Arungi Muara - Keping Sepuluh
"Dilema"
Rain mengeram keras selagi kedua tangannya yang lemas itu berusaha mengangkat barbel yang ada di hadapannya. Otot-otot kehijauan bercokolan di lengannya. Keringat Rain pun bercucuran dari sekujur tubuh. Tetapi tetap saja, barbel sialan itu tak mau bergerak barang sejengkal pun. Dan adegan menggelikan itu ditutup dengan Rain yang terkapar di atas sofa salah satu tempat gym yang ada di tengah kota Jakarta itu.
Melihat pemandangan tersebut, seorang pria seumuran Rain tertawa. "Itu barbel ukuran biasa dan lo enggak kuat angkat?" tanyanya sarkastik.
Rain berdecak. Ia menegakkan badan dan memberi ruang agar Vano bisa duduk di sampingnya. "Apaan, sih? Diem!" desis Rain buas. Kedua matanya menyipit murka menatap ke arah sepupunya itu.
"Kidding, Bro. Elah, gitu aja ngambek. Lagi PMS, ya, lo?" sahut Vano selagi mengelap keringat di dahi dengan handuk yang melingkari lehernya. Rain tak menjawab. Ia sedang tidak ingin meledak-ledak saat ini. "Anyway, lo belum kasih tahu gue tentang kenapa lo tetiba dateng nyamperin gue ke Jakarta tanpa kasih kabar dulu."
Rain melengos. "Sorry, ya, gue ke sini bukan karena pingin nyamperin lo," jawab Rain menggunakan bahasa anak Jakarta itu, "gue cuma nyari tempat buat nenangin pikiran."
Vano terbahak. "Empat tahun di Surabaya, logat lo jadi kedengeran medok," komentarnya.
Rain mendelik. "Serius lo?"
Vano mengangguk selagi meneguk air dari botol minumnya. "Kayaknya lo kelamaan di Surabaya. Lo harus lama-lama di sinilah. Biar logat Jakarta lo yang tengil itu balik lagi." Vano mengerlingkan matanya.
Rain tertawa sembari memukul punggung Vano keras. Keduanya terbahak-bahak setelahnya. "Well, gue emang jarang nge-gym belakangan ini, Van. Gila cari kerja susah banget," ujar Rain sambil menggelengkan kepala, "gue udah ngelamar ke beberapa tempat di Jakarta, sih. Gue pingin balik lagi ke sini dan tinggal sama lo, ya kalo lo enggak keberatan, sih."
Vano terkekeh. "Astaga, Raindra gue tersayang, sejak kapan, sih, lo malu-malu gini ke gue?" katanya geli. "Gue dan Mama gue jelas enggak bakal keberatanlah kalo lo tinggal."
Rain tersenyum tipis. "Thanks, Bro. Lo udah gue anggep abang gue, deh, pokoknya. Abang paling ganteng, paling baek, paling top, dah, di seluruh Jakarta."
Vano tertawa kecil. "Dari dulu lo mujinya kalo ada maunya, ya? Adek Abang yang satu ini emang unyu."
Rain hanya nyengir. Tak berniat menimpali lelucon itu dengan kata-kata lucu lain. Walaupun biasanya mereka berdua pasti sudah ribut meneriaki satu sama lain dengan kalimat absurd yang jago Rain dan Vano buat. Tetapi kali itu Rain hanya diam. Ia menatap lantai berlapis karpet kelabu di bawah kakinya.Pikirannya berkelana jauh.
Menyadari hal itu, Vano langsung menghela napas berat. Sepupunya—yang sudah ia anggap sebagai adik—ini pasti sedang menghadapi masalah yang tak bisa dibilang kecil. Vano pun menepuk pundak Rain. Insting seorang kakak yang Vano miliki tak akan pernah salah.
"Rain, lo ada masalah apa?" tanya Vano lembut.
Rain menoleh dan melipat dahi. "Maksud lo gue ada masalah itu apa?"
Vano memutar bola mata. "Lo enggak usah sok-sok polos gitu, deh. Straight to the point aja. Lo kenapa?"
Rain mengusap wajah kasar. Ia bertumpu pada kedua tangannya yang ada di atas lutut. Ia tak berani menatap Vano. Rain tahu pasti, Vano bukan orang bisa diajak basa-basi. Namun Rain juga tahu, ia sama sekali tak tahu harus mulai dari mana. Isi kepalanya terlalu runyam.
Lama sekali Rain diam. Beruntung Vano adalah orang yang cukup sabar jika berhadapan dengan Rain. Vano tak memaksa Rain untuk bicara. Keheningan di antara mereka itu pun hanya diisi oleh keributan kecil dari orang-orang gym. Hingga Rain memelih untuk berkata, "Gue putus sama Kirana."
Kedua mata Vano mutlak terbelalak. "Lo putus?" ulangnya. Mulut Vano setengah terbuka. "Lo putus dan lo enggak pernah bilang apa-apa ke gue?" nadanya meninggi.
Rain gelagapan. "Van, dengerin gue dulu. Gue enggak ada maksud buat nyembunyiin ini dari lo. Tapi gue rasa ini bukan sesuatu hal penting yang harus buat gue—"
"Lo udah sama Kirana sejak SMA dan lo bilang ini 'enggak penting'?!" Vano nyaris menjerit. Tetapi pria itu segera bisa menguasai dirinya kembali.
"Bukan itu maksud gue, Van," jawab Rain lesu. "Gue cuma enggak mau ganggu lo. Lo 'kan udah kerja dan pasti sibuk banget. Gue enggak mau lo kepikiran aja."
"Oke, gue hargai pengertian lo itu," sahut Vano. "Tapi sekarang yang gue butuh cuma penjelasan."
Tiba-tiba perut Rain melilit.
Vano menambahkan, "Come on, lo dateng ke Jakarta pas tengah malem tanpa kasih kabar dulu, terus dengan wajah lo yang super melas itu lo dengan innocent-nya bilang kalo lo mau nginep. Terus, pas gue tanya kenapa enggak ngabarin dulu lo bilang kalo lo lupa. Please, deh, ini bukan Rain banget. Gue tahu lo orangnya serba spontan, tapi wajah lo enggak bisa bohong, Rain."
Kalau dipikir-pikir, sejadian malam itu memang memalukan. Rain dengan wajahnya yang seram bagai zombi—akibat tak tidur beberapa hari—mengetuk pintu rumah Vano pada jam 2 pagi. Rain pun hanya membawa ponsel dan dompet. Tak membawa tas, atau apa pun. Saat itu, Rain benar-benar oleng dan satu-satunya hal yang ia ingin hanyalah minggat dari rumah Thessa, itu saja. Maka berangkatlah ia menaiki kereta api ekspres saat itu juga.
Setelah mengingat kejadian itu, akhirnya Rain menghirup napas. Mengisi paru-parunya dengan udara yang kini mulai berbau ketek berkeringat lantaran orang-orang nge-gym itu. Sialan. Batin Rain. Jika begini paru-parunya malah makin ciut bukannya lega! Ditambah keresahan yang mulai menjalari tubuh Rain membuatnya sesak. Ia tak siap apabila harus menceritakan ini semua di saat hatinya masih sesakit ini. Tetapi bagaimanapun juga ini adalah akibat dari diamnya Rain pada Vano. Mau tak mau, Rain harusnya bercerita.
"Singkatnya aja, ya," ujar Rain memulai, "Kirana kawin lari sama... mantannya waktu SMA. Namanya Tio atau siapalah itu. Gue lupa."
Kemudian Vano menanyakan beberapa hal yang membuat Rain semakin terbuka tentang masalahnya. Rain menjelaskan itu semua dengan suara tercekat. Apalagi setelah nama wanita bernama Risa disebut, Rain jadi semakin tegang. Vano bisa membaca itu semua dari bahasa tubuh Rain. Dan mendadak, Vano ingin menelisik lebih jauh tentang seseorang dengan nama Risa itu.
Rain pun menceritakan semua hal yang belakangan ini berhimpitan di dalam benaknya kepada Vano. Suara Rain naik turun. Rain seolah tak bisa mengendalikan emosinya sendiri. Kadang suaranya penuh amarah, tetapi bisa tiba-tiba hilang saat ia membahas hal yang membuatnya sensitif. Dan di akhir kisahnya yang panjang, Vano mengangguk-anggukan kepalanya khidmat bak habis mendengarkan khotbah.
"Jadi Kirana minta maaf ke lo di kampus? Dan lo sengaja bilang kalo Risa itu pacar lo biar dia berhenti ngejar lo?" ulang Vano, tampak mengonfirmasi bahwa apa yang ia dengar tadi tidak salah.
Rain mengangguk pasrah. "Iya. Dan begonya, gue pake acara bilang kalo gue sama Risa tinggal serumah. Kan kesannya Risa yang ngebuat gue sama Kirana putus. Padahal sumpah gue baru kenal Risa setelah gue putus! Dan kita pun serumah karena gue enggak ada kos-kosan dan... dan...," Rain tak sanggup meneruskan kalimatnya. "Gila, waktu itu enggak mikir pake otak. Pake dengkul gue mikir. Dengkul!" Rain mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustasi.
"Tenang, Bro. Gue yakin pasti masih ada waktu buat memperbaiki hubungan lo sama Risa, kok," ujar Vano mencoba untuk menenangkan. Namun bukannya tenang, Rain malah semakin histeris.
"Justru ini masalahnya, Van!" raung Rain. Vano bahkan harus mencubit perut Rain—yang tak lagi kotak-kotak seperti dulu—untuk membuat Rain diam. Masalah ini jelas-jelas membuat Rain berubah drastis.
"Emang kenapa?" tanya Vano kemudian.
"Gue denger kemarin, Risa itu udah mau ikut tes kerja, enggak tahu di mana. Dan kalo misalkan dia udah kerja, apalagi di luar kota, dan dia masih belum maafin gue, sedangkan gue enggak tahu dia ada di mana... bisa-bisa enggak tenang hidup gue, Van!" Rain memekik frustasi di balik kedua tangannya yang menutupi wajah.
Vano masih berusaha memberi gagasan positif pada Rain, "Kan belum tentu juga diterima kerja, masih tes, kan?"
Rain berdecak jengah. "Risa enggak mungkin enggak diterima, Van. Otaknya cemerlang, IPK-nya nyaris sempurna, skripsinya bisa bikin dia langsung ditawarin beasiswa S2. Cuma perusahaan sinting yang nolak dia tahu, enggak?" katanya bersungut-sungut. "Kalo dia udah diterima kerja, terus dia melalangbuana di seantero perusahaan besar dan gue bahkan enggak tahu dia di mana, gue harus apa?" Lagi, Rain menutupi wajah dengan kedua tangannya yang berkeringat.
"Ya tinggal lo cariin aja dia di setiap perusahaan besar yang ada di Indonesia," celetuk Vano, bergurau.
"Kalo gitu adanya gue yang mati berdiri, Van! Lo serius dikit kenapa, sih?!" jerit Rain untuk kesekian kali.
Vano terbahak. "Abisnya lo lucu banget, sih. Gue jadi gemes."
"VANO!!" Rain menggebuki tubuh sepupunya itu dengan membabi buta. Bahkan hingga Vano terpelanting dari atas sofa. Pria dengan kumis tipis itu terpingkal-pingkal melihat reaksi Rain yang begitu kocak.
"Astaga, iya, iya. Gue minta maaf," kata Vano kemudian. Masih dengan bersila di atas karpet, Vano bertanya, "Gue, sih, mau-mau aja bantuin lo. Tapi, ya, balik lagi ke lo, lo mau enggak ngebantu diri lo sendiri? Kalaupun gue bantuin lo sampe gue mencret tapi lo-nya enggak niat, ya, percuma, dong."
Rain pun menarik napas dalam-dalam. Berusaha menenangkan dirinya sendiri yang begitu tak terkendali. Beberapa saat kemudian ia menghadap Vano, sepupunya yang sudah ia anggap abang itu. Vano pun memeluk lutut di atas lantai sambil menatap teduh ke arah Rain. Dan mendadak keresahan Rain itu mulai terkikis saat abangnya sudah menatap Rain dengan sorot mata itu.
"Gue... bakalan niat. Gue janji," lirih Rain. "Mungkin selama ini gue gagal karena gue enggak niat minta maafnya."
Wajah Vano langsung berubah sumringah. "Nah, gitu, dong," ujarnya. "Dan, sekarang gue punya rencana. Gimana kalo menurut lo...."
Setelah mendengar usulan dari Vano, raut wajah Rain berangsur-angsur cerah.
Memang tak salah meminta saran pada Vano, abangnya, yang merangkap sebagai pakar cinta kelas kakap!
*
"Halo, Rain?" sapa Thessa di telepon.
Begitu tahu telepon sudah tersambung, Risa langsung menggigit bibir bawahnya. Sebuah reaksi alami saat ia sedang gugup. Bagaimana tidak, kemarin Thessa menemukan Rain hilang dari kamar lotengnya. Awalnya Risa cuek saja. Paling juga entar balik sendiri. Enggak usah dipikirin. batin Risa. Tetapi itu hal apatis itu musnah sudah ketika pada keesokan harinya, Rain tak kunjung pulang ataupun ada kabar. Ponselnya pun sama sekali tak bisa dihubungi.
Risa langsung tak bisa menghindarkan diri dari rasa bersalah. Risa pikir bisa saja hilangnya Rain itu disebabkan karena lelaki itu tak lagi betah di rumah. Lantaran Risa selalu menganggapnya tak ada. Nyaris dua bulan lamanya. Rain pun berulang kali mencari kesempatan mereka untuk bicara empat mata, tetapi Risa selalu saja menghindar. Risa bukan tipe orang pemaaf. Kejadian di koridor kampus itu pun masih terekam jelas di otaknya. Belum lagi terdengarnya desas-desus tak benar mengenai hubungan Risa dan Rain semakin membuat Risa sebal pada Rain.
Kemudian kini Risa menyaksikan Thessa berusaha menelepon Rain sekali lagi. Mereka berdua duduk bersebelahan di ruang makan. Dan Risa tahu jelas, telepon sudah tersambung. Jantung Risa berdebar cepat tanpa izin di dalam sana. Risa berpura-pura tekun memandangi laptopnya yang menyala. Tertera lambang Google di sana. Namun jari-jari langsing Risa sama sekali tak menyentuh keyboard. Ia tak mau tampak khawatir. Namun Risa tak mampu menutupi rasa penasarannya mengenai keberadaan Rain yang sudah bak Bang Thoyib itu.
"Kamu kemana aja, sih, kok tiba-tiba hilang?" sambung Thessa, "Oh, gitu. But you're okay, right? Yeah, no big deal. We're fine. Oh, sure. Iya, iya. See ya later." Thessa mengakhiri perbincangan.
Risa pun berpura melirik ke arah Thessa. Tatapannya masih terpaku ke arah layar laptop. Risa sudah memutuskan untuk membuka salah satu situs berita. Padahal ia sama sekali tak membaca satu pun artikel yang ada. "Jadi gimana?" tanyanya, berusaha cuek.
Thessa mengidikkan bahu sambil meletakkan ponselnya di atas meja makan. "Rain lagi di Jakarta."
Risa memberengut selagi menatap ke arah Thessa. "Jakarta?" ulangnya.
Ngapain Mas Rain ke Jakarta? Kenapa enggak kasih kabar dulu? Dia ke sana naik apa? Sampainya kapan? Apa dia punya cukup duit buat beli tiket? benak Risa mencecarnya dengan serbuan pertanyaan.
Namun jelas Risa jelas tak memperbolehkan bibirnya mengucapkan apa pun, selain dua kata itu, "Oh. Ngapain?"
Thessa menggeleng heran karena sikap Risa yang terlampau cuek itu. Thesa pun bertopang dagu lalu menyesap teh susu dinginnya. "He said he has some things to do there," jawab Thessa.
Risa mengangguk. Pandangannya kembali ke arah layar. Pikirannya berkelana ngalor-ngidul. Apa Mas Rain kabur karena aku? Batin Risa mengajukan satu pertanyaan yang mampu membuat hatinya yasng penat itu terpilin.
Risa membuang napas lelah. "Baguslah. Kamu enggak usah khawatir lagi, Thes."
Thessa melipat dahi. "Me?" ulangnya. "Risa, come on, you are the one who supposed to be worry right now."
Giliran Risa yang menyernyit. "Saya? Kenapa harus saya? He is the one who made me mad. How could you say—"
"Rain sudah cerita semuanya ke aku. Dan dia sudah coba buat minta maaf. Tapi kamu yang selalu menghindar, kan? See? He feels guilty about his mistake, Risa. Kamunya aja yang enggak mau maafin dia."
Mendengar itu, Risa bungkam.
"Kadang aku enggak paham sama kamu, Ris. Kamu menutup diri dari setiap cowok baik yang ada di dekat kamu. Selama ini pun, aku nggak pernah lihat kamu punya pacar ataupun teman cowok yang dekat. What's wrong with you actually? Why are you being so selfish?" ucap Thessa yang sudah geram dengan sikap Risa yang tak pernah berubah.
"Saya enggak egois," ujar Risa memungkiri fakta yang gamblang itu. "Saya cuma berusaha care ke orang yang saya anggap penting aja."
"Terus? Is Rain important for you, do you think?" tantang Thessa.
Lagi, Risa menggigit bibirnya. Kemudian dengan lirih ia menjawab, "Mungkin."
"Then, apa buktinya kalau kamu anggap dia penting?"
"Mas Rain balik ke Surabaya kapan?" Risa mengalihkan topik pembicaraan. Seluruh tubuhnya tegang. Matanya terpaku pada layar laptopnya. Ia menghindari kontak mata dengan Thessa.
Thessa pun menghela napas lelah. "Dia enggak bilang mau balik kapan. Katanya masih agak lama. Dua sampai tiga bulan lagi katanya."
Risa hanya sanggup mengangguk. Itu waktu yang cukup lama. Risa mencoba memfokuskan pikirannya pada artikel yang asal dia pilih. Namun gagal. Apa yang ia baca, tak sampai ke otak. "Ya sudah," katanya.
Thessa menggeleng heran. "Masalah Rain yang mendadak hilang, kamu enggak usah sok cuek, deh. Aku tahu kamu peduli, Ris. Kamunya aja yang gengsi," katanya selagi bangkit dari kursi. Sekilas ia melirik ke arah layar lapotop Risa. Thessa bergidik tak peduli. "Enggak usah sok sibuk, Ris. Sejak kapan kamu tertarik sama 10 fakta unik tentang Boy 'Anak Jalanan'?"
Wajah Risa semburat dengan warna merah. Batinnya mengumpat lirih.
Sialan!
*
"Satu hal yang mampu membuatku dilema hanyalah
empat huruf itu. Yakni k, a, m, dan u.
Kamu."
-NLH