Rumah
Berada di rumah sendiri terasa asing tetapi berada di rumah orang lain terasa nyaman. Berada di rumah sendiri terasa bagai neraka yang panas, menyesakkan, dan sangat menyiksa - tetapi berada di rumah orang lain terasa bagai surga yang damai, aman, dan hangat. Memiliki rumah yang berdiri kokoh di atas tanah tak selalu berarti benar-benar memilki rumah – serta tak memiliki rumah yang berdiri kokoh di atas tanah tak selalu berarti benar-benar terdampar.
Suatu rumah terkadang siapa tuannya malah tamunya yang berkuasa di dalamnya. Kadang orang lain tak paham betapa susahnya ia memiliki sebuah rumah. Orang lain mengira rumah bisa dibeli pakai santet dan bisa dibangun pakai sihir. Bukan bermaksud sombong tak mau menerima tamu, tetapi terkadang ada tamu yang hanya datang untuk mengotor-ngotori pikiran dan hati. Hawa rumah seketika buruk dibuatnya, pula yang nanti membersihkan malah tuannya.
Serumah dengan orang lain kadang tak mudah biarpun itu orang yang kita cintai. Atau pun mungkin tak serumah dengan orang yang kita cintai malah lebih sukar lagi. Suatu rumah mudah terasa begitu kosong dan mudah terasa begitu hiruk. Sebagian ingin orang lari dari rumahnya dan pergi ke rumah yang bukan rumahnya, dan sebagian orang ingin pulang dari yang bukan rumahnya menuju rumah miliknya. Beberapa manusia memang tak di tempatkan sesuai dimana hatinya ingin berlabuh - sehingga yang seharusnya rumah tak terasa bagai rumah rumah dan yang seharusnya bukan rumah terasa bagai rumah. Intinya, sebuah rumah dapat benar-benar disebut rumah jika di dalamnya itu Sang tuan merasa aman dan nyaman. Tak terusik, tak terisak, dan tak terusir.
15:51, Medan, 18 November 2019