Arungi Muara - Keping Delapan
"Pelukan yang Tiba-tiba"
Risa merasa bodoh. Sangat bodoh.
Seumur-umur ia belum pernah sekali pun menangis di depan umum. Tetapi semalam, di festival makanan itu Risa malah lepas kendali. Ia meneteskan air mata tepat di depan Rain. Belum lagi, perkataan Risa tampaknya menyinggung perasaan lelaki itu. Tidak seharusnya Risa mengucapkan itu semua. Kini Risa hanya bisa mengutuki kebodohannya sendiri.
Pikiran Risa berkelana jauh. Otaknya hanya ingin satu: meminta maaf pada Rain. Terlebih lagi, pagi-pagi tadi Rain sudah tidak ada di kamar lotengnya. Risa resah bukan kepalang. Apa mungkin Rain benar-benar marah pada Risa?
Risa tahu bahwa Rain masih tetap sering pergi ke kampus untuk bertemu teman-teman lamanya yang notabene adalah mahasiswa abadi. Maka dari itu di sinilah Risa, berjalan tak tentu arah di sepanjang koridor kampus dengan ponsel menempel di telinga kanan. Nada sambung terdengar, namun sama sekali tak ada suara orang dari seberang sana.
Risa bingung. Panggilannya tidak dijawab oleh Rain. Oh, sial. Pikir Risa. Sudah belasana menit Risa mencoba menghubungi Rain, namun tak ada satu panggilan pun yang Rain jawab. Kemudian Risa pun menanyakan satu hal sialan yang sama : Apakah Rain benar-benar marah kepadanya?
Hingga Risa teringat sesuatu.
Rain berganti nomor!
Risa mutlak mengumpati udara. Nyaris setengah jam dia berdiri di koridor bagai orang idiot dan bisa-bisanya dia baru ingat tentang hal itu. Namun nyatanya Risa memang idiot. Baru saja dia mencoba untuk menghubungi nomor yang sudah dibuang pemiliknya ke tempat sampah. Risa belum pernah bertindak sekonyol ini dalam hidupnya.
Risa pun luruh dengan menyedihkan di tepi koridor. Ia menyandarkan punggung ke dinding kemudian memeluk lututnya sendiri. Pikiran Risa belum pernah serunyam ini. Terakhir kali ia pusing berpikir adalah saat ia menggarap skripsi. Berani-beraninya Rain membuat Risa jadi begini....
"Woi, ngapain, Neng?" suara itu terdengar. "Ngemis?"
Kedua mata Risa langsung bagai tersetrum listrik 100 watt. Risa mendongak dan mendapati Rain sedang berdiri di dekatnya selagi menyampirkan ransel ke pundak kanannya. "Mas Rain?!" pekik Risa kaget. Gadis itu langsung terjengit dari tempatnya duduk.
Rain menatap Risa aneh. "Kenapa, sih?" tanya Rain. "Kamu juga ngapain duduk di lantai begini? Jelas-jelas di depanmu ada bangku."
Untuk kesekian kalinya, Risa merasa bodoh. Risa pun bangkit di atas kedua kakinya. "Dari tadi pagi saya nyariin Mas Rain," kata Risa, berusaha untuk tetap tenang.
Rain mengangkat alis. "Ada apa?" tanyanya. "Kangen, ya?" goda Rain dengan tatapan nakal. Risa temangu. Rupanya Rain tidak marah. Buktinya dia masih bisa melawak begini.
Risa menggeleng. "Saya mau ngomong."
Rain membuang napas kasar. "Sebenernya aku juga mau ngomong sama kamu."
Risa sempat terdiam. "Ngomong... apa?"
"Aku minta maaf," ujar Rain. "Maaf aku udah buat kamu nangis tadi malam." Rain menunduk di hadapan Risa. Seolah seperti anak kecil yang ketahuan mencuri penghapus karet temannya. Mendengar perkataan itu, Risa langsung menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Saya nangis bukan karena Mas Rain," ucap Risa lesu. "Tadi malam saya memang banyak pikiran, Mas. Saya juga minta maaf kalau omongan saya bikin Mas Rain tersinggung."
Rain menggeleng selagi tersenyum kecil. "Enggak usah dipikirin kali, Ris. Aku yang terlalu lancang udah ikut campur urusan kamu," jawabnya. "Emang, sih, kayaknya aku terlalu kepo sama urusan orang." Rain menggaruk rambutnya sendiri yang sebenarnya tidak gatal.
Risa tergelak. "It seems like."
Rain langsung melengos. "Ya udahlah. Kita baikan, ya?"
Risa menggangguk. "Heem."
"Yo wes, sekarang kamu mau ngapain?" tanya Rain.
"Pulang," jawab Risa.
"Lah, langsung pulang, to?"
"Iya. Saya ke kampus kan cuma buat nemuin Mas Rain tok."
Rain berdecak heran. "Kamu niat banget ternyata," ujarnya. "Mau bareng?"
Risa mengangkat bahu. "Kalo Mas enggak keberatan, sih, enggak pa-pa."
"Jelas enggak keberatan, dong. Rumah kita kan sam—"
Ucapan Rain menggantung di udara. Rain mendadak bisu. Kedua matanya membeliak menatap ke ujung koridor yang sedang Risa punggungi. Risa berusaha menggugah Rain dengan mengguncang bahunya, namun nihil. Pada akhirnya Risa membalikkan tubuh.
Kemudian sekonyong-konyong, sesosok gadis jelita berambut panjang menerjang Rain. Sosok yang tampak tak asing itu memeluk Rain erat-erat. Rain yang tak siap dengan sentuhan tiba-tiba itu sampai harus mundur beberapa langkah. Tubuh Rain menegang. Otot-ototnya kaku. Tak sanggup ia membalas pelukan sosok itu.
Sedangkan di sana, berdirilah Risa yang terkaget-kaget menyaksikan apa sedang yang terjadi.
Kirana telah pulang ke pelukan Rain.
Selang beberapa detik, Kirana melepaskan pelukan tersebut. Diraihnya wajah Rain dengan kedua tangan. "Rain, akhirnya aku bisa ketemu sama kamu," katanya. Bulir air mata telah luruh sepenuhnya di kedua pipi Kirana. Gadis jelita itu tampak menyedihkan.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Rain. Intonasi suaranya mendadak jadi dingin. Tak pernah Risa mendengar nada suara Rain yang seperti ini.
Kemudian dengan tergagap-gagap, Kirana berkata, "R-Rain, maafin aku. Aku nyesel sekarang, Rain. Aku nyesel. Enggak seharusnya aku lakuin itu ke kamu."
Risa hanya berdiri di situ. Tak tahu harus merespon apa. Andai dia jin, mungkin ia sudah kembali ke dalam botol dan enyah dari sini.
"Kamu enggak perlu menyesali apa-apa. Ini memang keputusanmu," ujar Rain. Tenggorokan lelaki itu tercekat. Separuh dirinya menginginkan Kirana. Namun egonya yang terlampau tinggi itu ingin agar Kirana segera angkat kaki dari hidupnya. "Masa depan kamu bersama Tio. Bukan sama aku. Jadi berhenti ngelakuin ini."
Setelah itu, tangis Kirana pecah.
Risa pun baru saja menangkap satu nama baru. Tio. Risa menebak-nebak bagai cenayang. Tio pastilah pihak ketiga di antara mereka. Pikir Risa.
"Rain, aku cuma pingin kita kembali seperti dulu," Kirana kembali bersuara. Kali ini suaranya begitu pilu.
Kemudian sekarang, Rain dan Kirana sukses menjadi pusat perhatian semua manusia yang ada di koridor kampus. Melihat keadaan semakin tidak nyaman, perlahan-lahan, Risa menjejakkan kakinya mundur. Berniat mengambil langkah seribu dari tempat itu.
"Kamu udah terlambat buat minta maaf, Na," ujar Rain pada Kirana. Senyuman pahit terukir di bibir Rain.
Kemudian bak petir menyambar, dengan satu gerakkan cepat, Rain meraih pergelangan tangan Risa yang tadi sibuk mengendap-endap. Rain menarik Risa mendekat. Jari keduanya bertautan. Lalu berucaplah Rain, "Aku udah jadian sama Risa."
Tarikan napas tercekat dari Kirana terdengar. Semua orang yang ada di koridor terperangah tak percaya. Begitu juga dengan Risa. Gadis itu mendelik ke arah Rain yang ada di sampingnya.
Lirih, Kirana berkata, "Jadi... kalian...."
Rain mengangguk takdzim. "Ya. Kita udah resmi jadian sejak lama," katanya. "Jadi kamu enggak usah ngerasa bersalah lagi. Aku enggak semenyedihkan itu, kok, tanpa kamu." Lantas Rain tertawa kecil. Kelihatan sekali bahwa dia hanya memalsukan segalanya. Rain memang tidak pandai bersandiwara.
Risa yang ada di sebelah Rain mendesis lirih, "Mas Rain apa-apaan?"
"Just let me finish this shit," bisik Rain balik.
Risa tak terima. Dia berusaha membebaskan tangan kirinya dari cengkeraman Rain. Namun tiap kali Risa mencoba, genggaman Rain malah semakin mengetat. Membuat Risa memekik lirih karena kesakitan.
Kirana memandang keduanya nanar. Mulut Kirana yang mungil itu terbuka. Namun hanya kalimat tak terselesaikan itu yang keluar dari bibirnya, "Tapi... selama ini... aku pikir... kamu...." Kirana mutlak kehilangan kata-kata.
Risa buka mulut, "Mbak Kirana, saya sama sekali enggak punya hubung—"
"Kamu enggak usah sok nutup-nutupin gitu, deh, Ris," potong Rain. "Kalau kita enggak punya hubungan, gimana bisa kita tinggal serumah?" nada Rain meninggi.
Hal tersebut berhasil membuat seluruh orang yang ada di sepanjang koridor berbisik-bisik heran. Wajah Risa merah padam menahan malu. Sedangkan Rain yang ada di sampingnya malah tersenyum, seolah bangga dengan apa yang baru saja dia ucapkan.
Risa belum sempat berkata apa-apa. Karena sebelum Risa dapat membuka mulut, Kirana sudah berbalik dan pergi dengan berlari-lari kecil.
Kemudian dengan amarah yang sudah ada di ubun-ubun, Risa mengayunkan tangan kanannya ke udara.
Satu tamparan keras tepat mendarat di atas pipi kiri Rain.
Rain terbelalak menerima perlakuan tersebut. Mulutnya terbuka setengah tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun. Dipandangnya Risa dengan sorot mata tak percaya. Namun Risa sama sekali tak peduli akan hal itu.
Kemudian Risa pun turut membalikkan badan dan berlari dengan langkah berderap-derap di sepanjang koridor.
Ia menyusul Kirana.
*
"Hati-hati dalam berucap. Karena pada akhirnya, kata-katamu hanya bisa dimaafkan, tanpa bisa dilupakan." -NLH