Read More >>"> ADOLESCERE LOVE (4~PERUBAHAN EDELWEIS) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - ADOLESCERE LOVE
MENU
About Us  

Ruang Mading ‘No entry! without permission from member’

“Bagian halaman sastra diberikan sama siapa tadi?” tanya Edelweis sembari menggunting beberapa gambar berwarna yang baru saja di print. Sebagai ketua mading, Edelweis selalu disiplin dalam mengatur deadline pengumpulan tugas yang telah diberikan pada anggota masing-masing. Dia juga sering membantu anggota-anggotanya jika ada kesulitan dalam mengerjakan artikel maupun pencarian narasumber.

Begitu pula dengan Mayang sebagai wakil mading selalu mencatat apa yang dibutuhkan oleh ketuanya. Dia sangat teliti dalam mencatat hal yang paling detail sekalipun. Semua tugas pun selalu sukses bertepatan dengan deadline. Maka dari itu, Edelweis sangat mempercayainya.

“Niah dan Gama. Oh ya, tadi Hami kirim chat ke aku, katanya dia masih bingung cari narasumber. Aku suruh dia kesini lagi. Langsung tanya ke kamu.”

“Bagian apa?”

“Bagian siswa berprestasi sesuai tema.”

“Oh, ya udah. Gampang.”

Edelweis masih berkonsentrasi menatap kertas bergambar yang baru saja di potong. Sementara Mayang masih membantu Tara mencari berita unik di internet. Mayang dan Tara berada di kelas yang sama dengan Edelweis sedari kelas satu. Mereka berempat termasuk Wildam memutuskan untuk memasuki kelas IPA dan eskul yang sama. Hal itu menambah kedekatan mereka. Kemana-mana selalu berempat.

Satu kelompok yang bercampur menjadi satu tim. Percampuran antara Edelweis (Mr. Cool) dengan segala kesempurnaannya seperti pembawaan yang selalu tenang tanpa banyak bicara, Wildam (Mr. Kutu Buku) yang selalu membaca buku tiada henti, Mayang (Ms. Memori Berjalan) selalu mengingat dengan mudah apa yang telah dijelaskan oleh guru atau apapun yang baru dibacanya, dan Tara (Ms. Populer) yang memiliki saudara kembar cakep dan pintar ‘si Wildam’, hidup yang serba mewah, selalu mengundang teman-temannya party tiap malam minggu, dan gonta-ganti pacar tiap dua minggu sekali. Satu tim yang selalu mendapatkan label berotak encer dengan keunggulan prestasi yang telah mereka dapatkan dalam setiap bidang apapun.

“Hoahem, ntar deh aku lanjutin sendiri deh, May,” seru Tara sambil menguap lebar. Akan tetapi Mayang masih tetap serius browsing. ‘Ngotot juga dia,’ pikir Tara. Lalu diputarnya  kursi hidrolik yang di dudukinya ke belakang dan memandang Edelweis yang masih serius memilih gambar sesuai tema. “Ed, tadi siang itu siapa sih? Kok aku nggak pernah lihat?”

“Hmm... siapa?” tanya Edelweis masih berkonsentrasi dengan gambar yang dipegangnya. Tara langsung duduk di atas karpet dengan berselonjor kaki sampai menghempaskan beberapa kertas bergambar yang dikumpulkan oleh Edelweis. “Hei, hati-hati dong! Ntar banyak yang hilang!” serunya kemudian. Tara malah tertawa girang.

“Tara.. jangan ganggu Ed dong,” Mayang mulai tidak konsentrasi lagi karena tawa temannya yang membahana. Dia mengambil majalah horizon di rak dan membacanya di kursi sofa. Tara memeletkan lidah tidak perduli. ‘Dasar, si Tara!’ sungutnya kesal. Tara mulai menyenggol Edelweis yang masih konsen dengan gambar di depannya.

“Deuh, serius amit sih, ketua. Itu tuh... cowok cakep yang ngebentak kamu di kantin.”

JLEB! Konsentrasi Edelweis langsung terpecah dan kepingan-kepingannya terasa menusuk di ulu hatinya. Bagaimana dia harus menjawab? Kalaupun dia mengenalnya, apakah memang harus dikatakan kepada temannya itu? Akan tetapi dia masih ragu untuk menjawab. Wajahnya yang tampak kikuk mulai terbaca.

“Kamu kenapa sih? Sakit perut?” tanya Tara sembari mengernyitkan kening. Edelweis menggeleng dengan cepat. Dia memilih untuk tidak menjawab dan melanjutkan menyusun gambar di artikel. “So, siapa namanyaaa???” rengeknya.

“Ehmm, maaf aku agak telat,” Hami memasuki ruang mading dengan panik. Dia melepaskan sepatunya dan langsung duduk di samping Edelweis. “Maaf, Ed. Aku masih kebingungan mencari narasumber.”

Edelweis menoleh singkat.

“Oh, kamu. Coba kamu cari siswa yang berprestasi dalam bidang non akademik. Terserah kamu siapa,”

Hami mulai bingung. ‘Siapa ya? Aku kan nggak tahu,’ pikirnya.

“Sebenarnya kamu bisa nggak sih? Makanya banyak sosialisasi dong,” sindir Mayang dengan tajam. Hami mulai gelisah. “Aku cuma bercanda kok,” sambung Mayang lagi dengan senyuman sinis. Tara malah tertawa cekikikkan. Hami semakin menundukkan wajah.

“Ya sudah. Ntar aku kasih kabar kalo ada yang cocok ya, Mi.” ucap Edelweis yang masih menempel gambar di artikel. Mayang menganggukkan kepala pelan.

“Oh ya, tadi ada yang mau ketemu sama kamu. Aku lupa! Sudah dari tadi dia nunggu di luar!” seru Hami sambil menepuk jidat. Edelweis menoleh lagi.

“Siapa? Ada perlu apa?”

“Teman sekelasku, Miwon. Katanya penting.”

Mendengar nama itu, Edelweis langsung berdiri dan berjalan menuju pintu. Sebelum menarik gagang pintu, ditariknya nafas dalam-dalam. Lalu melangkah keluar dengan tubuh tegap. Mayang, Tara, dan Hami melihatnya bingung.

“Hei, Miwon siapa?” tanya Mayang ketus pada cewek berkacamata yang masih kikuk di depannya. Tara juga sangat penasaran dengan nama cowok yang membuat Edelweis tampak serius. Hami membetulkan kacamata tebalnya.

“Anu, itu... anak baru dikelasku. Dia sering kok kumpul bareng aku, Afika, dan Timmy. Anaknya enak banget diajak ngobrol.”

Tara langsung melonjak kaget.

“Cowok yang bikin risuh di kantin tadi kan?” Hami menganggukkan kepala dengan bingung. ‘Cewek satunya galak dan yang satunya lagi aneh,’ pikirnya. “Ceritain dong, all about him! Hami, Aku merasa fall in love at first sight!” serunya heboh. Mayang dan Hami menggelengkan kepala dengan heran.

Sementara ketengangan sedang terjadi di pintu depan mading. Edelweis yang tadinya menemukan Miwon sedang duduk di anak tangga di dekat pintu mading, sekarang merasa kikuk dalam suasana diam yang diciptakan oleh Miwon beberapa menit yang lalu.

“Sudah dengar kalau aku kembali kesini lagi?” Miwon mulai membuka pembicaraan. Edelweis masih membisu. “Kenapa tidak mencariku?” tanyanya lagi. Edelweis tetap diam. Miwon tidak tahan dengan keterdiamannya. Ditariknya kerah Edelweis kuat-kuat.

“Hey, bung. Calm down!” seru Edelweis dengan mata menyipit. Kemudian pandangan keduanya menyiratkan sesuatu yang tidak mudah untuk diterjemahkan. Seperti ada sesuatu yang diselipkan semacam kerinduan. Riak-riak air mulai keluar di sudut mata Miwon. Dilepaskannya kerah Edelweis dengan kasar. “Seharusnya kamu hormati aku dengan semestinya,” desis Edelweis tajam. Miwon memundurkan langkahnya sambil menarik nafas panjang. Ditatapnya lagi cowok yang lebih tinggi beberapa senti dihadapannya itu.

“Sudah jelas kalau kamu masih tidak bisa menerimaku.”

“Karena kamu masih membelanya!” bentak Edelweis cepat. Miwon membelalak lebar. Edelweis memilih untuk menghentikan perdebatan itu dan hendak berbalik kembali memasuki ruangan mading.

“Selain itu, aku sekarang tahu kalau kamu menjadi orang yang sangat egois. Dia, cewek itu... yang menyapa kamu! Perbaikilah sikapmu lebih baik lagi. Kalau kamu melihatnya lebih jelas, dia sangat mirip dengan seseorang yang sama-sama kita sayangi.”

Edelweis berbalik. Namun Miwon sudah meninggalkannya sendirian.

☺☻☺

Lagi-lagi aku ditinggal sendirian. Timmy sudah pulang duluan dijemput sama sopirnya. Miwon juga baru saja berlari melewati lapangan menuju gerbang tanpa menoleh sedikitpun. Padahal biasanya dia membuntuti aku sampai jam pulang sekolah. Sementara Hami masih berada di ruangan mading. Janjinya sih sebentar. Tapi nyatanya luamaaa... banget! Untung ajah aku menunggu di bawah pohon favoritku. Walaupun nggak pakai tikar seperti biasanya. Duduk bersandar sembari memejamkan mata membuatku merasa lebih damai. Bebas diterbangkan angin dimanapun, huahhh... freedom....

“Afika,” kubuka mataku secepatnya. Seorang cowok bertubuh tegap yang sering hadir dalam selingan mimpi, kini berdiri dihadapanku. Apakah aku sedang bermimpi? Kulihat dia mulai duduk disebelahku. Kurasakan dada mulai berdebar tidak karuan.

“Ha... Hami, kamu tahu nggak? Tadi dia kesana,” kataku gelagapan. Aih, Edelweis. Kenapa aku selalu dag-dig-dug kalau di dekatmu. Dia menghela nafas panjang.

“Dia tadi minta tolong kalau ketemu sama kamu disini, dia minta kamu pulang duluan ajah. Dia masih ada keperluan sama Tara.”

“Oh,” hanya itu yang bisa aku ucapkan. Aku kehabisan kata-kata. Kupandangi Edelweis lama-lama. Tiba-tiba saja aku nggak merasa ingin pulang cepat. Aku ingin sekali berbicara dengan Edelweis walaupun hanya sepatah dua kata saja. Cowok bermata sipit itu sedang menunduk, mencabuti rumput di depannya. Aku tidak menyangka dia menghampiriku. Dia benar-benar tidak takut denganku. Aku tahu kalau Edelweis beda sama orang-orang lainnya. Seperti dulu, Edelweis yang ramah dan baik hati.

“Kamu tahu arti dari namaku?” aku terkejut dengan kata-kata yang keluar barusan. Dia menatapku sekilas. Aku menggeleng.

“Mungkin... dari nama bunga?” kataku menebak. Lalu dia tersenyum.

“Edelweis, Tumbuhan yang dipetik dan tidak akan layu dalam beberapa waktu. Tumbuhan yang kadang ditulis eidelweis atau dalam tulisan Jawa disebut Javanese edelweiss. Bunga yang dikenal sebagai bunga abadi. Nama yang mempunyai nama latin Anaphalis javanica.  Tumbuhan endemik zona alpina atau montana di berbagai pegunungan tinggi Indonesia. Begitu yang aku tahu dari kutipan definisinya.”

Aku terpesona dengan seluruh kata yang diucapkannya.

“Nama yang begitu indah. Siapa yang memberikan nama itu?” tanyaku pelan. Edelweis menunduk lagi dan mencabuti rumbut bertubi-tubi. Sepertinya dia tampak marah. Apa aku menanyakan hal yang salah? Dia lama sekali menundukkan wajah.

“Ayahku. Dulu katanya sebagai lambang keabadian dan pengorbanan cinta. Sebagai lambang tetap bertahan dan tidak akan goyah di kala apapun seperti edelweis yang tetap bertahan dan tidak pernah layu di suhu yang dingin.”

“Ayahmu... hebat sekali ya memilih nama itu. Bagus banget,” pujiku tulus.

“Nggak juga,” kata Edelweis cepat. Lalu dia menyunggingkan senyum lagi padaku. Aku memalingkan wajah. Nggak mungkin aku membalas senyumnya. Nanti dia malah ketakutan lagi. Walaupun sebenarnya aku ingin sekali tersenyum padanya. Tetapi ekspresi wajahku berkata lain. Pasti lebih menakutkan daripada yang aku bayangkan.

“Kalau arti dari namamu?”

Aku bingung. Selama ini aku tidak pernah menanyakan arti namaku pada ortu.

“Aku... nggak tahu,” kataku jujur.

“Mungkin artinya cewek pemalu yang baik hati,” ucapnya sambil tersenyum. Aku terkejut seketika. Edelweis mengatakan seperti itu. Duh, wajahku bertambah panas. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku putuskan untuk diam.

Kami pun membisu. Hening.

“Uhm, Mayang... udah pulang belum?” tanyaku mencairkan suasana. Aku jadi teringat akan Mayang yang hendak membahas sesuatu padaku. Kemungkinan dia ingin meminta penjelasan tentang kejadian tadi siang. Apapun permasalahan yang menyangkut Edelweis, pasti Mayang akan ikut masuk di dalamnya. Terkadang aku juga ingin memiliki keberanian yang sering dimunculkannya. Menjadi cewek agresif yang disukai oleh semua orang. Dia tidak pernah takut dengan siapapun. Bahkan tidak pernah putus-putusnya mengejar Edelweis yang disukainya. Ya, selain bidang pelajaran lainnya, Edelweis juga sebagai ambisinya.

“Mayang sudah pulang dari tadi. Kenapa?” aku terkesiap.

“ Kalau gitu aku pulang dulu ya. Aku sudah ditunggu orang rumah. Bye.”

Edelweis mengangguk.

Aku langsung bangkit dan berlari. Tidak mungkin aku bilang kalau Mayang adalah sepupuku. Edelweis nggak boleh tahu. Apalagi orang-orang lainnya. Karena itulah yang diinginkan Mayang. Tidak ada yang boleh tahu selain hanya aku, dia dan Hami.

☻☺☻

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
1 Kisah 4 Cinta 2 Dunia
261      45     0     
Romance
Fina adalah seorang wanita yang masih berstatus Mahasiswi di sebuah perguruan tinggi. Ia adalah wanita yang selalu ceria. Beberapa tahun yang lalu ia mempunyai seorang kekasih yang bernama Raihan namun mereka harus berpisah bukan karena adanya orang ketiga namun karena maut yang memisahkan. Sementara itu sorang pria yang bernama Firman juga harus merasakan hal yang sama, ia kehilangan seoarang is...
Invisible Girl
17      12     0     
Fan Fiction
Cerita ini terbagi menjadi 3 bagian yang saling berkaitan. Selamat Membaca :) Jangan Lupa tinggalkan Like dan Komentar nya yaa :) Borahae
Looking for J ( L) O ( V )( E) B
27      12     0     
Romance
Ketika Takdir membawamu kembali pada Cinta yang lalu, pada cinta pertamamu, yang sangat kau harapkan sebelumnya tapi disaat yang bersamaan pula, kamu merasa waktu pertemuan itu tidak tepat buatmu. Kamu merasa masih banyak hal yang perlu diperbaiki dari dirimu. Sementara Dia,orang yang kamu harapkan, telah jauh lebih baik di depanmu, apakah kamu harus merasa bahagia atau tidak, akan Takdir yang da...
SANTA GIRL
4      4     0     
Short Story
Ternyata! Santa itu nyata. Ada yang pernah melihatnya di Litlagea, uptown Loughrea. Bukan seorang kakek dengan kereta rusa, tapi seorang gadis kota yang kamu sukai.
Throwback Thursday - The Novel
231      72     0     
Romance
Kenangan masa muda adalah sesuatu yang seharusnya menggembirakan, membuat darah menjadi merah karena cinta. Namun, tidak halnya untuk Katarina, seorang gadis yang darahnya menghitam sebelum sempat memerah. Masa lalu yang telah lama dikuburnya bangkit kembali, seakan merobek kain kafan dan menggelar mayatnya diatas tanah. Menghantuinya dan memporakporandakan hidupnya yang telah tertata rapih.
Astronaut
35      17     0     
Action
Suatu hari aku akan berada di dalam sana, melintasi batas dengan kecepatan tujuh mil per detik
A - Z
30      12     0     
Fan Fiction
Asila seorang gadis bermata coklat berjalan menyusuri lorong sekolah dengan membawa tas ransel hijau tosca dan buku di tangan nya. Tiba tiba di belokkan lorong ada yang menabraknya. "Awws. Jalan tuh pake mata dong!" ucap Asila dengan nada kesalnya masih mengambil buku buku yang dibawa nya tergeletak di lantai "Dimana mana jalan tuh jalan pakai kaki" jawab si penabrak da...
Her Glamour Heels
290      214     3     
Short Story
Apa yang akan kalian fikirkan bila mendengar kata heels dan berlian?. Pasti di khayalan kalian akan tergambar sebuah sepatu hak tinggi mewah dengan harga selangit. Itu pasti,tetapi bagiku,yang terfikirkan adalah DIA. READ THIS NOWWW!!!!
Lovesick
4      4     0     
Short Story
By Khancerous Why would you love someone else when you can’t even love yourself?
Today, After Sunshine
37      16     0     
Romance
Perjalanan ini terlalu sakit untuk dibagi Tidak aku, tidak kamu, tidak siapa pun, tidak akan bisa memahami Baiknya kusimpan saja sendiri Kamu cukup tahu, bahwa aku adalah sosok yang tangguh!