Arungi Muara- Keping Tujuh
"Teman"
Rain mengetuk pintu kamar Risa, lantas berseru, "Risa! Buruan, woy! Jamuran ini aku nunggu! Jenggotku tumbuh lagi, nih! Padahal baru juga cukuran!"
Yang ada di dalam kamar pun balik memekik, "Kan udah saya bilang, saya enggak mau ikut! Saya pingin tidur! Udah malem!"
Rain gusar. "Enggak bisa gitu, dong! Baru juga jam sembilan! Ini dare, ya. Dare harus ditepati. Kamu udah janji!"
Risa mengerutu, "Saya enggak pernah janji sama Mas Rain!"
"Bodo amat! Pokoknya keluar! Kudobrak, nih, pintu kamarmu!" teriak Rain sambil menggedor-gedor pintu kamar Risa dengan membabi buta. Ketukan Rain di pintu pun terdengar seperti sebuah lagu. Begini-begini, Rain mantan drummer band saat SMA. Sambil terus menggedor, Rain menyanyi sesuai irama lagu, "BANG JALI, BANG JALI, GOYANGNYA BIKIN HEPI...."
Risa yang sudah meringkuk di dalam selimutnya mengeram jengah. Kemudian dengan setengah hati, Risa pun membuka pintu. Rain menghentikan kegiatannya. Mereka bertatapan untuk sejenak. Kemudian tawa Rain menguar. Rain memandang rambut Risa yang kini jadi jabrik entah mengapa. Wajah jutek dan kusut Risa malah makin membuat Rain terpingkal.
"Di dalam lagi ada apa, Ris? Ada angin puting beliung? Rambutmu kok kayak gitu?" tanya Rain di sela tawanya.
Risa mengerucutkan bibir. "Berhenti gedor-gedor pintu saya," kata Risa.
"Makanya buruan, dong."
"Saya enggak mau iku—"
"Eit, eit. Bilang apa kamu barusan?" potong Rain. "Mau enggak mau, kamu harus ikut."
Risa mengacak-acak rambut frustasi. Dia membanting pintu di depan wajah Rain. "Oke! Oke! Saya ganti baju dulu!"
Rain tersenyum puas. Tetapi ia tak kunjung enyah dari depan kamar Risa. "Buruan, ya, Ris!" seru Rain. Tangannya kembali menabuh pintu dan bernyanyi, "TUTUPEN BOTOLMU, TUTUPEN OPLOSANMU, EMANEN—"
"FOR GOD SAKE, SHUT UP!" Risa berteriak kencang dari dalam. "Suara Mas Rain bikin saya budeg tahu, enggak?! BUDEG!"
Rain terbahak-bahak. "Makanya, demi kesehatan telingamu, buruan gantinya!"
Tiba-tiba di saat Rain hendak meneruskan aksinya, terdengar suara bel rumah berbunyi. Kemudian Risa berseru, "Daripada nyanyi-nyanyi mirip gajah ngentut gitu, bukain pintu sana!"
Rain pun melangkahkan kaki ke depan rumah. Suara bel tersebut tidak kunjung berhenti, Rain langsung membuka pintu tanpa aba-aba. Dia berkata, "Iya, cari siapa—"
Rain membeku di ambang pintu. Kedua mata Rain membeku melihat siapa yang ada di hadapannya kini. Wanita yang Rain tatap begitu memesona, tinggi, putih, dengan bibir berisi yang telah tersapu gincu. Rain ternganga. Garis wajah wanita itu pun mengingatkan Rain pada seseorang.
"Maaf. Kamu ini... siapa?" Rain memaksakan diri untuk bertanya.
Sosok itu melipat dahi. "Kamu juga siapa? Sejak kapan di sini ada cowoknya?"
Rain pun mengulurkan tangan untuk berkenalan. "Saya Rain, penghuni baru. Untuk beberapa bulan ke depan, saya bakalan tinggal di sini," jelas Rain.
Wanita tadi mengangguk. "Oh, I see," katanya. "Saya Kayla, kakaknya Risa."
Rain langsung mangut-mangut mengerti. "Oalah. Pantesan. Wajah kalian agak mirip," kata Rain disertai tawa kecil.
Kayla tersenyum. "Risa ada, kan?"
Rain mengangguk. "Ada, Mbak. Masuk aja dulu. Saya panggilkan."
"Thanks, Rain," ujar Kayla.
Kayla pun memasuki rumah tersebut dan menghenyakkan tubuh di sofa ruang tamu. Rain segera beranjak, namun tiba-tiba Risa sudah muncul duluan. Risa sudah berganti pakaian. Tatapan Risa langsung terpaku pada satu sosok yang saat ini ada di ruang tamunya.
Rain berkata, "Ris, ini katanya kakak kamu...."
Risa tak memedulikan Rain. Risa langsung melewati Rain begitu saja dan mengambil alih tempat di samping Kayla. Barulah tatapan Risa kembali pada Rain. "Makasih, Mas. Mas Rain balik ke dalam aja."
Rain mengangguk patuh. "Mau minum apa?" tanya Rain pada Kayla.
Kayla langsung menggeleng. "Enggak perlu repot-repot. Saya cuma sebentar," jawabnya.
Tanpa diminta dua kali, Rain pun mengangguk dan langsung masuk ke dalam meninggalkan Risa serta Kayla berdua. Saat ini Risa langsung menatap kakaknya itu lekat-lekat.
"Sejak kapan Kakak udah di Indonesia? Kenapa enggak bilang-bilang dulu kalo kesini?" tanya Risa tanpa basa-basi.
"I'm in hurry, Ris. Dad couldn't wait any longer to meet you," jawab Kayla. "Aku udah ketemu Papa kemarin. Dia udah di Surabaya. Papa maunya langsung ketemu kamu, tapi aku belum kasih tahu alamatmu."
Risa mendengus keras. "Bagus. Dan Kakak enggak perlu kasih tahu dia. Aku enggak mau ketemu."
Kayla mendesah, "Risa, mau sampai kapan, sih, kamu gini terus? He's your dad, Ris. Your dad."
"Aku enggak pernah tahu kalau orang seperti dia layak disebut 'Ayah', Kak. Yang aku tahu, dia laki-laki bajingan yang sudah meninggalkan kita tanpa tahu malu, bahkan sampai Mama meninggal karena sakit, he wasn't doing anything, was he?" kata Risa. Risa menatap Kayla nanar.
Kayla tak kalah getirnya. "Aku mungkin enggak kasih tahu keberadaan kamu ke Papa, Ris. Tapi suatu saat nanti Papa pasti bisa nemuin kamu. Dimanapun kamu berada," ujar Kayla.
Risa tetap mengeraskan wajah. Perasaannya seolah sudah mati. Tiba-tiba Risa bangkit dan membuka pintu rumah lebar-lebar. "Kalau Kakak datang cuma untuk ngomongin ini, mending sekarang Kakak pulang."
Kedua mata Kayla membulat sempurna. Mulutnya terbuka, ingin mengatakan sesuatu. Tetapi tak ada satu kata pun yang terucap.
"Mending sekarang Kakak pulang," ulang Risa. "Karena aku enggak akan pernah berubah pikiran. Sampai kapanpun."
Sepulangnya Kayla, Risa hanya terhenyak di atas sofa. Matanya nyalang menatap ke depan. Pikiran Risa mendadak carut marut. Dadanya sesak oleh luapan perasaan yang bahkan tak bisa ia jelaskan. Hati kecilnya yang sudah lapuk itu malah disergap oleh lara yang datang bertubi-tubi. Risa semakin mati rasa.
Dan di dalam sana, Rain tengah mengintip ke ruang tamu dengan malu-malu. Menyadari Kayla yang tak lagi ada di tempat, Rain pun langsung berhamburan ke depan dan celingukan.
"Mana kakakmu, Ris? Siapa tadi namanya? Kayla?" tanya Rain sembari menjengukkan kepalanya ke jendela. Hingga tatapannya jatuh pada Risa yang sedang duduk seolah tanpa nyawa di atas sofa. "Ris?" Rain menghenyakkan pantat di samping Risa. "Kamu kenapa?"
Ada hening yang panjang di antara mereka. Rain menyaksikan napas Risa naik turun. Tiap pertanyaan yang Rain ajukan hanya dijawab oleh sunyinya malam. Sampai Rain terbelalak saat ia mendapati kedua mata Risa berkaca-kaca. Rain kehabisan kata.
Namun sebelum Rain memergoki Risa melakukan hal yang selama ini selalu berusaha Risa sembunyikan, Risa langsung bangkit dan membuka pintu. Risa berjalan keluar rumah dengan Rain yang mengekor di balik punggungnya.
Sesaat kemudian Risa sudah berdiri di samping motor bebek Rain. Risa menatap Rain dengan ekspresi yang tak terdefinisi. Rain hanya sanggup melipat dahi. Ada banyak pertanyaan di benak Rain, namun Rain rasa ini bukan saat yang tepat untuk bertanya.
Hanya sada satu pertanyaan yang tampaknya cocok untuk Rain ajukan, "Ris, kamu mau apa?"
Risa menghirup udara dalam. Kemudian berkata, "Ayo."
Rain tak mengerti. "Ayo?"
Risa mengangguk. "Ayo. Ayo berangkat sekarang."
*
Di tengah kelap-kelip lampu kota Surabaya yang meriah itu, ada satu orang yang dari puluhan menit lalu tak bergeming. Di antara ramainya festival makanan yang digelar tiap malam itu, ada pula satu orang yang bingung bukan kepalang menghadapi perilaku temannya yang berakting seperti orang bisu. Ialah Risa dan Rain.
Di sepanjang perjalanan tadi, Risa hanya diam. Bahkan hingga mereka berdua sudah berhadap-hadapan dengan satu mangkuk pangsit panas di sisi, Risa masih tak berbicara sepatah kata pun. Meski stan-stan makanan sudah berjajar rapi dan riuh percakapan orang terdengar di mana-mana, Risa seolah tak terganggu oleh itu semua. Risa tenggelam dalam pikirannya sendiri. Rain pun geram.
Selagi menjejalkan minya ke dalam mulut, Rain mengerutu, "Aku enggak tahu masalah kamu apa, ya, Ris. Aku juga enggak maksa kamu untuk cerita. Tapi please jangan kayak orang bisu gini."
Tanpa Rain duga, Risa tersenyum kecil. "Memang Mas Rain mau saya ngomong apa?"
"Ya... apa, gitu. Tentang Dea, kek. Kerjaanmu, kakakmu, kek. Apa, kek," jawab Rain.
Senyum Risa tak lekang. Risa pun meraih garpu dan mulai mencicipi makanannya pula. "Mas Rain tadi sudah kenalan sama kakak saya, ya?" tanya Risa.
"Enggak juga, sih," jawab Rain. "Tapi kalau mau kamu kenalin juga enggak pa-pa. Akunya mah iklas." Rain nyengir lebar.
Mau tak mau Risa tertawa. "Kakak saya cantik, ya?"
Tanpa ragu, Rain mengangguk. "Wajahnya mirip kamu," komentar Rain.
Risa mengangkat alis. "Berarti saya juga cantik?"
Rain terbahak, tak menjawab. "Anyway, tadi kakakmu kok mampirnya cuma bentar?"
Risa menghela napas. "Saya usir."
Rain pun dibuat melipat dahi. "Kenapa?"
Risa hanya diam. Tak berselera menjawab.
Menyadari Risa yang tak segera berucap, akhirnya Rain memutuskan untuk mengalihkan perbincangan, "Kakakmu udah kerja, Ris? Kerja apa?"
"Udah. Dia pengacara."
"Dulu kuliah di mana? Di Surabaya juga?"
Risa menggeleng. "Kakak saya kuliah di Amerika."
Rain berdecak takjub dan menggelengkan kepalanya. "Wuis. Cantik, seksi, bohay tenan, otaknya encer juga? Istri idaman ini," komentar Rain.
Risa tersenyum geli. "Mas Rain peka sama cewek seksi, ya?"
Rain memamerkan cengiran lebar. "Iyalah. Siapa, sih, yang enggak?"
Ucapan Rain itu hanya Risa jawab dengan senyum kecil. Untuk sesaat, hingga porsi pangsit masing-masing habis, mereka hanya diam. Sibuk menghabiskan mi nikmat itu dalam hening.
Hingga tiba-tiba Risa membuka mulut, "Mas, saya mau nanya," katanya.
"Just go ahead," ujar Rain seraya mengelap mulutnya dengan tisu. Pangsit seksi itu sudah kandas dari mangkuknya.
Risa pun bertanya, "Mas Rain sayang sama Papanya Mas Rain?"
Ada jeda sejenak begitu Risa melontarkan pertanyaannya kepada Rain. Rain sibuk menerka maksud ucapan Risa. Hingga lelaki itu menjawab, "Iya, dong. Exactly."
Walaupun sempat ragu, pada akhirnya Risa bertanya, "Kenapa?"
Rain malah menyernyit. "Kok kamu malah tanya 'kenapa', sih?"
Risa mendesah tak tenang. "Ya saya pingin tahu, kenapa Mas Rain sayang sama Papanya Mas Rain?"
Rain pun tertawa kecil. "Pertanyaan kamu lucu, Ris," komentar Rain.
Sekarang giliran Risa yang melipat dahi. "Kok lucu, sih?"
"Ya, iyalah," ujar Rain. "Emang mana ada, sih, anak yang enggak sayang sama ayahnya sendiri?"
"Saya enggak sayang sama ayah saya," kata Risa. Rain termenung.
Pandangan Risa menerawang melewati keramaian. Tatapannya datar. Namun Rain malah menangkap sesirat luka di dalam kedua bola mata Risa yang lagi-lagi seolah berkaca-kaca. Rain mulai tidak tenang dengan semua ini.
"Boleh aku tahu kenapa?" akhirnya Rain bertanya.
Risa hanya mendongak dan menatap Rain. Raut wajahnya tak terbaca. Membuat Rain salah tingkah.
"Kalau kamu enggak mau, sih, enggak masalah. I just think by sharing your problem you'd feel better," ucap Rain tenang. Meskipun dia sejatinya penasaran setengah mati.
Risa tersenyum tipis. "Kalaupun saya cerita, saya enggak yakin saya bakal ngerasa lebih baik."
"At leats you should try," sahut Rain cepat. "Tapi... kalau kamu enggak mau enggak pa-pa, sih. Aku, kok, kesannya maksa gini, ya?" Rain menggaruk rambut.
Risa pun tertawa. "Saya bakal cerita, tapi jangan ketawain saya, ya, Mas?"
Rain mengangguk mantap. "Beres." Kemudian Rain langsung memasang telinga lebar-lebar.
Risa menghirup napas dalam-dalam. Benaknya masih dihantui secuil rasa tidak percaya. Risa pun menatap Rain yang ada di seberangnya. Lelaki itu kini tengah bertopang dagu dengan kedua tangannya. Kedua mata Rain terpaku pada Risa yang masih tak bergeming. Dan dengan wajah polos Rain yang tak berdosa itu, Risa mulai bisa berpikir untuk memercayai Rain sebagai salah satunya orang yang menjaga rahasia terbesar dalam hidup Risa.
Risa mendesah resah. "Saya enggak paham, Mas," katanya.
Rain melipat dahi. "Enggak paham apa, Ris?"
"Saya baru kenal Mas Rain buat beberapa hari. Tapi sekarang saya malah mau cerita tentang masalah saya," jawab Risa.
Rain terkekeh. "You are just like me, aren't you?"
Risa tersenyum kecut. Terlalu naif untuk mengakui itu semua.
Rain mengangguk maklum. "Aku tahu gimana rasanya, Ris. Kadang memang orang asing jauh lebih bisa ngerti perasaan kita daripada orang yang udah lama kita kenal."
Risa menggeleng. "Tapi ini enggak wajar, Mas."
"Enggak wajar apanya?" sangkal Rain. "Sekarang kamu lagi ada masalah. Aku sebagai teman cuma mau bantu kamu. Bagian mana yang enggak wajar?"
Teman. Otak Risa mengulang satu kata itu. Entah kapan terakhir kali Risa memiliki seseorang yang betul ia sebut teman. Atau bahkan mungkin Risa memang tak pernah mempunyai teman?
Akhirnya Risa berkata, "Some people just pretend like they care. But in fact they're just curious." Benak Risa akhirnya terang-terangan menyangkal. Risa tak bisa membiarkan seorang pun tahu mengenai masa lalunya.
Tidak pada Rain. Tidak pada siapa pun.
Rain menyernyitkan dahi begitu mendengar perkataan Risa. "Maksudmu apa?" ujarnya, sengit.
"Jadi sebenarnya Mas Rain cuma sekadar penasaran, atau gimana?" tanya Risa datar.
Rain mendadak gusar. Intonasi suaranya meninggi. "Aku enggak tahu masalah kamu apa, ya, Ris. Aku enggak tahu dan aku enggak mau tahu," ucapnya dongkol, "tapi jangan bilang kalo aku cuma sekadar penasaran. Aku cuma mau bantu. Kalau kamu enggak mau, ya udah. It's all in your hand."
Risa hanya diam tak bergeming. Air mata sudah ada di pelupuknya. Seolah ingin menyeruak keluar tanpa bisa ia tahan-tahan lagi.
Sedangkan Rain tak menyadari hal itu. Rain bangkit dari tempat duduknya. Namun gerakkannya sontak terhenti begitu ia menyaksikan Risa.
Gadis itu menangis.
Sebulir air mata mengalir dari pelupuknya. Tubuh Risa berguncang pelan.
Jantung Rain seolah mencelus.
Untuk pertama kalinya Rain membuat seorang gadis menangis.
*
"Jangan berharap ada orang yang mengerti. Simpanlah sakit hatimu untuk dirimu sendiri.
Karena tidak akan ada orang yang lebih memahami kamu, selain dirimu sendiri." -NLH