Merantau
Merantau adalah baginya yang ingin pergi jauh dari rumah dan baginya yang tidak ingin pergi jauh dari rumah. Merantau adalah baginya yang ingin mencari uang atau yang ingin mencari kebebasan. Merantau adalah yang baginya terpaksa pergi, yang dipaksa pergi, dan yang sangat ingin pergi. Merantau adalah baginya yang mungkin tidak seberani itu ... tetapi keadaan memaksanya. Sebagian pergi dengan sepenuh hati, ada pula yang pergi setengah hati, bahkan ada yang pergi tanpa hati. Hati yang lemah tak berarti memiliki kaki yang lemah untuk melangkah lebih jauh, lebih banyak, dan lebih tegas. Kemudian hati yang pernah terkurung, kini akan terbebaskan. Kepergian seorang perantau tak mudah ia jelaskan kepada orang lain ketika ditanya, pula tak mudah jujur dalam menjawab tentang kemana dan alasan kepergiannya itu.
Menyiapkan semua perlengkapan dalam sebuah tas besar, tak lupa menyelipkan impian di dalamnya. Merantau adalah bagi yang mimpinya tak ia gapai dalam jarak terdekat. Sang perantau seringkali yang dipuji pekerja keras atau bahkan terhina sebagai penggila uang. Yang kadang dikatai kejam, rela meninggalkan rumah dan keluarga demi sebongkahan uang. Padahal sesungguhnya, jikalau sebongkahan uang atau kebebasan itu dapat dijangkau dari jarak dekat, siapa pula yang ingin pergi jauh? hati seorang perantau adalah yang seringkali gundah biarpun ia terlihat sebagai seorang pemberani sejati.
Pergi merantau membuat seseorang mendadak punya bakat akting. Baginya yang sebenarnya tak sanggup pergi tetapi terpaksa, ia akan memberikan senyuman terbaiknya padahal hatinya menangis dahsyat. Baginya yang sebenarnya sanggup pergi tetapi pura-pura tak sanggup, ia akan menangis biarpun hatinya sangat lega demi pelariannya. Merantau tak melulu tentang uang, tetapi juga demi mendapatkan pengalaman. Karena di tanah yang bukan kampung halaman, segalanya akan benar-benar berbeda. Bahkan mungkin ketika dijalani terasa amat kejam, menyebabkan trauma, dan rasanya ingin segera pulang. Atau mungkin di sebagaian orang lagi terasa amat menantang sampai tak ingin kembali pulang.
Hal tersulit dalam sebuah perantauan mungkin adalah rindu. Saban hari tercekik air mata sendiri sebab begitu inginnya memeluk orang yang dicintainya. Jarak akan banyak disalahkan, puisi bertema rindu akan banyak dituliskan, dan kata menyerah akan banyak bermunculan. Tetapi banyak orang di perantauan yang bahkan tidak boleh menyerah biarpun ia ingin, biarpun ia sekarat, biarpun ia seakan segera lenyap. Seseorang yang merantau seakan tak punya kata pulang dalam pilihan sehari-harinya.
Hal tersulit dalam sebuah perantauan mungkin adalah pulang. Berada di tanah yang bukan kampung halamannya malah justru memberinya kenyamanan. Jarak banyak disyukurinya, ia bahkan mungkin mulai berhenti membenci orang yang biasanya dibencinya. Ia bahkan mungkin mulai mencintai yang tak pernah dicintainnya. Ia bahkan mulai memikirkan orang yang tak pernah dipikirkannya. Atau mungkin ia merasa tenang saja, sebab tak perlu memikirkan dan bertengkar pada siapa yang seringkali dijauhinya. Merantau memang tak selalu bagi orang yang tak mau pergi dan selalu ingin pulang, tetapi juga bagi orang yang selalu ingin pergi dan tak pernah lagi ingin pulang.
00:57, Medan, 22 November 2019