini? Kamu jarang muncul di grup dan enggak bales chat. Hibernasi, ya?"

Rain tersenyum malu-malu. "Cuma hijrah ke Jakarta, kok, Bim."

Bima terbelalak. "Jakarta? Pulang kampung kamu?"

"Enggak, dong. Aku kepincut Surabaya, Bim." Rain mengakhiri kalimatnya dengan tawa. Kali ini, bukan tawa yang dibuat-buat. "Tapi emang benar, sih, aku balik ke Jakarta beberapa bulan terakhir ini."

"Ngapain? Liburan? Refreshing?"

"Jauh dari kata refreshing, Bim."

"Lah terus?"

Rain sempat berpikir keras, akankah ia menjawab pertanyaan ini dengan jujur atau dusta. Lama Rain terdiam, akhirnya dia memutuskan untuk malah balik bertanya. "Bim."

"Hah?"

"Aneh enggak, sih, kalo aku naksir Risa?"

*

Tags: twm18

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
OUR PATH | MinYoon
8      8     0     
Fan Fiction
"Inilah jalan yang aku ambil. Tak peduli akan banyaknya penolakan masyarakat, aku akan tetap memilih untuk bersamamu. Min Yoongi, apapun yang terjadi aku akan selalu disimu." BxB Jimin x Yoongi Yang HOMOPHOBIC bisa tinggalkan book ini ^^
Forestee
13      13     0     
Fantasy
Ini adalah pertemuan tentang kupu-kupu tersesat dan serigala yang mencari ketenangan. Keduanya menemukan kekuatan terpendam yang sama berbahaya bagi kaum mereka.
Lentera
38      34     0     
Romance
Renata mengenal Dimas karena ketidaksengajaan. Kesepian yang dirasakan Renata akibat perceraian kedua orang tuanya membuat ia merasa nyaman dengan kehadiran lelaki itu. Dimas memberikan sebuah perasaan hangat dan mengisi tempat kosong dihatinya yang telah hilang akibat permasalahan kedua orang tuanya. Kedekatan yang terjalin diantara mereka lambat laun tanpa disadari telah membawa perasaan me...
Cinta Kita Yang Tak Sempurna
218      131     0     
Romance
Bermula dari kisah awal masuk kuliah pada salah satu kampus terkenal di Kota Malang, tentang Nina yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang aktivis di UKM Menwa yang bernama Aftar. Namun Nina tidak menyadari bahwa ada seseorang yang diam-diam memperhatikannya dan tulus mencintainya bahkan rela berkorban pada akhirnya, dia adalah Gio. Namun dipertengahan cerita muncul-lah Bayu, dia ad...
Hati Yang Terpatahkan
72      56     0     
Romance
Aku pikir, aku akan hidup selamanya di masa lalu. Sampai dia datang mengubah duniaku yang abu-abu menjadi berwarna. Bersamanya, aku terlahir kembali. Namun, saat aku merasa benar-benar mencintainya, semakin lama kutemukan dia yang berbeda. Lagi-lagi, aku dihadapkan kembali antara dua pilihan : kembali terpuruk atau memilih tegar?
you're my special moments
93      72     0     
Romance
sebenarnya untuk apa aku bertahan? hal yang aku sukai sudah tidak bisa aku lakukan lagi. semuanya sudah menghilang secara perlahan. jadi, untuk apa aku bertahan? -Meriana Lauw- tidak bisakah aku menjadi alasanmu bertahan? aku bukan mereka yang pergi meninggalkanmu. jadi bertahanlah, aku mohon, -Rheiga Arsenio-
Love and your lies
166      106     0     
Romance
You are the best liar.. Xaveri adalah seorang kakak terbaik bagi merryna. Sedangkan merryna hanya seorang gadis polos. Dia tidak memahami dirinya sendiri dan mencoba mengencani ardion, pemain basket yang mempunyai sisi gelap. Sampai pada suatu hari sebuah rahasia terbesar terbongkar
Pesona Hujan
41      32     0     
Romance
Tes, tes, tes . Rintik hujan kala senja, menuntun langkah menuju takdir yang sesungguhnya. Rintik hujan yang menjadi saksi, aku, kamu, cinta, dan luka, saling bersinggungan dibawah naungan langit kelabu. Kamu dan aku, Pluviophile dalam belenggu pesona hujan, membawa takdir dalam kisah cinta yang tak pernah terduga.
Alicia
46      34     0     
Romance
Alicia Fernita, gadis yang memiliki tiga kakak laki-laki yang sangat protektif terhadapnya. Gadis yang selalu menjadi pusat perhatian sekolahnya karena memiliki banyak kelebihan. Tanpa mereka semua ketahui, gadis itu sedang mencoba mengubur luka pada masa lalunya sedalam mungkin. Gadis itu masih hidup terbayang-bayang dengan masa lalunya. Luka yang berhasil dia kubur kini terbuka sempurna beg...
Stuck On You
7      7     0     
Romance
Romance-Teen Fiction Kisah seorang Gadis remaja bernama Adhara atau Yang biasa di panggil Dhara yang harus menerima sakitnya patah hati saat sang kekasih Alvian Memutuskan hubungannya yang sudah berjalan hampir 2 tahun dengan alasan yang sangat Konyol. Namun seiring berjalannya waktu,Adhara perlahan-lahan mulai menghapus nama Alvian dari hatinya walaupun itu susah karena Alvian sudah memb...