Dekat dan Renggang
Sebab jumpa maka kenal. Sebab kenal maka dekat. Sebab dekat maka terluka. Sebab terluka maka menjauh. Sebab menjauh maka renggang. Inilah mengapa orang-orang mulai takut untuk berjumpa, kemudian kenal, lalu dekat, tetapi malah berakhir luka. Konon yang terlihat bringas ternyata lembut dan yang terlihat lembut ternyata ganas. Semua hal itu dapat tercium ketika dekat, oleh karenanya kedekatan rentan membuat terluka. Apakah manusia memang sebaiknya sendiri-sendiri saja?
Dekat memang tak berarti rekat, sedangkan jauh tak berarti renggang. Terkadang malah siapa yang jarang dengannya malah lebih rekat daripada yang dekat dengannya. Yang sesunggunya rekat kadang disingkirkan sebab tak masyhur namanya. Tetapi yang renggang dengannya bisa tiba-tiba mengaku rekat di saat dia masyhur namanya. Tak heran bahwa yang dijelek-jelekkan bisa tiba-tiba disanjung ketika berputarnya roda kehidupan.
Manusia memang tidak bisa hidup sendirian, tapi entah mengapa jika dekat dengan yang lain malah terlihat menakutkan. Renggang memang memilukan, walaupun terkadang lebih baik renggang daripada dekat dengan yang suka mengambil keuntungan apalagi yang suka menebar benih kesukaran. Dekat mudah menunjukkan diri yang sesungguhnya dan renggang mudah menjelekkan yang bukan dirinya. Terkadang siapa yang seharusnya dekat dengan siapa tak terwujud dan siapa yang seharusnya renggang dengan siapa tak terlealisasikan.
14:56, Medan, 18 November 2019