Read More >>"> ADOLESCERE LOVE (20~MENJADI LEBIH SEDIKIT BERANI) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - ADOLESCERE LOVE
MENU
About Us  

Presentasi dimulai!

“Selalu menghadapi amuk gelombang. Yang datang. Sementara dari selat dan tanjung. Maut tak berhenti mengintip. Siap mendekat,” Miwon membaca puisi di depan kelas. Giliran Afika yang berbicara.

“Seperti yang kita lihat penjelasan puisi di depan, bagian ‘maut tak berhenti mengintip’ yang dicetak miring tersebut menggunakan majas..,”

Danu yang mengoperasikan powerpoint langsung menekan halaman selanjutnya.

“Personifikasi,” lanjut Hami. “Apakah ada pertanyaan untuk soal kami yang terakhir?” tanyanya. Bu Nana melihat tidak banyak siswa yang mengacung, hanya berkisar dua orang. Hami menunjuk Risa yang mengangkat tangan duluan.

“Apa itu majas personifikasi?”

“Baik. Terima kasih. Akan saya tampung dulu pertanyaan anda,” kata Hami dengan gaya profesional. “Selanjutnya Mari,” tunjuknya lagi. Mari membaca buku tulisnya.

“Kenapa harus memilih majas personifikasi? Bukannya majas alegori? Karena makna maut tak berhenti mengintip juga mengandung kiasan,”

“Baik. Terima kasih. Akan saya tampung juga pertanyaan anda. Tolong berikan kami waktu untuk berdiskusi,” setelah mengatakan itu, Hami dan ketiga teman satu kelompoknya langsung duduk di kursi dengan dua meja berhimpitan.

“Fik, nanti kamu yang menjelaskan pengertian personifikasi ya?” tunjuk Hami. Afika malah gelagapan. Dia merasa minder dan belum bisa erbicara tanpa persiapan. Miwon menyadari kegugupannya.

“Biar aku saja yang mengatakannya,” katanya mengambil alih. Hami setuju-setuju saja. Sementara itu Afika menarik nafas lega. Namun rasanya agak tidak enak hati karena dia merasa menolak secara tidak langsung.

“Kamu yang menjelaskan pertanyaan Mari,” Hami menunjuk sang ketua kelas.

“Hii.. kok aku???”

“Tinggal baca doang kok,” dumel Hami samil menyerahkan kertas yang baru saja ditulisnya. Lalu gadis itu berdiri di depan papan tulis lagi. Sedangkan Danu menyalakan kembali powerpointnya.

“Baiklah, Miwon akan menjawab pertanyaan Risa.”

Miwon berdiri sejajar dengan Hami. Dia bilang, “Majas peersonifikasi adalah majas yang memberikan sifat-sifat manusia pada benda mati. Berkaitan dengan ‘maut tak berhenti mengintip’ sangat sesuai dengan majas personifikasi.”

“Baik. Ada yang perlu ditanyakan lagi, Ris?” tanya Hami sebagai moderator.

Risa menggeleng. ‘Tidak. Terima kasih.”

“Sama-sama. Sekarang Danu akan menjelaskan pertanyaan yang dilontarkan oleh Mari,” Danu tidak kunjung di depan. Hami berbalik dan melotot padanya. Dia langsung berdiri dan menyabet kertas di meja. Dia berjalan di depan.

“Saya hargai pendapat anda. Namun seperti yang dijelaskan tadi kalau majas personifikasi adalah majas yang memberikan sifat-sifat manusia pada benda mati. Sedangkan majas alegori itu dinyatakan dengan cara melalui penggambaran atau kiasan yang biasanya berbentuk dalam cerita yang penuh banyak simbol atau bermuatan moral. Jadi berbeda dengan apa yang ada pada kata ‘maut tak berhenti mengintip’ yang lebih condong pada maut sebagai sifat-sifat manusia yang dianggap seperti benda mati dengan kata ‘tak berhenti mengintip’ yang artinya seorang manusia menjelang ajalnya.”

“Mari mengangkat tangannya lagi.

“Lalu bagaimana dengan contoh majas alegori? Saya belum terlalu paham.”

Danu langsung menoleh ke arah Hami. Begitu pula dengan kedua temannya yang lain. Hami menghela nafas sesaat. Kemudian dia berkata, “Seperti yang kita tahu, majas yang  terdapat kiasan yang biasanya berbentuk dalam cerita yang penuh banyak simbol atau bermuatan moral. Contohnya seperti.. aah! Hidup bagaikan roda yang berputar! Ya kan?”

Mari berpikir. “Uhmm.. iya. Saya kira begitu. Terima kasih atas penjelasannya.”

“Sama-sama. Baiklah kami akan menutup presentasi kelompok kami dengan harapan membawakan hal yang bermanfaat dan maaf apabila terdapat kesalahan dalam presentasi kami. Terima kasih,” setelah Hami menyelesaikan kalimat untuk mengakhiri presetasi, semua para siswa bertepuk tangan. Bu Nana menuliskan penilaian di buku yang dipegangnya. Setelah mencatat, beliau bangkit dari kursinya.

“Presentasi kalian sudah bagus. Tetapi Ibu ingin bertanya. Jika kalian bisa menjawab, maka akan ada penambahan nilai untuk kelompok kalian,” Hami dan ketiga temannya mencoba untuk mendengarkan. “Ada majas yang belum kalian jelaskan seperti majas metafora, majas metonimia, dan majas simile. Tolong jelaskan beserta contohnya.”

Hami hendak menjelaskan, namun lengannya ditarik oleh Afika.

“Apa aku boleh yang menjelaskan?” bisiknya. Hami mengangguk sembari tersenyum. Afika menarik nafas alam-dalam. ‘Keberanian ada dalam diriku. Aku harus berjuang atas hidupku. Aku akan berani untuk mengatakannya. Semua yang aku pelajari semalam tidak akan sia-sia.’

“Majas metafora adalah majas yang mengungkapkan ungkapan secara tidak langsung berupa perbandingan analogis, contohnya si jago merah sudah melahap bangunan tua itu. Majas simile adalah pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yg dinyatakan dengan kata depan dan penghubung. Seperti bagaikan, upama, layaknya, dan lainnya. Contoh Kamu ibarat air dan aku bagaikan minyak. Majas metonimia adalah majas yang memakai ciri khas atau label sebuah benda untuk menggantikan benda tersebut. Contohnya kakek baru saja beli gudang garam yang dimaksud adalah rokok. Sebenarnya majas yang telah kami seutkan belum mencakup semuanya. Masih ada banyak, bahkan dibagi menjadi empat macam yaitu majas perbandingan yang dibagi menjadi tujuh macam, majas sindiran yang dibagi menjadi tiga macam, majas pertentangan yang dibagi menjadi empat macam, dan majas penegasan yang dibagi lagi menjadi tujuh macam.”

Teman-teman sekelas melongo mendengarkan penjelasan Afika yang tanpa jeda sedikitpun. Setelah mengatakan itu pun, Afika langsung megap-megap mencari udara. Bu Nana tersenyum daan menulis sesuatu di buku penilaiannya.

“Kelompok satu sangat bagus. Ibu harap kelompok-kelompok yang maju berikutnya juga bisa melakukan yang terbaik. Sekarang giliran kelompok dua dengan tema teater drama.”

Timmy yang sebelumnya masih membaca materi, langsung memukul jidatnya pelan.

 ☻☺☻

Setelah bel istirahat berbunyi, Afika, Hami, dan Timmy segera duduk di kursi panjang yang terdapat pohon besar diatasnya. Afika sangat menyukai tempat yang selalu didudukinya itu. Pohon besar yang selalu berkibar diterpa angin menjadi kesejukan tersendiri bagi mereka bertiga. Mereka mulai mengobrol sambil memakan lemper yang mereka beli dari koperasi sekolah. “Kamu super gila, Fik! Bisa menjawab pertanyaan bu Nana dalam satu nafas!” seru Hami setelah menelan makanan. Timmy yang masih mengunyah makanan ikut mengacungkan jempolnya. Sedangkan Afika hanya menatap ke arah depan.

“Kamu lihat apa sih, Fik?” tanya Hami ikut-ikutan melihat ke arah depan.

“Ya ampun!” keduanya kaget mendengar seruan Timmy. “Sejak kapan oppa gabung dengan anak IPA??! Kayaknya lagi senang banget!” Timmy menyadari apa yang dilihat oleh Afika. Miwon sedang mengobrol dengan Edelweis, Mayang, dan Tara di piggir lapangan. Mereka duduk di undakan tangga dekat ruang komputer.

“Maksudnya dengan anak mading toh? Miwon kan baru saja mendaftar mading. Jadi sah-sah ajah kalau dia disana,” ucap Hami dengan gaya sotoy.

Timmy mencibir. “Kamu kan juga anak mading, Ham? Iih, kenapa hayo kamu nggak ikut ngumpul gitu juga? Pasti oppa sudah masuk ke dalam geng mereka! Secara kan Miwon itu dedeknya Ed. Wah, sebentar lagi menjadi lima serangkai dong!”

Hami meniup tangannya yang tergenggam seakan-akan sedang mengumpulkan energi dan kekuatan dari tangannya. Lalu genggaman tangannya langsung menjitak kepala Timmy begitu saja. Timmy meringis kesakitan. “Pikiranmu terlalu jauh! Yaa.. mungkin ajah dia mau tanya-tanya tentang apa yang dia belum ngerti soal ekskul mading. Apaagi sebentar lagi kan kami akan membuat edisi majalah selanjunya. Dia pasti tidak ingin ketinggalan informasi”

“Mayang..,” suara Afika membuat keduanya menoleh ke arah depan. Mayang berjalan mendekati mereka bertiga sambil membawa nasi bungkus.

“Boleh makan bareng?” Hami dan Timmy saling pandang. Tidak biasanya miss memori berjalan ingin makan dengan mereka bertiga. Afika menganggukkan kepala. Mayang segera duduk di sebelah Afika. Ketiganya memberi sedikit ruang untuknya.

“May,” panggil Timmy. “Apa Edelweis yang menyuruhmu kesini?” katanya sedikit ketus. Mayang menggelengkan kepala.

“Ini keputusanku sendiri. Aku ingin makan dengan sepupuku,” katanya sambil membuka nasi bungkusnya. Afika tersenyum mendengarnya. Berbeda dengan kedua temannya yang masih menaruh curiga. “Fik, mau nasgorku?”

“Boleh aku mencicipinya sedikit?” tanya Afika sambil tetap mengembangkan senyum. Afika menyuapkan sesendok nasgor di mulutnya. “Enak,” katanya singkat.

“Kalian ingin mencoba juga?” tawar Mayang pada Hami dan Timmy.

“Nggak, nggak usah. Makasih hehe,”

“Aku kurang suka nasgor,”

Mayang manggut-manggut mengerti. “Oh ya, selamat ya atas presentasi kalian. Aku dengar dari Miwon kalau kalian berhasil mempresentasikannya dengan baik.”

“Terima kasih,” kata Hami dan Afika hampir bersamaan.

“Presentasi bahasa Indonesia ku sehabis jam istirahat. Aku harus mempersiapkan diri nih,” Mayang mulai bercerita.

“Semangat ya, May. Aku yakin kalau kamu pasti bisa,” ucap Afika tulus. Mayang menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Kenapa dia terlihat lebih ramah? Kok nggak galak seperti biasanya?” bisik Timmy di telinga Hami.

“Iya. Dibalik keramahannya, pasti ada sesuatu,” balas Hami setengah berbisik. Namun ternyata Afika mendengar kasak-kusuk kedua temannya.

“Mayang benar-benar baik kok,” hanya itu yang diucapkannya. Hami dan Timmy hanya meringis menanggapinya. Afika tersenyum lagi ketika melihat Mayang sedang asik memakan nasi gorengnya.

“Dia bingung ajah kenapa semua siswa yang di tes bisa masuk ekskul mading semua,” Timmy dan Hami menoleh secara bersamaan. “Padahal sema itu dilakukan untuk melihat sejauh mana mereka tertarik dengan dunia kami. Bakat yang mereka punya pun juga akan diperhitungkan.”

“Timmy menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Kamu.. ngomongin siapa sih?” tanyanya bingung. Mayang memutar bola matanya.

“Aku pikir kalian akan merasa aneh karena melihat salah satu geng kalian berkumpul dengan kami disana.”

Hami langsung menyahut, “Kami bukan geng.”

“Lalu kenapa kalian selalu terlihat jalan bersama? Bukannya itu geng?”

“”Sepertinya kamu sudah salah paham. Kami tidak pernah membuat geng seperti kalian. Lagipula oppa itu pacarku. Tentu saja dia selalu mengikutiku kemana saja!” Timmy ikut-ikutan berbicara. Mayang memiringkan senyum di bibirnya sedikit mencuat ke atas.

“Oppa? Kamu kira kalian sedang bermain drama di korsel? Sekarang aku bisa melihat sampai sejauh mana hubungan kalian berdua. Sangat kekanak-kanakan.”

“Hey! Kenapa kamu bilang begitu??!” bentak Timmy hampir menangis. Afika sendiri juga bingung hendak melakukan apa diantara sepupu dan kedua temannya yang sudah terlihat memanas. Hami berdiri di hadapan Mayang.

“Aku kira kita tidak bisa berteman dengan cara seperti ini,” Mayang berdiri juga dan memasukkan sisa nasi bungkusnya di dalam plastik hitam.

“Baik. Siapa juga yang ingin berteman dengan dua orang yang menyebalkan seperti kalian? Aku cuma ingin mengunjungi sepupuku kok,” kata Mayang dengan wajah sinis. Kemudian dia menoleh ke arah Afika. “Fik, aku salut padamu karena sudah bertahan dengan orang menyebalkan seperti mereka. Aku pergi dulu,” Afika hanya diam menatap kepergian Mayang yang mulai menjauh.

“Kamu yang menyebalkan! DASAR PENYIHIR!” jerit Timmy kesal.

☻☺☻

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
NIKAH MUDA
8      7     0     
Romance
Oh tidak, kenapa harus dijodohin sih bun?,aku ini masih 18 tahun loh kakak aja yang udah 27 tapi belum nikah-nikah gak ibun jodohin sekalian, emang siapa sih yang mau jadi suami aku itu? apa dia om-om tua gendut dan botak, pokoknya aku gak mau!!,BIG NO!!. VALERRIE ANDARA ADIWIJAYA KUSUMA Segitu gak lakunya ya gue, sampe-sampe mama mau jodohin sama anak SMA, what apa kata orang nanti, pasti g...
Foodietophia
289      237     0     
Short Story
Food and Love
Dari Sahabat Menjadi...
327      243     4     
Short Story
Sebuah cerita persahabatan dua orang yang akhirnya menjadi cinta❤
WALK AMONG THE DARK
4      4     0     
Short Story
Lidya mungkin terlihat seperti gadis remaja biasa. Berangkat ke sekolah dan pulang ketika senja adalah kegiatannya sehari-hari. Namun ternyata, sebuah pekerjaan kelam menantinya ketika malam tiba. Ialah salah satu pelaku dari kasus menghilangnya para anak yatim di kota X. Sembari menahan rasa sakit dan perasaan berdosa, ia mulai tenggelam ke dalam kegelapan, menunggu sebuah cahaya datang untuk me...
Stuck In Memories
93      40     0     
Romance
Cinta tidak akan menjanjikanmu untuk mampu hidup bersama. Tapi dengan mencintai kau akan mengerti alasan untuk menghidupi satu sama lain.
NADA DAN NYAWA
111      44     0     
Inspirational
Inspirasi dari 4 pemuda. Mereka berjuang mengejar sebuah impian. Mereka adalah Nathan, Rahman, Vanno dan Rafael. Mereka yang berbeda karakter, umur dan asal. Impian mempertemukan mereka dalam ikatan sebuah persahabatan. Mereka berusaha menundukkan dunia, karena mereka tak ingin tunduk terhadap dunia. Rintangan demi rintangan mereka akan hadapi. Menurut mereka menyerah hanya untuk orang-orang yan...
Kepada Jarak, Maaf!
3      3     0     
Short Story
Bagi Rea, cinta itu gelap. Cukup menjadi alasan untuk dirinya selalu memakai emotikon hati berwarna hitam saat menulis chat. Namun Rea tidak cukup mampu memaknai setiap jenis emotikon hati yang dikirimkan Ardan kepadanya. Untuk dua orang yang menjalin hubungan jarak jauh yang sama sekali tidak pernah bertemu, berbagai jenis emotikon hati memiliki maknanya sendiri. Demikian juga untuk Arealisa...
Secrets
48      27     0     
Romance
Aku sangat senang ketika naskah drama yang aku buat telah memenangkan lomba di sekolah. Dan naskah itu telah ditunjuk sebagai naskah yang akan digunakan pada acara kelulusan tahun ini, di depan wali murid dan anak-anak lainnya. Aku sering menulis diary pribadi, cerpen dan novel yang bersambung lalu memamerkannya di blog pribadiku. Anehnya, tulisan-tulisan yang aku kembangkan setelah itu justru...
From You
4      4     0     
Romance
Hanna George, hanyalah seorang wanita biasa berumur 25 tahun yang amat cantik. Ia bekerja sebagai HRD di suatu perusahaan. Hanna sudah menikah namun di saat yang bersamaan ia akan bercerai. Di tengah hiruk pikuknya perceraian yang berakhir dengan damai—mungkin, Hanna menyempatkan diri untuk pergi ke sebuah bar yang cukup terkenal. Di sanalah Hanna berada. Dalam ruang lingkup dunia malam, ber...
Konspirasi Asa
26      10     0     
Romance
"Ketika aku ingin mengubah dunia." Abaya Elaksi Lakhsya. Seorang gadis yang memiliki sorot mata tajam ini memiliki tujuan untuk mengubah dunia, yang diawali dengan mengubah orang terdekat. Ia selalu melakukan analisa terhadap orang-orang yang di ada sekitarnya. Mencoba untuk membuat peradaban baru dan menegakkan keadilan dengan sahabatnya, Minara Rajita. Tetapi, dalam mencapai amb...