Breaktime (09:30)
Satu, dua, tiga, ... enam, tujuh! Sudah tujuh hari dia membuntutiku seperti ekor dimanapun dan kapan pun aku berada. Semenjak hari senin sebelumnya sampai senin sekarang. Hari minggu nggak termasuk sih. Hitungan ketujuh masuk pada hari senin ini. Setiap pagi cowok jangkung itu ikut nimbrung di antara aku, Timmy, dan Hami. Membantuku mengusir para fans Timmy yang berbondong-bondong datang ke kelas silih berganti. Padahal aku tidak membutuhkan bantuannya sama sekali. Bukankah dia juga tahu jika mereka semua akan ketakutan jika berhadapan denganku. Jadi dia tidak usah bersusah-payah untuk itu.
Setiap jam istirahat, dia tidak pernah bermain bola dengan anak-anak cowok di lapangan (padahal kebanyakan gerombolan cowok ips kan selalu bertanding bola dengan gerombolan cowok ipa disana, dari tingkat satu sampai tiga), tetapi dia malah lebih suka berkumpul denganku dan kedua temanku yang duduk di bawah pohon dan melihat permainan basket yang tidak jauh dari lapangan.
Selain itu, dia selalu berbicara ngalor-ngidul entah dari mana awalnya. Dosis kecerewetannya melebihi Hami yang sering membicarakan novel teenlit terbaru dan gaya narsisme-nya lebih tinggi dari kadar Timmy. Dia seperti perpaduan antara Hami dan Timmy. Seakan-akan menghadapi kecerewetan dan kenarsisan Hammy-Timmy yang berlipat ganda. Gara-gara keberadaannya yang menyengatku tiba-tiba, aku jadi sering bermimpi buruk.
Entah kenapa setiap keberadaannya membuatku takut melebihi apapun. Bukan rasa minder yang aku rasakan ketika bertemu dengannya, tetapi lebih seperti rasa takut untuk berada bersamanya.
“Kita pesen apa nih?” tanya Timmy dengan wajah riang. Dia selalu seriang itu. Wajahnya selalu menampakkan keceriaan dan memberikan kebahagiaan pada orang-orang disekitarnya. Tidak ada cerita ‘Timmy dibenci semua orang’ tapi ‘Timmy yang dicintai semua orang’. Terkadang aku iri dengan keberadaannya. Mungkin takdir kita memang berbeda. Timmy yang riang tidak akan pernah bisa disandingkan dengan Afika yang pendiam plus menakutkan. Aku menyadarinya. Terlalu menyadarinya di saat Timmy berada di dekatku.
“Aku nggak nafsu makan. Aku pesen es teh ajah deh kayak kamu,” kata Hami kemudian. Aku memesan minuman yang sama ditambah menu bakso. Sementara Miwon, si cowok cersis (cerewet nan narsis) memesan bakso dan segelas air putih. Dia menambahkan tidak ada minuman lain yang lebih sehat selain air putih. Rempong banget. Istilah siapa tuh dipakai sembarangan. Aku bertaruh, pasti dia banyak menyimpan minuman kaleng bersoda di dalam rumahnya, hohoho.
“Aku baru tahu kalau Afika tersenyum, sudut bibir kanannya selalu mencuat ke atas,” lamunanku tersadar. Rupanya sedari tadi Miwon mengamatiku dengan kedua tangan di pipi. Semoga wajahku tidak memerah seperti yang aku pikirkan.
“Aku nggak tersenyum,” dalihku.
“Wajahmu memerah lagi,” katanya sembari tertawa. Sekarang aku bertambah malu. Aku baru tersadar jika Hami dan Timmy sudah lenyap. Kepalaku menengok ke kanan-kiri mencari keberadaan mereka. Mungkin aku akan menyusul mereka daripada berhadapan dengan makhluk scary guy ini.
“Udah tenang ajah. Mereka lagi pesen kok. Sabar menunggu ajah, beb,” katanya lagi. Gila, dia bisa membaca pikiranku. Tatapannya sangat membuatku grogi. Kuputuskan untuk kembali menengok ke kanan-kiri, berharap Timmy dan Hami cepat kembali. Kedua mataku langsung terbelalak ketika melihat Edelweis dan ketiga temannya sedang berjalan memasuki kantin. Aduh, Edelweis pasti mau makan dan mencari bangku juga. Sementara meja yang kosong hanya tinggal satu, tepat berada di belakangku. Itu berarti dia pasti berjalan melewatiku. Duh, disapa lagi nggak ya? Kalau dia tidak mendengar suaraku lagi gimana? Aduh, dia benar-benar berjalan kesini lagi! Afika, lets, stand up!
“Hai, Ed! Mau makan ya?” kukerahkan sekuat tenaga untuk menyapanya. Mataku sipit sebelah, menunggu reaksinya. Akan tetapi Edelweis tetap berjalan melewatiku. Kulihat Mayang, Wildam, dan Tara melirikku dengan senyum sinis. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku berusaha tenang dan duduk kembali. Sepertinya dia tidak mendengar suaraku lagi. Kali berikutnya, aku harus memanggilnya lebih keras.
“Siapa dia? Dirimu kok dicuekin gitu?” tanya Miwon sembari mengerutkan kening.
“Cuma teman. Bukan dicuekin. Tapi emang nggak dengar.”
“Volume kamu udah kenceng. Nggak mungkin dia nggak dengar. Coba aku bicara sama dia,” diriku langsung tersentak ketika Miwon mulai beranjak dan berjalan mendekati bangku Ed. Hiyaa, gawat! Dia mau apa sih??!!!
“Hoi, bro. Dirimu sok cakep banget ya?! Apa kamu beneran tuli ya? Sampai cewek secantik dia kamu cuekin. Heh?” serunya ngotot sembari menunjuk ke arahku. Gila! Semua orang termasuk ketiga temannya memberikan tatapan menusuk padaku. Sementara Edelweis yang baru saja memasukkan handphone ke saku, langsung berdiri berhadapan dengan Miwon. Aku nggak tahu harus ngapain. Timmy dan Hami juga berjalan setengah berlari dengan membawa nampan berisi bakso dan minuman lainnya.
“Miwon kenapa, Fik?” tanya Timmy penasaran. Hami ikutan mengangguk.
“Aku nggak tahu.”
Mereka berdua saling bertatapan. Sementara Wildam sudah berdiri untuk mengajak Edelweis pergi. Kulihat ekspresi Miwon menjadi kosong. Begitu pula dengan Edelweis. Tak lama kemudian Edelweis pergi bersama ketiga temannya. Edelweis pergi begitu saja melewatiku. Kembali kulihat Miwon yang masih terpaku di tempat. Ada apa sebenarnya?
“Afika,” aku berbalik. Rupanya Mayang kembali lagi untuk menemuiku. “Masalah Ed, urusanku juga. Back to home, aku tunggu di kamar,” jelasnya. Lalu Mayang pergi dengan memberi tatapan sengit padaku.
“Fik, kamu nggak apa-apa?” tanya Hami dengan wajah khawatir. Kugelengkan kepala pada mereka berdua. Aku tahu jika Mayang akan bilang begitu.
☻☺☻