Read More >>"> Youth (11. Cerita Daffa) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Youth
MENU
About Us  

Kenangan beberapa tahun lalu terhisap lagi di ruangan kafe itu. Dika tersenyum mengenang segala perjuangannya. Semesta tak hentinya mempersiapkan yang terbaik untuk hasil keringat yang jatuh karena karsa asa. Setelah kuliah pun, nggak lama ia dapat kerja di penerbitan milik om-nya Tama, ternyata Pak Bowo yang pernah memarahinya menjadi mitra penerbitan tersebut, ia jadi lebih mendukung kerja keras Dika sehingga kariernya berjalan lancar. Setelah bermaafan pun mereka menjadi mitra kerja yang seperti keluarga sendiri. Dika menikmati dan bersyukur akan kehidupannya, meski nggak selalu mulus dan berhenti sejenak, ia tetap berjalan dan berlari untuk terus bermanfaat sampai roda kehidupannya mencapai batas akhir hayat.

***

Kini giliran Daffa yang terhisap ke masa-masa manisnya remaja. Sebelum masuk SMA, Daffa udah sering dengar atau baca dari orang-orang kalau masa SMA itu masa yang paling indah. Saking klisenya, mungkin tulisan itu sudah menempel di mana-mana, di buku-buku, film, selebaran di jalanan, tiang listrik, bahkan jidat Dika yang agak lebar itu. Namun, Daffa masih percaya nggak percaya, sebelum ketemu Aira ....

Waktu itu kelas sudah hampir kosong, yang tersisa tinggal mereka bertiga. Oh iya, ditambah sang KM. Lagi asyik-asyiknya ngobrol nggak jelas. Tiba-tiba sang KM bersuara setelah melihat ponselnya.

“Daf, bisa nggak tolong fotokopiin materi Biologi? Pak Gus baru ngirimin nih. Aku harus cepet ke rumah sakit jenguk mama.”

“Kenapa nggak nyuruh Dika atau Tama?”

“Yaelah, kamu yang ada di hadapan.”

“Hmm, iya deh.”

“Udah dikirimin lewat LINE, ya. Fotokopi sebanyak jumlah anak kelas,” perintah sang KM.

“Anak kelas ada berapa sih?” tanya Daffa sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.

“Tiga puluh dua,” sahut Tama.

“Jangan lupa lho. Udah ya duluan, keburu hujan.” Kalimat terakhir sang KM sebelum keluar kelas, tas gendongnya sudah tersampir di sebelah bahunya.

“Yo, hati-hati, Di. Salam buat mamamu, semoga cepet sembuh,” kata Dika.

“Makasih, ya!” balas Andi sambil melambaikan satu tangannya sebelum menghilang dari balik pintu.

“Kalian pulang duluan aja deh, aku mau fotokopi deket sekolah aja.”

***

Titik-titir air yang mulanya turun satu-satu, kini bergerombol. Mereka yang asalnya sendiri-sendiri, sekarang jadi terlihat satu kelompok yang kompak membasahi bumi. Jalanan yang asalnya berpolusi, jadi diredam oleh air yang sejuk. Motor-motor mulai menepi mencari tempat berteduh. Langit mulai berlukiskan cat kelabu. Angin mengembus, melewati kisi kacamata baru Daffa yang kini jadi berembun. Sekejap saja, kumpulan air itu seperti mau unjuk rasa, turun cepat membentuk hujan yang akan lebat. Kaki-kaki Daffa mulai mempercepat langkah, tas gendongnya mulai dijadikan payung darurat. Genangan air yang baru terbentuk dihindarinya secara hati-hati. Kecepatan kakinya jadi makin bertambah seiring kecepatan air itu turun ke bumi. Kakinya bukan menuju tempat fotokopian lagi, melainkan halte terdekat yang bisa dijamahnya untuk tempat berteduh.

Lega. Tubuhnya sekarang punya tempat berlindung. Atap halte berbahan seng tebal menjadi tamengnya. Rintik air beraturan membentur atap itu, tercipta irama yang khas dari kehadiran hujan sore itu. Bangku panjang yang menyatu dengan pondasi halte basah, jadi ia cuman bisa berdiri melihat pemandangan syahdu dari kumpulan air yang seperti menyisir langit dan bumi.

Beberapa detik menatap jalanan, ia baru menyadari ada tangan seseorang yang menjulur ke luar halte, bermaksud ingin disentuh titik-titik air seperti atap halte.

“Kamu harus kehujanan kalau mau kena air hujan,” kata Daffa SKSD.

“Aku suka hujan tapi nggak suka kehujanan. Lagian hujannya lagi besar.” Orang itu merespons celetukan Daffa, ternyata seorang gadis seusianya.

“Hmm, banyak orang yang udah bilang gitu.”

“Sama banyaknya kayak orang-orang penikmat hujan dan senja juga?” balas gadis itu sambil sedikit tertawa. Daffa jadi ikut tersenyum.

“Mungkin,” balasnya lagi. “tapi aku lebih suka langit, bangunan-bangunan, dan dedaunan hijau.”

Mungkin kalau Dika atau Tama yang diajak ngobrol bakal balas, “Sori ye, Daf. Nggak nanya.”

Tapi gadis itu berkata, “Kamu suka cokelat panas juga nggak?”

“Suka,” jawab Daffa meski sedikit bingung kenapa tiba-tiba obrolan ini jadi ke arah menu minuman.

“Kalau fotografi?”

“Suka juga.”

“Hmm.”

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Daffa akhirnya menatap gadis itu dengan pandangan curiga, pasti ada apa-apa.

“Nggak usah lihatin sampai segitunya. Kamu cuman mirip seseorang,” kata gadis itu tak acuh.

“Siapa?” tanyanya kepo.

“Rahasia.”

“Ohh oke oke, maaf udah berlagak kepo sama orang yang baru kenal.”

“Emang kita kenal?”

“Oh, kamu mau kenalan?”

Gadis itu jadi memalingkan pandangan, kembali kepada jalanan yang basah sehabis diguyur hujan, kini rintik-rintik itu tak sebanyak tadi. Gerimis kecil yang kini mengambil peran membungkus kota, motor-motor yang berteduh kembali keluar dari sarangnya.

“Sori sori kalau ganggu. Namaku Daffa. Anak SMA Arjuna Bangsa.”

“Arjuna Bangsa? Aku juga,” katanya kembali melihat Daffa, kini lebih memperhatikan lengan atas seragam sekolahnya, tapi tak terlihat bet sekolah di sana karena tertutup jaket jeans, sama seperti miliknya.

“Oh, ya? Kelas berapa? Kok kayak nggak pernah lihat.”

“Kelas 12 IPS 2. Emang nggak aktif di sekolah sih, tiap bel juga langsung pulang.”

Daffa cuman berlagak “ohh” sambil jaga jarak aman.

“Kalau kamu?” tanya gadis itu.

“Kelas 12 IPA 1. Pantes ya kayak bumi sama langit, padahal satu atap.”

Ada tawa kecil sesaat lalu senyap.

“Aku duluan, ya? Senjanya udah hampir habis, mau fotokopi berkas kelas dulu juga,” kata Daffa hendak pamit.

“Oh, iya ....”

Baru saja Daffa hendak melangkah, gadis itu berbicara lagi.

“Eh, setahuku fotokopi di Pak Makmur lagi nggak bisa sih, kalau kamu mau, aku bisa bantu fotokopi di rumah, udah ada printer yang bisa fotokopi juga.”

Daffa agak terkejut tapi berusaha jadi anak cool, padahal biasanya dia cengengesan.

“Oh, ya? Boleh tuh, beneran nggak apa-apa?” Padahal bisa saja dia fotokopi di tempat lain, tapi entah kenapa ada perasaan hatinya yang ingin berteman dengannya.

“Gak apa-apa kok, lagian tintanya suka kering kalau nggak dipake.”

“Wah, makasih banget loh. Bayarannya aku traktir cokelat panas di kafe seberang, ya?”

Kalau ada Dika dan Tama, pasti mereka sudah nyorakkin, “Modus, modus, modus!”

“Nggak usah kok, nggak apa-apa,” tolaknya sambil tertawa sungkan.

“Kamu suka cokelat panas juga, kan?”

“Iya sih ... tapi—”

“Sekali aja deh buat gantiin fotokopi. Yok!”

***

Sebenarnya gadis itu belum mengiyakan, tetapi Daffa lebih dulu beranjak menuju kafe di seberang jalan untuk membelikannya cokelat panas. Gadis itu jadi mengikutinya di belakang, masih sungkan untuk berjalan berdampingan.

Akhirnya mereka membeli cokelat panas di kafe itu. Namun, ketika hendak pulang, hujan kembali mengguyur deras. Mereka jadi duduk dulu di kafe itu sambil menunggu hujan agak reda, sambil menikmati cokelat panas kesukaan mereka tentunya, sambil mengobrol sebentar.

“... ayahku seorang disabilitas, ia kesulitan bicara. Ibu sudah meninggal. Jadi aku yang sering mengurusnya. Sehabis pulang sekolah, aku langsung ke yayasan, kami diperbolehkan tinggal di sana. Rumah kami sebelumnya yang ditempati bersama ibu, kami jual untuk pengobatan ayah,” cerita gadis itu.

“Oh begitu ...,” balas Daffa turut prihatin. “tapi tadi bukannya kamu bilang di ‘rumah’ ada printer yang bisa fotokopi?”

“Iya, rumah yang kumaksudkan itu yayasan. Rumah baruku. Pemiliknya sangat peduli sama orang-orang dan keluarga disabilitas, kami di sana jadi punya keluarga baru. Banyak hal yang kupelajari di sana, terlebih dari orang-orang yang mengajarkan arti hidup. Awalnya aku sedih banget, dulu sering diejek sama teman-teman sekolah karena punya ayah disabilitas, lalu ibuku meninggal. Tapi, Tuhan memberikan kesulitan bersama kemudahan. Datangnya nggak bergantian, datangnya bersamaan. Aku tetap diberi kehidupan dari orang lain, juga menjalani dengan syukur kehidupanku sekarang. Aku masih punya ayah, masih punya orang-orang yang mau membantu, mau bersamaku nggak cuman di saat terik, tapi tetap memberikan payung saat hujan.”

Daffa terkagum mendengar ceritanya. Seorang gadis yang ditemuinya membuatnya merasa dirinya juga beruntung dan bersyukur.

“Teman-teman kamu gimana?”

“Aku cuman punya sedikit teman. Kebanyakan orang nggak mau mendengarkan dulu, mereka cuman lihat sisi permukaan tanpa tahu dasarnya. Aku cenderung pendiam sih, karena meski aku menjelaskan juga mereka nggak memahami, mereka cuman mau menjawab.”

“Kenapa kamu percaya menceritakan semua itu sama aku?”

Gadis itu agak terkejut dan tersadar, tetapi pancaran mata Daffa kembali menghangat.

“Ehm ... nggak tahu, rasanya kamu memancarkan aura pertemanan yang baik,” jawab gadis itu polos. Daffa hampir tersedak karena ia mendengarkan sambil menyesap cokelat panasnya yang takut keburu dingin. “Aura yang sama kayak teman-teman baikku, kayak paman dan bibi di yayasan, kayak ayahku.” Mata Daffa kembali berbinar.

“Serius?”

Gadis itu tersenyum. “Hal-hal yang kamu suka tadi, sama kayak ayahku.”

“Oh, ya?” katanya sedikit terkejut. Kalau Daffa sadar, hari ini dia jadi sering melontarkan kata itu.

Gadis itu mengangguk lalu menyesap kembali cokelat panasnya.

“Kapan-kapan aku mau bertemu ayahmu.”

“Boleh.”

Setelah itu mereka mengobrol topik lain, cuman sebentar, karena hujan sudah reda dan langit semakin gelap, kali ini bukan karena hujan, tetapi waktu malam yang akan mengambil peran.

“Senang berteman denganmu, sampai jumpa lagi ....” Kalimat Daffa terpotong karena ia sadar belum tahu nama gadis di depannya ini yang sudah menceritakan sebagian kisah hidupnya.

“Aira.” Gadis itu membantu melengkapi kalimatnya. “Senang juga berteman denganmu, Daffa.”

Tags: twm18

How do you feel about this chapter?

0 0 2 0 0 0
Submit A Comment
Comments (2)
  • erlinahandayanii26

    Mantap cantikaaa, teruskan ya semoga jalan menjadi penulis lancar sukses dan dapat memberikan inspirasi lewat tulisanmu seperti yang udah kamu lakukan padaku.

    Comment on chapter 1. Gerbang Masa Lalu
  • dede_pratiwi

    sama seperti judulnya, kisahnya pun fresh dan youth sekali sekitaran masa-masa remaja yang penuh pergolakan dan percintaan. keep writing...udah kulike dan komen storymu. mampir dan like storyku juga ya. thankyouu

    Comment on chapter 1. Gerbang Masa Lalu
Similar Tags
Simplicity
150      56     0     
Fan Fiction
Hwang Sinb adalah siswi pindahan dan harus bertahanan di sekolah barunya yang dipenuhi dengan herarki dan tingkatan sesuai kedudukan keluarga mereka. Menghadapi begitu banyak orang asing yang membuatnya nampak tak sederhana seperti hidupnya dulu.
Stay With Me
6      6     0     
Romance
Namanya Vania, Vania Durstell tepatnya. Ia hidup bersama keluarga yang berkecukupan, sangat berkecukupan. Vania, dia sorang siswi sekolah akhir di SMA Cakra, namun sangat disayangkan, Vania sangat suka dengan yang berbau Bk dan hukumuman, jika siswa lain menjauhinya maka, ia akan mendekat. Vania, dia memiliki seribu misteri dalam hidupnya, memiliki lika-liku hidup yang tak akan tertebak. Awal...
Renjana: Part of the Love Series
3      3     0     
Romance
Walau kamu tak seindah senja yang selalu kutunggu, dan tidak juga seindah matahari terbit yang selalu ku damba. Namun hangatnya percakapan singkat yang kamu buat begitu menyenangkan bila kuingat. Kini, tak perlu kamu mengetuk pintu untuk masuk dan menjadi bagian dari hidupku. Karena menit demi menit yang aku lewati ada kamu dalam kedua retinaku.
Rasa yang Membisu?
4      2     0     
Romance
Menceritakan 4 orang sahabatnya yang memiliki karakter yang beda. Kisah cerita mereka terus terukir di dalam benak mereka walaupun mereka mengalami permasalahan satu sama lain. Terutama kisah cerita dimana salah satu dari mereka memiliki perasaan terhadap temannya yang membuat dirinya menjadi lebih baik dan bangga menjadi dirinya sendiri. Pertemanan menjadikan alasan Ayu untuk ragu apakah pera...
SILENT
55      6     0     
Romance
Tidak semua kata di dunia perlu diucapkan. Pun tidak semua makna di dalamnya perlu tersampaikan. Maka, aku memilih diam dalam semua keramaian ini. Bagiku, diamku, menyelamatkan hatiku, menyelamatkan jiwaku, menyelamatkan persahabatanku dan menyelamatkan aku dari semua hal yang tidak mungkin bisa aku hadapi sendirian, tanpa mereka. Namun satu hal, aku tidak bisa menyelamatkan rasa ini... M...
Trainmate
45      26     0     
Romance
Di dalam sebuah kereta yang sedang melaju kencang, seorang gadis duduk termangu memandangi pemandangan di luar sana. Takut, gelisah, bahagia, bebas, semua perasaan yang membuncah dari dalam dirinya saling bercampur menjadi satu, mendorong seorang Zoella Adisty untuk menemukan tempat hidupnya yang baru, dimana ia tidak akan merasakan lagi apa itu perasaan sedih dan ditinggalkan. Di dalam kereta in...
Renafkar
36      9     0     
Romance
Kisah seorang gadis dan seorang lelaki, yakni Rena dan Afkar yang sama-sama saling menyukai dalam diam sejak mereka pertama kali duduk di bangku SMA. Rena, gadis ini seringkali salah tingkah dan gampang baper oleh Afkar yang selalu mempermainkan hatinya dengan kalimat-kalimat puitis dan perlakuan-perlakuan tak biasa. Ternyata bener ya? Cewek tuh nggak pernah mau jujur sama perasaannya sendiri....
The watchers other world
26      13     0     
Fantasy
6 orang pelajar SMA terseret sebuah lingkarang sihir pemanggil ke dunia lain, 5 dari 6 orang pelajar itu memiliki tittle Hero dalam status mereka, namun 1 orang pelajar yang tersisa mendapatkan gelar lain yaitu observer (pengamat). 1 pelajar yang tersisih itu bernama rendi orang yang suka menyendiri dan senang belajar banyak hal. dia memutuskan untuk meninggalkan 5 orang teman sekelasnya yang ber...
My Andrean
86      26     0     
Romance
Andita si perempuan jutek harus berpacaran dengan Andrean, si lelaki dingin yang cuek. Mereka berdua terjebak dalam cinta yang bermula karena persahabatan. Sifat mereka berdua yang unik mengantarkan pada jalan percintaan yang tidak mudah. Banyak sekali rintangan dalam perjalanan cinta keduanya, hingga Andita harus dihadapkan oleh permasalahan antara memilih untuk putus atau tidak. Bagaimana kisah...
Mencintaimu di Ujung Penantianku
30      19     0     
Romance
Perubahan berjalan perlahan tapi pasti... Seperti orang-orang yang satu persatu pergi meninggalkan jejak-jejak langkah mereka pada orang-orang yang ditinggal.. Jarum jam berputar detik demi detik...menit demi menit...jam demi jam... Tiada henti... Seperti silih bergantinya orang datang dan pergi... Tak ada yang menetap dalam keabadian... Dan aku...masih disini...