Semuanya sibuk dan bersemangat!
Akhirnya acara ulang taun sekolah sudah di depan mata. Persiapan rumah hantu juga sudah selesai sesuai rencana Danu. Anak-anak kelas yang berperan sebagai hantu sudah mendapatkan kostum masing-masing. Terutama aku yang mendapatkan pakaian putih sepanjang mata kaki, berlengan panjang dan kedodoran. Aku tidak tau harus menamakan diriku sebagai hantu apa. Danu malah bilang kalau aku ini perpaduan antara kuntilanak dan juon. Bahkan Danu menepati janjinya sendiri untuk membuat spanduk besar berwarna hitam dengan tulisan merah seperti tetesan darah yang bertuliskan ‘Rumah Hantu Berdarah’ dan tentu saja ‘aku’ sebagai bintangnya. Entah aku harus malu atau patut berbangga. Hami sendiri merasa bangga karena Danu mempercayainya untuk mengurus tata rias. Hami sangat bersemangat dari hari-hari sebelumnya. Dia sangat serius mempelajari tips-tips penggunaan make up horor lewat search engine. Saking fokusnya, dia sampai memohon berkali-kali untuk merias wajahku sebelum naik ke panggung. Aku menolak keras permintaan darinya.
“Kenapa? Kamu nggak ingin tampil beda di atas panggung, Fik? Kalau sekedar pakai foundation, bedak tabur, eye shadow, dan lipstik sih aku bisa! Aku sering mengamati cara merias mamaku sebelum pergi ke kondangan.”
Aku langsung ngedumel, “Aku nggak lagi pergi ke kondangan.”
“Tapi bakalan natural kok. Percaya deh!” katanya super duper yakin. Hami ngotot banget! Aku hanya diam, tidak menanggapi. Aku mulai melihat sekeliling dan menemukan seorang cowok yang aku cari. Dia sedang membantu anak-anak memiilih kostum. Aku langsung berjalan menghampirinya, meninggalkan Hami yang masih cuap-cuap tanpa henti. Namun Hami menarik tanganku. “Tunggu! Kalau nggak mau, aku punya sesuatu yang lebih natural untukmu!” dia tidak mendengarkan penolakanku yang kesekian kali. Hami langsung merogoh sesuatu di dalam tas peralatan make up-nya. Kulihat sekilas alat-alat riasnya buanyaaak sekali. Hami selalu terlihat serius dalam menekuni segala hal. Kulihat dia menemukan sesuatu. “Lipstik ini cocok banget sama dress blewa color yang kamu pakai.”
Tanganku mencoba memberontak, tetapi Hami menyuruhku untuk tetap diam. Akhirnya aku pasrah membiarkan Hami mengoleskan lipstik di bibirku.
“Tenang ajah, warnanya tidak cepat timbul. Tetapi nanti semakin lama warnanya akan muncul. Warnanya nggak terlalu terang kok. Pokoknya bakal kelihatan soft gitu,” dia mengamatiku dari atas ke bawah. “Pemulas bibir yang keren, dress blewa color dengan kain pita melingkari pinggang, dan selop putih yang manis! Sip! Kamu kelihatan tambah cute sekarang!” kata Hami sembari mengacungkan jempol. Aku tersenyum kecil.
“Makasih, Ham.”
Dia masih mengamatiku dari atas ke bawah berkali-kali. “Tapi kayaknya ada yang kurang. Hmm, apa yaa?” mendengar hal itu, aku langsung berlari kecil menjauhinya. Aku tidak ingin hasil koreksinya berlanjut. Kayaknya Hami sudah bakat jadi ahli tata busana deh. Langkahku terhenti saat melihat punggung cowok yang hampir kuhampiri tadi. Aku mendekatinya perlahan. Melihat kehadiranku di sebelah Miwon, membuat teman-teman yang sedang memilah kostum menjadi terkejut. Bahkan ada yang sempat gemetaran sesaat. Fhuh, aku lupa untuk mengambil jarak agak jauh agar tidak membuat mereka takut.
“Miwon, sibuk banget ya?” tanyaku pelan. Miwon mengiyakan hal itu tanpa menoleh. Dia masih sibuk menyerahkan kostum pada teman-teman. Aku masih berdiri disampingnya, menunggunya sampai selesai.
“Pakai topeng dan baju zirah ini. Tongkatnya ambil sendiri di sudut tembok dekat pintu kelas tuh,” diserahkannya kostum itu pada Shea. “Terus Heru! Kamu pergi ke Hami buat dirias dulu. Inget! Buat wajahmu seancur-ancurnya. Kostumnya nanti ajah dipasang di dalam rumah hantu. Soalnya kamu jadi pocong. Makanya ribet kalau dipakai sekarang.”
Setelah menyerahkan kostum terakhir pada Cici, cowok itu menarik nafas lega. Dia menoleh padaku dengan tawa khasnya.
“Sumpah! Capek banget!” dia terduduk di bangku dan bersandar di tembok. “Kamu mau ngomong sesuatu?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk.
“Aku ingin kamu mengajak Ed untuk melihat pertunjukanku nanti di ruangan teater,” ucapku hampir setengah berbisik.
“Kamu masih belum menyerah dengan perasaanmu itu ya?” katanya dengan lirih.
“Bukan begitu! Ini nggak ada hubungannya..,” aku menghela nafas sesaat. “Aku ingin membantu Ed untuk mengingat kembali kenangan indah yang pernah kalian miliki. Aku ingin membantu teman sekecil apapun. Aku akan berusaha,” kataku yakin.
“Lalu apa hubungannya melihatmu di atas panggung dengan membantu kami?”
“Kamu gak perlu tau.”
“Kenapa?”
“Nanti kamu akan tau sendiri,” kataku mulai sedikit kesal. Miwon melipat kedua tangannya di dada dengan mengangkat kepalanya ke atas.
“Aku ingin tau apa rencanamu,” katanya agak cuek.
“Ya udah! Biar aku sendiri yang bilang!” sahutku jengkel. Aku berbalik meninggalkannya. Namun setelah menaiki tangga, aku merasa seseorang mengikutiku dari belakang. Kuputuskan untuk berbalik melihat seseorang dibelakangku. Namun kaki ku terpeleset dan seseorang menahan tubuhku yang tidak seimbang. Mataku terbelalak lebar.
“Miw..,”
“Ayo, aku temani kesana.”
☻☺☻
Semenjak kejadian itu, Edelweis tampak menjauhiku. Aku tau kalau Ed tidak pernah menyebarkan kesalahan yang aku perbuat terhadap Afika. Setiap di kelas, dia tidak megobrol denganku seperti dulu. Bahkan saat pergi ke kantin bersama, dia hanya diam dan tidak menanggapiku sama sekali. Ku tepati janji untuk keluar dari mading. Akan tetapi dia masih tidak menghiraukanku. Sekarang Ed sedang duduk dengan Wildam dan Tara seperti biasanya. Kali ini aku mencoba mendekatinya lagi.
“Ed, bagus nggak, maid cafe yang aku pakai? Warnanya pink, girlie banget deh!” tanyaku sambil berputar sekali menujukkan kostum dengan rumbai putih yang mengembang. Wildam dan Tara melihatku. Namun Ed tidak mengangkat kepalanya sama sekali. Dia masih menyibukkan diri melihat beberapa foto di kamera DSLR Tara.
“Hasil fotonya bagus. Kalau begitu kamu ajah yang mengambil beberapa foto dan pemberitaan tentang ultah sekolah. Pokoknya kamu harus cari berita yang menarik. Kalau perlu sampai acara berakhir,” perkataan Ed membuat bibir tipis dan mata Tara mengerut.
“Tugasku berat banget. Nggak dapat rekan lagi! Aku juga nggak bisa main-main sama gebetanku,” celetuknya. Tara langsung melirikku. Perasaanku menjadi tidak enak. “Aku dibantu sama Mayang ajah ya! Pasti bisa cepat selesai!”
“Alaa.. pasti nanti kamu malah menyerahkan semua tugas ke Mayang. Dasar pemalas!” kata Wildam sambil membuka lembaran buku kimia. Dia membaca lagi. Sedangkan Ed langsug berdiri.
“Kalau kamu nggak becus, mending keluar sana seperti dia,” Tara dan Wildam mengerutkan kening bersamaan. Walaupun suara Ed masih terdengar lembut, namun kata-katanya terasa penuh amarah. Ya, dia masih membenciku. Tapi aku harus gimana lagi. Aku nggak akan sudi kalau harus meminta maaf pada...
“Ed! Dipanggil Sadako dan adikmu neh!” aku menoleh dengan cepat. Winna mempersilahkan keduanya masuk di dalam kelas. Gadis itu.. ukh! Aku benar-benar membencinya. Seandainya saja dia tidak memacingku. Aku tidak akan berbuat hal konyol seperti kemarin. Sekarang aku tidak bisa ngobrol dengan Ed seperti dulu lagi. Aku hanya dapat melihat Ed berjalan menjauhiku. Wajahnya terlihat cerah saat mengobrol dengan gadis setan itu! Aku langsung duduk di bangku yang sebelumnya diduduki oleh Ed. Tara malah bangkit dari kursinya.
“Aku semakin nggak nyaman karena terus-terusan melihat kalian berdua bertengkar seperti ini. Ed nggak pernah bertegur sapa padamu lagi. Tetapi dia tidak mengatakan alasan apapun. Apalagi cewek-cewek yang ngefans sama dia juga bersekongkol menjauhimu setelah Ed jaga jarak denganmu.”
“Terus?” tanyaku agak bingung.
“Aku nggak mau dong gara-gara di dekatmu, orang-orang jadi salah paham. Aku nggak ingin terlihat membela siapapun, netral. Tapi aku juga nggak ingin kena apes dibuat sasaran kemarahan dari Ed dan fans-fansnya lah. Lebih baik kamu intropeksi diri buat minta maaf sama dia.”
“Aku sudah minta maaf kok.”
“Mungkin saja ada yang harus kamu lakukan selain minta maaf padanya,” aku terdiam mendengarnya. Aku tau apa yang seharusnya aku lakukan. Tetapi aku nggak ingin merendah dihadapan gadis jelek itu. “Kak, ayo kita ganti kostum dulu. Sebentar lagi acaranya akan segera dimulai!” serunya sambil menyeret Wildam yang masih tetap konsen membaca.
☻☺☻
Kini aku sudah berdiri di balik panggung. Dari belakang panggung, aku bisa melihat banyaknya orang yang menonton pertunjukkan kami, para siswa SMA Hijau. Namun masih ada beberapa kursi yang masih kosong. Padahal pertunjukkan teater sudah dimulai, akan tetapi aku masih tidak menemukan sosok Ed di dalam barisan kursi penonton.
“Timmy memainkan perannya dengan baik ya? Padahal aku sering dengar dari teman-teman sih kalau aktingnya agak payah. Sepertinya dia sudah berusaha sebaik mungkin sehingga mendapatkan pemeran utama,” kata Miwon yang melihat Timmy dan teman-teman satu klub teater sedang memainkan peran di atas panggung. Aku tidak tau kenapa dia tidak duduk saja di kursi penonton daripada harus berdiri di belakang panggung denganku. Padahal tempat ini merupakan tempat para peserta sebelum tampil. Tetapi aku hanya membiarkannya saja. Percuma untuk mengusirnya, toh dia pasti tetap berdiri pada pendiriannya. Diam-diam aku merasa sedikit nyaman karena ada orang yang berdiri disampingku. Setidaknya ada orang yang menemaniku. Merasa ditemani membuatku tidak terlalu grogi sebelum berdiri di atas panggung.
“Romano dan Juliate. Romano merupakan saudagar kaya raya. Dia sangat pintar dalam mengumpulkan uang. Akan tetapi Romano tidak pernah bisa menulis dan membaca. Malam itu dimana dia mendapatkan kehormatan untuk membacakan pidato yang ditulis sang raja di pesta. Namun dia tidak bisa membaca dan merasa malu. Semenjak kejadian itu, dia merasa malu dan mengurung diri di rumah. Hingga suatu hari Romano mencari seorang pelayan untuk mengurusnya di rumah. Pelayan itu bernama Juliate, wanita yang cerdas dan suka membaca,” jelasku.
“Aku tau, Romano pasti meminta Juliate untuk mengajarinya menulis dan membaca!”
“Bingo!” seruku sedikit senang karena Miwon mampu mengetaui kelanjutannya. Lantas aku melihat kembali orang-orang yang berlakon di atas panggung. “Romano sudah bisa membaca dan menulis. Bakan Romano sudah mampu membuat hasil karya seperti beberapa puisi romance.” Kataku mulai bercerita.
“Timmy berperan sebagai Juliatte. Seperti yang kita lihat sekarang, Romano dan Juliate menjadi dekat dan tanpa sadar keduanya saling jatuh cinta. Melihat kedekatan mereka, kedua orang tua Juliate menghasut Juliate untuk segera mengambil aset-aset berharga milik Romano. Karena didesak terus-menerus, akhirnya Juliate diam-diam membawa semua harta kekayaan Romano dan melarikan diri bersama keluarganya. Romano hampir tidak percaya jika Juliate, orang yang dipercayainya, berbuat hal seperti itu pada dirinya. Karena putus asa, Romano langsung gantung diri,” lanjutku dengan menunjukkan wajah miris.
“Ternyata Juliate juga merasa telah berbuat curang dan mengkhianati Romano. Dia ingin mengambil semua harta Romano tetapi kedua orang tuanya mengusirnya. Juliate pun segera pergi ke rumah Romano dengan tangan kosong. Dia sangat terkejut melihat Romano yang mati gantung diri. Dia merasa sangat menyesal. Karena dipenuhi rasa bersalah dan demi membalas cinta Romano, akhirnya Juliate juga gantung diri di sebelah kekasihnya,” mataku kembali melihat Timmy yang menggantung dirinya dengan tali di sebelah seorang cowok yang sebelumnya tergantung. Setelah narrator usai bercerita, orang-orang di klub drama segera berlari di depan panggung dan mengucapkan terima kasih. Banyak para penonton yang bertepuk tangan.
“Tragis sekali ceritanya. Naskah itu dibuat sendiri kan sama anak-anak drama. Kok kamu bisa tau isi ceritanya?”
“Kemarin aku baca naskahnya Timmy,” Miwon bertepuk tangan dengan alis ke atas.
“Wah, hebat banget. Sekali baca langsung hafal isi ceritanya. Seharusnya kamu pantas disebut sebagai miss memori berjalan nih. Kamu punya ingatan yang bagus!”
Aku meliriknya sesaat, “julukan itu sudah dimiliki oleh Mayang.”
“Oh, iya ya?” tanyanya sambil garuk-garuk kepala. “Btw tuh Mayang kayaknya kena batunya deh. Semenjak kejadian itu, kak Ed seperti tidak mengobrol satu kata pun dengan dia. Apalagi sedikit jaga jarak gitu. Kak Ed kalau sudah nggak suka sama orang pasti langsung terkesan dingin. Aku yakin kalau sampai fans-fansnya kak Ed tau, mereka pasti akan segera..,”
“Cukup! Mayang sudah minta maaf kok. Aku juga sudah memafkannya. Jadi tolong lupakan hal kemarin. Sebenarnya aku yang salah karena berusaha mencari sesuatu darinya demi kepentinganku sendiri. Untuk mencari tau tentang diriku,” tegasku. Seseorang merangkulku dari belakang. Dengan aroma pink blossom yang menyengat, aku langsung tau siapa yang baru saja merangkulku. “TIMMY..!”
“Bagaimana aktingku tadi? Bagus nggak? Wait.. banget, bagus banget ngaaakk??!” serunya girang.
“Bagus banget kok. Kamu memang berbakat.”
“Dan nggak kelihatan payah-payah amat!” timpal Miwon. Wajah Timmy semakin cerah mendengar pujian-pujian dari kami. Tiba-tiba saja banyak cowok berseragam menghampiri kami, ups.. maksudnya Timmy. Mereka membawakan bunga-bunga untuk Timmy.
“Bunganya bagus sekali. Terima kasih yaa,” suara Timmy agak kecil, diimut-imutkan.
“Kamu suka bunga apa, Fik?” tanya Miwon tiba-tiba. Aku mencoba berpikir.
“Umm.. apa ya? Edelweiss kali ya?” kata ku sambil menoleh ke arah Miwon. Melihat ekspresinya yang suram membuatku tersadar. “Eeh.. eh... maksudku bunga loh yaa bukan kakakmu.. aku..!!!”
“Sekarang kita persilahkan peserta pertama dari ekstrakurikuler musik, kelas sebelas ips satu, Afika Kalea Miraldi!” mendengar suara mc di atas panggung, membuat jantungku semakin berdegup kencang. Apakah aku harus melangkah sekarang? Apa aku harus mundur dan bersembunyi di toilet seharian?
“Obsesi banget sama kakakku,” gerutunya pelan. Aku hampir membalas suara ketus dari Miwon, tetapi mc sudah menyuruhku untuk maju. Baru saja berjalan beberapa langkah, Miwon menarik tanganku. Miwon seperti mengambil sesuatu di kantong celananya. Aku melihat dengan jelas. Sepasang jepit rambut yang berbentuk seperti lidi panjang dan bermanik-manik hiijau terang. “Pakai ini,” aku langsung menolak. ‘Kenapa orang-orang selalu berusaha memberiku sesuatu yang aku tidak suka. Maksudku hari ini Hami sudah mengatur penampilanku dan sekarang, serius??? Seorang cowok memaksaku untuk memakai penjepit rambut.’
Miwon berhasil memasang jepit di (rambutku?), wait.. bukan! Poni rambutku yang diletakkan di atas rambut dan dicepit dengan cekatan. Lalu dia memasang penjepit satunya di sisi kiri rambutnya. Aku memandangnya dengan heran. Miwon membalikkan badanku sehingga dapat melihat banyak penonton yang menunggu.
“Kamu sudah menjadi cewek yang menawan. Tidak ada yang perlu ditakutkan karena orang-orang sudah melihatmu. Dengan penampilanmu yang sekarang, kepercayaan dirimu akan timbul. Sekarang kamu harus melengkapinya dengan bakatmu itu. Dari jari-jarimu. Percayalah!” aku berbalik lagi hendak berjalan menuju panggung. “Tuh, cowok obsesimu sudah datang. Kamu harus melakukan yang terbaik untuknya. Good luck!” mataku langsung terpana melihat kedatangan Edelweis. Dia duduk di barisan paling belakang. Jantungku semakin berdegup kencang. Aku ingin membantunya. Sekecil apapun. Semoga kamu dapat mengingat kenangan indah yang pernah kalian miliki bersama.
Aku berbalik ke belakang mencari cowok yang ngeselin tadi. ‘Hee.. orangnya langsung hilang! Hebat! Mau pergi tapi nggak bilang-bilang.’ Setelah itu aku maju ke depan panggung. Berjalan dengan sedikit keraguan. Aku kembali melihat Ed. Fhuh, ternyata Miwon sudah duduk di sebelahnya. Kini aku berada di atas panggung. Saya memberanikan diri untuk mengucapkan beberapa kalimat dengan mic tongkat yang sudah tersedia. Aku menutup mata sejenak. ‘Kamu sudah menjadi cewek yang menawan. Tidak ada yang perlu ditakutkan karena orang-orang sudah melihatmu. Dengan penampilanmu yang sekarang, kepercayaan dirimu akan timbul. Sekarang kamu harus melengkapinya dengan bakatmu itu. Dari jari-jarimu. Percayalah!’
Aku membuka mata kembali. Melihat Miwon yang kini mengacungkan jempolnya dengan wajah sumringah. Aku mengangguk. Tengkuk kaki ku yang sedari tadi gemetaran, kini aku paksa untuk menegakkannya. Menegakkan kaki, membusungkan badan, dan menarik nafas panjang. Jantungku masih berdegup kecang, tetapi tidak sekencang tadi. Sekarang aku merasa sedikit nyaaman.
“Selamat datang. Nama saya Afika Kalea Miraldi, perwakilan dari kelas sebelas ips satu. Saya mempersembahkan lagu ini untuk semua orang yang ada disini. Lagu yang akan saya persembahkan adalah..,” aku sengaja berhenti bericara. Mataku terpusat pada Ed yang terlihat sedang memperhatikanku. Aku menelan ludah. Aku harus membantunya...
“Edelweiss. Saya pernah menonton film The Sound of Music. Lagu yang dinyanyikan oleh seorang ayah pada anak-anaknya. Seperti kata teman saya, Edelweis itu bunga yang sangat indah. Tumbuhan yang dipetik dan tidak akan layu dalam beberapa waktu. Tumbuhan yang kadang ditulis eidelweis atau dalam tulisan Jawa disebut Javanese edelweiss. Bunga yang dikenal sebagai bunga abadi. Nama yang mempunyai nama latin Anaphalis javanica. Tumbuhan endemik zona alpina atau montana di berbagai pegunungan tinggi Indonesia.” Aku berjalan menuju tempat piano. Aku menarik nafas panjang lagi sambil memejamkan mata. ‘Tuhan, tolong bantu aku untuk membuka hati Ed agar dapat segera berbaikan dengan ayahnya. Afika, semangat!’
☻☺☻
Alunan macam apa ini??? Aku merasa benci mendengarnya. Bukan karena permainan piano dari Afika. Tetapi aku merasa jika sebentar lagi memori yang sudah lama berdebu akan segera menghampiriku lagi. Aku menutup telinga kuat-kuat. Kalau bisa tidak bernapas juga! Gyaa.. apa yang sudah aku lakukan. Aku tidak ingin mendengarnya! Tidak ingin!!!
“Kakak ngapain kayak gini?” Miwon berusaha melepas kedua tangan yang masih menempel di telingaku. Aku segera tersadar. Lalu berusaha untuk menikmatinya.
#Kembali ke masa lalu
Bayangan I (ingatan 45 %)
Seorang ayah sedang menyelimuti kedua anaknya. Setelah itu si ayah menyanyikan lagu Edelweiss hingga anak-anaknya tidur lelap. Sebelum meninggalkan ruangan, si ayah mencium kening anaknya satu persatu.
Bayangan 2 (ingatan 60%)
Kedua anak laki-laki sedang berlari dengan bersemangat. Mereka menunjukkan hasil karya mereka pada ayahnya.
“Kita sudah hafal lagu yang sering ayah nyanyikan,” kata anak laki-laki satunya.
“Dan kami baru saja selesai menyusun terjemahan dari lagu ini, yah!” tambah saudara laki-laki satunya. Ayahnya melebarkan senyumnya dan mengajak keduanya bernyanyi bersama.
Ayah dan kedua anaknya sedang benyanyi bersama (Ingatan 100%)
Edelweiss, Edelweiss
Setiap pagi Anda menyambut saya
Kecil dan putih, bersih dan cerah
Anda terlihat senang bertemu dengan saya
Mekar salju mungkin Anda mekar dan tumbuh
Berkembang dan tumbuh selamanya
Edelweiss, Edelweiss
Memberkati tanah air saya selamanya
#Kembali ke masa sekarang
Suara tepuk tangan membuatku tersadar. Kulihat Miwon berdiri dan tidak berhenti-hentinya berteriak.
“HIDUP AFIKA! HIDUP!” Dasar, Miwon! Aku jadi ikut merasa senang ketika melihat rasa semangat dan kegembiraan yang selalu ditunjukkannya. Dia tidak pernah berubah.
Aku mulai melihat beberapa orang yang duduk di kursi penonton. Tampaknya para pengunjung umum banyak sekali. ‘Jika dihitung jajarannya, jadi berapa orang ya? Satu, dua, ti..,’ Aku tampak mengenali orang yang sedang duduk di kursi ketiga dari jajaranku sudut kanan sana. Aku segera berjalan di belakang jajaran kursi terakhir. Aku menelan ludah sejenak sebelum menepuk bahunya. Pria itu menoleh.
“Ayah, datang juga?”
☻☺☻
Sejak kecil memang mama selalu memasukkanku di tempat kursus piano. Tetapi karena seiring waktu teman-teman dan guru lesku sendiri merasakan takut dengan kehadiranku sendiri, aku menjadi tidak konsen dan tidak ingin mengikuti kursus itu lagi. Tetapi setelah itu, mama memanggil guru prifat untuk mengajarkanku piano. Tetapi hasilnya sama. Baru tiga hari, dia meminta untuk mengundurkan diri tanpa menerima uang pembayaran seperserpun. Saking marahnya, aku lampiaskan untuk bermain piano sepanjang hari tanpa henti. Setelah itu aku memutuskan untuk mencari buku-buku dasar piano hingga tingkat hard. Semuanya aku makan sendiri tanpa pendamping siapa-siapa. Setelah SMA, aku memasuki ekskul musik. Selain berusaha mencari teman, aku juga merasa senang jika bermain piano di ruangan yang berbeda. Di dalam ruangan musik itu hanya terdapat empat orang bermain piano, termasuk aku. Molla, kelas XIIPS2; Rezal, kelas XIIPS5; dan Zeva, kelas X7. Terkadang kami bermain piano bersama sesuai buku panduan dan diajarkan oleh bu Saya, guru pembina ekskul musik. Mereka bertiga termasuk bu Saya sangat jarang bericara denganku. Tunggu! Nggak bisa dibilang jarang sih, tapi nggak sama sekali. Kecuali aku yang memulai menyapa dan bertanya duluan.
Aku berjalan keluar lewat pintu belakang panggung. Aku langsung terkejut karena melihat Miwon menyandar di tembok luar. Dia membawa lipatan kain berwarna putih.
“Bravo! Chagiya-ku memang hebat bermain piano! Aku nggak nyangka loh! Tadi aku berteriak paling keras untukmu loh, chagiya!” serunya girang. Aku langsung membungkam mulutnya. Miwon terdiam. Kemudian kulepaskan tanganku dari mulutnya.
“Nggak usah manggil aku kayak gitu lagi. Risih mendengarnya,” sungutku kesal. “Lagian aku nggak bakal ngerti kalau kamu selalu bicara bahasa korea,” imbuhku lagi. Diam-diam mataku melirik jepit yang masih menempel di rambutnya. ‘Ukh, sekarang kok kesannya Miwon itu kelihatan cantik ya?’
“Padahal ini salah satu cara supaya kamu bisa mengenaliku lebih jauh,” aku mengerutkan kening. “Dengan begitu kamu pasti tau kalau aku ini K-popers. Selain itu, aku bersungguh-sungguh dengan panggilan sayang itu.”
Aku melongo. Kini wajah Miwon tampak serius.
Sepersekian detik wajahnya kembali ceria, “Kalau kamu nggak suka, aku panggil bebeh ajah ya!” What?! Panggilan apa itu, nggak banget! “Makasih yah, kamu memainkan alunan lagu Edelweis. Sepertinya kak Ed sudah mengingatnya lagi. Tadi ajah dia menemui ayah dan mengajaknya berkeliling di setiap stand,” aku menarik nafas lega mendengarnya.
“Syukurlah, semoga saja semuanya berjalan dengan baik ya,”
“Oh ya, ini kostumnya kamu pakai. Setelah itu kamu ke Hami ya,” diberikannya kain itu padaku. Miwon mengusap-usap rambutku, kemudian berjalan menuju rerumunan orang yang berada di lapangan.
Aku sendiri segera pergi ke toilet untuk ganti baju. Dalam perjalanan ke toilet, aku melepaskan penjepit dari rambutku. ‘Jepit ini bagus sekali,’ kumasukkan jepit rambut itu di kantong dress-ku. Setelah memasuki toilet, aku segera berganti baju. Tiba-tiba terdengar suara-suara cewek yang sedang berteriak. Aku mencoba mengintip mereka di dekat lubang pintu. Mayang! Aku sedang melihat tubuh Mayang disudutkan oleh tiga cewek. Apakah mereka sedang membully Mayang?
“Bagus ya! Dulu yang bangga dekat sama Ed, membela Ed mati-matian, nggak rela Ed digerombolin penggemar-penggemarnya eeh.. sekarang malah dirinya yang dijauhi oleh Ed. Hahaa gokil banget!”
“Siapa yang dijauhi?” tanya Mayang mendongakkan kepalanya. Salah seorang cewek yang agak jangkung mendorong Mayang hingga terbentur di tembok.
“Nggak usah sok belagu deh! Kami lihat sendiri kalau kamu tuh nggak pernah dianggep sama Ed. Emangnya enak dicuekin. sama Ed??!”
“Makanya jadi cewek nggak usah sok dekat deh. Ed itu tidak akan pernah menyukaimu,” Mayang memajukan langkahnya di depan cewek yang bertubuh jangkung itu.
“Daripada kak Nona dan penggemar lainnya yang cuma bisanya berani melihat Ed dari jauh. Setidaknya aku memiliki keberanian utuk mendekatinya. Tidak seperti kalian, hanya bergantung pada harapan dan membiarkan imajinasi kalian berjalan tanpa usaha. Kalian yang seperti itu adalah gadis yang bodoh!”
‘PLAAK!’ tubuhku sedikit gemetaran saat mendengar tamparan yang melayang di pipi Mayang. Diam-diam aku menyadari perkataan Mayang tadi. Dia sudah berusaha sedekat mungkin dengan Ed dan sudah mengenalnya lebih jauh. Tetapi aku yang juga menyukai Ed, hanya bisa memandanginya dari jauh dengan harapan dapat menjalin hubungan dengan Ed. Selain itu ternyata sosok kak Nona itu beneran ada. Jadi hari itu Mayang benar-benar di bully oleh geng kak Nona.
“Aku nggak akan menyerahkan Ed dengan cewek-cewek putus asa seperti kalian. Saking putus asanya cuma bisanya ngebully cewek yang suka sama dia!”
‘PLAAK!’ terdengar satu tamparan lagi. Entah kenapa aku menjadi marah dengan perlakuan kakak senior itu. Aku segera membuka pintu toilet. Kehadiranku membuat ketiga kakak senior berhenti menjamak rambut Mayang.
“Tolong jangan ganggu dia!” teriakku. Ketiga cewek senior itu langsung membatu. Aku tahu apa yang mereka takutkan. Penampilaku dengan pakaian putih panjang dengan wajah penuh amarah. Keseluruhan penampilanku bisa disebut satu paket berwujud hantu. Alah satunya sudah lari terbirit-birit. Sedangkan kak Nona dan satu temannya yang lain berjalan mundur hingga di sudut pintu keluar.
“I.. itu hantu ya?”
“Entahlah. Tetapi aura yang dipancarkannya sangat gelap.”
Aku berbicara dengan tatapan sangar, “Kalau sudah tau saya hantu, kenapa nggak langsung pergi?” aku bisa melihat tenkuk kaki mereka gemetaran. Aku tersenyum dengan mata tajam. “Mau pergi ke neraka bersamaku?”
“GYAAAA...!!!!” Keduanya lari terbirit-birit. Aku tertawa melihat aksi histeris mereka. Setelah Mayang berjalan tertatih-tatih melewatiku, aku segera mencegatnya.
“May, kamu nggak apa-apa?” Mayang tidak menghiraukanku dan tetap berjalan menuju pintu luar. Kepalaku tertunduk lemas. Sudah jelas Mayang tidak menghiraukanku setelah kejadian yang lalu. Aku putuskan untuk menyingkirkan pemikiran negatif tentang Mayang. Aku harus meminta maaf padanya.
“Mayang, ma..,”
“Maafkan aku karena sudah berlaku kejam padamu,” aku langsung mengangkat kepala. Mayang berbicara padaku tanpa berbalik. “Terima kasih karena sudah menolongku.” Setelah mengucapkan hal itu, dia melangkah keluar. Rasanya hati ini sudah ‘plong’ mendengar perkataan Mayang. Itu berarti kita bisa saling berbicara lagi kan?
☻☺☻
Tara baru saja menggandeng cowok dari kelas XIIIPA3. Cowok yang sebelumnya sudah dia telantarkan. Alasannya pun sama. Dia tidak betah berpacaran dengan cowok lebih dari satu minggu. Tara dan Haru, pacar barunya itu, sedang mengantri di depan kain berselambu hitam. Antriannya sangatlah panjang. Untuk menghilangkan rasa bosan, iseng-iseng dia membaca spanduk yang besar di atas kain berselambu hitam.
“Rumah hantu berdarah. Dengan bintang hantu bersejarah, Afika? What?!!” spontan Tara tertawa terbahak-bahak. Haru juga ikut tertawa. Hami berjalan membawa kotak untuk biaya masuk rumah hantu dan terhenti di barisan kedua, barisan Tara.
“Tar, uangnya?” Tara memasukkan uang sambil terus tertawa tanpa henti. Heru juga memasukkan uang di dalam kotak.
“Temanmu itu beneran jadi hantu? Ternyata dia sudah menyadari bakatnya ya,” katanya sambil terus tertawa. Hami berbisik di telinga Tara.
“Persiapkan dirimu sebelum masuk kesana. Hati-hati, Tar. Di dalam penuh dengan bahaya,” Tara langsung menelan ludah. Dia meras sedikit takut dengan perkataan Hami tetapi ditahannya dengan tertawa lagi. Dia langsung menggamit lengan Haru.
“Tenang saja. Aku kan punya Haru buat melindungi aku,” yang dirangkul lengannya hanya senyam-senyum saja.
“Terserah deh,” kata Hami sambil mengendikkan bahu. Lalu dia berjalan ke barisan lain untuk meminta uang. Tara melepaskan tangan Haru. Wajah dia agak pucat pasi.
“Eh, katanya hantu-hantunya serem banget loh!”
“Iih.. masa iya? Tadi aku juga dengar ada hantu yang bakalan ngejar kamu sampai ke ujung dunia. Aku penasaran banget! Makanya aku kesini.” Tara mendengarkan suara junior-juniornya yang berdiri di barisan belakangnya. Tiba-tiba saja bulu kuduknya merinding. Dia ingin segera menarik Haru untuk keluar barisan, tetapi...
“Selamat datang! Silahkan masuk rombongan 4 orang,” Danu mempersilahkan Tara dan junior dibelakangnya untuk masuk. Melihat Tara yang masih mematung, membuat Haru menyeretnya untuk masuk ke dalam. Akhirnya mereka masuk juga. Kedua juniornya sudah berjalan duluan. Tara merangkul lengan pacarnya dengan erat. Ruangannya sangat gelap. Hanya ada bola-bola lampu warna-warni dan suara cekikikkan di sekitar ruangan.
“Kamu Shima dan Hanne kan? Anak kelas sepuluh-tiga?” tanya Tara pada kedua juniornya yang berjalan dengan santai. Padahal banyak kepala tengkorak yang berdarah di setiap sisinya. ‘Kalian nggak takut?”
Keduanya menoleh. “Oh, kak Tara toh. Biasa ajah lagi, mbak. Wong setannya nggak beneran kok,” ucapan Shima membuatnya agak tenang. Baru saja Shima melepaskan tangan Henna, tiba-tiba saja kaki Shima tersandung sesuatu. Shima mengangkat benda itu. Kepala manusia berwajah seram dengan beberapa helai rambut di kepalanya mengeluarkan suara ‘BAWA AKU PULANG! BAWA!’ membuatnya berteriak. Dilemparkannya bola itu pada Henna yang spontan ditangkapnya. Kepala makhluk itu bicara lagi ‘ATAU KAMU.. YANG MAU MEMBAWAKU PULANG??! AYO KITA PULANG BERSAMA, grrr.’ Henna spontan berteriak. Haru dan Tara juga terkejut. Tetapi hanya Haru yang tertawa dan bersembunyi dibalik punggung Tara. Henna melemparkannya ke arah Tara. Akan tetapi malah terlempar mengenai kepala Haru. Cowok bertubuh jangkung layaknya model itu langsung meloncat dan berteriak. Dia berlari kembali ke arah pintu masuk. Tara geleng-geleng kepala.
“Aku nggak nyangka bisa pacaran sama cowok betina kayak gitu. Teriakannya juga kayak cewek habis dicopet orang. Mendingan kuputusin ajah nanti,” mulut Tara komat-kamit sendiri. Dia melangkah lagi. Kedua juniornya sudah berjalan agak jauh. Tara tidak dapat menemukan mereka. Hanya suara teriakan yang terdengar. Seorang berbaju putih dengan jubah hitam layaknya vampir tiba-tiba saja muncul dibalik gua. Wajahnya sangat pucat dan memiliki taring. Dia mencoba menakuti Tara dengan menujukkan taring gigi dan kukunya yang panjang. Tara mendekatinya sambil memilin rambutnya.
“Oh, Garra ya? Kostum kamu bagus juga. Make overnya sukses juga ya,” Vampir yang semula menunjukkan seringainya, langsung berhenti.
“Kamu kenal aku, Tar? Ya ampun! Aku bahagia sekali! Kamu masih ingat sama aku,” katanya setengah terharu.
“Siapa yang nggak kenal kamu, cowok satu kelas di kelas sepuluh yang sudah nembak aku,” ucap Tara.
“Kamu masih ingat juga ya! Walaupun kamu pernah nolak aku, mau nggak nanti kita jalan bar..,”
“Nggak sudi,” potongnya cepat. Dia kembali melenggang berjalan ke depan lagi. Cowok berkostum vampir itu hanya melogo melihatnya hingga jauh. ‘Ternyata nggak seseram yang dibicarakan banyak orang. Nyaliku memang kuat! Huh! Dasar manusia! Mana yang lebih menakutkan dari ini?’ Tara tersenyum senang. Kali ini dia memasuki ruangan makan. Disana terdapat lima orang sedang duduk disana. Mereka tampak seperti satu keluarga dengan mengenakan pakaian 70-an. Tara berjalan mengitari meja makan itu. Sang ayah sedang membaca dan membalikkan koran secara perlahan. Sementara istri dan ketiga anak gadisnya sedang makan dengan gerakan lambat. Wajah mereka tampak pucat. Tara sedikit merinding ketika suara ibu yang bersenandung dan suara gamelan jawa yang sedari tadi terdengar. ‘Kenapa mata mereka kosong ke depan. Tidak bereaksi berlebihan sama sekali.’ Tara mencoba mendekati salah satu gadis yang sedang mengunyah makanan.
“Haloo..,” Tara mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah gadis itu. Gadis itu berhenti makan. Dia menoleh ke arah Tara dengan gerakan lambat. Tara sedikit gemetar melihat mata gadis itu memerah dan tersenyum padanya, menunjukkan gigi penuh cairan warna merah. Tubuh Tara langsung tegap dan dia tidak menemukan keempat orang lainnya di meja makan. Tara berbalik dengan terburu-buru. Ternyata keempat keluarga itu sedang berdiri di belakangnya dengan mata merah dan senyuman lebar.
“GYAAA.. TIDAAKKK!!!” Tara tidak mampu menahan ketakutannya. Seorang gadis yang tadi sedang duduk, kini memegangi tangannya. Tara berusaha untuk lari tetapi keempat hantu itu membuatnya tersudut. Kelimanya berdiri menggerakkan badan seperti robot. Saking takutnya, Tara melepas tangan gadis itu dengan kasar dan berlari sambil menutup mata. Dia terus berlari sampai tersandung dan terjerembab di dalam sumur. Tara segera membuka matanya. Keterkejutannya tidak sampai disitu saja. Dia baru saja menyadari bahwa dia masuk ke dalam lubang dimana terdapat seseorang bersembunyi disitu. Bukan manusia.. tetapi benar-benar seperti makhuk gaib!
Tara masih berjongkok dan wajahnya menempel tepat di kening seorang gadis yang wajahnya tertutup dengan rambut panjangnya. Sinar matanya membuat Tara tidak bisa bergerak lagi.
“Tar, kamu nggak apa-apa?” tanya gadis itu. Gadis itu menyingkirkan helaian rambut yang menutupi matanya dan memperlihatkan kantung mata yang sangat hitam. Bukan, tetapi seluruh lingkaran matanya berwarna hitam sehingga membuat tubuh Tara semakin bergetar. Gadis itu menyentuh pundak Tara.
“Kyaaa.. SETANNYA TAU NAMAKU! OH EM JI!!!” Tara bergerak cepat keluar dari dalam lubang berbentuk sumur. Gadis itu memegangi tangannya. Tara menoleh perlahan.
“Berikan sedikit kebahagiaanmu padaku!” Tara menjerit lagi. Sosok gadis didepannya lebih menakutkan daripada sebelumnya. Sosoknya mengeluarkan aura yang sangat gelap. “Berikan satu pacar cadanganmu padaku! Kalau tidak, kutukan akan menyertaimu seumur hidupmu!” serunya lagi. Kini gadis itu memegangi kedua pundak Tara yang tidak berhenti berteriak sambil menutup mata. “AKAN AKU BERIKAN WAKTU SATU TAUN UNTUK BERTUKAR JIWA DENGANKU! BIARKAN AKU MEMILIKI SEBAGIAN COWOK CADANGANMU!” Tara yang sudah banyak berkeringat saking takutnya, segera terjatuh dan berlari lagi. Langkahnya kembali terjatuh dan berlari kembali. Gadis berwajah seram itu terus menerus mengejarnya dan dilanjutkan oleh hantu pocong dan suster ngesot yang memegangi kaki Tara. Mereka mengejarnya sampai ujung pintu keluar.
Seorang gadis berbaju putih itu tertawa kecil dan bersembunyi lagi di dalam sumur. Namun kedua orang yang berdiri di depannya membuatnya sedikit terkejut.
“Aku nggak nyangka kamu bisa menakuti adekku seperti itu,” gumam Wildam sambil mengangkat kacamatanya yang sedikit turun. Hami yang berdiri disebelahnya mengangguk senang. Afika tertawa kecil. “Kamu hebat, Fik!”
“Kalian masuk bareng?” tanya Afika.
“Tadi Wildam penasaran dengan rumah hantu kita. Makanya dia meminta aku untuk menemaninya,”
“Tadinya mau masuk sama Ed. Tetapi Ed mendadak menghilang entah dimana,” tambauh Wildam. Lalu Wildam mengajak Hami berjalan lagi. Hami sempat berbalik dan menyemangati Afika yang juga menggenggam tangan ke atas.
“Eeeuh.. lihat! Itu kuntilanak ya?” suara orang dibelakangnya, membuat Afika langsung berbalik dengan memasang tampang seram.
“Kalian bisa memanggilku Juon! Apa kalian mau berhutang nyawa denganku??! Mari kita mainkan kokkurisan bersama!!!” kedua cowok di depannya langsung membatu.
☻☺☻
Tepat pukul tiga sore, para pengunjung sudah tidak sebanyak pagi tadi. Rumah Hantu Berdarah pun sudah sepi pengunjung. Para siswa kelas XIIPS1 melepas lelah di depan pintu rumah hantu. Danu dan Hami berdiri di hadapan mereka.
Danu mengangkat kedua tangannya ke atas, “Yosh! Akhirnya rumah hantu kita sukses besar! Balik modalnya pun melebihi daripada yang aku perkirakan. Aku bangga banget sama kalian. Kita semua benar-benar kompak!” Hami sendiri masih mengitung uang di dalam kotak. “Nanti uangnya akan dibagikan pada kalian masing-masing secara adil,” mendengar hal itu, para siswa XIIPS1 sorak-sorai bergembira. Afika duduk di gerombolan paling belakang. Risa yang semula duduk di depannya, langsung bergeser mendekati Afika setelah melihatnya. ‘Apa dia tidak takut padaku? Apalagi ditambah dengan dandananku kayak setan gini,’ pikir Afika bingung. Risa mengangkat tangannya, memnta bersalaman dengannya. Afika yang masih bingung bercampur heran langsung menyalaminya.
“Aku salut padam, Fik. Kamu hebat! Bisa membuat semua orang takut! Kamu memang cewek yang paling menakutkan daripada cewek-cewek preman disini, whoo!!!” serunya bersemangat. Afika garuk-garuk kepala.
“ Cewek paling menakutkan?”
“Hey, jangan salah sangka. Aku memuji keberanianmu loh!” kata Risa lagi. Keduanya tersenyum bersama. Setelah itu keduanya melihat teman-teman berkumpul mengerubungi Miwon. Risa pun juga menghambur ke gerombolaan itu. Afika pun menyusul saking penasaran apa yang menarik perhatian teman-temannya. Miwon menunjukkan video di hp nya. Seorang gadis sedang memainkan piano di atas panggung. Afika baru menyadari bahwa gadis itu adalah dia. Miwon merekamnya! Afika merasa sedikit kesal karena Miwon merekam tanpa seijinnya.
“Kamu memainkannya dengan baik, Fik,” komentar Danu.
“Iya, sayang banget tadi nggak lihat nih,” ucap temannya yang lain.
“Miwon kok nggak merekamku juga sih?” dumel Timmy sembari memukul lengan Miwon pelan. Miwon malah cengengesan. Setelah selesai menunjukkannya, Miwon menggandeng Afika untuk keluar dari kerumunan. Afika berusaha melepaskannya. Dia merasa malu karena semua teman melihatnya dan banyak yang bersiul menggoda. Kecuali Timmy dan Hami yang hanya tercengang melihatnya.
“Ayo kita nikmati sisa-sisa permainan di setiap stan yang masih buka.”
“Tapi penampilanku masih kayak gini,” Afika menunjukkan penampilan dirinya yang masih bertransformasi menjadi hantu. Miwon juga menunjukkan kostum yang dipakainya. Juga kapak yang menempel di setiap sisi kepalanya.
“Make up di wajahku penuh darah, bahkan lebih menakutkan daripada dirimu. Ayolah, kita bersenang-senang!!!” Miwon kembali menarik tangan Afika. Diam-diam Afika tersenyum. Entah kenapa dia tidak merasa malu dihadapan banyak orang dengan penampilans eperti itu. Genggaman tangan Miwon membuatnya sedikit lega dan aman. Mereka melakukan banyak hal seperti bermain memancing ikan di kolam karet, bermain dengan anak panah yang mengenai sasaran, melihat aneka jajanan pasar, dan lainnya. Hingga mereka menemukan papan besar yang terlukis tuuh cowok dan cewek yang memakai seragam sekolah Jepang dengan kepala yang disengaja dibuat berlubang. Banyak orang yang tertarik untuk berfoto disana. Miwon menyeret Afika untuk berfoto disaana. Namun Afika menolaknya.
“Seragam itu sangat bagus. Nggak cocok dengan wajah hororku,” dumelnya. Miwon menariknya lagi dan menghampiri fotografer papan tadi.
“Johan kan?” tunjuk Miwon. Cowok yang sedang memegang kamere mengangguk.
“Tolong foto kami dua kali ya. Tapi nggak usah pakai papan itu,” mendengar penjelasan Miwon, Afika berusaha melepaskan genggaman tangan cowok itu. Afika sangat benci difoto. Apalagi dengan riasan yang masih menempel diwajahnya. Namun Miwon tidak melepasnya. Miwon langsung merangkul pundak Afika. “Jangan merasa takut. Tidak ada yang perlu ditakutkan karena aku akan selalu berada disampingmu. Jadikan ini kenangan indah ya,” perkataan Miwon membuat tubuh Afika yang semula kaku dan canggung, menjadi sedikit nyaman. ‘Baru kali ini ada seseorang yang berjanji ingin selalu berada disampingku selain kedua orang tuaku.’ Afika mencoba sedikit tersenyum.
‘JEPRET!’ Pemotretan pertama berhasil diambil. Tinggal satu potret lagi.
Johan menghitung lagi sebelum memotret mereka berdua, “Satu.. dua.. ti..,”
“Aku sangat senang bisa mengenalmu, A-chan,” suara Miwon membuat Afika terkejut dan menoleh melihatnya. ‘JEPRET!’
☻☺☻