Pakai insting! Bukan hapalan?
Setelah acara ulang taun sekolah sudah berlalu selama beberapa minggu, para siswa SMA Hijau kembali disibukkan dengan menghadapi Ulangan Semester 1. Terutama para siswa di kelas XIIPS1 yang mengerjakan ulangan dengan ruangan terpisah menjadi dua bagian. Semua siswa disana duduk di bangku secara individu. Mereka semua tampak siap, kecuali salah satu cowok yang duduk di barisan tengah paling belakang. Dia terlihat berpikir keras, sesekali menggigit pulpennya. Tetapi belum satu pun jawaban essay yang terisi. Hanya pilihan ganda yang selesai dikerjakannya.
Bel pulang pun berbunyi. Guru pengawas meminta para siswa untuk segera meninggalkan kertas ulangan di meja masig-masing. Cowok itu tersentak dan entah apa yag ada di pikirannya sekarang, dia menulis jawaban-jawaban essay secepat kilat.
‘Miwon, waktunya sudah habis,” guru pengawas berjalan mendekatinya. Miwon tetap menulis. “Tolong tinggalkan kertas itu disana. Waktunya sudah habis,” guru pengawas itu segera mengambil kertas ulangannya. Miwon tidak mampu berkata apapun. Dia hanya menatap kosong kepergian teman-temannya dan guru pengawas itu. Miwon langsung menjambak rambutnya dengan wajah frustasi.
“TIDAAAKKKKK..!!!!”
☻☺☻
“Oppa kok lemes banget? Nggak lagi sakit kan?” Timmy merasa heran melihat Miwon tidak bersemangat seperti biasanya. Setelah ulangan bahasa Indonesia berakhir, Miwon mendatangi Timmy, Afika, dan Hami di ruangan sebelah. Dia berjalan seperti zombie kena lepra, lemas tidak bertenaga. Matanya pun seperti orang yang masih ngantuk. Dia langsung duduk di salah satu bangku dan merebahkan tubuhnya di atas meja.
“Apes banget. Padahal tadi aku sudah baca buku itu berkali-kali. Kenapa nggak masuk ke otak sih!” keluhnya. Afika menggelengkan kepalanya. Dia teringat Miwon yang meneleponnya semalam.
“Haahaa.. kamu lagi belajar toh! Halah! Bahasa Indonesia itu kan sangat mudah! Buat apa dipelajari lagi! Tinggal berpikir sejenak sambil menjentikkan jari, kamu pasti bisa dengan mudah menemukan jawabannya,”
Keesokan harinya...
“Lho, kalian masih belajar ya? Padahal sebentar lagi bel berbunyi. Ayo, semangat teman-temanku!!!” Miwon menyemangati Afika dan Hami yang masih membaca buku.
“Waah, oppa pasti sudah mempersiapkan diri ya? Hebat!” puji Timmy tulus. Afika menoleh sesaat.
“Dia nggak belajar kali.”
“Hah, nggak belajar?” gadis itu terkejut. “Jadi oppa mengandalkan contekan dong?!” tebaknya. Miwon tertawa terbahak-bahak. “Mengerjakan ulangan itu tidak harus dihapalkan. Tetapi dengan insting,” katanya sambil menunjuk kepalanya.
“Miwon,” pangil Afika. Yang dipanggil langsung menunjukkkan senyuman lebarnya. “Elang laut telah, Hilang ke lunas kelam, Topan tiada bertanya, Hendak kemana dia. Nah, majas dalam larik puisi diatas adalah?” Miwon tampak berpikir. Dia berpikir dengan duduk, berjonkok, berdiri, dan duduk lagi.
“Metafora?” Afika menggeleng. “Simile? Eeh.. metomonie??!” Afika menggeleng lagi. Mulut Miwon menganga. Kehabisan kata-kata dalam otaknya.
“Metonomia bukan metomonie. Jawabannya majas personofikasi,” jelas Afika. Miwon merebut buku Afika dan membacanya dari satu lembaran ke lembaran lainnya dengan cepat.
Mengingat hal itu, membuat Afika memberanikan diri untuk mengeluarkan buku-buku tulisnya. Buku-buku tulis itu diletakkan di depan meja Miwon. Cowok yang semula mengeluh terus menjadi terkejut ketika melihat tumpukan buku di depannya.
“Itu buku-buku catatanmu kan, Fik?” tanya Hami agak bingung. Afika mengangguk.
“Fotokopi catatanku sekarang. Dan pelajari semuanya,” Miwon menatap ragu. “Aku tau selama ini kamu nggak pernah sekalipun nyatet semua mata pelajaran,” Deg! Jantung Miwon sedikit berdebar. Dia tidak menyangka jika selama ini Afika juga memperhatikannya. Bukan hanya dia yang memperhatikan Afika. Keduanya saling memperhatian satu sama lain.
“Waduh, nih anak bego atau gimana sih? Kok nggak pernah nyatet?” dumel Hami dengan tatapan heran. Sedangkan Miwon tidak memperdulikan orang-orang disekitarnya. Dia masih tenggelam di dalam dunianya sendiri. Dia sedang berbunga-bunga. Dia memegang dadanya, merasakan detak jantung yang sangat cepat.
“Duh, Afika. Kamu benar-benar mencuri hatiku,” desisnya. Afika dan kedua temannya meliuhatnya dengan heran. Mulut ketiganya menganga lebar. Miwon tersadar kembali. Dia kembali bertransformasi menjadi cowok yang ceria. Dia langsung bangkit berdiri. “Fik, temani aku fotokopi yuk!”
. ☻☺☻
Sehabis ulangan bahasa Indonesia, Edelweis segera memasukkan alat tulis di ranselnya. Mayang berjalan mendekatinya secara perlahan. Mayang mencoba untuk berbicara kembali dengan Ed. Meskipun sudah beberapa hari ini cowok itu sengaja menghindarinya.
“Ed..,” panggilnya.
“Edelweis! Susah banget ulangannya!” seru Tara. Wildam dan Tara berada di ruangan kelas yang berbeda dengan Ed dan Mayang. Mereka hendak menjemput Ed. Tara melewati Mayang begitu saja. Lain hal denga Wildam. Cowok berkacamata itu menyapanya. Ed segera memakai ranselnya.
“Iya, banyak majasnya lagi,” keluh Ed. Mereka berjalan keluar kelas tanpa melihat Mayang yang masih termangu. “Tapi menurutku nggak terlalu sulit kok.”
“Yaa.. kalau kamu nggak diragukan lagi sih. Pasti ranking satu lagi,” ucap Tara agak gemas. “Oh ya, foto dan artikel tentang ultah sekolah kemarin sudah aku kumpulkan di meja mading. Nanti kamu cek sendiri ya.”
“Akhirnya bisa selesai juga kan walaupun dikerjakan sendiri?” sindir Edelweis sambil memiringkan bibirnya. Tara yang merasa tersindir hanya tertawa terbahak-bahak. Mereka menuruni tangga hingga sampai lantai dasar. Wildam tampak ingin mengatakan sesuatu. Tetapi berkali-kali ditahannya. Adiknya menyadari ada yang tidak beres dengan kakaknya.
“Kakak kenapa sih? Kok mulutnya ‘buka-tutup’ seperti ikan mas?”
“Iya, Wil. Kamu mau ngomog sesuatu?” tanya Ed juga. Wildam menghela nafas.
“Kamu nggak capek apa terus-terusan ngacangin Mayang?” langkah Ed berhenti. Otomatis kedua temannya juga ikut berhenti.
“Mayang menyukaiku,” kata Ed kemudian. Wildam terkejut mendengarnya. Lain halnya dengan Tara yang hanya mengatakan ‘oh!’
“Itu bukan hal yang mengejutkan. Aku sudah lama tau sih,” Ed dan Wildam menoleh ke arahnya. “Pandangan matanya selalu terlihat berbeda ketika bersama denganmu. Beda lagi kalau dia berhadapan dengan kak Wildam. Tanpa ditanya pun, bahasa tubunya sudah cukup dijadikan bukti.”
“Kalau begitu kamu harus menolaknya baik-baik, Ed. Bukannya malah menghindari dia. Kenapa kamu sejahat itu padanya?” ucap Wildam dengan tenang.
“Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Tetapi gara-gara dia menyukaiku, dia sudah menyakiti beberapa orang. Termasuk gadis itu,” kedua temannya mencoba berpikir siapa cewek yang dimaksud oleh Ed. Tara ingin bertanya tentang siapa cewek itu, tetapi Ed melanjutkan perkataannya lagi “Dia terlihat seperti cewek yang lemah. Dia tidak bisa membela dirinya sendiri di saat orang-orang melukai hatinya. Melihat hal itu, membuatku merasa harus melindunginya.”
☻☺☻
‘BRAAKK!’ tumpukan buku diletakkan diatas meja. Afika menemani Miwon untuk mengkopi semua buku catatannya. Sedangkan Hami dan Timmy sudah pulang duluan.
“Pak, tolong fotokopi semuanya ya,” pak Tarmin, salah satu karyawan yang menjaga koperasi sekolah mengacungkan jempol pada Miwon. “Thanks ya, beb. Aku bakalan mempelajari semua matpel dalam semalam,” kata Miwon sambil tersenyum pada Afika. Sedangkan cewek yang disenyuminya hanya menatapnya datar.
“Katanya kamu k-popers ya?” Afika mulai berbicara. Miwon mengangguk. “Demam korea banget?” Miwon mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Aku suka sekali membaca semua menu makanan khas disana, seperti kimchi! Boyband dan girlbandnya disiplin dan profesional banget! Reality show, Komiknya juga, terus.. drama korea, suka banget!” Afika tidak menyangka kalau Miwon itu menyukai semua hal yang berbau korea. Apalagi kesengsem juga dengan drama korea. Padahal biasanya yang menyukai drama korea kan mayoritas cewek. ‘Cowok ini benar-benar langka,’ pikirnya.
“Aku memiliki impian untuk menjejakkan kaki disana. Aih, betapa indahnya negara disana, benar-benar surga duniawi!” gumam Miwon smbil memeluk tubuhnya sendiri. Afika menepuk lengannya dengan keras.
“Waduh!”
“Sadar dong! Kamu lahir di Indonesia dan besar di tanah negara sendiri. Boleh membanggakan negara lain, tetapi jangan sampai kamu amnesia dengan negara kelahiranmu sendiri. Suatu saat jika kamu berhasil kesana, jangan lupa sama negara dan orang-orang disini,” ucap Afika panjang lebar. Miwon tertawa terbahak-bahak. Afika hanya mengernyitkan dahi. ‘Apa yang dia tertawakan? Apa??!’
“Kamu yakin banget kalau suatu saat aku bisa berhasil kesana. Sudah pasti aku nggak bakal lupa sama negara sendiri dong. Aku bakalan selalu ingat ortu, kak Ed, teman-teman , dan juga kamu.”
‘Tatapan serius itu lagi. Terkadang aku merasa ada baiknya kalau Miwon hanya menunjukkan keceriannya padaku. Aku akan merasa nyaman dengan perlakuannya yang bersahabat. Tetapi entah kenapa ketika dia membuat ekspresi seperti itu, membuat dadaku sedikit bergetar,’ Afika mengalihkan pandangan ke arah lain. Suasana menjadi agak canggung. Miwon mengambil sesuatu dari saku seragamnya. Dia membuka plastik yang berisi dua penjuepit rambut dengan manik-manik berbentuk bunga. Lantas dia berdiri dan memasangkan salah satu jepit itu di rambut Afika. Gadis itu berusaha untuk menolaknya. Tetapi karena malu banyak orang yang melihat, akhirnya dia hanya diam saja. Setelah memasang penjepit itu, Miwon juga memasang penjepit satunya di sisi kiri rambutnya. Afika hampir tertawa melihatnya.
“Kamu kok aneh sih? Cowok kok pakai penjepit rambut?” serunya sembari menahan tawa. Miwon malah cengengesan nggak jelas.
“Yaa.. bagus dong dibilang aneh! Kamu juga aneh, poni sepanjang itu kenapa tidak dipotong saja?” Afika memalingkan wajahnya, pura-pura tidak mendengarnya. “Tapi menurutku sekarang penjepit itu terlihat jauh lebih indah karena menempel di rambut cewek yang paling manis,” Afika terpaku mendengarnya. Dia tidak ingin menoleh ke arah Miwon. Hal itu membuatnya menjadi agak canggung nantinya. Miwon berusaha melihat wajah Afika yang terus saja menghindari kontak mata dengannya. Miwon berhenti melihatnya dengan wajah berkerut. Dengan gesit, Miwon berdiri dan menengok tepat di depan wajah Afika. Lalu dia tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa wajahmu bisa semerah itu?” katanya sambil terus tertawa. Afika semakin malu karena suara Miwon terdengar agak keras sehingga membuat orang-orang di sekitar jadi memperhatikan mereka. “Kok nggak bilang makasih?”
Saking gugupnya, Afika baru menyadari jika sudah dua kali ini Miwon memberinya hadiah penjepit rambut. Dia bahkan belum pernah mengucapkan terima kasih.
“Makasih. Lain kali giliranku yang memberimu hadiah,” ucap Afika sambil melihat ke arah lain. Miwon tertawa lagi.
“Baiklah, aku tunggu ya!” Afika menoleh pada Miwon yang baru saja memalingkan ke arah lain. ‘Miwon, seperti itukah..,’
“Perlakuanmu terhadap orang yang kau sukai?” Miwon menoleh cepat.
“Apa?” Miwon meminta Afika untuk mengulang perkataan sebelumnya. Tiba-tiba saja Afika merasa sesak nafas. Seakan-akan jantungnya diikat kuat dengan tali kekang. Entah bagaimana dia terbawa suasana hati sehingga kata-kata yang seharusnya hanya muncul di dalam hati malah terlontar begitu saja dari mulutnya. Afika berusaha mengunci mulutnya. Melihat Afika yang menjadi salah tingkah membuat Miwon tertawa lagi.
“Nduk, sudah selesai,” Miwon segera mengambil uang di sakunya. Afika melayangkan pandangan ke arah lain. Dia tidak perduli cowok yang masih tidak berhenti tertawa. Afika melihat tempat parkir sepeda motor. Baru saja matanya berkedip sebentar, tiba-tiba terlihat Edelweis sedang berjalan menuju tempat parkir motor bersama kedua temannya. Afika terus saja memandangnya. ‘Ed, setelah kamu mengetaui perasaanku yang sebenarnya, apakah kamu akan menjauiku seperti Mayang?’ Afika merasa menyesal karena sudah membuat hubungan pertemanan Ed dan Mayang terpecah-belah. Selain itu dia menganggap jika Ed telah menolak Mayang dan tidak tanggung-tanggung untuk menjauinya. Sama seperti dia, Ed sudah mengetaui perasaannya. Tetapi dia ingin Ed tidak membencinya juga. ‘Ed, kamu tidak membenciku kan?’ Afika bertanya di dalam hatinya. Entah cowok yang disukainya itu bisa mendengar atau tidak, tubuh Ed berbalik ke belakang. Edelweis berdiri lama dan akhirnya dia menepuk bahu kedua temannya. Mata Afika membelalak lebar. Cowok yang sedari tadi dilihatnya, sekarang berjalan ke arah koperasi sekolah. Afika mengalihkan pandangan ke arah Miwon yang memeriksa lembarannya.
“Afika, lagi ngapain disini?” suara itu sangat dikenalnya. Sudah beberapa kali Afika memimpikan Edelweis untuk terus-menerus memanggilnya. Jantung Afika berdegup sesaat. Kali ini benar-benar nyata Edelweis memanggil namanya. Dia segera berdiri.
“Iya, Ed. Aku menemani Miwon untuk fotokopi,”
“Permainan pianomu sangat bagus. Aku sangat senang mendengarnya. Apalagi kamu berhasil memenangkan juara tiga, bukan? Kamu bisa mengembangkan bakatmu itu dengan mengikuti berbagai kompetisi,” ucapnya tersenyum lebar.
“Terima kasih, Ed,” jawabnya sambil menunduk. Lalu dia teringat sesuatu yang sudah lama ingin dibicarakannya. “Uhm.. Ed,” Ed mencoba mendengarkannya. “Mungkin akhir-akhir ini aku melihat kamu tidak kompak lagi dengan Mayang. Aku mengakui bahwa kejadian kemarin itu hanyalah salah paham. Tolong jangan jauhi dia lagi. Aku tau kalau aku yang salah. Karena secara tidak sengaja membuatnya mengungkapkan perasaannya padamu. Aku seharusnya yang dijauhi, bukan Mayang. Menurutku menjaui seseorang yang bilang suka itu bukan perbuatan yang benar. Kalau memang begitu, aku juga tidak bisa lagi berada di dekatmu. Yang sudah kamu tau, aku juga menyukaimu. Aku patut untuk dijauhi juga.”
Edelweis tersenyum mendengarnya. ‘Cewek ini selalu menyalahkan dirinya sendiri. Bahkan demi melindungi saudara sepupunya. Kamu memang benar-benar gadis yang baik,’ pikirnya. “Sebenarnya bukan alasan itu aku menjauhinya. Aku menjauh karena aku ingin melihat dia memperlakukanmu dengan baik dan mengakuimu sebagai sepupu dia.”
“Di.. dia sangat baik kok. Sebenarnya Mayang memang cewek yang baik. Dia selalu meembantu ibu memasak, membantuku membersihkan seisi rumah, dan juga.. dia sudah meminta maaf padaku. Itu sudah cukup kan?” serunya cepat sambil ngos-ngosan. Edelweis tersenyum dan menepuk pelan bahu Afika.
“Eeh, kakak toh!” Miwon baru menyadari jika kakaknya berdiri dibelakangnya. “Afika baik banget loh meminjamkan semua catatannya untuk bahan yang aku pelajari,” seru Miwon girang. Edelweis menggapit leher Miwon dengan lengannya.
“Kebiasaanmu nggak pernah berubah ya! Selalu saja terlambat mengumpulkan pekerjaan rumah dan tidak pernah mencatat,” Miwon melepaskan lengan kakaknya.
“Aku yakin kalau sekali baca penjelasan guru, aku pasti akan segera mengerti,” sahut Miwon menggebu-gebu. Afika memukul lengan Miwon lagi.
“Yaa.. nggak butuh ini lagi dong?” goda Afika. Dia segera mengambil tumpukan buku dan lembaran fotokopi yang sudah dijilid. Mulut Miwon langsung megap-megap.
“Jangan dong, Fik. Aku janji akan mempelajarinya dalam semalam suntuk. Sampai mimisan juga deh nggak apa-apa. Ya, ya, ya?” Afika tidak mampu menahan tawanya lagi. Dipeluknya buku-buku dan fotokopi dengan erat. Miwon berusaha mengambilnya, tetapi dekapan Afika semakin erat. Afika terus saja tertawa dan lama-kelamaan Miwon mengimbanginya. Ed hanya termangu melihat Miwon dan Afika sedang asik sendiri. Dia tidak sengaja melihat penjepit yang berada di atas rambut Afika. ‘Jelas saja Afika terlihat berubah. Rupanya penjepit rambut itu yang membuat penampilan Afika berubah. Kalau dilihat secara jelas, Afika terlihat semakin manis. Ya, wajahnya lebih terlihat cerah daripada sebelumnya. Miwon tidak sengaja menabrak kakaknya. Akan tetapi mereka tidak sampai terjatuh. Afika langsung memberikan kertas berjilid itu padanya. Mata Ed melihat penjepit yang sama berada di rambut adiknya. Dia berpikir jika adiknya sangatlah akrab dengan Afika. ‘Mungkin aku akan membicarakan hal ini pada Miwon.’
☻☺☻