Angin berbisik, daunan terpancing bergibah. Sesekali aku lihat burung terbang, barangkali tidak nyaman dengan gunjingan daun-daun. Aku terpaku menatap jilatan-jilatan api yang semakin berkobar oleh tiupan angin. Sesungguhnya ini malam yang dingin, tapi api unggun membuatku tetap hangat.
“Sudah berapa lama, ya?” Ia melanjutkan percakapan yang memang sedari tadi kita lakukan.
“Entahlah, sudah begitu lama.”
“Tapi kalian belum berubah sama sekali,” seorang pria di sampingnya datang memberikan mie instan cup.
Aku tersenyum, “Aku ingin menghabiskan malam ini bersama kalian.”
“Tentu,” seorang lagi datang, perempuan berlesung pipi, duduk di sampingku. Kami berempat melingkari api unggun dengan senyuman yang mengandung rasa masing-masing.
“Sepertinya akan hujan,” pria di depanku menengadahkan telapak tangannya. Aku menatap langit. Memang gelap sekali. Awan gelap pekat berarak cepat menyelimuti langit malam. Tidak ada dewi malam apalagi bintang. Aku menghela napas, kesal.
Belum ada percakapan lagi. Malam berlalu begitu sunyi. Hanya ada angin yang tidak henti-henti membisikkan bahan gunjingan daun-daunan. Hingga malam terus beranjak, gerimis mulai turun membekukan malam. Aku, pria di depanku dengan perempuan di sampingnya, dan perempuan berlesung pipi masuk ke vila yang sedari dulu sudah aku siapkan.
“Sudah malam, sebaiknya kalian tidur di sini saja,” ajakku pada mereka. Memang ini vila yang aku siapkan, tapi mereka seolah mulai enggan padaku.
“Kami ada acara,” pria itu tersenyum pada perempuan di sampingnya, lalu tersenyum juga padaku, “kami harus pulang sebelum hujan mulai deras.”
Aku menatap perempuan berlesung pipi. Ia langsung paham lalu tersenyum, “Aku juga harus pulang.”
Aku paksa bibirku tersenyum, “Baiklah, aku antar.”
Sebentar kemudian, aku telah memboncengkan perempuan berlesung pipi. Pria dan perempuan tadi juga telah siap dan kemudian hilang entah ke mana sesaat setelah keluar dari halaman vilaku. Aku mencoba memulai kembali percakapanku dengan perempuan berlesung pipi.
“Bagaimana pekerjaanmu?”
Suaraku tidak begitu keras, tapi jelas terdengar karena jalanan sunyi.
“Baik,” ia menjawab singkat.
“Sudah lama sekali, kamu masih ingat surat yang aku berikan sewaktu wisuda dulu?”
Ia diam cukup lama. Aku belum hendak melanjutkan perkataanku.
“Aku ingat.”
Aku tersenyum, “bagaimana jika sekarang?”
Bertepatan dengan kalimat itu, aku menghentikan motor. Ia turun, aku menatapnya dengan senyuman, “Sampai.”
Ia tersenyum, belum menjawab pertanyaanku.
“Lupakanlah aku. Aku sudah tidak mungkin mendampingimu.”
Entah kenapa, setelah mendengar jawabannya itu, langit seolah ikut terkejut dan mengirimkan petirnya yang begitu menggelegar memecah hening malam. Aku tersenyum kelu. Perlahan, ia berjalan menjauh. Sementara tetes demi tetes air mulai jatuh dari gumpalan awan hitam di atas sana. Tidak berbeda dari mataku yang mulai mengalirkan sungainya. Aku taklagi mampu menahannya.
Aku melambaikan tangan mengantar kepergiannya, “Akupun tahu itu....”
Kira-kira sebelas meter dari tempatku berdiri, seorang pria separuh baya mendekatiku bergegas. Aku tidak sadar waktu itu hingga pria paruh baya menepuk pundakku, “Sedang apa mas melambai-lambai di kuburan?”
Aku tersentak. Kuburan?
Di saat yang sama, ada ingatan yang langsung menjejal kepalaku, bahwa perempuan berlesung pipi telah meninggal seminggu yang lalu. Pria dan wanita yang menemaniku di depan api unggun merasa berduka karena seharusnya hari ini adalah hari pertunanganku dengan perempuan berlesung pipi.
Aku terbelalak. Air mataku mengucur lebih deras. Hujan ikut menghujam deras.