Empati yang Dipermainkan
Bagai kasih Ibu yang tulus dan tiada batasnya, begitu pulalah sebuah ketulusan seharusnya mengalir dalam darah setiap manusia. Manusia memang mudah muak dengan manusia lainya karena ada saja manusia yang ingin menarik simpati sesamanya dengan bersandiwara. Awalnya manusia dengan empati tinggi akan berbelas-kasihan sampai kasih itu mengalir jauh bahkan sampai tumpah-tumpah bagaikan ombak yang terus menghampiri pantai. Tetapi tak lama setelahnya empati itu surut bagai ombak yang berpulang pada pusat. Bukan karena Si pemilik empati tinggi mudah berubah-ubah dan ternyata adalah manusia yang tidak mau peduli, tetapi ia lelah juga jika kebaikan dan ketulusannya dijadikan ajang melimpahkan beban.
Manusia yang memiliki empati tinggi itu paham betul bagaimana rasanya saat hidup sesamanya sedang diterpa badai dahsyat, tetapi sesamanya malah menjadikannya sebagai tiang agar tak terhempas lebih jauh. Sesamanya kadang lupa jika manusia yang memiliki empati tinggi ini juga punya badai yang tengah memutarnya. Lewat sepasangan kakinya, Si pemiliki empati tinggi terpaksa menopang empat kaki. Ia bukannya ingin mengeluh ... tetapi ingin menunjukkan bahwa ia hanya punya satu jantung, satu otak, dan satu paru-paru. Sama sekali tiada berbeda dengan sesama yang dibantunya. Disaat ia tengah membantu sesamanya yang tengah di ujung tanduk, tetapi malah dirinya didorong jatuh ke jurang.
Bukan karena ia tak ingin membantu lebih jauh, memetik luka lebih banyak, dan menerangkan lebih benderang ... tetapi kadang ia juga punya titik buntu, tak berdaya, dan tak berpengharapan. Entah mengapa orang yang gemar membantu terkadang malah dianggap lebih rendah derajadnya dari orang yang dibantu - sehingga orang yang membantu diwajibkan harus memikul seberat-beratnya beban manusia yang dibantu, diperdayai sehabis-habisnya oleh yang dibantu, dan dirugikan sebanyak-banyaknya oleh yang dibantu.
21:09, Medan, 16 November 2019