Read More >>"> ADOLESCERE LOVE (15~MENCARI KEBAHAGIAAN MASING-MASING) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - ADOLESCERE LOVE
MENU
About Us  

Mundur dari perasaan

Dia kembali! Ya, Miwon sudah kembali seperti biasanya. Dia menyapa setiap orang tanpa berhenti tersenyum. Dia juga mengajakku mengobrol. Namun hal ini terasa agak janggal. Sudah jelas dia mengajakku berbicara kembali. Tetapi tidak sedikitpun dia menatapku ketika mengobrol denganku. Dia juga berhenti menggodaku, contohnya menyebut chagiya seperti yang biasa dilakukannya. Bukannya aku merasa suka dengan sebutan itu. Akan tetapi aku sangat penasaran kenapa dia seperti itu. Miwon berhenti mengatakan hal-hal yang membuatku kesal. Ada apa dengannya? Apakah masalah yang membebaninya belum terselesaikan? Kenapa aku jadi sedikit mengkhawatirkannya? Sedikit? Ya, sedikit.

“Akhirnya selesai juga. Capek banget!” Miwon meregangkan kedua tangannya. Bel pulang sudah berbunyi. Aku segera memasukkan buku di dalam tas. Hami dan Timmy berjalan ke arah kami. Mereka menungguku untuk pulang bersama. Timmy memberikan majalah kepada Miwon.

“Tadi aku dikasih sisa-sisa majalah provoke oleh bu perpus. Nih aku kasih satu.”

“Terima kasih, Timmy,” kata Miwon sambil tersenyum. “Oh ya, siang ini pinjamkan Afika padaku yaa,” katanya sambil memasukkan majalah di dalam tas. Bukan hanya aku yang terkejut mendengarnya, tetapi kedua temanku juga.

“Memanagnya mau kemana?” pertanyaan Timmy malah membuat Miwon tertawa.

“Ada deh! Tenang saja, Afika bakal kembali disini dengan selamat kok,” aku memiringkan kepala,  menatapnya agak curiga. “Ayo, Fik!” aku terkejut dua kali lipat saat dia menggengam tanganku. Timmy berusaha mencegah kami, menumpahkan segala pertanyaan. Namun Miwon bisa menghindar dan tidak sedikitpun melepaska genggaman tangannya. Kami bergandengan tangan hingga ke tempat parkir. Setelah itu dia melepaskan tanganku dan menyuruhku untuk menunggu di depan pagar. Dia segera berjalan ke tempat parkir untuk mengambil motornya. Aku menunggunya di depan pagar sekolah. Tidak henti-hentiya aku menatap tangan kanan yang sedari tadi dipegang oleh Miwon. Ada sesuatu getaran yang tidak aku mengerti saat Miwon menggenggam tanganku. Tetapi aku tidak tahu apa itu. Tak lama kemudiaan Miwon datang mengendarai motor dan memberikan helm padaku. Aku segera naik di atas motor dan memegang tas ranselnya dengan erat.

Aku memiliki firasat bahwa dia akan membawaku pergi ke tempat yang jauh. Ya, apa mungkin tempat itu adalah tempat yang pernah kami datangi? Suatu tempat yang istimewa baginya? Aku berpikir begitu banyak sehingga aku tidak ingat lagi sampai mana perjalananku ini. Aku melihat kanan-kiri. Perbatasan ini lagi! Perbatasan Surabaya-Gresik! Dia benar-benar membawaku kesini lagi. Tia-tiba saja aku merasa sedikit senang karena dia membawaku kesini lagi. Kami bisa mengelilingi kota Gresik seperti kemarin lalu. Aku merasa jika Miwon benar-benar baik. Dia mengajakku ke tempat yang belum pernah aku lihat dan membelikanku makanan yang enak-enak. Akhir-akhir ini aku merasa lebih dekat dengannya daripada teman-teman lainnya. Entah kenapa memikirkan hal itu, memuatku agak senang. Nah, lho, dia membawaku ke telaga ini lagi kan? Miwon menghentikan motornya di pinggir jalan. Dia tidak memasuki tempat parkir. Aku segera turun dari motor. Miwon melepaskan helm. Aku pun juga melepasnya dan meyerahkan helm itu padanya.

“Fik, ada sesuatu yang harus kukatakan,” Miwon juga turun dari motornya. Dia berdiri di hadapanku sembari memegang kedua pundakku. Mataku tidak berkedip sama sekali. Dia menatapku lama. Aku rasa dia akan megungkapkan perasaannya lagi. Kalaupun itu benar, apa mungkin aku harus menolaknya atau hanya diam saja menanggapinya. Setidaknya aku harus bersiap untuk memberikan jawaban dari lubuk hatiku sendiri. Tetapi apa yang harus aku jawab? Sebenarnya aku menyukainya. Aku juga tidak membencinya. Lalu aku menyukainya atas dasar apa? Pertemanan atau menganggapnya leih dari teman?

“Aku..,” aku benar-benar memperhatikannya. Rasa penasaran menyeretku sangat dalam. “Aku..,” kata-kata apa yang sulit diucapkannya. Sepertinya dia hendak mengatakan sesuatu yang memberatkannya. Dia memegangpundakku dan hendak mengataan sesuatu membuatku sedikit berdebar-dear. Aku melepaskan kedua tangannya dari pundakku.

“Kamu bisa pelan-pelan menceritakannya kok. Ayo, kita duduk di dekat telaga seperti kemarin,” aku mencoba untuk sedikit tersenyum. Aku tidak pernah tersenyum. Karena aku yakin jika tersenyum di hadapan orang akan membuat mereka takut. Tetapi sekarang aku tidak tahu kenapa menunjukkan senyumanku pada Miwon. Apa karena akhir-akhir ini kita dekat? Aku segera beralik dan melangkah ke arah telaga. Namun baru beberapa langkah, aku melihat punggung seseorang yang kukenal. Orang itu sedang berdiri di dekat telaga. Orang itu seperti.. Edelweis?

“Aku.. akan berhenti untuk menyukaimu,” sekarang malah suara ini yang kudengar dari mulut cowok yang berdiri dibelakangku. Aku berbalik, berjalan mendekatinya. “Aku berjanji tidak akan memaksamu lagi. Jangan ingat-ingat lagi perkataanku di telaga sebelumnya. Lupakan semuanya perlakuanku padamu.”

Aku langsung mengerutkan kening. “Kamu bicara apa?”

“Edelweis juga menyukaimu,” katanya cepat. Ucapannya benar-benar membuat jantungku seakan-akan terhantam oleh batu yang sangat besar. “Aku pernah bilang kalau aku akan memperjuangkan hatiku untukmu. Berpalinglah sekarang. Aku tidak akan  mengganggumu lagi dengan  perasaanku ini. Aku juga akan melupakannya.”

Aku hanya terdiam tidak menanggapinya. Aku tidak harus menjawab apa. Yang aku tahu sekarang bahwa Ed juga menyukaiku. Akan  tetapi pernyataan Miwon  yang berniat mundur untuk menyukaiku, tidak tahu kenapa malah membuatku tidak senang. Apa yang terjadi padaku sebenarnya?

“Kamu pasti senang karena cintamu sudah terbalas kan? Kak Edelweis benar-benar cowok yang baik. Semoga kalian bahagia. Sekarang kamu bisa menemuinya. Pastikan dia mengantarmu kembali di sekolah,” Miwon  mengakhiri pembicaraan  nya. Dia menaiki motornya lagi dan  memakai helm. Aku berbalik hendak menemui cowok yang berdiri di dekat  telaga. Setelah beberapa langkah, aku teringat sesuatu. Aku mengambil sesuatu dari dalam tas. Ya, barang yang seharusnya aku berikan padanya sedari kemarin. Aku mendorong keras barang itu di dadanya. Dengan sigap Miwon menangkapnya.

“Aku pikir kita tidak saling berhutang lagi,” setelah mengatakan itu, aku kembali berjalan ke arah telaga. Tak lama terdengar suara mesin motor. Aku berbalik lagi. Miwon benar-benar meninggalkanku sendirian. Tanpa terasa sesuatu mulai mengalir di pipi. Aku memegang pipiku yang  basah. “Kenapa aku menangis? Aku tidak mengerti semua ini.”

Aku kembali berbalik dan berjalan hingga mendekati cowok yang masih melipat tangannya di dada. Sepertinya dia sedang menikmati pemandangan disini.

“Ed,” panggilku. Dia menoleh.

“Afika,” Ed tersenyum padaku. Mataku berkedip beberapa kali. Sudah lama aku memimpikan hal ini. Cowok yang selama ini aku sukai sedang tersenyum kepada aku seorang. Hal ini bisa menjadi nyata? Edelweis berjalan mendekatiku. Dia mulai memegang kedua tanganku. “Aku tidak tahu kapan aku merasakan hal seperti ini. Ehmm, aku tidak pandai mengatakannya. Ini baru pertama kainya. Hmm, aku..,”

Edelweis terlihat agak bingung. Aku hampir saja tersenyum melihat cowok yang selalu menjadi bintang kelas itu sedang berbicara sendiri. Apakah benar dia juga menyukaiku? Edelweis tidak berbicara sendiri lagi. Wajahnya tampak serius memandangku. Dia memegang kedua tanganku dengan erat. Aku memperhatikannya lagi.

“Ayo kita pacaran.”

☻☺☻

“Apa? Kemarin Ed nembak kamu?” pertanyaan Hami yang sedikit lantang membuat Afika harus menyumpal mulut Hami dengan pentol yang baru saja ditusuknya. Hami mengunyah pentol itu dengan raut wajah baagia. “Akhirnya kalian berdua jadian juga ya!” serunya sehabis menelan pentol di mulutnya. Afika melihat orang-orang di sekeliling kantin. Dia memastikan agar orang-orang tidak mendengar percakapan mereka, terutama para pengagum Edelweis. Benar juga! Fans-fans Edelweis pasti akan marah!

“Kamu kenapa, Fik? Kok nggak bahagia gitu?” Timmy menyadari Afika yang tiba-tiba saja melotot. Dia memakan suapan nasi goreng terakhirnya. Afika menggeleng lemas. “Lalu bagaimana dengan Miwon?” tanya Timmy lagi. Petanyaan temannya itu membuat Afika memikirkan kembali kejadian kemarin. ‘Aku akan berhenti menyukaimu,’ perkataan itu membuat nafasnya sedikit sesak. Seperti tadi pagi, Afika merasa canggung dan hampir sesak nafas ketika Miwon duduk di bangkunya. Mereka teman sebangku. Tetapi tidak ada satu katapun yang mereka ucapkan.

“Iya, Fik. Miwon kan juga menyukaimu. Apalagi dia sangat optimis untuk merebut hatimu. Akhirnya aku mengerti kenapa sedari kemarin perilaku dia agak aneh. Tadi pagi pun aku merasa keceriaannya seperti paksaan semata. Bagaimana dia bisa bahagia setelah mengetahui kakaknya juga menyukaimu. Bahkan sekarang berpacaran denganmu,” perkataan Hami membuat Afika tercenung. Sebenarnya Afika juga merasa tidak enak. Dia merasa bersalah atas semua ini. Dulu Afika berharap dapat berpacaran dengan Edelweis. Namun dia tidak dapat mengira jika hal itu dapat terjadi dengan menyakiti orang lain. Bukan, tetapi adik dari cowok yang disukainya.

“Dia memutuskan untuk tidak menyukaiku lagi,” setelah berkata seperti itu, dia melihat seseorang yang baru saja dibicarakannya. Berjalan bersama Danu dan teman-teman cowok lainnya. Mata mereka bertemu. Afika langsung tertunduk. Dia menjadi agak kikuk.

“Hey, Ham. Bakso mboh Ijah enak banget ya!” seru Miwon yang duduk di meja pajang barisan ketiga. Hami membalikkan badannya.

“Yo! Enak banget!” balasnya sambil mengacungkan jempolnya.

“Selamat makan!” sesudah mengatakan itu, Miwon melahap baksonya. Hami dan Timmy yang baru saja melihat Miwon, kembali berpaling melihat Afika yang masih menunduk. Merasa dilihat oleh kedua temannya, Afika segera memakan baksonya lagi.

Style dia berubah seperti semula,” ujar Hami pelan.

“Yaa.. padahal rambut oppa lebih bagus pakai wax rambut ya,” sambung Timmy.

“Afika,” seseorang menepuk bahu Afika pelan. Afika mengetahui siapa yang baru saja menyapanya. Dia mendongak.

“Ed,” panggilnya. Seperti biasa Ed pergi ke kantin bersama Wildam, Tara, dan.. Mayang. Yup, kini Mayang dan Edelweis sudah berbaikan kembali. Wildam, Tara, dan Mayang sudah duluan duduk di meja yang tidak jauh dari meja Miwon.

“Selamat ya, Ed! Akhirnya kalian jadian juga!” kata Timmy sembari mengerlingkan matanya. “Afika sudah menunggumu terlalu lama lho. Siapa sangka dia sudah menyukaimu satu tahun lebih!” Afika langsung melotot ke arah Timmy. Timmy yang melihat reaksi temannya malah tertawa. Sedangkan Edelweis tersenyum mendengarnya.

“Masa sih?” tanyanya.

“SUWER! Sejak pertama kali kalian bertemu..,”

“Timmy!” seruan Afika dan mata yang semakin melotot membuat Timmy tambah cengengesan. Edelweis ikut tertawa kecil. Lantas cowok itu mengusap-usap rambut Afika perlahan. Spontan perlakuan Edelweis membuat Afika dag-dig-dug tidak karuan.

“Maaf ya sudah membuatmu menunggu terlalu lama.”

Wajah Afika bersemu merah. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Perlakuan Edelweis padanya begitu manis. Mengetahui perlakuan Edelweis mengingatkan Afika dengan cowok yang sebelumnya memperlakukannya dengan baik. Ya, tanpa sadar mata Afika melesat ke arah cowok yang sebelumnya asik menyantap bakso. Kini cowok itu tidak lagi memakan baksonya. Mata cowok itu juga seperti mengarah padanya. Tatapan yang tidak pernah dilihatnya. Lebih jelas seperti tatapan penuh amarah. Kini cowok itu berdiri dan berjalan ke arahnya. Afika tidak mampu melepaskan pandangannya. Begitu pula dengan cowok itu, seakan-akan sealu mengarah padanya. Afika hampir menebak jika cowok itu akan menghampirinya. Tetapi ternyata tidak, cowok itu melewatinya.

Secara tiba-tiba, Timmy berdiri dari duduknya. “Aku.. ke toilet dulu ya!” setelah itu, dia berlari-lari kecil meninggalkan ruangan kantin.

“Fik, aku makan dulu ya sama anak-anak. Sepulang sekolah nanti, aku akan menjemputmu di kelas,” Afika hanya mengangguk mendengar perkataan Edelweis. Setelah Edelweis menemui ketiga temannya, Hami terus saja tersenyum ke arah Afika.

“Ciyee, pasangan baru nih yee. ‘Sepulang sekolah nanti aku jemput.’ Romantis banget sih!” godanya. Afika tidak menanggapi temannya. Pikirannya masih teralih pada seseorang yang tadinya memperlihatkan tatapan penuh amarah. Afika merasa jika hubungan barunya dengan Edelweis akan membuat pertemanannya dengan seseorang akan hancur seketika.

☻☺☻

Aku berjalan memasuki toilet. Tanganku memegang kuat wastafel. Wajahku menengadah ke arah cermin. ‘Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku begitu marah? Sangat marah??!’ keluhku. Kunyalakan keran air. Dengan segera, ku basuh wajah berkali-kali dengan air keran. Kemudian aku menatap diriku di cermin lagi. Aku melihat kerutan di tengah alisku. Kucoba untuk meratakannya dengan jari telunjuk.

“Aku tidak boleh begini. Aku harus kuat! Semua perjuanganmu untuknya sudah berakhir. Miwon, sadarlah! Kamu tidak bisa bersaing begitu saja dengan kakakmu! Tidak akan pernah!” seruku sambil menatap kaca. Aku menarik nafas perlahan. Setelah merasa baikan, aku berjalan keluar toilet.

“Oppa,” aku sedikit terkejut ketika menemukan Timmy yang bersandar di tembok luar toilet. “Miwon benar-benar menyerah?”

“Apa?” tanyaku bingung. Timmy terlihat menahan senyum sambil menutupi mulutnya dengan tangan. Dia berjalan mendekatiku.

“Aku menyukaimu,” perkataannya mengagetkanku. “Aku ingin membuatmu melupakannya.”

“Maaf, Tim. Aku hargai perasaamu. Tapi maaf, aku tidak bisa,” aku segera berjalan melewatinya.

“Aku benar-benar mengerti perasaanmu,” langkahku terhenti. Aku berbalik. Rupanya Timmy berbalik juga. “Aku tidak mempermasalahkan jika kamu masih punya perasaan padanya. Aku akan mencoba membahagiakanmu. Oppa, akan ku isi hari-harimu penuh dengan kebahagiaan.” katanya sembari tersenyum. Timmy tidak melihatku sebagai beban. Timmy benar-benar menghargai apa yang aku rasakan. Dia tahu jika aku masih belum bisa melupakan Afika. Dan dia juga ingin membahagiakanku.

☻☺☻

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Kepada Gistra
4      4     0     
Short Story
Ratusan hari aku hanya terfokus mengejar matahari. Namun yang menunggu ku bukan matahari. Yang menyambutku adalah Bintang. Kufikir semesta mendukungku. Tapi ternyata, semesta menghakimi ku.
The Twins
35      6     0     
Romance
Syakilla adalah gadis cupu yang menjadi siswa baru di sekolah favorit ternama di Jakarta , bertemu dengan Syailla Gadis tomboy nan pemberani . Mereka menjalin hubungan persahabatan yang sangat erat . Tapi tak ada yang menyadari bahwa mereka sangat mirip atau bisa dikata kembar , apakah ada rahasia dibalik kemiripan mereka ? Dan apakah persahabatan mereka akan terus terjaga ketika mereka sama ...
Oh My Heartbeat!
5      4     0     
Romance
Tentang seseorang yang baru saja merasakan cinta di umur 19 tahun.
BIYA
11      2     0     
Romance
Gian adalah anak pindahan dari kota. Sesungguhnya ia tak siap meninggalkan kehidupan perkotaannya. Ia tak siap menetap di desa dan menjadi cowok desa. Ia juga tak siap bertemu bidadari yang mampu membuatnya tergagap kehilangan kata, yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Namun kalimat tak ada manusia yang sempurna adalah benar adanya. Bidadari Gian ternyata begitu dingin dan tertutup. Tak mengij...
Heartbeat
4      4     0     
Romance
Jika kau kembali bertemu dengan seseorang setelah lima tahun berpisah, bukankah itu pertanda? Bagi Jian, perjumpaan dengan Aksa setelah lima tahun adalah sebuah isyarat. Tanda bahwa gadis itu berhak memperjuangkan kembali cintanya. Meyakinkan Aksa sekali lagi, bahwa detakan manis yang selalu ia rasakan adalah benar sebuah rasa yang nyata. Lantas, berhasilkah Jian kali ini? Atau sama seper...
MANTRA KACA SENIN PAGI
48      15     0     
Romance
Waktu adalah waktu Lebih berharga dari permata Tak terlihat oleh mata Akan pergi dan tak pernah kembali Waktu adalah waktu Penyembuh luka bagi yang sakit Pengingat usia untuk berbuat baik Juga untuk mengisi kekosongan hati Waktu adalah waktu
Arini
13      5     0     
Romance
Arini, gadis biasa yang hanya merindukan sesosok yang bisa membuatnya melupakan kesalahannya dan mampu mengobati lukanya dimasa lalu yang menyakitkan cover pict by pinterest
Untuk Reina
151      44     0     
Romance
Reina Fillosa dicap sebagai pembawa sial atas kematian orang-orang terdekatnya. Kejadian tak sengaja di toilet sekolah mempertemukan Reina dengan Riga. Seseorang yang meyakinkan Reina bahwa gadis itu bukan pembawa sial. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi pada Riga?
Memorabillia: Setsu Naku Naru
49      11     0     
Romance
Seorang laki-laki yang kehilangan dirinya sendiri dan seorang perempuan yang tengah berjuang melawan depresi, mereka menapaki kembali kenangan di masa lalu yang penuh penyesalan untuk menyembuhkan diri masing-masing.
Paragraf Patah Hati
47      14     0     
Romance
Paragraf Patah Hati adalah kisah klasik tentang cinta remaja di masa Sekolah Menengah Atas. Kamu tahu, fase terbaik dari masa SMA? Ya, mencintai seseorang tanpa banyak pertanyaan apa dan mengapa.