Read More >>"> ADOLESCERE LOVE (18~KERJA KELOMPOK YANG MENGUBAH PERASAAN) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - ADOLESCERE LOVE
MENU
About Us  

Yiruma-Kiss The Rain yang paling spesial

Miwon benar-benar membawa sopirnya untuk menjemput kami bertiga. Miwon duduk di sebelah sopirnya dan aku dengan kedua temanku yang lain duduk di bagian belakang. Kami melaju ke tempat yang sudah aku kunjungi dua kali, Gresik. Disana memang tidak terlihat sebesar kota Surabaya. Akan tetapi mungkin jika dipadankan dengan segi keramaian, kota Gresik juga cukup ramai. Banyak rumah makan dan penjual minuman dimana-mana. Disini layaknya seperti tempat kuliner. Wah, aku melihat pemandangan ketika mobil memasuki kawasan Gresik lewat kaca yang tertutup. Tempatnya sangat bersih dan memajang penghargaan adipura di tengah-tengah bundaran jalan. Miwon menyebutkan tempat yang baru aku lihat sering disebut dengan ‘bundaran GKB’ (Gresik Kota Baru).

“Nanti setelah mengantar kita, mamang kembali saja di kantor ayah,” aku mendegar Miwon berbicara pada sopirnya. Aku merasa sedikit tidak enak karena telah merepotkan sopir Miwon yang harus bolak-balik hanya karena mengantar kami ke rumah.

“Anu, maaf ya pak, kami sudah merepotkan,” tubuhku ke depan perlahan sehingga dapat menengok pak sopir.

“Nggak apa-apa kok, neng. Ini sudah tugas saya selalu mengantarkan nak Miwon dan bapaknya,” ucap pak sopir sambil tersenyum ramah. Miwon juga menengok ke arahku dengan wajah tersenyum. Aku merasakan dada yang bergetar lagi. Dengan segera kumundurkan lagi tubuhku di belakang. Semejak Miwon mengatakan untuk berhenti menyukaiku, aku malah jadi selalu memikirkannya. Apaagi semenjak kejadian itu dia tidak meneleponku lagi. Entah kenapa aku sedikit rindu untuk mengobrol dengannya seperti dulu. Semenjak kejadian dimana kami masing-masing memiliki hubungan yang baru, aku merasa sedikit kesepian. Bagian terburuknya, setiap malam aku tidur sambil sesekali melihat handphone. Ada kalanya aku ingin meneleponnya duluan, akan tetapi aku tidak memiliki alasan yang bagus untuk meneleponnya.

Welcome at my home!” suara Miwon menyadarkan lamunanku. Dia turun duluan. Kami bertiga juga turun. Aku menengadah ke atas. Terlihat terik matahari dan cuaca yang agak panas. Setelah itu, aku melihat lapangan lebar di depanku. Beberapa anak cowok sedang bermain sepak bola. Hami memanggilku. Aku langsung berbalik. Hami dan Danu berdiri di dekat pagar rumah. Aku mengamati dua rumah yang mengapit rumah dimana kedua temanku berdiri. Lalu melihat rumah-rumah yang lain disekeliling. Disini seperti lingkugan kompleks perumahan! Apalagi di depan lapangan sana terdapat minimarket yang berada di pinggir jalan. Walaupun udara agak panas, tetapi pohon-pohon yang tumbuh di pinggir lapangan sangatlah rindang. Membuat angin semilir terasa segar. Jadi hawa tidak terlalu panas juga.

“Terima kasih ya, mang. Titip salam dan terima kasih untuk Ayah,” kulihat Miwon sedang berdiri dan mengobrol dengan sopirnya. Setelah itu, mobil avanza hitam pergi berlalu melewati perbelokan.

“Miwon,” seorang cewek yang memiliki hair style bob sedang berjaalan ke arah kami. Miwon melambaikan tangannya pada cewek itu. Aku mengamati cewek yang berbicara dengan Miwon dan terlihat sangat akrab. Ternyata cewek itu mengenakan seragam dan rok SMA seperti pada umumnya. Jadi sepertinya dia memiliki umur yang tidak jauh beda dengan kami. Miwon memanggil kami bertiga untuk mendekat.

“Perkenalkan dia Auni. Salah satu tetangga dekatku. Rumah dia tepat disebelah rumahku,” kata Miwon sambbil menunjuk rumah bertingkat yang tidak jauh dari kami berdiri. “Auni, ini teman-temanku. Ini Hami, Danu, dan Afika.”

“Salam kenal ya!” katanya dengan wajah berseri-seri. Kami bersalaman dengannya. Gadis ini tampak imut sekali. Gadis yang hampir setipe dengan Timmy. Fhuh, kenapa tiba-tiba aku merasa kalah ya? Melihat kedekatan cewek itu dengan Miwon dan Timmy yang selalu bisa memamerkan kemesraannya dengan Miwon. Oh my God! Aku sudah berpikir macam-macam yang nggak penting kayak gini!

“Oh ya, kapan-kapan kita makan sushi di Ichi Sushi yuk! Pupus dan Petir pasti senang sekali kalau kita makan bersama kayak minggu kemarin!”

Miwon mengacungkan jempolnya. “Oke deh! Kapan-kapan ya! Kamu yang menentukan harinya apa. Akan aku tunggu kabar darimu.”

“Sip! Kalau begitu aku pulang dulu ya!” setelah itu Auni pamit kepada Miwon dan kamii bertiga. Aku tersenyum melihat cewek yang begitu enerjik seperti dia. Ah, jika saja aku bisa seceria dia. Tetapi aku tidak akan berani memotong rambut sependek dia. Aku akan sangat malu hingga tidak ingin eluar dari rumah satu haripun. Menurutku hanya cewek-cewek yang memiliki kepercayaan dirilah yang memiliki hair style seperti itu. Cewek-cewek yang pemberani.

Setelah mengawasi Auni yang baru saja masuk dan menutup pagar rumahnya, mataku mulai beralih ke arah Miwon yang berjalan dengan memasukkan tangannya di saku celana. Dia berjalan menghampiriku.

“Itu rumahku,” dia menunjuk rumah berpagar putih dimana tempat Hami dan Danu berdiri. Rumah itu tampak bagus dan elegan, ditambah dengan berbagai lukisan yang digantung di dinding luar. Miwon membuka pintu pagar. Aku dan kedua temanku yang lain mengikutinya dari belakang. Kami memasuki ruang utama. Kursi sofa tampak nyaman dengan sekali pandang. Setelah itu kami memasuki ruang tengah. Disana terdapat tv dengan layar datar, karpet, dan sebuah piano yang.. berdebu. Jariku menekn tuts perlahan.

“Piano ini sudah lama tidak digunakan,” aku terkejut ketika Miwon berbisik di telingaku. “Semenjak ibu dan kak Ed pergi dari rumah. Biasanya ibu yang melatih kami bermain piano. Ibu sangat lihai memainkannya, seperti kamu.” Lanjutnya sambil ikut menekan tuts. Hami dan Danu keluar dari ruangan dapur dan menghampiri kami berdua.

“Wah, Fik, ada piano! Kamu kan sangat pandai memainkannya. Andai saja kamu bisa memainkannya nih,” ucap Hami sambil melirik ke arah Miwon.

“Wah, aku senang banget kalau kamu mau memainkan satu lagu untuk kami!” seru Danu sambil menepuk tangannya. Hmi dan Danu melihatku dengaan wajah berharap. Baiklah, jika ini kemauan kalian. Setidaknya sekarang giliranku untuk meminta ijin pada pemiliknya. Aku menoleh ke belakang. Ku lihat Miwon sedang bersandar di tembok sambil memainkan handphone. Aku rasa dia sedang kirim chat pada Timmy, maksudku pacarnya. Ah, kenapa aku harus peduli. Tiba-tiba saja matanya melirik melihatku. Secepat kilat, aku segera memutar pandanganku ke arah lain. Aku tidak ingin bertatapan dengannya lagi. Melakukan itu membuatku menjadi agak aneh. Aku berjalan mendekatinya.

“Aku boleh memainkan piano itu?” tanyaku dengan wajah menunduk. Miwon tidak langsung menjawab. Dia malah berjongkok dan berusaha melihat wajahku.

“Kamu harus membayarnya untuk itu,” ucapnya dengan wajah agak serius. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. ‘Apa aku benar-benar harus membayarnya?’

Miwon langsung tertawa terbahak-bahak. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya tertawa. Tanpa sadar, aku menikmati melihat wajah yang penuh tawa itu. Dia menepuk pipiku berkali-kali dengan lembut. “Reaksimu sangat lucu, Fik. Kamu bisa memainkannya tanpa meminta ijiin denganku. Piano itu akan senng sekali karena ada yang menyentuh tuts-tuts-nya lagi. Miwon segera membersihkan piano itu dengan sulak dan mempersilahkanku untuk duduk di depn piano tersebut. Aku menutup mata mencoba mencari lagu yang cocok dengan suasana ini.

“Aku tahu lagu apa yang akan ku mainkan,” Hami dan Danu berdiri dengan tenang dan mendengarkan setiap kataku. Namun tidak dengan salah satu cowok yang berdiri di depanku. Dia masih mengutak-atik handphone. Aku berusaha untuk tidak menghiraukannya. Aku menutup mata lagi. “Dengan judul Kiss The Rain.”

Aku mencoba untuk menikmati alunan dalam setiap tuts yang aku mainkan. Di pertengahan, mataku kembali melihat cowok yang sebelumnya sibuk memainkan handphone. Aku kira dia masih begitu. Tetapi ternyata tidak. Dia menggenggam handphone dengan mata menatap lurus melihatku. Aku tersenyum kecil padanya. Tidak tahu kenapa aku merasa lega dia kembali memperhatikanku. Tatapannya membuat hatiku merasa tenang dan nyaman. Aku tetaap memainkannya sambil menutup mata lagi hingga tidak terasa alunan yang ku mainkan berakhir. Aku membuka mata lagi. Hami, Danu, dan Miwon langsung bertepuk tangan dengan keras. Aku berdiri sambil tersenyum lagi.

“Aku tidak pernah mendengar kamu memainkan lagu ini, Fik. Kamu benar-benar lihai memainkannya!” benar, Hami sering bermain ke rumahku. Dia selalu mendengarkan alunan piano yang aku mainkan di rumah. Dan ini baru pertamakalinya aku memainkan nada ini di hadapan mereka bertiga.

“Ini yang paling spesial,” ucapku tersenyum lagi.

“Akh, seandainya aku tahu apa artinya! Kayaknya bagus banget. Jadi pengen nangis,” pekik Danu dengan menggebu-gebu. Hami dan Miwon tertawa melihat reaksinya.

“Siapa nama pianisnya?” tanya Miwon.

“Yiruma.” Miwon tampak berpikir sejenak.

“Umm.. pianis Jepang?” aku segera menggeleng.

“Pianis korea,” Miwon  sedikit terkejut mendengarnya.

“Aku kira..,”

Hami segera memotong perkataannya, “Aku kira kamu tahu banyak soal negeri ginseng. Ternyata Yiruma ajah nggak tahu, huh.”

Miwon hanya manyun sambil menggaruk kepala. Lalu dia melihatku lagi.

“Kamu hebat, Fik,” dadaku berdebar lagi ketika mendengar pujiannya. Aku rasa ada yang salah denganku. Perasaan berdebar yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan selain kepada Edelweis. Aku benar-benar bingung. Aku merasa bahagia mendengar pujiannya. Tetapi aku juga rindu akan pujiannya. Apakah aku maniak dengan sebuah pujian? Tidak juga! Tetapi kenapa kalau Miwon yang mengatakannya, malah terasa berbeda? Kenapa tiba-tiba aku merasa bersalah juga karena sudah berdebar-debar kepada orang yang salah, yakni orang yang bukan pacarku?

☻☺☻

Miwon baru saja datang membawakan sekantong plastik yang berisi banyak nasi bungkus. Dia memasuki kamarnya dimana teman-temannya sedang bersantai. Ada yang menonton televisi, membaca komik, dan membaca buku Bahasa Indoneia sambil browsing.

“Wah, makanan datang! Makanan datang!” Danu tidak lagi membaca komiiknya. Sekarang dia fokus dengan bungkus nasi yang dikeluarkan oleh Miwon. Afika dan Hami juga mulai memperhatikan.

“Aku belikan nasi krawu nih. Khas makanan dari Gresik!” kata Miwon sambil membagikan nasi bungkus ke teman-temannya. Mereka memakannya dengan lahap.

“Kita dapat tema apa sih?” tanya Miwon sambil mengunyah makanan.

“Puisi. Kita harus mencari sepuluh soal tentang pusisi dalam bentuk pilihan ganda,” Afika mengatakannya dengan membuka buku Bahasa Indonesia. “Disini aku menemukan banyak soal-soal tentang puisi. Kita tinggal memilih jawabannya saja.

Hami menghentikan makannya, “Kita jangan mencari soal-soal di buku saja, Fik. Bagaimana kalau mencari soal dari internet juga? Aku sudah menemukan beberapa nih.”

Danu menepuk tangannya. “Nah, gimana kalau kita ambil lima soal dari buku dan lima soal lagi dari internet?”

Meereka berempat berfikir sesaat. Tak lama Miwon menunjuk-nunjuk sambil menganggukkan kepala.

“Bagus tuh! Ya, ide bagus tuh!”

“Boring nih kalau kita hanya mengerjakan tugas,” keluh Danu. “Won, kamu kan sudah janji akan mengajak kita jalan-jalan.”

“Oh, itu sudah pasti. Nanti malam kita akan menikmati pemandangan sambil makan di pinggir jalan,” seru Miwon sambil memakan suapan terakhirnya.

☻☺☻

Miwon baru saja memarkir mobil. Ketiga temannya turun dari mobil. Mereka melihat dengan takjub. Banyak warung yang berjejer disana. Juga banyak orang yang nongkrong di sekitar bundaran untuk makan. Miwon membawa mereka untuk memesan makanan. Miwon, Afika, dan Hami memesan sate ayam dan es teh. Sedangkan Danu memesan nasi goreng dan teh hangat. Mereka duduk di tikar untuk menunggu pesanan.

“Hawanya agak dingin ya,” kata Danu sambil merangkul tubuhnya sendiri. “Tahu begini aku bakalan bawa jaket dari rumah nih.”

“Mungkin sebentar lagi waktunya musim hujan,” ucap Hami. “Jadi ini yang namaya bundaran GKB?” Miwon mengangguk. Lantas dia menunjuk pohon beringin di tengah-tengah taman.

“Jika kalian duduk disana pada siang hari, uuh.. sejuknya luar biasa. Pohon disana sangat rindang.”

“Bagaimanapun juga kalau malam pohon itu terlihat menakutkan,” celetuk Danu, memikirkan banyaknya makhluk halus yang bersarang disana.

“Lihat ajah! Banyak orang yang berkumpul di taman. Pohon itu tidak terlalu horor seperti yang kamu pikirkan.”

Kemudian datanglah makanan dan minuuman yang mereka pesan. Mereka memakan dengan lahap. Mereka makan dengan nikmat dan sesekali mengobrol tentang indahnya Gresik di malam hari. Banyaknya cahaya mobil dan motor yang lalu-lalang, penjual buah yang masih banyak pelanggannya, juga para pedagang kaki lima yang masih berjualan dan banyaknya para pembeli hingga larut malam.

☻☺☻

“Aah, kenyang sekali!” teriak Danu sambil mengangkat kedua tangannya. Miwon memberi tanda untuk diam. Kami sudah memasuki rumah. Akan tetapi rumah tampak sepi. Miwon bilang kalau ayahnya dan sopirnya sudah tidur duluan. Setidaknya kami berbicara dengan sedikit mengecilkan suara agar tidak membangunkan mereka berdua.

“Kalian tidur saja di kamarku,”  Miwon menunjukku dan Hami. “Lalu aku dan Danu akan tidur di kamar sebelah,” setelah itu aku dan Hami berjalan memasuki kamar. Hami langsung ambruk begitu saja di atas kasur. Sementara itu, seperti biasa aku masih belum bisa tidur. Aku tahu sejak lama kalauaku mengidap  insomnia. Jadi walaupun sudah jam dua belas tepat, mataku masih terbuuka lebar. Ku duduki kursi di depan meja belajar. Mataku mengarah ke pigura yang tegak di atas meja belajar. Aku langsung mengamatinya dengan meletakkan kepala di atas meja. Pigura itu memiliki foto di dalamnya. Seorang pria yang mengenakan kemeja ini pasti ayahnya Miwon dan Edelweis. Lalu wanita cantik disebelahnya adalah ibunya. Dua anak kecil yang berdiri di depan mereka pasti Edelweis dan Miwon. Wajah mereka semua tampak bahagia. Selain itu ada pigura kecil lagi disebelah pigura sebelumnya. Aku melihatnya dengan seksama. ‘Ini kan fotoku dengan Miwon ketika ulang tahun sekolah?’ Ku pandangi foto itu agak lama. Aku ingat dia meminta salah satu fotoku yang menoleh ke arahnya. Setelah mengamati foto itu, mataku kembali melihat sekeliling kamar.

“Aku berada di dalam kamar Miwon,” aku sedikit menggumam. Kuamati poster-poster boyband ‘Suju’ yang menempel di dinding. Rupanya dia benar-benar menyukai boyand korea. Aku melangkah ke arah rak buku. Ternyata Miwon sangat menyukai komik doraemon. Banyak sekali aku menemukan komik berseri di dalam rak bukunya. Dan aku menemukan buku yang pernah aku berikan. Aku membuka salah satu komiknya dan membacanya sambil duduk di atas kasur. Aku terpaku sesaat. “Aku berada di atas kasur yang sering ditiduri..,” aku kembali tersadar. Aku baru menyadari jika tanganku mengusap-usap tempat tidur. “Apa yang sedang aku lakukan??!” jeritku histeris. Seseorang menimpuk diriku dengan bantal.

“Afika, sudah malam. Ayo tidur!” sahut Hami kesal. Aku langsung cengengesan. Sepertinya aku sudah mengganggu Hami. Selain itu aku sangat haus. Aku ingin meminum air putih yang segar untuk melepas dahaga. Lebih baik aku keluar kamar untuk mengambilnya. Aku segera melangkah menuju dapur. Akan tetapi aku melihat sesuatu yang ganjil. Lampu di ruangan dapur menyala! Apakah ada seseorang dari rumah yang masih terbangun selain aku? Apakah orang itu adalah ayah Miwon? Aku segera melangkahkan kaki sambil berjinjit perlahan. Tampak seseorang sedang memasak sesuatu di atas panci. Orang itu menoleh dan terkesiap melihatku. Begitu pula denganku. Kami sama-sama terkejut.

“Kamu!” serunya. Aku tertawa kecil sambil garuk-garuk kepala. “Aku kira hantu!” serunya lagi. Aku langsung menunjukkan ekspresi muka datar. Miwon malah tertawa. “Huahaha.. aku bercanda! Aku tahu kalau itu kamu!” aku hanya menanggapinya dengan manyun. Kulihat dia sedang merebus mie instan. “Kamu mau?” tawarnya. Aku menggeleng.

“Masih lapar ya?” tanyaku. Dia menganggukkan kepala sambil menuang mie ke dalam mangkok. Aku mengikutinya berjalan menuju ruang tengah. Dia memakan mie sambil menyimak film barat di tv.

“Kamu nggak bisa tidur kan?” tanyanya kemudian.

“Insomnia,” jawabku pendek. Dia masih makan sambil menonton tv.

“Aku tahu. Itulah kenapa kamu memiliki mata panda dan selalu tidur di tengah pelajaran berlangsung,” katanya sambil tetap mengarah di depan tv. Dadaku berdebar-debar sesaat. Miwon selalu seperti ini. Cowok yang selalu memperhatikan dan memahami apa yang dilakukan oleh orang-orang disekitarnya. Tanpa aku sadari kalau aku sangat senang berteman dengannya. Kalau diingat-ingat lagi, dia cukup berjasa dalam membantu kehidupanku. Sebelum mengenalnya, kehidupanku agak suram. Aku hanya merasa dianggap jika berada di rumah. Ya, hanya papa dan mama yang tidak melihatku begitu aneh. Mayang juga, sebelum dia tinggal di rumah kami sih. Tetapi aku bersyukur jika sekarang Mayang mau akrab denganku lagi. Selain dengan Hami dan Timmy, aku tidak bisa membuat hubungan kedekatan dengan teman-teman lainnya. Padahal aku tahu seberapa banyak usaha yang aku lakukan. Akan tetapi semenjak Miwon datang, dia mulai melangkah memasuki kehidupanku. Berusaha untuk memahamiku. Dan membantuku dengan segala cara untuk berhubungan baik dengan teman-teman. Apalagi dia juga yang membuatku bisa dekat dengan Edelweis. Miwon juga yang membawaku mewujudkan mimpi terdalamku yakni mempertemukanku dengan pangeran berkuda putih yang sudah lama aku impikan. Dia juga mempunyai cara untuk mengubah penampilanku menjadi lebih baik. Tanpa sadar, dia selalu ada di saat aku membutuhkan seseorang untuk membantuku melangkah dalam hidup. Dia selalu.. mengerti aku. Lantas kenapa aku tidak pernah memberinya kesempatan.. untuk membuka diriku lebih dalam? Aku malah menyakiti perasannya dengan menjadi pacar kakaknya.

Bagaimana perasaanku sebenarnya? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, debar-debar itu selalu muncul di saat sekarang. Tetapi sebelumnya aku sangat nyaman berada didekatnya tanpa harus memikirkan apa yang mesti dibicarakan. Aku begittu senang mendengarnya bercerita. Aku juga suka melihat gerak-geriknya yang aneh. Aku.. merasa senang dia selalu mengekor padaku. Aku sangat suka  jika dia.. berada didekatku. Jadi apa artinya ini semua?

“Fik,” dia mulai memanggilku. Miwon menatapku sembari mengerutkan kening. Tangannya mengusap pipiku. Dadaku terasa berguncang sesaat. “Kenapa kamu menangis?”

Aku terkejut mendengarnya. Dengan segera ku usap air mata yang mengalir di pipiku. Lalu aku teringat rasa  haus yang tadi melandaku. Aku segera melangkah untuk mengambil botol air di dalam kulkas. Miwon juga berjalan menuju dapur. Dia sedang mencuci mngkok. Aku berusaha tidak menhiraukannya. Aku duduk di kursi makan dan meneguk air putih secara perlahan. Tak lama Miwon juga duduk di sebelahku.

“Tadi kamu kenapa, Fik?” tanyanya kemudian. Aku hanya menggeleng. Setelah meminum sampai habis, aku mengisi gelas dengan air putih lagi. Miwon terkekeh melihatku meminum air putih. Aku mengisi air di gelas lagi. “Kalau minum sebayak itu, bisa-bisa perutmu kembung loh,” aku tidak perduli. Aku menyadari jika gejala panik menyerangku. Aku baru saja ketahuan nangis dan tidak ada yang bisa aku lakukan, selain minum! Aku juga tahu kalau meminum air putih sebanyak ini membuat perutku kembung. Aku meminum air putih sambil melirik ke arah Miwon. Dia sedang melipat tangannya di atas meja dan meletakkan kepalanya diatasnya. Dan dia sedang memandangku. Aku langsunng tersedak.

“Tuh kan kesedak. Minumnya pelan-pelan, Fik,” katanya sembari mengambil handphone di dalam saku celananya. “Oh ya terima kasih atas bukunya. Aku sangat menyukainya,” aku hanya menganggukkan kepala. Sudah kuduga kalau dia menyukai buku yang berbau boyband. “Coba dengar lagu ini. Salah satu lagu suju favoritku.

“Judulnya apa?” tanyaku merasa sedikit penaasaran. Dia mulai menyalakan musiknya dengan volume kecil dan meletakkannya di atas meja.

“Memories.”

Walaupun aku tidak terlalu menyukai lagu yang aku tidak mengerti bahasanya, namun aku juga ingin mendengarkannya. Aku mendengarkannya sambil menggenggam gelas yang masih berisi air. Aku juga melihat Miwon yang baru saja menutup matanya.

“Aku selalu ingat setiap kejadian bersamamu. Aku bersyukur masih ingat dimana kita selalu bersama,” di tengah mendengarkan lagu, Miwon mengatakan sesuatu yang membuatku sedikit berdebar-debar. Tak lama terdengar dengkurannya. Aku tertawa kecil melihatnya cepat sekali tertidur. Aku langsung meletakkan gelas sedikit jauh di atas meja. Kedua tangan kulipat di atas meja dan meletakkan kepalaku di atasnya. Aku tersenyum melihat Miwon yang tertidur pulas. Aku memperhatikan bulu matanya yang lentik dan terlihat panjang. Miwon tampak manis saat tidur. Selama empat menit aku mengamatinya. Tepat saat lagu itu berakhir, secepat itu juga aku mulai merasa ngantuk dan tertidur juga.

“Aku juga bersyukur telah bertemu denganmu, Miwon.”

☻☺☻

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
That Devil, I Love
96      45     0     
Romance
Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi Airin daripada dibenci oleh seseorang yang sangat dicintainya. Sembilan tahun lebih ia memendam rasa cinta, namun hanya dibalas dengan hinaan setiap harinya. Airin lelah, ia ingin melupakan cinta masalalunya. Seseorang yang tak disangka kemudian hadir dan menawarkan diri untuk membantu Airin melupakan cinta masa lalunya. Lalu apa yang akan dilakukan Airin ? B...
Today, I Come Back!
42      15     0     
Romance
Alice gadis lembut yang sebelumnya menutup hatinya karena disakiti oleh mantan kekasihnya Alex. Ia menganggap semua lelaki demikian sama tiada bedanya. Ia menganggap semua lelaki tak pernah peka dan merutuki kisah cintanya yang selalu tragis, ketika Alice berjuang sendiri untuk membalut lukanya, Robin datang dan membawa sejuta harapan baru kepada Alice. Namun, keduanya tidak berjalan mulus. Enam ...
Percikan Semangat
5      5     0     
Short Story
Kisah cinta tak perlu dramatis. Tapi mau bagaimana lagi ini drama yang terjadi dalam masa remajaku. Cinta yang mengajarkan aku tentang kebaikan. Terima kasih karena dia yang selalu memberikan percikan semangat untuk merubahku menjadi lebih baik :)
Sakura di Bulan Juni (Complete)
68      25     0     
Romance
Margareta Auristlela Lisham Aku mencintainya, tapi dia menutup mata dan hatinya untukku.Aku memilih untuk melepaskannya dan menemukan cinta yang baru pada seseorang yang tak pernah beranjak pergi dariku barang hanya sekalipun.Seseorang yang masih saja mau bertahan bersamaku meski kesakitan selalu ku berikan untuknya.Namun kemudian seseorang dimasa laluku datang kembali dan mencipta dilemma di h...
Aku Bilang, Aku Cinta Dia!
5      5     0     
Short Story
Aku cinta dia sebagaimana apa yang telah aku lakukan untuknya selama ini. Tapi siapa sangka? Itu bukanlah cinta yang sebenarnya.
Altitude : 2.958 AMSL
4      4     0     
Short Story
Seseorang pernah berkata padanya bahwa ketinggian adalah tempat terbaik untuk jatuh cinta. Namun, berhati-hatilah. Ketinggian juga suka bercanda.
Simplicity
153      59     0     
Fan Fiction
Hwang Sinb adalah siswi pindahan dan harus bertahanan di sekolah barunya yang dipenuhi dengan herarki dan tingkatan sesuai kedudukan keluarga mereka. Menghadapi begitu banyak orang asing yang membuatnya nampak tak sederhana seperti hidupnya dulu.
Simbiosis Mutualisme
4      4     0     
Romance
Jika boleh diibaratkan, Billie bukanlah kobaran api yang tengah menyala-nyala, melainkan sebuah ruang hampa yang tersembunyi di sekitar perapian. Billie adalah si pemberi racun tanpa penawar, perusak makna dan pembangkang rasa.
Kala Saka Menyapa
141      37     0     
Romance
Dan biarlah kenangan terulang memberi ruang untuk dikenang. Sekali pun pahit. Kara memang pemilik masalah yang sungguh terlalu drama. Muda beranak begitulah tetangganya bilang. Belum lagi ayahnya yang selalu menekan, kakaknya yang berwasiat pernikahan, sampai Samella si gadis kecil yang kadang merepotkan. Kara butuh kebebasan, ingin melepas semua dramanya. Tapi semesta mempertemukannya lag...
Terpatri Dalam Sukma
4      4     0     
Short Story
Bukan mantan, namun dia yang tersimpan pada doa