Hobi cowok yang berbeda
Timmy terus-menerus bercerita tentang kencan pertamanya dengan Miwon. Kalau saja Hami tidak segera menyumpal mulutnya dengan roti pandan, Timmy pasti menghabiskan waktu istirahat hanya dengan bercerita. Timmy menikmati roti pandan di mulutnya. Afika tertawa kecil melihatnya. Seperti biasa, mereka bertiga duduk santai di bawah pohon dekat lapangan basket.
“Kedua temanku berhasil ngedate denga cowok yang disukai. Sedangkan aku hanya ngedate dengan komik manga-ku yang belum selesai kubuat. Aah, aku sangat iri melihat kalian berdua!” ratap Hami sembari menengadah ke atas. Afika dan Timmy saling pandang. Keduanya tertawa kecil.
“Aku pikir kamu lagi dekat dengan Wildam,” perkataan Timmy membuat Hami langsung menyilangkan kedua tangan di wajahnya.
“Eits, kita dekat karena kami sesama rekan di mading.”
“Tetapi akhir-akhir ini aku selalu melihat dia menemuimu di kelas kok,” kata Timmy terang-terangan. Hami tertawa.
“Itu karena dia sering meminjamkan komik shoujo padaku. Komik-komik itu aku butuhkan sebagai referensi.”
Mulut Timmy menganga lebar.
“Wildam hobi membaca komik shoujo?”
“Ya, begitulah. Padahal setahuku dia selalu berkutat dengan buku pelajaran, tetapi ternyata tidak juga. Aku pernah memergokinya membaca komik shoujo di ruang mading. Dia bilang sangat suka akhir cerita yang bahagia maupun sedih di dalam komik shoujo. Setelah dia tahu kalau aku juga menyukai komik sejenis itu, akhirnya dia sering meminjamkanku komik-komiknya dengan senang hati.”
Timmy menggenggam salah satu tangannya dan menepuknya dengan tangan kirinya.
“Aku tidak menyangka ada cowok yang suka dengan komik seperti itu.”
Afika menambahi, “Seperti Miwon yang sangat menyukai drama korea. Cowok yang seperti itu tidak bisa aku mengerti.”
Timmy terkejut mendengarnya.
“Oppa suka dengan drakor? Benarkah?” serunya. Afika segera menutup mulutnya. ‘Kalau sudah begini, Timmy pasti akan bertanya macam-macam apa yang aku ketahui. Aku capek kalau harus menceritakan semuanya. Dia tidak akan berhenti bertanya sampai ke ujung-ujungnya. Aku harus segera melarikan diri selagi sempat!’
“Aku mau ke toilet dulu ya,” sahutnya cepat. Timmy hendak menghentikannya, tetapi dia kalah cepat dengan Afika yang sudah berlari kecil menuju toilet.
“Huh, dia pasti tidak ingin aku banyak bertanya,” dumel Timmy agak kesal. Dilihatnya Hami masih asik memakan lemper. “Oppa kemana sih? Kok nggak kelihatan dari tadi.”
“Dia sedang mendaftar ekskul mading,” ucapnya sambil meikmati lemper yang dipegangnya.
☻☺☻
“Aku sudah mengisi formulirnya. Jadi sekarang aku sudah diterima kan?” tanya Miwon bersamaan dengan menyerahkan formulir itu pada Mayang. Seminggu yang lalu, Edelweis menerimanya kembali untuk bergabung ke dalam ekskul mading. Namun posisinya bukan lagi sebagai wakil mading. Posisi tersebut sudah diduduki oleh adik kelasnya, Tiwi.
“Belum. Kamu harus menghadapi tes wawancara dulu besok sepulang sekolah. Tes waawancaranya di kelas sebelas ips tiga,” terangnya. Miwon tersenyum kecil.
“Terima kasih atas informasinya. Kamu benar-benar baik ya. Baru pertama kali ini kan kita benar-benar berbicara secara formal?”
“Maksudnya?”
“Sebelumnya aku hanya berbicara untuk menyinggung perasaanmu. Aih, aku benar-benar cowok yang jahat. Bagaimanapun kejadian itu hanya masa lalu. Maaf ya atas kejadian itu,” ucapnya sambil tersenyum lagi. “Kalau begitu, aku permisi dulu. Sampai bertemu lagi, Mayang,” setelah mengatakan hal itu, Miwon segera meninggalkan ruangan mading. Mayang menghela nafas panjang. Setelah itu, dia segera menyerahkan formulir itu kepada Tiwi. Tara mencolek bahunya.
“Apa sebelumnya kalian bertengkar?” Mayang menggelengkan kepala dengan cepat. “Tapi aku rasa tadi dia sedang meminta maaf padamu. Aku nggak salah dengar kan?”
Mayang hanya menggumam, “Dia benar-benar mengerikan.”
“Hah?” Rupanya Tara hampir tidak mendengarnya. Mayang memutar matanya dengan kesal. Dia malas untuk mengulangi ucapannya. “Sudahlah, aku mau ke toilet dulu.”
‘Hey, tadi kamu bilang apa? May?!!” Mayang tidak menghiraukan teriakan gadis itu. Mayang berjalan santai menuju lorong toilet yang sepi. Baru saja hendak melangkah memasuki ruangan toilet, dia mendenegar seorang gadis berteriak dengan kasar.
“KAMU NGGAK BENAR-BENAR PACARAN DENGAN ED KAN??!” Mayang seperti mengenal suara itu. Dia mengintip dibalik tembok. Rupanya benar! Suara itu berasal dari kak Nona dan dua gadis lainnya. “Keberadaanmu disamping Ed hanya memperburuk popularitasnya! Kamu mengerti??!”
Mayang melihat kakak kelasnya itu mengguncang-guncangkan tuuh Afika di sudut tembok. “CEPAT JAWAB! Kamu benar-benar pacaran dengan Ed apa tidak??!” Mayang tidak dapat menahan lagi. Dia segera menghampiri kak Nona dan mendorongnya hingga jatuh terjerembab. Kedua kakak kelasnya yang lain terkejut dengan perlakuan Mayang.
“Kenapa kalian selalu membully cewek-cewek yang dekat dengan Ed??! Apa Edelweis sendiri yang meminta kalian berbuat seperti ini, HAH??!” teriaknya. Lalu dia menoleh ke arah Afika. “Kamu juga! Kamu harus belajar untuk bertindak tegas! Sebagai pacar Ed, kamu harus membusungkan dadamu dan berani untuk mempertahankan harga dirimu! Kamu harus benar-benar merasa pantas untuk menjadi wanita di samping cowok yang kamu sukai! JANGAN MERASA LEMAH!”
Kedua kakak kelasnya membantu Nona untuk bangkit. Cewek yang bernama Nona itu langsung menjambak rambut Mayang.
“Nggak usah ikut campur deh, CEWEK SIALAN!” tidak cukup sampai disitu, Nona membenturkan kepala Mayang di tembok. Kedua temannya yang lain juga memegangi kedua tangan Mayang agar tidak dapat berkutik.
“KALIAN!” Ketiga senior itu berhenti menyyiksa Mayang. “LEPASKAN SEPUPUKU!” mendengar teriakan Afika, ketiganya tertawa.
“Sepupu? Dia bilang sepupu? Hahaha,” ketiganya tertawa terbahak-bahak. Afika segera mendorong tubuh ketiganya hingga rooh. Mereka bertiga menjerit kesakitan. Mereka terkejut ketika melihat wajah Afika yang tertutup dengan rambut panjangnya. Hanya terlihat bibirnya sedang tertawa cekikikkan.
“Kalian mau cari mati ya? Aku tidak akan melepaskan kalian yang sudah menyiksa orang yang aku sayangi,”Tubuh Nona dan kedua gadis lainnya langsung merinding. Terlihat aura hitam keluar dari tubuh Afika. Mayang merapikan rambutnya yang sebelumnya acak-acakan. Dia melihat ketiga seniornya dengan tatapan tajam.
“Kalian benar-benar keterlaluan. Pasti kalian tidak tahu kalau aku sudah berbaikan dengan Ed. Akan aku buat dia membenci kalian. Akan aku kumpulkan cewek-cewek yang kalian bully selama ini dan melaporkan perbuatan kalian kepada guru BP!” mendengar ancaman itu, ketiga seniornya berusaha untuk berdiri.
Gadis yang bernama Nona itu langsung nyengir, “Dasar, cewek-cewek payah. Hanya itu yang bisa kalian lakukan?” tiba-tiba tangan dingin menyentuh pundaknya. Sentuhan itu membuatnya sedikit merinding. Seakan-akan suasana menjadi beku seketika. Kedua temannya yang lain sudah kabur duluan. Nona menoleh perlahan. Dia lagsung shock ketika melihat seorang gadis sedang menatapya dengan mata melotot.
“Aku tidak main-main! Aku berjanji akan segera menghukum senior yang sudah membully semua cewek yang tidak bersalah! Neraka sudah menantimu, Nona!”
Tubuh Nona benar-benar gemetaran. Belum cukup sampai disitu, lampu di ruangan itu berkedip-kedip berkali-kali. Tuuh Nona langsung membatu hingga lampu benar-benar padam. Dia segera melepas tangan Afika dan berlari keluar ruangan toilet secepat kilat. Melihat hal itu membuat Afika dan Mayang tergelak bersama-sama.
“Ternyata penampilanmu yang seram tidak pernah berubah. Selalu datang tepat pada waktunya,” sahut Mayang di sela-sela tawanya. Afika langsung tersenyum melihat Mayang yang masih tertawa. Dia memegang tangan Mayang dengan lembut.
“Terima kasih sudah menolongku.”
Mayang juga tersenyum padanya.
“Sama-sama, sepupuku.”
☻☺☻
Para siswa kelas XIIPS1 tampak serasi mengenakan kain batik berwarna hijau dipadu dengan celana kain berwarna putih. Mereka terlihat segar tanpa berkeringat sedikitpun. Walaupun siang itu hawanya sangat panas, ac di ruangan itu mampu mengalahkan hawa tersebut. Mereka sedang menyimak pelajaran terakhir, yakni Bahasa Indonesia.
“Ibu sudah menuliskan delapan kelompok sesuai tema masing-masing.,” terang bu Nana. Hami melihat namanya di barisan kelompok pertama.
“Fik, kita satu kelompok dengan Miwon dan Danu,” bisiknya pelan. Afika mengangguk. “Kamu nggak apa-apa?” bisiknya lagi. Afika mengerutkan kening.
“Apanya?”
“Satu kelompok dengan ‘dia’?” kepala Hami mengarah pada cowok yang sedang mengacungkan jempol kepada Danu. Tanpa sadar, Afika menekan pensilnya hingga ujungnya patah. “Sudah aku duga, kamu benar-benar merasa tertekan ya?” isiknya lagi.
“Nggak! Aku nggak merasa seperti itu,” balas Afika dengan suara agak mengecil. Bel pulang pun berbunyi. Danu mendatangi Hami yang masih dudu di bangkunya. Begitu pula Miwon yang juga datang dengan cewek mungil yang terus menggamit lengannya.
“Ham, kita masuk di kelompok satu dan mendapatkan giliran minggu depan. Pas hari selasa nih. Mau nggak mau kita harus segera mengerjakannya,” jelas Danu. Hami hanya mengangguk menanggapinya. Timmy langsung mendekati Afika.
“Fik, kita saling bertukar kelompok yaa. Aku ingin masuk di kelompok kamu, please,” pintanya dengan wajah memelas. Hami segera menjitak kepalanya.
“Nggak cukup apa kamu seharian nempel terus dengan Miwon?! Lagian bu Nana juga nggak bakalan mengijinkan pertukaran kelompok.”
“Tapi kan aku dan Miwon selalu satu paket,” ujar Timmy tidak mau kalah. Miwon segera menghentikan keduanya yang hendak bersilat lidah.
“Tim, nggak harus setiap waktu kan kita bersama.”
“Tapi..,” Timmy melirik Afika yang masih sibuk memasukkan buku dan alat tulis di dalam tasnya. Miwon mengerti apa yang dimaksud oleh Timmy. Rupanya gadis kecil itu mengkhawatirkan perasaan Miwon yang akan goyah jika berada di dekat Afika. Miwon memberikan penjelasan kepada Timmy dengan menggelengkan kepala sekaligus tersenyum. ‘Aku tidak apa-apa,’ sambungnya di dalam hati. “Baiklah. Aku tidak akan menuntut apa-apa,” kata Timmy sambil menghela nafas. Hami tampak curiga melihat keduanya. ‘Sepertinya memang ada yang aku tidak tahu dari mereka bertiga. Apa aku harus mencari tahu. Rasanya seperti ada yang janggal dalam pertemanan kami berempat,’ pikir Hami agak rumit.
“Tim, kita dapat kelompok dua. Kapan kita mengerjakannya?” teriak Risa. Timmy segera menghampirinya.
Danu mulai mengatur rencana tempat pegerjaan mereka, “Kita kerjakan dimana? Disini atau..,” Hami menggeleng dengan cepat.
“Bosan juga kalau mengerjakan di kelas.”
“Bagaimana kalau di rumahku? Besok sabtu sepulang sekolah, kita kerjakan saja di rumahku. Besok aku akan meminta sopir untuk menjemput kita. Sekalian menginap saja sampai hari minggu,” usul Miwon.
“Memangnya rumah kamu dimana?” tanya Danu.
“Di Gresik. Kita bisa sekalian bersantai disana. Gimana?” ketiga temannya tampak berpikir untuk mempertimbangkan hal itu. Lalu Danu mengacungkan jempolnya.
“Boljug tuh!”
☻☺☻