Read More >>"> ADOLESCERE LOVE (14~PILIHAN YANG SANGAT RUMIT) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - ADOLESCERE LOVE
MENU
About Us  

Belajar untuk menghindar

Afika merasa heran dengan Miwon hari ini. Biasanya setiap pagi, dia menyapa teman-teman sekelas dengan wajah riangnya. Tetapi hari ini dia menyapa mereka dengan wajah lesu. Pagi itu dia datang ke kelas dan menduduki bangku tanpa banyak bicara. Afika hendak mengeluarkan barang pemberiannya, namun dia cukup mengerti bahwa cowok itu sedang terlihat memiliki masalah. Afika cukup memberikannya waktu untuk tidak mengganggu keterdiamannya. Akhirnya mereka tidak berbicara sedikitpun hingga jam istirahat tiba.

 “Oppa, beli mendoan seperti biasanya yuk! Nanti kita bisa  makan sambil lihat teman-teman bertanding bola,” ucap Timmy sambil menyeret tangan Miwon. Hami dan Afika sudah berdiri untuk menunggu. Miwon melihat Danu yang baru saja berkumpul dengan tiga cowok lainnya. Danu mengorol sambil berjalan menuju pintu kelas. Miwon melepaskan pegangan tangan Timmy.

“Nu, mau kemana?” panggilnya. Danu menoleh.

“Disuruh Bu Emy mengambil alat proyektor dan sound system.”

“Loh, minggu ini mapel inggris nonton film lagi?”

“Kayaknya sih gitu.”

“Aku ikut,” dengan segera, Miwon berlari menghampiri Danu.

“Miwon oppa kenapa sih? Seperti sedang menjauhi kita,” dumel Timmy.

“Mungkin cowok itu lagi bete. Dan kita yang jadi sasaran kebeteannya,” celetuk Hami. Sedangkan Afika hanya diam melihat kepergian Miwon.

☻☺☻

Jam sekolah telah berakhir. Aku memilih untuk duduk di kursi panjang di luar pintu kelas. Aku melihat Afika sedang memasukkan buku-buku di dalam tas. Tiba-tiba wajahnya berptar melihat ke arah jendela kaca. Aku merasa dia sedang melihatku. Wajahku langsung berpaling melihat lorong kelas. Mengabaikan Afika selama setengah hari ini membuatku sangat bersalah. Seharusnya aku tidak berbuat seperti itu padanya. Bukannya aku berusaha menghindari Hami dan Timmy, tetapi berniat untuk menghindari Afika sementara. Ini keputusan yang sangat sulit.

Aku menyukainya. Benar-benar tertarik padanya. Betapa aku sangat ingin mengenalnya. Tetapi aku tidak menduga jika kakak juga menumbuhkan perasaan yang sama sepertiku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku sudah berjanji untuk memperjuangkan perasaanku untuknya. Tetapi sekarang aku malah merasa sebagai penghalang cinta mereka. Mereka berdua memiliki perasaan yang sama. Jadi sekarang aku harus berbuat apa? Kepalaku terasa berputar-putar. Aku memutuskan untuk beranjak dari sini sebelum bertatap-muka dengan Afika lagi. Wajahku yang setengah menunduk, menyadari sepasang kaki muncul dihadapanku. Aku mendongak.

“Kamu ada masalah?” tanya seorang cewek yang hari ini tidak ingin kutemui. Pertanyaannya yang selalu ‘to the point’ kali ini membuatku tersiksa. Aku harus menjawab apa. Aku tidak melihat ekspresi tersenyum, menangis, maupun tertawa. Cewek itu hanya menunjukkan wajah datarnya.

Nothing. Aku pulang dulu ya,” kataku berusaha menghindarinya lagi.

“Tunggu!” langkahku terhenti. Namun tetap tidak berbalik. “Kalau ada sesuatu yang mengganjal, kamu bisa cerita padaku.”

Fik, kamu memang cewek yang baik. Di dalam keterdiamanmu, rupanya rasa perhatian kepada teman sangat dalam. Kamu juga menyadari kebimbanganku saat ini. Aku mulai berbalik melihatnya. ‘Afika, apa perasaanmu terhadap Ed sudah hilang? Atau rasa sukamu itu masih terpaut di dalam hatimu?’ aku memandangnya dalam diam.

“Kalau mau, kamu bisa cerita,” katanya sambil merogoh sesuatu dari dalam ranselnya. “Aku ingin mem..,”

“Adek..!!!” suara itu berasal dari lorong di belakang Afika. Aku melihat seseorang sedang berlari dari jauh. Yap, kak Ed sedang berlari menghampiriku. Tentu saja Afika mendengar teriakannya juga. Dia bahkan berhenti menemukan sesuatu dari dalam tasnya dan tubuhnya agak kikuk. “Aku berniat untuk menginap di Gresik selama satu hari. Aku ingin bertemu dengan ayah dan kamu dong pastinya.”

Aku mengangguk sambil tetap melihat Afika yang agak salah tingkah. Kak Ed tersenyum lebar saat melihat cewek disebelahnya.

“Fik, selamat yaa! Aku dengar dari Hami kalau hasil raport kemarin kamu masuk dalam ranking sepuluh besar.”

“Terima kasih. Aku malah kalah saing dengan Hami yang ranking satu. Aku kan hanya ranking sepuluh. Aku dengar kalau kamu juga ranking satu ya? Selamat ya, Ed.”

“Makasih-makasih,” wajah kak Ed cerah sekali. Percakapan mereka membuatku terlihat sangat kecil. Aku teringat hasil raportku kemarin. Sangat buruk. Aku mendapatkan urutan 30 dari 32 murid. Cukup mendapatkan label bercapkan ‘siswa yang bego!’ Membicarakan tentang urutan ranking, membuat diriku tersisih. Benar apa kata kak Ed kalau mereka berdua cocok satu sama lain. Tetapi ada perasaan tidak rela dalam diriku. Jadi aku harus memberi keputusan seperti apa? Aku sadari tidak ada siapapun yang salah dari posisi kami bertiga. Kesalahan itu hanya berasal dari takdir. Aku berbalik dan berjalan dengan gontai tanpa mempedulikan mereka berdua.

“Dek, tunggu! Aku mau nebeng sama kamu,” aku tetap berjalan, tidak menghiraukannya. “Fik, aku pulang dulu ya! Miwon, tunggu!!!!”

☻☺☻

Seorang gadis berseragam putih abu-abu memasuki kamar dengan malas. Tas ransel digeletakkan di lantai begitu saja. Dia terduduk di atas kasur sambil memeluk boneka panda. Dilihatnya boneka itu lekat-lekat. ‘Aku sengaja membelimu karena wajahmu hampir mirip denganku. Kamu memiliki kantung mata yang sama denganku. Bahkan papa pernah bilang mataku terlihat gosong. Emangnya makanan?’ dia terbuai oleh lamunan sehingga tidak sadar ketika gadis lain memasuki kamar. Gadis berseragam yang ikut duduk di atas kasur miliknya.

“Fik,” gadis yang memeluk pada tersadar dari lamunannya. ‘Mayang manggil aku? Apa ini mimpi?’ seruaan di dalam hatinya membuatnya sedikit canggung. Mayang berdiri di hadapannya. “Terima kasih.. lagi.”

Gadis itu sedikit bingung dengan ucapan saudara sepupunya. Setelah mengatakan itu, Mayang keluar dari kamar. Gadis berambut panjang itu langsung menguncir rambutnya. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Suatu benda yang terbungkus dengan sampul coklat. ‘Aku tidak jadi menyerahkan ini. Padahal tadi hampir saja aku menyerahkannya. Tetapi waktu memang tidak mendukung. Seharusnya mendukung sih. Dengan melihat wajah badmood-nya yang seharian penuh, dia pasti akan senang jika aku langsung menyerahkan ini,’ dia termenung dalam lamunannya lagi.

☻☺☻

Ke: Chagiya-ku!

Fik, lg ngapa

Hapus

sori td ak cuekin km y

Hapus

Apa chat ini mengganggu

Hapus

Apa selama ini aku mengganggumu? Terlalu memaksakan hatimu?

Back #Delete

Ku lempar handphone di atas kasur tidak jauh dimana aku duduk bersandar tembok. Ingin rasanya segera bertemu dan berbicara banyak dengannya. Perasaan ini tidak tertahankan lagi. Aku sangat kecewa pada diriku sendiri. Aku merindukannya. Tetapi aku tidak biisa menulis chat satupun. Padahal setiap hari aku selalu mengirimkan chat padanya. Menanyakan kabarnya, apa yang dilakukannya, menyemangatinya. Dengan begitu, seiring waktu aku bisa mengenalnya lebih jauh. Apalagi saat ini dia sedikit terbuka padaku. Seperti tadi, mengajakku berbicara tanpa aku yang menyapa duluan. Ah, jika kak Ed tidak benar-benar menyukainya. Aku tidak akan pusing-pusing memikirkan hal ini. Tetapi aku juga tidak bisa menyalahkannya. Seseorang memasuki kamar sambil membawa kantong plastik berisi penuh cemilan.

“Tadi aku beli banyak cemilan di minimarket depan sana. Aku baru tahu lho kalau disana dibangun minimarket. Bisa-bisa toko bu Isman kalah saing dong.”

Dikeluarkannya aneka cemilan di atas kasur. Aku membuka bungkus kacang telur dan memakannya. “Suddah lama kok minimarket itu dibangun. Tetapi aku yakin bu Isman tidak akan merasa terancam. Toh, banyak tetangga yang sering berbelanja di toko bu Isman. Kata mereka, toko bu Isman lebih murah,” kataku sambil mengunyah kacang telur. Aku melihat kak Ed sedang memakan rumput laut. Akhir-akhir ini wajahnya terlihat begitu ceria. Dia lebih banyak tersenyum dan tertawa. Kenapa kebahagiannya membuatku sedikit jengkel?

“Dik, apa Afika benar-benar menyukaiku?” aku berhenti mengunyah. Mataku menatapnya dan melahap beberapa kacang telur lagi. “Maksudku sejak kapan dia menyukaiku?” tanyanya lagi.

“Aku tidak tahu.”

“Oh,” katanya singkat. Aku melihatnya dengan sedikit memaksakan senyum.

“Kakak begitu menyukainya ya?” Kak Ed mengangguk tanpa ragu. “Kenapa kakak bisa menyukainya? Bukankah masih banyak cewek yang lebih baik daripada dirinya?” tanyaku menggebu-gebu. Hening. Aku baru sadar jika ucapanku membuatnya agak bingung.

“Aku pikir kamu itu teman baiknya. Kenapa mengatakan seperti itu?” aku hanya tercenung mendengarnya. “Dia cewek yang baik,” aku tahu itu, kak. “Dia selalu memiliki keberanian untuk menghadapi setiap orang,” aku juga tahu itu. “Aku selalu merasa jantung ini berdegup kencang apabila berada di depannya,” aku juga merasakan hal yang sama. “Kecanggungannya membuatnya terlihat manis,” aku tahu itu. SANGAT TAHU!  “Dan dia selalu terlihat lemah di mataku.”

Aku membelalakkan mata lebar-lebar. ‘Apa maksud kakak?’

“Melihat dia mengingatkanku pada ibu. Dijauhi dan menjadi perbicangan banyak orang hanya karena kekurangaan yang ada pada fisiknya. Membuatku ingin selalu melindunginya.”

Kami terdiam cukup lama.

“Aih, kenapa aku bisa bicara seperti ini? Sangat memalukan!” serunya sambil menggaruk kepala berkali-kali. Kak Ed tertawa lagi. Sekarang dia memiliki kebiasaan tertawa yang tidak pernah ditunjukkannya. Apa itu karena kekuatan cinta Afika yang sudah menarik hati kak Ed untuk bersanding dengannya?

“Kak,” kak Ed menghentikan tawanya. Kali ini aku menatapnya dengan serius. “Aku akan membantumu, tetapi ada satu syarat yang benar-benar harus kamu patuhi.”

☻☺☻

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Iblis Merah
55      39     0     
Fantasy
Gandi adalah seorang anak yang berasal dari keturunan terkutuk, akibat kutukan tersebut seluruh keluarga gandi mendapatkan kekuatan supranatural. hal itu membuat seluruh keluarganya dapat melihat makhluk gaib dan bahkan melakukan kontak dengan mereka. tapi suatu hari datang sesosok bayangan hitam yang sangat kuat yang membunuh seluruh keluarga gandi tanpa belas kasihan. gandi berhasil selamat dal...
Sakura di Bulan Juni (Complete)
68      25     0     
Romance
Margareta Auristlela Lisham Aku mencintainya, tapi dia menutup mata dan hatinya untukku.Aku memilih untuk melepaskannya dan menemukan cinta yang baru pada seseorang yang tak pernah beranjak pergi dariku barang hanya sekalipun.Seseorang yang masih saja mau bertahan bersamaku meski kesakitan selalu ku berikan untuknya.Namun kemudian seseorang dimasa laluku datang kembali dan mencipta dilemma di h...
Melting Point
97      27     0     
Romance
Archer Aldebaran, contoh pacar ideal di sekolahnya walaupun sebenarnya Archer tidak pernah memiliki hubungan spesial dengan siapapun. Sikapnya yang ramah membuat hampir seluruh siswi di sekolahnya pernah disapa atau mendapat godaan iseng Archer. Sementara Melody Queenie yang baru memasuki jenjang pendidikan SMA termasuk sebagian kecil yang tidak suka dengan Archer. Hal itu disebabkan oleh hal ...
Who are You?
18      10     0     
Science Fiction
Menjadi mahasiswa di Fakultas Kesehatan? Terdengar keren, tapi bagaimana jadinya jika tiba-tiba tanpa proses, pengetahuan, dan pengalaman, orang awam menangani kasus-kasus medis?
SATU FRASA
151      47     0     
Romance
Ayesha Anugrah bosan dengan kehidupannya yang selalu bergelimang kemewahan. Segala kemudahan baik akademis hingga ia lulus kuliah sampai kerja tak membuatnya bangga diri. Terlebih selentingan kanan kiri yang mengecapnya nepotisme akibat perlakuan khusus di tempat kerja karena ia adalah anak dari Bos Besar Pemilik Yayasan Universitas Rajendra. Ayesha muak, memilih mangkir, keluar zona nyaman dan m...
Secret Love
4      4     0     
Romance
Cerita ini bukan sekedar, cerita sepasang remaja yang menjalin kasih dan berujung bahagia. Cerita ini menceritakan tentang orang tua, kekasih, sahabat, rahasia dan air mata. Pertemuan Leea dengan Feree, membuat Leea melupakan masalah dalam hidupnya. Feree, lelaki itu mampu mengembalikan senyum Leea yang hilang. Leea senang, hidup nya tak lagi sendiri, ada Feree yang mengisi hari-harinya. Sa...
5 Years 5 Hours 5 Minutes and 5 Seconds
3      3     0     
Short Story
Seseorang butuh waktu sekian tahun, sekian jam, sekian menit dan sekian detik untuk menyadari kehadiran cinta yang sesungguhnya
love like you
6      6     0     
Short Story
Aku Bilang, Aku Cinta Dia!
5      5     0     
Short Story
Aku cinta dia sebagaimana apa yang telah aku lakukan untuknya selama ini. Tapi siapa sangka? Itu bukanlah cinta yang sebenarnya.
Sang Musisi (2)
4      4     0     
Short Story
Apakah kau mengingat kata-kata terakhir ku pada cerita "Sang Musisi" ? MENYERAH ! Pada akhirnya aku memilihnya sebagai jalan hidupku.