Read More >>"> Kisah Tak Berbingkai (Beda Tapi Sama) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Kisah Tak Berbingkai
MENU
About Us  

Beda Tapi Sama

Juni Sari

 

“Ada daging yang halal bagimu, haram baginya. Ada daging yang haram bagimu, halal baginya. Ada hari di agamanya mereka bersukacita, namun di agamamu hari itu menjadi hari untuk berbelasungkawa. Tapi… biarlah saja berbeda agama, Tuhan adalah satu, yang terpenting hatimu dan hatinya adalah sama atas nama cinta.”

****

Angin malam menyapa kasar kulit tipis Jovaryn. Ia tergesa-gesa mengejar waktu agar tak disangka wanita malam, sebab itu adalah tabu. Bahwa gadis yang pulang malam lewat pukul 19.00 adalah wanita malam, tak peduli apapun alasan keterlambatannya. Ponselnya diteror oleh bundanya menandakan keadaan gawat, jikalau dalam waktu 10 menit Jovaryn tidak sampai ke rumah, maka ia akan mati ditembak peluru kata tajam dari tetangganya. Tetangganya seakan-akan menjadi orang bijak yang serba benar dalam hidup keluarga Jovaryn.

Sebentar Bunda, ini sudah mau sampai,” ucap Jovaryn menenangkan bundanya.

Belum sempat Jovaryn mendengar balasan kata dari bundanya, ponsel itu  terampas dari tangan. Seorang pria berjaket hitam merampas alat komunikasi itu dari tangan munggil Jovaryn.

Ia hendak berteriak, “rampok!”

Namun… pria berjaket hitam lainnya datang dengan niat yang berbeda. Pria itu berhasil melumpuhkan perampok itu dengan sigap, dan ponsel itu berhasil diraihnya. Melihat kekuatan pria yang berjaket serupa dengannya lebih kuat, perampok itu pun lari terbirit-birit.

Pria yang dikenal bernama Asabha itu, mendekati Jovaryn untuk mengembalikkan ponselnya. Disaat yang bersamaan, Jovaryn merasa bahwa ponselnya telah dikembalikan, namun hatinya telah dicuri. Keberanian seorang Asabha membuatnya hatinya merasa aman.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Asabha.

Jovaryn mengangguk pelan karena sifat pemalunya. Asabha tersenyum lega karena gadis berhijab dihadapannya tersenyum melalui matanya.

Ponsel Jovaryn kembali berdering, ia menjadi galau. Haruskah ia pergi membungkam mulut tetangganya atau tetap tinggal untuk membungkam rasa penasarannya.

“Mau aku temani sampai ke rumah?” Asabha kembali menunjukknya kebaikan niatnya.

“Tidak perlu, saya bisa sendiri. Terima kasih ya….” Pamit Jovaryn.

Ia pun bergegas meninggalkan Asabha; hatinya.

Asbha tetap mengikuti Jovaryn dari jauh walaupun tawarannya telah ditolak. Ia paham betul, terkadang saat wanita berkata tidak; ia hanya terlalu malu untuk mengiyakan. Jovaryn pun sampai dengan selamat di rumahnya. Selamat dari perampok, pula selamat dari tembakan peluru kata tajam tetangganya. Asabha menandai rumah megah milik gadis yang anggun itu di matanya.

“Ah… aku lupa tanya siapa namanya,” sesal Asabha.

Malam itu adalah takdir bagi mereka. Dua insan yang baik dalam setiap niatnya, dipertemukan untuk saling berbagi rasa.

***

Keesokan paginya, Jovaryn diberitahu bundanya bahwa ada seorang teman datang mencarinya. Jovaryn berpikir keras, siapa teman yang datang bertamu di pagi hari saat semua orang hendak pergi bekerja. Ia pun bergegas mengitip ke ruang tamu. Matanya yang sudah besar semakin membesar karena terbelalak. Tamu itu adalah  Asabha, pria yang dikenalnya sebagai penyelamat.

“Pagi….” Sapa Jovaryn lembut.

“Hai….” Balas Asabha.

“Ada apa datang kemari?” tanya Jovaryn.

“Saya ingin lebih mengenalmu.”

Jovaryn dibuat salah tingkah oleh ucapan Asabha. Diajaknya Asabha untuk ngobrol di luar saja, sembari berjalan ke tempat kerja. Jovaryn pun pamit kepada orang tuanya bersama dengan Asabha.

Jovaryn bekerja sebagai guru matematika di sekolah dasar dekat rumahnya. Perjalanan mereka menuju sekolah sedikit canggung, sebab Asabha berusaha semaksimal mungkin menjaga jarak dengan gadis yang dihormatinya.

“Kemarin, aku lupa tanya siapa namamu,” kata Asabha.

“Iya…  Namaku Jovaryn. Siapa namamu?”

“Namaku Asabha, yang artinya pemberani.”

Jovaryn menghentikan langkah kakinya untuk mengagumi sebuah nama. Ia menyadari bahwa Asabha memanglah seorang pemberani. Melawan perampok, lalu datang ke rumahnya hanya untuk mengetahui siapa namanya. Untuk kedua kalinya, hati Jovaryn tercuri oleh sosok tegap dengan rambut hitam pekat senada dengan jaketnya.

Tapi kemudian, Jovaryn menyadari bahwa Asabha adalah sebuah nama yang biasa dipakai oleh umat yang berbeda keyakinan dengannya. Hatinya menjadi mendung seketika.

“Terima kasih sudah mengantarku,” ucap Jovaryn sembari memasuki gedung sekolah.

Asabha menatap punggung wanita anggun itu menghilang dari dua belah matanya. Entah mengapa Asabha merasa nyaman berada di dekat Jovaryn. Ia menyadari bahwa aura kecantikan dari dalam hati Jovaryn telah menyelimutinya. Gadis yang menutup auratnya itu membuat Asabha terkagum-kagum pada kesopanannya, meskipun ia tahu bahwa keyakinan dan suku mereka berbeda.

***

Pukul 13.00 adalah jam dimana Jovaryn pulang mengajar. Matanya kembali mendapati Asabha menunggunya di depan gerbang sekolah. Ia menerka-nerka, pria dengan senyuman hangat itu mau apa darinya. Kali ini Jovaryn berusaha keras agar hatinya tidak terampas untuk ketiga kalinya.

“Kenapa masih di sini?” tanya Jovaryn.

“Aku hanya ingin memastikan kamu pulang dengan selamat,” jawab Asabha.

“Aku hendak pergi makan siang.” Jovaryn berusaha menghindari Asabha.

“Aku tahu tempat yang enak, kamu mau mencoba?” ajak Asabha.

Hati Jovaryn luluh lagi, ia merasa bahwa Asabha adalah orang yang tulus. Ia pun mengiyakan ajakan makan siang itu, ia percaya bahwa Asabha adalah orang yang baik sama sepertinya.

Tibalah mereka di rumah makan yang menyediakan segala macam daging. Asabha memesan untuk Jovaryn yang sudah duduk terlebih dulu di meja makan. 10 menit kemudian, pesanan Asabha pun tersaji di hadapan mereka. Jovaryn terkejut dengan daging pesanan Asabha. Darah Jovaryn mulai naik karena tersinggung oleh makanan haram yang tersaji di hadapannya.

“Apa maksudmu?” Tanya Jovaryn marah.

“Aku memesan daging-daging ini bukan untuk membuat jarak diantara kita, tapi untuk mempererat kita agar kita terbiasa. Tentang haram dan halal biarlah cinta yang menegahi kita,” jelas Asabha.

Tiba-tiba hati Jovaryn tersentuh. Ia menyadari bahwa pria yang bervegetarian musiman itu menyimpan perasaan yang sama. Pria yang baru dijumpainya itu, benar-benar tidak bertele-tele dalam berhubungan. Akhirnya… Jovaryn menemukan pria yang benar-benar sesuai dengan kriteria idamannya.

Mereka berdua sama-sama tidak melahap daging haram itu. Beginilah cara mereka menghargai dan menghormati perasaan keduanya, pula tak lupa pada keyakinannya. Sebuah cinta membara dalam hati Jovary, kehampaan pun sirna dari sorot matanya. Kepada pria yang taat itu, ia luluh bagai es yang mencair. Tak jauh berbeda dengan Asabha, ia menetapkan titik tempuh terakhirnya pada seorang gadis yang cantik luar dalam baginya, tak peduli tentang perbedaan suku dan keyakinan.

Setelah makan siang yang menciptakan sebuah ikatan di antara dua insan itu, mereka pun pulang ke rumahnya masing- masing.

***

Ketika sampai di rumah, Jovaryn langsung diinterogasi oleh orang tuanya. Bunda Jovaryn tampak penasaran dengan pria pemberani yang mendatangi rumah mereka tadi pagi. Dengan percaya diri, Jovaryn memperkenalkan Asabha sebagai kekasihnya.

“Kamu yakin mau mencintai orang yang berbeda keyakinan?” cela ayah Jovaryn.

“Ya,” jawab Jovaryn singkat dan tegas.

“Sebaiknya engkau pikirkan kembali keputusanmu. Ada daging yang halal bagimu, haram baginya. Ada daging yang haram bagimu, halal baginya. Ada hari di agamamu engkau berpesta, namun di agamanya hari itu menjadi hari untuk berbelasungkawa.”

“Aku tak peduli. Biarlah agama kami berbeda, tetapi hati kami sama atas nama cinta.” Jovaryn menjawab tegas lagi.

“Perbedaan tak perlu diperangi, sebab hati akan menyatukannya sendiri,” lanjut Jovaryn yang membuat ayahnya terbungkam.

***

Hari berganti hari bagai angin lalu lalang. Pria yang bertugas sebagai pembela negara itu, gencar memperjuangkan cintanya. Hati kedua orang tua Jovaryn pun mulai luluh sebab Asabha sering datang bertamu. Asabha tak lelah-lelahnya menunjukkan keseriusan hatinya. Pula hati jovaryn tak goyah untuk mempercayai Asabha sebagai jodohnya. Jovaryn pun turut diperkenalkan kepada orang tua Asabha. Orang tua Asabha tak melarang ikatan mereka. Sebab bagi orang tua Asabha, yang patut dinilai dari seorang wanita adalah akhlaknya. Permasalahan perbedaan suku dan agama itu tampak tak berarti sebab kebaikan niat mereka.

Cinta Jovaryn dan Asabha kepada Tuhan tak akan berubah, sebab cinta Tuhan pada umatnya tak akan pernah berubah. Cinta Jovaryn pada lelakinya juga diyakininya tak berubah, sebab Asabha pun menyakini bahwa cinta Jovaryn padanya tak mudah berubah. Sepasang kekasih itu mampu mencintai Tuhan dan umatnya walau berbeda cara ibadah dalam hati kecil yang sama.

Cinta mereka akhirnya berlabuh di pelaminan. Sepasang insan itu pun hidup dalam indahnya harmoni pernikahan. Kisah cinta mereka berbuah manis sebab ikatan mereka didasari oleh ketulusan perbuatan, kebaikan niat, pula keselarasan watak. Keberanian seorang Asabha dan kesabaran seorang Jovaryn mampu menyatukan perbedaan mereka.

***

Tags: cerpen

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Andaikan waktu bisa diperlambat
601      415     11     
Short Story
kisah dua sahabat bernama Bobby dan Labdha yang penuh dengan tawa dan tantangan soal waktu.
Kutu Beku
4      4     0     
Short Story
Cerpen ini mengisahkan tentang seorang lelaki yang berusaha dengan segala daya upayanya untuk bertemu dengan pujaan hatinya, melepas rindu sekaligus resah, dan dilputi dengan humor yang tak biasa ... Selamat membaca !
Aldi. Tujuh Belas. Sasha.
2      2     0     
Short Story
Cinta tak mengenal ruang dan waktu. Itulah yang terjadi kepada Aldi dan Sasha. Mereka yang berbeda alam terikat cinta hingga membuatnya tak ingin saling melepaskan.
Sending My Love To Heaven
5      5     0     
Short Story
Untukmu, lelaki yang pernah membuat hidupku berwarna. Walau hanya sementara.
Broken Promises
581      428     5     
Short Story
Janji-janji yang terus diingkari Adam membuat Ava kecewa. Tapi ada satu janji Adam yang tak akan pernah ia ingkari; meninggalkan Ava. Namun saat takdir berkata lain, mampukah ia tetap berpegang pada janjinya?
Oscar
5      5     0     
Short Story
Oscar. Si kucing orange, yang diduga sebagai kucing jadi-jadian, akan membuat seorang pasien meninggal dunia saat didekatinya. Apakah benar Oscar sedang mencari tumbal selanjutnya?
Anak Coklat
5      5     0     
Short Story
Alkisah seorang anak yang lahir dari sebatang coklat.
Hati dan Perasaan
1033      703     8     
Short Story
Apakah hati itu?, tempat segenap perasaan mengendap didalamnya? Lantas mengapa kita begitu peduli, walau setiap hari kita mengaku menyakiti hati dan perasaan yang lain?
Bisakah Kita Bersatu?
6      6     0     
Short Story
Siapa bilang perjodohan selalu menguntungkan pihak orangtua? Kali ini, tidak hanya pihak orangtua tetapi termasuk sang calon pengantin pria juga sangat merasa diuntungkan dengan rencana pernikahan ini. Terlebih, sang calon pengantin wanita juga menyetujui pernikahan ini dan berjanji akan berusaha sebaik mungkin untuk menjalani pernikahannya kelak. Seiring berjalannya waktu, tak terasa hari ...
Snow
35      11     0     
Romance
Kenangan itu tidak akan pernah terlupakan