Read More >>"> Kisah Tak Berbingkai (Jiwa Yang Bergabung) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Kisah Tak Berbingkai
MENU
About Us  

“Jiwa Yang Bergabung”

Juni Sari

 

Namaku Varyn. Bagiku, istilah belahan jiwa adalah seseorang yang membuat rasa lelahku hilang ketika menatap matanya. Dia juga adalah orang yang membuat diriku rela membagi waktuku yang tak tahu masih banyak ataukah tinggal sedikit di dunia. Bisa aku pastikan perasaanku padanya bukanlah rasa suka, bukan pula rasa sayang. Tetapi cinta. Cinta adalah sebuah kata yang mudah diucap lewat bibir tetapi tidak mudah dirasakan lewat hati. Karena rasa cinta itu pula, hidupku yang tak punya rumah ini mulai merasa memilikinya. Aku setuju bahwa rumah bukanlah soal tempat, tapi soal perasaan. Pada rasa hangat pelukan itu, aku merasakan berada di dalam rumah walaupun aku tidak sedang berada di atas ranjangku. Aku merasa pulang ke rumah saat aku memeluk pria bertinggi badan 180cm itu.

Diriku yang terbelah dalam wajah lain, jenis kelamin lain, tubuh lain, dan darah lain itu bernama Jay. Jay adalah seorang penulis, sama sepertiku. Pada tutur katanya yang indah aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda dalam hatiku. Awalnya aku hanya penasaran pada dirinya, mengapa ia rela terpaku berjam-jam di depan komputer hanya untuk meluapkan isi pikirannya.

“Aku menulis karena ingin meninggalkan jejak di bumi,” ungkapnya.

Aku terpana oleh alasannya itu. Terdengar bodoh memang, tapi begitulah jikalau seseorang sedang dimabuk asmara. Dan tak berhenti pada satu alasan itu saja, aku juga menyukai aroma buku yang menempel pada telapak tangannya. Bagiku, aroma buku jauh lebih menggoda daripada aroma popcorn yang menusuk ketika aku memasuki gedung bioskop.

Pada awal perkenalan kami, Jay juga pernah mengakui hal yang sama bodohnya denganku. Dia terpana pada alasan mengapa aku memilih menjadi seorang penulis.

“Karena aku ingin curhat... tetapi tidak ingin kelihatan sedang curhat,” ucapku padanya beberapa tahun lalu.

Alasan kami sangat jauh berbeda, walaupun kegiatan yang kami lakoni sejak duduk di bangku sekolah itu sama hasilnya, yaitu serpihan-serpihan kertas berisi kata yang disebut sebuah buku.

Lewat puisi-puisi yang tersurat dalam bukuku, tersimpan kisah cinta yang mengambang tanpa status pernikahan. Hingga pada novel ketiga Jay, ia mulai menghirup aroma keyakinan bahwa aku adalah belahan jiwa untuknya yang disembunyikan tuhan di balik rasa cinta pada sastra yang tumbuh bersamanya.

“Aku ingin menjadikanmu wanitaku. Bukan koki yang aku paksa memasak setiap hari untukku, bukan pula pembantu yang aku caci ketika rumah berantakan, bukan juga boneka yang aku harapkan tetap diam dan mengalah pada setiap masalah yang ada, apalagi kupu-kupu malam yang aku pinta tampil menggoda ketika berhadapan denganku. Engkau ingin aku jadikan pasanganku yang layak kuberi cinta dan kasih sayang. Bersediakah engkau mendampingiku dalam hidup ini sembari mematuhi takdir tuhan?” tulis Jay pada novel yang berhasil mengisi rak bestseller di toko buku seluruh indonesia.

Dialog dalam novelnya itu pula ia gunakan untuk melamarku di kota seoul tahun lalu.

Dengan sebuah kata berbahasa korea aku menjawabnya.  “Ne...” yang berarti iya.

Di hari pernikahan kami, kami berjanji untuk berpasangan bagai kulit dan darah. Di mana darah akan selalu mengucur saat kulit terluka, sebaliknya ketika darah sudah mengucur terlalu lama, maka kulit harus merapat untuk menyembuhkannya.

Sebelum memasuki sebuah pernikahan, atau bahkan sebelum menemukan seorang belahan jiwa, aku meyakini bahwa seseorang harus menemukan jati dirinya terlebih dahulu. Aku adalah seorang gadis bernama Varyn yang kosong jiwanya sebelum diriku menemukan sebuah buku kumpulan sajak berjudul Hujan Bulan Juni.  Buku bersampul putih dengan gambar titik-titik air dan selembar daun itu, sukses menginspirasiku untuk menulis buku kumpulan puisi pula. Dan ketika aku berhasil merampungkan buku itu, semesta menciptakan jalan bagi Jay dan aku untuk menyatukan jiwa kami yang sempat terbelah jarak dan waktu.

Jarak dan waktu yang diciptakan oleh tuhan untuk kami, telah kami akali dengan tinggal serumah dalam ikatan pernikahan pada rangka beribadah kepada-Nya. Tentu saja pernikahan yang untuk beribadah adalah persatuan antara keping jiwa sebelah kanan dan keping jiwa sebelah kiri dari dua insan yang berbeda, cocok jika dipadukan tanpa perlu mengandalkan ahli puzzle.

Rumah kami yang terletak di perumahan elit kota seoul berhasil melindungi kepala kami agar tak basah karena hujan, pula tak panas sebab terik selama setahun terakhir. Dinding yang dicat warna putih telah menjadi saksi bisu dua insan yang bersumpah saling melengkapi seperti kami. Dan hari ini, ubin putih yang kutapaki ini akan menjadi saksi bisu kehadiran belahan jiwa kedua aku dan Jay yang disimpan tuhan di dalam rahimku. Menurut prediksi dokter, dia akan lahir ke dunia ini beberapa hari lagi.

“Kok pengen makan yang manis-manis ya?” ucapku pada Jay yang sedang sibuk melanjutkan novel keempatnya.

“Sama sih... aku juga pengen makan yang manis-manis,” canda Jay.

“Ih! Aku serius nih. Pengen makan yang manis-manis.” Mendengar tanggapanku itu, Jay beranjak dari depan komputernya dan bergegas membawakan sebatang cokelat kepadaku yang sedang sibuk melipat kain.

“Ini cokelatnya... makan ya... wahai belahan jiwaku,” tutur Jay sembari menatap lekat mataku dan mengelus perutku.

Aku membalas tatapan itu dengan senyuman yang lebar. Tiba-tiba saja rasa mulas kontraksi menyerangku. Namun rasa mulas itu terkadang timbul, terkadang pula tenggelam.

“Aduh mulai mulas nih.” Ucapanku itu menggerakkan kami menuju kamar bersalin sebuah rumah sakit yang sudah dipesan oleh Jay sejak seminggu yang lalu.

Tak kusangka sore itu menjadi awal perjalananku untuk menghadirkan belahan jiwa kedua dalam hidupku dan Jay. Belahan jiwa kedua itu ialah buat hati kami. Istilah belahan jiwa kedua yang tepat bagiku untuk menggambarkan seorang anak yaitu; dia yang senafas, sedarah, dan satu detak denganku. Batinku akan menjadi batinnya. Dan bagi Jay, istilah belahan jiwa kedua untuk anaknya itu ialah; sebuah amanah dari tuhan untuk ia jaga dan cintai, bagai ia mencintai diriku dan dirinya sendiri.

Penggalan-penggalan nafas sembari mengejan berhasil menghasilkan seorang anak perempuan yang cantik ke dunia dalam kurun waktu 2 jam.

“Selamat ya... Ibu Varyn dan Bapak Jay telah menjadi orang tua,” ucap suster sembari membersihkan tubuh belahan jiwa kami.

Setelah semua proses persalinan yang penuh perjuangan itu selesai, Jay duduk di sebelahku sembari membelai rambutku dengan penuh perasaan.

“Sepertinya anak kita bukanlah sekedar belahan jiwa untuk kita.” Ucapannya itu berhasil membuat diriku yang masih lemas sedikit penasaran.

“Mengapa?” tanyaku.

“Tidakkah kau rasa? kita yang menyatukan jiwa kita yang terbelah adalah untuk menghasilkan jiwa yang terbelah pula untuk bergabung dengan jiwa yang terbelah lainnya?” jawab Jay.

“Ya...kamu benar. Tapi... akan lebih tepat jika anak kita adalah jiwa terbelah yang berasal dari jiwa yang bergabung, dan akan bertemu dengan jiwa terbelah di tempat lain yang berasal dari jiwa yang bergabung di tempat lain pula.”

“Hahaha... ribet ya. Tapi aku pikir itu tepat,” timpal Jay.

Hari hadirnya belahan jiwa kami yang masih memiliki satu keping jiwa itu, terasa begitu bahagia sebab ia adalah putri pertama kami. Aku dan Jay kembali berjanji, kami akan berusaha menjadi sepasang orang tua yang akan menjaga anak kami dengan baik bagai kami menjaga iman kami kepada tuhan yang maha esa.

Tags: cerpen

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Gray Paper
4      4     0     
Short Story
Cinta pertama, cinta manis yang tak terlupakan. Tapi apa yang akan kamu lakukan jika cinta itu berlabuh pada orang yang tidak seharusnya? Akankah cinta itu kau simpan hingga ke liang lahat?
Lilian,Gelasmu Terisi Setengah
5      5     0     
Short Story
\"Aku bahkan tidak dikenali oleh beberapa guru. Sekolah ini tidak lain adalah tempat mereka bersinar dan aku adalah bagian dari figuran. Sesuatu yang tidak terlihat\"
Oscar
5      5     0     
Short Story
Oscar. Si kucing orange, yang diduga sebagai kucing jadi-jadian, akan membuat seorang pasien meninggal dunia saat didekatinya. Apakah benar Oscar sedang mencari tumbal selanjutnya?
Hati dan Perasaan
1033      703     8     
Short Story
Apakah hati itu?, tempat segenap perasaan mengendap didalamnya? Lantas mengapa kita begitu peduli, walau setiap hari kita mengaku menyakiti hati dan perasaan yang lain?
Trick or Treat!
3      3     0     
Short Story
Malam Halloween ... saatnya untuk "Trick or Treat!"
Bajingan yang Terlalu Indah untuk Dilupakan
2      4     0     
Short Story
Manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia merasakan perpisahan yang menyedihkan dan yang mampu membuka pikirannya, merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan (Kahlil Gibran)
Sending My Love To Heaven
5      5     0     
Short Story
Untukmu, lelaki yang pernah membuat hidupku berwarna. Walau hanya sementara.
Aldi. Tujuh Belas. Sasha.
2      2     0     
Short Story
Cinta tak mengenal ruang dan waktu. Itulah yang terjadi kepada Aldi dan Sasha. Mereka yang berbeda alam terikat cinta hingga membuatnya tak ingin saling melepaskan.
Search My Couple
5      5     0     
Short Story
Gadis itu menangis dibawah karangan bunga dengan gaun putih panjangnya yang menjuntai ke tanah. Dimana pengantin lelakinya? Nyatanya pengantin lelakinya pergi ke pesta pernikahan orang lain sebagai pengantin. Aku akan pergi untuk kembali dan membuat hidupmu tidak akan tenang Daniel, ingat itu dalam benakmu---Siska Filyasa Handini.
Anak Coklat
5      5     0     
Short Story
Alkisah seorang anak yang lahir dari sebatang coklat.