Pura-Pura
Pura-pura tak tersayat, padahal dirinya juga berdarah oleh orang yang mengaku telah dilukai. Dirinya yang terpleset berkali-kali oleh darahnya sendiri tetapi yang memegang belati bersih-keras dirinya tak punya belati bahkan tak mengenal belati. Sang pemilik belati dengan teguh menyatakan dirinya yang paling terlukai tanpa pernah sadar juga telah melukai lebih daripada luka yang sedang dikeluhkannya. Bukankah terkadang manusia perlu saling menjagai atau setidaknya menjagai dirinya sendiri agar tak manis di depan ternyata menghujam di belakang. Kalau kini berbicara tentang saling menyayat, mungkin salah satu tetap tak mau mengakui.
Pura-pura tak tersinggung, padahal dirinya yang paling dijatuhkan oleh orang yang mengaku punya perasaan. Dirinya menghantam tanah berkali-kali tetapi yang menjatuhkan bersih-keras dirinya punya kaki yang pendek tanpa pernah sadar bahwa tangannya turut berkontribusi. Sang pemiliki kaki pendek dan ringan tangan itu seakan merasa paling suci. Bukankah terkadang manusia perlu saling merangkul setidaknya merangkul kaki dengan tangan sendiri agar tak terlihat hangat di luar tetapi teramat dingin di dalam. Kalau kini berbicara tentang saling menyinggung, mungkin salah satu tetap tak mau mengakui.
Pura-pura tak emosi, padahal dirinya yang paling tertindas oleh orang yang mengaku lemah. Dirinya tersiram kata panas berkali-kali tetapi yang menyiram bersih-keras dirinya tak punya penanak kata. Sang penyiram kata panas tak pernah sadar bahwa dirinya telah melepuhkan hati orang lebih lebih hancur daripada kehancuran hati yang pernah dikeluhkannya. Bukankah terkadang manusia perlu saling mendinginkan setidaknya kepala sendiri agar tak saling menyiram ketika tak ada yang ingin tersiram. Kalau kini berbicara tentang saling menindas, mungkin salah satu tetap tak mau mengakui.
Pura-pura tak kecewa, padahal dirinya yang paling terkhianati oleh orang yang mengaku setia. Dirinya tercampakkan jauh berkali-kali oleh orang yang bersih-keras dirinya berkomitmen pada satu hati. Sang pengkhianat tak pernah sadar bahwa dirinya telah mempermainkan lebih dari satu hati. Bukankah terkadang manusia perlu menjaga ikrar agar yang diberi harap tidak menanti untuk sesuatu yang tak pantas ditunggu. Kalau kini berbicara tentang kebodohan, mungkin salah satu tetap tak mau mengakui.
23:05, Medan, 16 November 2019