Arungi Muara - Keping Sembilan
"Rain dan Kirana"
Risa tak pernah mengenal Rain secara dekat. Yang Risa tahu, Rain adalah seorang senior dengan wajah riang yang baik kepada semua orang. Perangainya menyenangkan. Adem. Enak dilihat. Namun Rain juga bisa jadi biang kehebohan kampus. Pembicaraan apa saja—bahkan sampai permasalahan yang serius—bisa Rain pelintir menjadi bahan guyonan yang tak ada habisnya mengundang tawa.
Lagipula, siapa mahasiswa sistem informasi kampus yang tak kenal dengan Rain? Risa yang kudet dan cuek saja tahu. Hal ini menjadi bukti bahwa kepopuleran almamater kampus bernama Raindra Sanjaya itu tidak bisa dipandang sebelah mata.
Nama Rain pun makin santer didengar karena hubungannya dengan Kirana, yang tak lain adalah 'bunga' kampus idaman banyak kaum adam.
Tampaknya Kirana sama sekali tak memiliki kekurangan. Paras cantik, baik hati, lulus dengan predikat pujian pula. Jika disandingkan dengan Rain, mereka bukanlah perpaduan yang harmonis. Mereka agak asimetris. Namun tentu saja itu bukan urusan Risa.
Rupanya, Rain dan Kirana bersekolah di SMA yang sama dulu. Risa bukannya sok tahu atau jadi penguntit, tetapi Risa mengetahui itu semua langsung melalui penuturan Kirana.
Di atas salah satu bangku tempat parkiran kampus itu, Kirana tersedu di hadapan Risa. Risa pun mati gaya dengan kondisi canggung seperti ini. Risa hanya bisa mengelus punggung Kirana lembut. Hatinya berharap begini saja cukup. Risa tak mau menanggung malu karena pasti semua orang saat ini menyangka dialah yang menjadi perusak hubungan antara Rain dan Kirana. Risa memang sudah mencoba untuk menjelaskan, tetapi Kirana malah menganggap Risa hanya mencoba menutup-nutupi kebenaran.
"Enggak pa-pa, Ris. Kamu jujur aja. Aku juga udah feeling kalau bakal kayak gini akhirnya," ujar Kirana. Seulas senyuman getir terukir jelas di bibirnya.
Dan di situlah Risa merasa ingin menabok pipi Rain sekali lagi.
Kirana bercerita banyak tentang Rain. Bahkan hal-hal yang tak ingin Risa ketahui.
Pertemuan Rain dan Kirana berawal saat motor bebek Rain mogok di tengah hujan lebat. Rain yang tak tahu apa-apa tentang mesin pun kalang kabut mencari bengkel. Kala itu ia sudah hampir terlambat datang ke sekolah. Ia pun terpaksa memberhentikan motornya di tepi halte bus.
Hingga kemudian secara tiba-tiba, Kirana dengan santainya melenggang ke arah Rain. Rain terpaku menatap gadis jelita yang tengah menuju ke arahnya itu. Seragam putih abu-abu Kirana separuh basah. Rambut ekor kudanya amburadul. Namun hal itu tak membuat kecantikan Kirana luntur sedikit pun. Rain dibuat heran. Buat apa cewek cantik keluyuran di tengah hujan gini di saat harusnya dia sudah duduk manis dalam kelas?
Kirana memerhatikan Rain, begitu juga Rain. Mereka hanya saling menatap untuk beberapa saat, sampai tawa renyah Kirana terdengar. "Motor kamu mogok, ya?" tanyanya.
Rain terhipnotis dengan kehadiran Kirana yang tak terduga. Gadis cantik berbibir mungil dan kulit putih itu mutlak membius kesadaran Rain. Hingga dengan keadaan setengah sadar, Rain menjawab, "Uh... iya."
Kirana tersenyum, amat manis. Rain merasakan dadanya bergemuruh melihat senyum itu. "Boleh gue lihat motor lo? Barangkali gue bisa benerin," kata Kirana.
Rain melipat dahi. "Emang lo ngerti mesin?"
Kirana mengidikkan bahu dan mendekati motor Rain. "Bisa dibilang gue lebih paham mesin motor daripada soal logaritma yang dikasih Pak Udin."
Rain tertawa. Ia berusaha agar tawanya terdengar alami. Karena di dalam dadanya, jantung Rain seolah ingin meloncat keluar dari tempat saat itu juga.
Kirana pun meminta Rain untuk menaikkan motornya ke atas trotoar, tepat di bawah naungan atap halte bus. Dengan begitu Kirana tak akan kehujanan ketika memperbaiki mesin motor butut itu.
Menit-menit selanjutnya, Rain hanya sanggup terduduk di tepi trotoar—sedikit dekat dengan Kirana—sambil memerhatikan jari-jari langsing gadis itu menyentuh motor bututnya. Kirana begitu serius mengotak-atik mesin motor Rain dengan perkakas bengkel yang ia dapat dari dalam jok motor.
Hingga tiba-tiba Kirana menempatkan diri di sebelah Rain. Kulit lengan Rain dan Kirana yang telanjang bersentuhan. Hal itu mengirimkan getar asing ke dalam tubuh Rain. Seluruh tubuh lelaki itu menegang. Jantungnya berdebar resah. Ada apa ini? batin Rain.
"Motor ini habis lo pake buat nerjang banjir, ya?" tebak Kirana tepat sasaran.
"Kok lo tahu?" tanya Rain, mati gaya.
Kirana tertawa kecil. "Belakangan ini 'kan sering hujan. Kalo lo sering buat motor lo nerabas banjir, harus sering check up ke bengkel," katanya, tak menjawab pertanyaan Rain.
"Lo tahu banyak soal mesin, ya," komentar Rain. Matanya tak luput memerhatikan gadis di sampingnya.
"Bokap gue kerja di bengkel," terang Kirana. Ini kejutan, batin Rain, "gue suka ngelihatin dia waktu lagi kerja. Akhirnya jadi ikutan tahu mesin." Kirana mengakhiri ucapannya dengan tawa manis yang terdengar begitu merdu di telinga Rain. "Kesannya enggak cocok sama image gue, ya?"
Rain terkekeh. "Emang image lo gimana?"
"Ya... cewek yang cantik, anggun, serba perfeksionis, semacam itulah."
"Berarti kamu salah satunya cewek cantik, anggun, serba perfeksionis yang jago mesin. Dan itu bukan suatu kekurangan, kok. Itu kelebihan," kata Rain. "Di mata cowok itu malah jauh lebih menarik."
Giliran Kirana yang terkekeh. "Berarti buat lo gue menarik?"
Rain seketika kehilangan kata. Mulutnya terbuka setengah. "Ya... ya... ya emang cowok mana yang enggak tertarik sama lo?"
Kirana tertawa lepas. "Muka lo barusan lucu banget, Rain."
Rain langsung menyernyitkan dahi. "Lo tahu nama gue dari mana?"
Kirana menyeringai. "Enggak usah geer, ya. Gue tahu nama lo dari badge lo, kok."
Rain bungkam.
Lagi-lagi Kirana tertawa. "Gue bercanda, kali. Gue tahu lo udah sejak lama, lo-nya aja yang enggak nyadar."
"Emang dari mana lo tahu gue?"
"Gue suka merhatiin lo, Rain. Terlebih waktu lo sama temen-temen lo loncat dari pagar belakang sekolah buat kabur," jawab Kirana enteng.
Rain termenung. "Waktu itu lo liat?"
Kirana tertawa. "Iyalah. Waktu itu lo sama temen-temen lo loncat lewat pagar belakang sekolah yang ada di kantin, kan? Gue kebetulan ada di situ. Lagi istirahat olahraga." Kirana mengidikkan bahu. Ia tersenyum kecil. Memori gadis itu terdampar pada kenangan beberapa bulan lalu itu. Ia kembali membuka mulut, "Abis itu lo sama temen-temen lo ketahuan sama Pak Fauzan, kan? Guru fisika yang killer itu? Astaga, kocak banget." Kirana terbahak-bahak.
Rain mati gaya. Lelaki itu menggaruk rambutnya yang sebenarnya sama sekali tak gatal. Bisa-bisanya Kirana ada di situ dan Rain serta teman-temannya tidak sadar. Mending loncat dari pagar depan dan dilihatin sama adik-adik kelas sekalian daripada ketahuan sama cewek paling cantik satu sekolah! "First impression gue, kok, ya, gini amat ya ampun," ratap Rain.
Tawa Kirana semakin menjadi. Ia merasa perutnya sakit lantaran terlalu banyak tertawa. "Sebenernya bukan itu, kok, first impression lo buat gue," celetuk Kirana.
Rain mengangkat alis. "Terus?"
"Masih inget waktu lo tampil nge-drum sama band lo di konser musik SMA se-Jakarta waktu awal semester?" tanya Kirana.
Rain mengangguk. "Iya, kenapa?"
"Itu first impression lo buat gue," jawab Kirana.
Rain langsung menyernyitkan dahi. "Emang waktu itu lo dateng, ya?"
"Aku ada di barisan paling depan waktu itu," jawab Kirana dengan lagak angkuh yang dibuat-buat. Lalu gadis itu tertawa manis.
"Tapi itu, kan... konser musik rock."
Kirana langsung mengerti maksud Rain. Ia pun terkekeh lalu menyeringai. "Gue suka musik keras."
Ini kejutan lagi. Batin Rain. Rain hanya bisa membisu. Otaknya sibuk mencerna berbagai informasi tak terduga yang baru saja ia dapat. Kirana yang notabene cewek paling cantik satu sekolah sekarang sudah ada di samping Rain. Kirana cewek paling populer di sekolah ternyata jago mesin motor. Kirana yang terkenal karena keanggunan dan kesopanannya ternyata suka aliran musik keras. Kirana yang diidamkan banyak lelaki itu kini berbincang dengan Rain layaknya kawan lama. Dan yang paling mengejutkan, itu semua bukan mimpi.
"Lo masih mau balik ke sekolah?" tanya Kirana, membuat Rain tersadar dari lamunannya.
Nggak. Batin Rain menjawab tegas. Rain menoleh. Lalu termenung sejenak. "Hng... nggak tahu. Hujannya lumayan deres," jawabnya. Momen seperti ini adalah momen paling pas untuk bolos sekolah dengan alasan hujan deras dan motor mogok. Terlebih ini hujan, Rain suka hujan. Tetapi kalau dipikir, Rain tak mungkin menjawab begitu pada Kirana.
"Percuma juga kali balik ke sekolah. Ini udah dua jam lewat dari jam masuk," sahut Kirana selagi melirik ke arah arloji peraknya.
"Iya juga, sih," gumam Rain. Pikirannya berputar. Kalau tidak ada Kiran, mungkin sudah sedari tadi ia pergi ke salah satu café tempat biasanya nongkrong. Memesan secangkir kopi serta mengisap beberapa puntung rokok mungkin cukup. Tetapi jelas tak bisa ia lakukan. Ada Kirana di sini. Agak lama Rain berpikir, hingga ia mencapai satu kesimpulan.
Buat apa juga Rain peduli?
Persetan dengan pencitraan dirinya di hadapan Kirana. Memang siapa yang peduli?
Maka Rain pun bangkit dari tempat duduknya. "Makasih udah benerin motor gue, ya. Tapi gue harus pergi," kata Rain. Lelaki itu menurunkan motornya ke tepi jalan. Tubuhnya langsung basah kuyup. Rain menaiki motor dan mengenakan helm.
Kirana merengut. Ia langsung menyusul Rain. "Mau langsung pergi gitu aja?" katanya sebal.
Rain yang sudah hampir tancap gas pun menoleh. "Iya. Kenapa?"
Kirana bersedekap. "Gitu, ya? Enggak mau balas budi karena motor lo udah gue benerin?"
Rain kikuk. "Balas budinya besok aja gimana? Gue traktir di kantin."
"Gue maunya sekarang," Kirana bersikeras.
Rain memutar bola mata. "Gue balas budinya gimana, Na? Mau gue anter ke kantin sekolah, terus ketahuan guru BK, terus kita disuruh bersihin toilet sekolah gitu, gimana?" cerocos Rain.
Kirana terbahak. "Ya traktir gue ke café mana, kek, gitu. Warung juga enggak masalah. Laper, nih!"
Rain membuang napas kasar. "Ke café yang biasa jadi tempat nongkrong gue sama anak-anak gimana?" tanyanya. "Kebetulan gue mau ke sana."
Kirana mengangguk girang. "Enggak masalah."
"Tapi gue enggak bawa jas hujan," ujar Rain. Lagipula ia tidak pernah membawa jas hujan. Rain hanya berharap Kirana tidak usah ikut. Rain tidak ingin dekat dengan gadis yang jelas tidak bisa dijadikannya pacar. "Masalah, enggak?" tanya Rain kemudian.
Kirana mengidikkan bahu sambil memakai jaket dari ranselnya. "Enggak masalah. Gue masih bawa jaket, kok." Ia pun mengenakannya. Dengan segera Kirana melonjak ke atas motor Rain. Ia turut hujan-hujanan. Namun, Rain masih belum menyerah.
"Kalau lo sakit gara-gara hujan-hujanan, gimana?" tanya Rain.
"Gue biasa hujan-hujanan, kok," sahut Kirana, mulai dongkol karena Rain mengajukan banyak pertanyaan yang terdengar tidak penting.
Rain akhirnya geram. "Tapi sampai di café gue mau ngerokok, Kirana," Rain pun berkata jujur. Kirana terhenyak. Hatinya yang amat perasa itu sedikit demi sedikit menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi. Rain melanjutkan, "Gue tahu lo enggak tahan atau enggak suka asap rokok jadi gue—"
"Siapa bilang?" potong Kirana cepat. "Gue tahan asap rokok. Bokap gue biasa habis setengah bungkus rokok tiap hari." Ia terbahak. Kedua tangannya sudah melingkari pinggul Rain. "Jadi ayo berangkat, ya, Rain."
Satu kejutan lagi, batin Rain. Rain tak pernah menyangka bahwa Kirana yang anggun dan jelita memiliki kepribadian yang bertolakbekalang dengan apa yang Rain kira. Barang-barang mewah, alat rias, mobil mahal, benci kotor, Rain pikir hal-hal seperti itu yang menjadi bagian hidup Kirana. Namun rupanya tidak.
Lagipula gadis cantik mana lagi yang bersedia berkutat dengan motor dekil penuh lumpur kecuali Kirana?
Jantung Rain berdebar resah selagi ia memacu motornya menembus hujan. Menyadari keberadaan Kirana di balik punggungnya membuat dada Rain bergemuruh. Rain merasakan suatu getar aneh dalam tubuhnya.
Suatu getar yang membuat hujan kala itu terasa jauh lebih indah.
Suatu getar yang membuat Rain ingin bekukan detik saat itu juga.
Agar ia dapat terus merasakan jemari lembut Kirana di pinggulnya.
Suatu getar yang bahkan tak Rain tahu apa.
Yang Rain tahu, setelah itu pikirannya tak pernah lepas dari Kirana.
*
"Kamu pun memohon pada waktu, untuk membeku,
pada saat masih ada kata aku dan kamu.
Padahal sejatinya kamu pun tahu,
aku dan kamu tak pernah ada sejak dulu." – NLH