Read More >>"> fixing a broken heart (6. Permainan Kejujuran) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - fixing a broken heart
MENU
About Us  

Arungi Muara - Keping Enam
"Permainan"

"Kalau kamu mau menjabarkan teorimu dengan sedetail itu, De, dosen penguji bakalan tidur," ujar Risa saat memeriksa hasil pekerjaan TA milik Dea.

Dea yang ada di samping Risa langsung cemberut. "Ya abis mau gimana lagi, Ris.Udah telanjur molor puluhan slide," keluhnya.

"Hmm. Coba rangkum aja inti dari slides kamu ini," saran Risa. "Jelaskan dengan lebih singkat. Mungkin lima sampai delapan slide bisa."

Dea tetap mengerutu, "Aku kerja dua kali, dong?"

Risa mengangguk sambil mengulum bibir. "Bisa dibilang begitu."

Kini hari Sabtu dan Minggu sudah resmi menjadi hari di mana Risa harus mengajari Dea untuk menyelesaikan skripsinya. Dea akan datang ke kediaman Risa dan di ruang tamu, Risa akan menjelaskan segala kekurangan tugas akhir Dea. Jadwal sidang kedua pun tinggal sebulan lagi, dan jika Dea mengulur waktu, terpaksa dia harus menunggu hingga jadwal sidang tahun depan. Dea tidak ingin terjerat oleh slide-slide sialan power point ini lebih lama lagi. Dea tidak sanggup. Otak kecilnya mendidih.

"Thessa ke mana, Ris? Kok sepi?" tanya Dea di sela kegiatannya di hadapan laptop.

"Thessa pergi dari tadi pagi," jawab Risa sekenanya. "Kayaknya ketemuan sama si Joshua."

Dea menggeleng takjub. "Bule seksi Brazil, ditambah cowok paling hot di kampus. Hem. Kira-kira entar anaknya gimana, ya?"

Risa hanya diam sambil mengangkat bahu. Itu bukan urusannya. Namun tiba-tiba sebuah suara menyahut, "Mungkin anaknya bakal jadi titisan Barbara Palvin versi lokal."

Dea terperanjat saat melihat Rain melenggang dengan santai di hadapannya dan Risa. Rain hanya mengenakan kaus oblong berwarna abu-abu yang tampak kedodoran dan juga boxer hitam yang mampu membuat Risa bergidik ngeri. Rain tengah menggaruk perutnya sendiri dan menghenyakkan tubuh di sofa seberang dua gadis di depannya. Ditatapnya satu-satu kaum hawa itu. Lalu ia pun menguap lebar.

"Ini jam berapa, ya? Kok udah terang aja?" ujar Rain masih setengah menguap.

"Jam 11.27, Mas," jawab Risa.

Rain takjub sendiri. "Wow. Ini rekor molorku yang kedua."

"Memang yang pertama sampai jam berapa?" tanya Risa.

"Abis adzan maghrib aku baru bangun," ujar Rain.

Dea menyela, "Tunggu, tunggu. Mas Rain kok ada di sini, sih?"

Rain mengangkat alis. "Aku belum dapet duit buat bayar kos. Jadi aku nginep di sini sampe dapet kerja," kata Rain seadanya.

Dea menautkan alisnya. "Hah? Kok gitu, sih?"

Rain menatap Dea tak mengerti. "Gitu gimana?"

Risa geram. Ia berdecak. "Kebetulan Mas Rain ada di sini. Tolong ajari Dea, ya. Saya mau jemur baju dulu."

Dea tampak tak terima dengan omongan Risa. "Enggak bisa gitu, dong, Ris! Woy! Balik! Aku enggak mau diajarin Mas Rain!"

Rain terbahak-bahak. "Ayo, Adek. Mana yang mau ditanyain?"

"RISA, AKU ENGGAK MAU!!"

*

Belakangan ini ponsel Rain mendapat panggilan dari kontak yang mampu membuat Rain ingin membanting teleponnya sendiri--Kirana.

Yang benar saja. Mantan pacar yang sudah menikah menelepon Rain, memang apa yang mau dibicarakan? Apakah pertanyaan seperti "Rain, besok aku mau bulan madu ke kota anu. Kamu tolong carikan hotel yang pas, ya." atau "Rain, aku udah mau punya baby, nih. Bantu carikan nama, ya." Akankah seperti itu? Rain lebih memilih terbawa ombak laut dan mengambang di samudra jika begitu jadinya.

Dan sama seperti saat ini. Rain mendapat telepon dari nomor Kirana saat mengajari Dea. Bukannya sakit hati mengingat Kirana yang kawin lari tanpa permisi, tetapi perasaan Rain malah dongkol. Maka dia langsung mencabut baterai dari ponselnya. Lalu mengambil sim card-nya sendiri lalu mencampakkan benda kecil itu ke tempat sampah.

"Mas Rain abis ngapain?"

Rain menggeleng. "Nope. Cuma buang sampah."

Dea meregangkan otot tubuhnya. "Aku bosen, Mas. Main truth or dare, yuk?"

"Boleh," jawab Rain singkat.

"Nentuin gilirannya pake bulpen aja." Dea mulai memutar bulpen miliknya di atas meja. Kepala bulpen itu berputar untuk sejenak. Dan tiba-tiba Risa muncul dari dalam.

Risa berkata, "Saya udah selesai. TA-mu sampai mana, De--"

"AH, RISA KENA!" seru Dea dengan lantangnya.

Risa terjengkang kaget dari tempatnya berdiri. Matanya mengerjap menatap Dea dan Rain. Pandangan Risa jatuh kepada sebuah bulpen yang kini kepalanya sedang menunjuk ke arahnya.

"Kena... apa?" tanya Risa kemudian.

"Kita lagi main truth or dare," jawab Rain. "Kamu giliran pertama, Ris. Jadi kena truth."

Risa menatap keduanya sinis. "Maaf, tapi sejak kapan saya ikut main?"

"Sejak barusan," sahut Rain cepat.

Risa memutar bola mata. "Geez, oke." Ia duduk di seberang Rain dan Dea. "Ayo, buruan nanya," desak Risa tak sabaran.

"Siapa pacar pertama kamu?" tanya Rain cepat.

Dea tak mau kalah, "Kenapa mukamu selalu datar kayak gitu, Ris?"

Risa menyernyit. Mencoba menemukan jawaban dari teman-temannya itu. "Hm! Pacar pertama, ya?"

Risa memejamkan mata. Raut wajahnya tampak sedang berpikir keras. Lalu ia membuka mata. "Saya enggak pernah punya pacar," ujar Risa, jelas.

Rain ternganga. Dea melongo.

"Enggak pernah punya pacar?" ulang Dea, setengah tak percaya. "Bohong, nih, Risa."

"Diumurmu yang dua puluh dua tahun kamu enggak pernah punya pacar?" ucap Rain.

Risa mengangguk. "Heem."

"Sekali pun?"

"Enggak sekali pun. Mungkin kalau punya pacar bisa jamin saya jadi karyawan di Bank Indonesia, saya bakal nyari pacar," kata Risa asal. "Pertanyaan kedua. Kenapa muka saya selalu datar, betul begitu, De?

Dea mangut.

"Saya aja baru tahu. Emang muka saya selalu datar, ya? Masak, sih?" Tiba-tiba Risa bangkit. Ia melangkah lebar-lebar menuju kaca yang ada. Risa memerhatikan wajahnya sendiri. Lalu tergelaklah ia.

Rain dan Dea saling bertatapan.

Risa berseru, "Wah, ternyata iya, ya. Wajah saya datar banget. Saya baru nyadar!"

Rain menepuk jidat, sedangkan Dea masih tak bisa enyah dari rasa kagetnya. Dan Risa, sibuk terkikik di depan kaca.

Rain mendecakkan lidah. "Udah, deh! Ayo, main lagi!" serunya.

Risa kembali duduk di tenpat tadi. Dea pun segera memutar bulpen hijaunya lagi. Dan... kepala bulpen itu menujuk ke arah. Risa. Lagi. Risa memutar bola mata.

"Hell," desis Risa geram.

Dea lantas dengan bersemangat bilang, "Dare dari aku adalah... ," kata Dea memanas-manasi, "Risa harus ngajarin aku skripsi tiap hari supaya aku cepet kelar dan lulus!"

Risa terperangah. "Tiap hari?" ulangnya. "Wah, enggak bisa gitu, dong, De. Itu sama aja kamu merampas hari libur saya sebagai pengangguran yang belum dapet kerja," Risa menggerutu sebal.

Rain tertawa. "Dan dare dari aku... kamu harus menemin aku keluar minggu depan."

Risa melipat dahi. "Keluar ke mana?"

"Ke festival makanan deket kampus. Tahu, kan? Yang diadain tiap malem itu, lho," jawab Rain.

Risa membentuk mulutnya seperti huruf O. "Hem... oke. Kalau ada waktu, saya bakal ikut."

Rain menggelengkan kepala. "No, no. Ini bukan tawaran, ini perintah. A command. And you required to do it," ujar Rain, dengan nada tegas yang dibuat-buat. Hal itu mampu membuat Dea terbahak.

Risa mendengus sebal. "Terserah," kata Risa singkat. "Ayo, buruan diputer lagi." Risa menunjuk ke arah bulpen.

Dea langsung memutar benda hijau itu untuk ketiga kalinya. Dan... orang berikutnya adalah Rain.

Dea bertanya, "Mas Rain sama Mbak Kirana kok enggak pernah keliatan bareng lagi? Foto-foto kalian yang ada di Instagram-nya Mas Rain juga udah enggak ada. Apa kalian putus?"

Rain menatap Dea sinis. "Dasar, Stalker," kata Rain. Dea langsung nyengir.

"Iya, aku udah putus sama Kirana," jawab Rain setelahnya. Risa menatap Rain penuh arti.

"Putus kenapa?" tanya Dea, penasaran setengah mati.

Rain menjawab cepat, "Sayangnya dalam permainan ini cuma boleh mengajukan satu pertanyaan," jawab Rain. "Ayo, Ris. Giliran kamu."

"Kenapa Mas Rain putus dari Mbak Kirana?" tanya Risa, gamblang.

Suasana mendadak hening. Rain menatap Risa dengan tatapan setengah tak percaya. Risa pun memandang Rain dengan kedua mata berkilat-kilat. Tak ada yang berucap di antara mereka bertiga. Hingga Rain akhirnya membasahi kerongkongannya.

Ia berkata, "Karena kita memang enggak seharusnya bersama lagi."

*

Begitu mendengar rintik air hujan di atap rumah, Risa langsung melesat ke atas loteng. Kakinya menjejak tangga dengan tergesa-gesa. Risa menerobos Rain yang tampak ada di dalam 'kamar' lotengnya itu. Rain pun menatap Risa dengan heran. Rain memutuskan untuk mengekor di belakang, kemudian memerhatikan apa yang akan Risa lakukan, dan dugaan Rain pun benar. Risa tergaba-gaba mengumpulkan cuciannya yang belum kering itu ke dalam.

"Damn it," umpat Risa lirih selagi meletakkan pakaiannya ke dalam sebuah ember kosong yang ia bawa.

"Makanya, jangan jemur baju pas lagi mendung," ujar Rain, agak ketus.

"Saya kira cuaca hari ini terang, ternyata malah nge-PHP-in saya," Risa mengerutu sambil menjejalkan pakaiannya asal-asalan.

Rain mendengus keras. "Cuaca emang suka gitu. Cuaca mah gitu orangnya."

Risa memutar bola mata. "Geez, mending Mas Rain diem aja," sahut Risa ketus.

Rain mengidikkan bahu. "Terserah. Aku mau keluar." Rain berjalan ke pintu loteng.

Risa tampak tak mengerti. "Mas Rain ngapa--"

Tiba-tiba ucapan Risa terpotong. Ia tidak jadi bertanya. Risa teringat sesuatu, Rain suka hujan. Jelas dia mau hujan-hujanan. Tidak ada yang bisa menghentikan Rain jika disinggung perkara ini. Mungkin sebab itu pula dia bernama Rain, ya? Pikir Risa tiba-tiba.

Iseng, Risa melongokkan kepala ke arah loteng. Ia menjumpai Rain tengah berdiri dan menatap tengada ke atas langit. Kausnya basah kuyup total. Risa menggeleng heran. Diraihnya payung yang ada di balik pintu. Sesaat setelahnya ia sudah berada di samping Rain dengan mengenakan payung plastik bening. Kini Rain dan Risa sedang menatap kosong ke depan. Entah menatap apa. Keduanya hanya suka dengan apa yang mereka lihat. Atap-atap tetangga yang basah diguyur hujan, pohon lebat yang bergoyang tertiup angin, dan awan kelabu yang menggantung di atas kepala memberi kesan melankolis pada loteng itu.

"Aku mau nanya," kata Rain tiba-tiba. "Kamu nanya 'gitu' ke aku pas main ToD tadi maksudnya apa?"

Risa tampak berpikir. "Maksud Mas yang 'Kenapa Mas Rain putus dari Mbak Kirana?' itu?"

Rain mengangguk.

"Saya cuma pingin ngetes Mas Rain aja," jawab Risa ringan. "Saya pingin tahu, apa Mas Rain bakalan kasih tahu Dea yang sebenernya seperti Mas Rain cerita ke saya."

"Emang kenapa kamu ngelakuin itu? Kamu pingin masalahku ini jadi santapan publik di kampu--"

"Kalau Mas Rain takut masalah ini bocor, kenapa malah kasih tahu saya?" potong Risa.

Rain diam. Pikirannya berkelana jauh.

"Berdasarkan pemikiran saya, ya, Mas, Mas Rain dan Dea sudah kenal sejak lama. Jauh lebih lama daripada Mas Rain kenal sama saya. Dan logikanya, Mas Rain seharusnya bisa lebih percaya sama Dea dibandingkan saya," terang Risa. "Bahkan Mas Rain cerita tentang masalah pribadi Mas Rain ini di saat belum ada 10 menit kita kenal. Iya, kan?"

Rain mengusap tengkuknya frustasi. "Aku enggak pernah kasih tahu Dea masalah ini karena aku tahu kalo dia itu mulut ember," ujar Rain.

"Nah. Orang yang dekat sama Mas Rain aja enggak bisa jaga rahasia, gimana saya yang baru Mas Rain kenal?"

Skak mat. Rain tak dapat berkata apa-apa. Ucapan Risa mutlak menampar logikanya. Bahkan Rain sendiri saat itu tidak tahu mengapa dia bisa langsung mengumbar masalah pribadinya ini pada cewek asing yang baru dikenalnya.

"Aku... kasih tahu kamu karena aku percaya kamu enggak akan bocorin rahasiaku ke siapa-siapa," kata Rain pada akhirnya.

Risa menyahut cepat, "Saat itu kan kita baru kenal. Kok Mas Rain udah bisa tahu saya enggak akan buka mulut?" tantang Risa. Ia sangat menyukai perbedatan logika seperti ini. "Kan bisa aja saya itu mulut ember, saya ini paparazi kampus yang mencari gosip buat di tulis di mading, bisa aja--"

"Oke, oke, Ris. Fine! You win!" sela Rain geram. "Anggap aja waktu itu aku lagi frustasi dan butuh temen curhat, enggak usah dipikir--"

"Kalau gitu, Mas Rain kan bisa curhat ke--"

"Risa, stop it! Stop this argue!" seru Rain kesal.

Teriakan Rain itu diakhiri dengan gemuruh di langit Surabaya. Rain menatap Risa dongkol. Tangannya terkepal erat. Rain paling tidak suka berdebat. Apalagi dengan Risa yang sudah pasti menjadikannya sasaran empuk begini. Namun Risa tak mengacuhkan raut wajah murka Rain. Seulas senyum puas terbit dari bibir tipis Risa.

"Saya mau nanya, SIM card yang ada di tempat sampah itu punya Mas Rain?" tanya Risa.

"Iya. Kok kamu tahu?"

"Feeling," jawab Risa.

"Aku pingin ganti nomor aja," imbuh Rain. Berbohong.

"Pasti Mas Rain buang kartu itu karena Mas Rain udah mulai diteleponin sama Mbak Kirana, kan?" tanya Risa, tepat sasaran, "karena masih marah, Mas Rain buang, deh, kartu itu supaya enggak diganggu lagi."

Rain terperanjat. "Kok kamu bisa tahu, Ris? Aku kan enggak pernah bilang?"

"Saya tahu karena saya mikir," jawab Risa singkat. "Feeling saya, Mbak Kirana sekarang nyesel udah mencampakkan Mas Rain kayak sampah dan--"

"Bahasamu bisa lebih halus sedikit enggak?" potong Rain.

Risa tak peduli. "Tapi pada akhirnya Mbak Kirana menyesali tindakannya tersebut dan berusaha minta maaf. But, like we both see, Mas Rain udah nolak," terang Risa.

Rain diam. Bayang-bayang gadisnya yang memesona itu berkelebat cepat di benaknya. Rain mengumpat dalam hati. Dia bahkan masih dilema dengan perasaannya sendiri.

"Anyway, saya mau nanya lagi," ucap Risa.

"Apa?"

"Apa Mas Rain enggak masuk angin hujan-hujanan kayak gini?"

Rain hanya tertawa. Dadanya sedikit pilu.

Mungkin Risa benar. Rain masuk angin.

"Saya mau nanya lagi," ucap Risa, kesekian kali.

"Apa?"

"Apa Mas Rain sakit hati?"

Dengan sebuah cengiran lebar, Rain menatap Risa. "Iya, Ris. Aku sakit hati."

*

"Kamu tidak pernah anggap luka itu ada. Kamu hanya diam, tak lakukan apa-apa. Lalu berkata kalau kamu baik-baik saja."

Apa tidak lelah bersandiwara?"
-NLH

Tags: twm18

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Dieb der Demokratie
0      0     0     
Action
"Keadilan dan kebebasan, merupakan panji-panji dari para rakyat dalam menuntut keadilan. Kaum Monarki elit yang semakin berkuasa kian menginjak-injak rakyat, membuat rakyat melawan kaum monarki dengan berbagai cara, mulai dari pergerakkan massa, hingga pembangunan partai oposisi. Kisah ini, dimulai dari suara tuntutan hati rakyat, yang dibalas dengan tangan dingin dari monarki. Aku tak tahu...
Nadine
62      15     0     
Romance
Saat suara tak mampu lagi didengar. Saat kata yang terucap tak lagi bermakna. Dan saat semuanya sudah tak lagi sama. Akankah kisah kita tetap berjalan seperti yang selalu diharapkan? Tentang Fauzan yang pernah kehilangan. Tentang Nadin yang pernah terluka. Tentang Abi yang berusaha menggapai. dan Tentang Kara yang berada di antara mereka. Masih adakah namaku di dalam hatimu? atau Mas...
Daniel Whicker
60      20     0     
Mystery
Sang patriot ikhlas demi tuhan dan negaranya yang di khianati oleh negara dan dunia.. Dan Ayahnya pun menjadi korban kesadisan mereka...
Kinanti
0      0     0     
Romance
Karena hidup tentang menghargai yang kamu miliki dan mendoakan yang terbaik untuk masa nanti.
Melawan Takdir
17      8     0     
Horror
Bukan hanya sebagai mahkota pelengkap penampilan, memiliki rambut panjang yang indah adalah impian setiap orang terutama kaum wanita. Hal itulah yang mendorong Bimo menjadi seorang psikopat yang terobsesi untuk mengoleksi rambut-rambut tersebut. Setelah Laras lulus sekolah, ayahnya mendapat tugas dari atasannya untuk mengawasi kantor barunya yang ada di luar kota. Dan sebagai orang baru di lin...
Stuck In Memories
95      42     0     
Romance
Cinta tidak akan menjanjikanmu untuk mampu hidup bersama. Tapi dengan mencintai kau akan mengerti alasan untuk menghidupi satu sama lain.
Bertemu di Akad
59      19     0     
Romance
Saat giliran kami berfoto bersama, aku berlari menuju fotografer untuk meminta tolong mendokumentasikan dengan menggunakan kameraku sendiri. Lalu aku kembali ke barisan mahasiswa Teknik Lingkungan yang siap untuk difoto, aku bingung berdiri dimana. Akhirnya kuputuskan berdiri di paling ujung barisan depan sebelah kanan. Lalu ada sosok laki-laki berdiri di sebelahku yang membuatnya menjadi paling ...
An Invisible Star
55      32     0     
Romance
Cinta suatu hal yang lucu, Kamu merasa bahwa itu begitu nyata dan kamu berpikir kamu akan mati untuk hidup tanpa orang itu, tetapi kemudian suatu hari, Kamu terbangun tidak merasakan apa-apa tentang dia. Seperti, perasaan itu menghilang begitu saja. Dan kamu melihat orang itu tanpa apa pun. Dan sering bertanya-tanya, 'bagaimana saya akhirnya mencintai pria ini?' Yah, cinta itu lucu. Hidup itu luc...
Meja Makan dan Piring Kaca
524      72     0     
Inspirational
Keluarga adalah mereka yang selalu ada untukmu di saat suka dan duka. Sedarah atau tidak sedarah, serupa atau tidak serupa. Keluarga pasti akan melebur di satu meja makan dalam kehangatan yang disebut kebersamaan.
Late Night Stuffs
11      4     0     
Inspirational
Biar aku ceritakan. Tentang tengah malam yang terlalu bengis untuk membuat pudar, namun menghentikan keluhan dunia tentang siang dimana semua masalah seakan menjajah hari. Juga kisah tentang bintang terpecah yang terlalu redup bagi bulan, dan matahari yang membiarkan dirinya mati agar bulan berpendar.