Jika kamu memang untukku,
Tak peduli seberapa mahirnya kau bersembunyi
Dan seberapapun jarak memisahkan
Pada akhirnya takdir akan mempertemukan kita kembali
Karena Tuhan telah menuliskan nama kita di takdir yang sama
Subuh ini Ara sibuk merapikan dan mengemasi semua barang-barangnya. Pasalnya ia sudah menyelesaikan tugasnya di Kantor cabang ini dan di mutasikan kembali ke Kantor pusat yang berada di kota tempat tinggalnya. Beberapa hari lagi, Ara akan meninggalkan kota ini, kota dimana ternyata tempat orang itu berada. Orang yang selama ini dicintainya meski tak pernah mampu untuk di ucapkannya. Awalnya Ara tak tahu bahwa ini adalah kota dimana orang yang dicintainya itu tinggal, namun setelah ingatannya kembali dan karena suratan takdir beberapa waktu lalu dimana ia dipertemukan kembali dengan lelaki yang dicintainya itu.
Setelah selesai dengan kesibukannya, Ara membuka laptopnya dan kembali membaca setiap tulisan yang pernah ia tulis sebelumnya. Ketika ia hilang ingatan dulu, ia sangat penasaran tentang siapa sebenarnya seseorang yang menjadi fokus dari semua puisi-puisi yang ditulisnya dulu. Namun, ketika ia mendapatkan kembali ingatannya barulah ia tahu bahwa seseorang itu adalah Egha, Erlangga Satya Pradipta. Ya, dia..hanya kepada dialah semua fokus tulisan dalam puisi-puisi yang Ara susun.
“Takdir itu lucu ya, Gha. Disaat aku benar-benar sudah bisa melepaskanmu, Tuhan malah mempertemukan kita kembali. Bahkan dengan cara yang tidak kita duga sebelumnya,” gumam Ara.
*****
Erlangga mengendarai mobilnya menuju ke sebuah kompleks perumahan sesuai dengan alamat yang tertera pada sebuah kertas kecil yang diberikan oleh mamanya beberapa waktu lalu. Ia kemudian sampai di depan sebuah rumah bercat biru sesuai dengan alamat itu, ia memarkir mobilnya di sebuah lahan kosong di dekat lapangan tak jauh dari rumah itu, kemudian segera turun dan menuju ke rumah yang tak jauh dari jangkauannya itu. Namun tiba-tiba ketika ia melihat daerah sekelilingnya, ia baru sadar bahwa daerah itu taka sing baginya. Ia masih belum sadar kalau ia sering melintas di daerah itu sampai seseorang menepuk pundaknya. Erlangga menoleh ke belakang dan begitu terkejut mendapat tiga orang yang sangat di kenalnya itu berdiri di hadapannya.
“Haahh….Vin, Ndi, Fer…kalian ngapain disini?” tanya Erlangga dengan kening berkerut.
“Lahh…kok malah loe yang nanya sih…,” cetus Ferdhy.
“Iya, Gha…harus nya gue yang nanya ke loe…Loe yang ngapain disini. Pakek parker mobil di lapangan, kenapa nggak langsung masukin garasi aja…,” tambah Vino.
“Haaahhh….,” lagi-lagi Erlangga terkejut bukan main. “Garasi siapa?” tanyanya yang tentu saja membuat ketiga temannya tertawa keras.
“Astaga Gha, jarang ketemu beberapa bulan terakhir loe kok jadi kayak orang bego sih,” ucap Andy.
“Iya Gha, jangan bilang loe lupa sama rumah gue…,” ucap Vino.
“Mak..maksud loe? Gue nggak ngerti…,” ucap Erlangga masih dengan kebingungannya. “Astaga..!!! ini beneran daerah rumah loe ya Vin…,” ucap Erlangga setelah meneliti daerah sekelilingnya.
“Astafirullah..loe beneran lupa rumah gue Gha…?” tanya Vino. Erlangga pun mengangguk mengiyakan.
“Pantesan gue ngerasa gak asing dengan tempat ini. Itu rumah loe kan…,” ucap Erlangga sembari menunjuk rumah yang terkesan mewah milik Vino. Vino pun mengangguk mengiyakan.
“Berarti loe kesini memang nggak da maksud buat datang ke rumah gue dong?” tanya Vino.
“Iya, gue emang nggak ada tujuan buat ngunjungin kalian bertiga hari ini. Gue baru balik dari Jakarta kemarin, dan gue rencananya mau ke tempat kalian bertiga besok. Eh gak tahunya malah ketemu kalian disini…,” jelas Erlangga sementara ketiga sahabatnya itu manggut-manggut.
“Lah, terus kalau loe gak da maksud ke rumah gue, loe ngapain disini?” tanya Vino.
“Iya, Gha…loe ngapain ke daerah sini…,” tambah Ferdhy.
“Gue kesini mau nyari alamat ini…,” ucap Erlangga dengan memberikan secarik kertas kecil kepada Vino.
Ketiga sahabat Erlangga mengernyitkan dahi mereka setelah membaca alamat yang tertera di kertas kecil yang diberikan oleh Erlangga sebelumnya.
“Loe, serius mau nyari alamat ini?” tanya Ferdhy dengan penuh selidik.
“Iya, gue serius, ngapain juga gue main-main. Tau nggak saking seriusnya gue nyari itu alamat sampai gue gak sadar kalau ini daerah rumah loe…,” ucap Erlangga. Erlangga menatap ketiga temannya yang seolah memasang wajah penasaran dan hendak menginterogasi dirinya.
“Apa hubungan loe dengannya?” tanya Vino penuh selidik.
“Iya, kenapa loe bisa kenal dia?” tanya Ferdhy dengan tatapan penuh selidik juga.
“Iya, katanya loe bilang nggak mau ikut bersaing buat ngedapetin cewek itu, eh sekarang loe malah datengin rumahnya. Jangan-jangan loe coba nyuri start dari kita-kita ya…?” tambah lagi pertanyaan dari Andy yang membuat Erlangga makin mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti dengan apa yang mereka maksud.
“Apa sih maksud kalian, gue nggak ngerti…,” ucap Erlangga. Ketiga sahabatnya yang sedari tadi menatap wajah Erlangga melihat bahwa Erlangga memang benar-benar kebingungan dengan pertanyaan mereka.
“Ini alamat rumah kontrakannya Aerylin, Gha,” ucap Vino.
“Iya, atau lebih tepatnya Aerylin Bellvania Az-Zahra…,” tambah Ferdhy.
“Haahhh….bagaimana kalian bisa tahu?” tanya Erlangga dengan penuh kebingungan menatap ketiga sahabatnya itu.
“Bagaimana nggak tahu Gha, kami sudah mengincar gadis itu dari kapan hari…,” cetus Andy.
“Maksud loe…?” Erlangga makin bingung dengan teka teki ini.
“Aerylin Bellvania Az-Zahra, adalah gadis berjilbab panjang inceran kami bertiga yang pernah kami ceritakan ke kamu dulu Gha…,” jelas Vino.
“Astafirullah….jadi gadis yang kalian maksud itu Ara? Gadis inceran kalian bertiga yang sering kalian liat di balkon tiap sore adalah Ara? Jadi….Ara…gadis itu…selama ini mengontrak disini….?” tanya Erlangga bertubi-tubi yang di jawab anggukan oleh ketiga sahabatnya.
“Tunggu dulu, Ara…Memang kamu kenal dia? Kenapa kamu manggil dia Ara? Namanya Aerylin, Gha…,” jelas Vino.
“Tentu saja gue kenal dia. Gue memang biasa manggil dia Ara sejak dulu,” ucap Erlangga.
“Sejak dulu? Maksud loe?” tanya Vino.
“Dia orang nya Vin. Gadis yang gue cari-cari sejak dulu. Gadis yang ngebuat gue nggak pernah bisa berhenti mikirin dia. Dia orangnya Vin, dia yang kalian kenal dengan nama Aerylin..,” jelas Erlangga yang tentu saja membuat ketiga temannya melotot saking terkejutnya.
“Astaga…!!! Benarkah itu?” tanya Ferdhy tak percaya.
“Jadi, gadis yang sejak dulu loe cari-cari keberadaannya itu ternyata ada di sini. Di dekat loe…?” tambah Andy. Dan pertanyaan-pertannyaan itu di jawab anggukan oleh Erlangga.
“Astaga…!! Gue nggak nyangka….,” cetus Vino.
“Gue juga…,” ucap Erlangga.
“Jadi, gimana ceritanya loe bisa nemuin dia sekarang?” tanya Vino.
“Ceritanya panjang Vin, gue akan ceritain semuanya ke kalian bertiga, sebelum gue menemuinya,” ucap Erlangga yang di jawab anggukan oleh Vino, Andy dan Ferdhy. Dan akhirnya mereka bertiga pun menuju bascam, yaitu di rumah Vino. Erlangga bermaksud untuk menceritakan terlebih dahulu tentang semuanya kepada ketiga sahabatnya itu sebelum ia menemui gadis yang dicintainya itu.
*****
Aku melangkahkan kakiku kembali menuju ke rumah bercat warna biru itu. Setelah menceritakan semuanya kepada ketiga sahabatku itu, aku merasa lega dan ketiga sahabatku itupun mendukung tujuanku, meski dengan begitu mereka harus berhenti untuk berusaha mendapatkan Ara. Aku masih ingat perkataan mereka dan semangat yang mereka berikan kepadaku sebelum langkah kakiku hanya berjarak beberapa meter di depan rumah biru itu.
“Takdir itu ternyata unik. Dia tepat berada di samping loe dan di dekat loe selama ini. Tapi, loe malah nggak tahu dan nyari dia kemana-mana,” ucap Andy.
“Iya, Gha… Namun, pada akhirnya, Tuhan kembali mempertemukan kalian dengan cara yang juga unik setelah kalian dipisahkan dengan jarak dan waktu yang sangat panjang,” kata Ferdhy.
“He’em dan semoga saja ini pertanda Tuhan, Gha. Bahwa loe dan dia memang di gariskan dalam takdir yang sama olehNya. Sekarang tunggu apalagi, dia ada di sini sekarang dan jangan loe sia-siakan kesempatan yang Tuhan beri buat loe,” ucap Vino.
Aku menarik napas panjang. Entah mengapa kali ini aku merasa gugup hendak mendemui Ara. Padahal dulu tak pernah sedikitpun aku merasa segugup ini. Apa ini karena aku tidak bertemu dalam waktu yang lama dengannya? Ah, Entahlah, yang jelas aku hanya akan menemuinya dan menyelesaikan semua yang mengganjal di hatiku. Ku ketuk pintu rumah bercat biru yang halamannya penuh dengan bunga-bunga yang sangat cantik itu. Tidak berapa lama, seorang gadis dengan baju tidur khasnya yang bergambar cartoon dengan jilbab langsungan berwarna putih itupun membukakan pintu dan menatapku dengan tatapan tak percaya. Hal itu mungkin karena keterkejutannya melihatku tiba-tiba berada di rumahnya.
“Assalamu’alaikum….,” ucapku dengan gugup.
Masih dengan tatapannya yang terkejut melihatku gadis itupun menjawab salamku.
“Wa’alaikum salam..,” jawabnya.
Keheningan pun tercipta beberapa saat ketika ia menyuruhku untuk duduk di ruang tamu. Dia bergerak masuk ke dalam ruangan yang ku tebak itu adalah dapur, karena ia kemudian kembali dengan membawa secangkir teh hangat dan menghidangkannya untukku.
“Bagaimana kamu bisa kesini?” tanyanya kemudian memecah keheningan diantara kita.
“Oh..itu…itu dari mama. Ya, aku dapat alamat rumahmu dari mama…,” jelasku gugup yang mungkin dapat dilihatnya kegugupanku karena ia tersenyum kecil ke arahku.
“Ah, begitu…jadi…Tante Rahayu yang memberikan alamat rumah kontrakanku..,” ucapnya yang kemudian ku jawab dengan anggukan. Untuk menghilangkan kegugupanku aku melihat rumah itu sekeliling dengan mataku yang mengedarkan pandangannya menyapu kesetiap penjuru rumah kontrakannya. Namun, tiba-tiba bola mataku membesar ketika ku lihat beberapa tas dan kardus tertata rapi di depan pintu sebuah ruangan. Dan akupun merasakan sesak seketika, menerka-nerka hal itu.
“Apa kamu mau pergi?” tanya kemudian, karena rasa penasaranku. Dia pun mengangguk kecil menjawab pertanyaan ku. Aku menatapnya tajam kemudian, setelah mengetahui jawaban itu.
“Kenapa kamu pergi. Kenapa harus pergi lagi. Kamu tahu aku mencarimu kemana-mana, beberapa tahun yang lalu. Dan kamu tahu betapa frustasinya aku ketika aku tidak menemukanmu, aku bahkan mendatangi rumah tempat tinggalmu meski harus tersasar beberapa kali karena aku lupa jalannya. Tapi, nggak tahunya selama beberapa tahun yang lalu kamu berada tepat di dekatku namun kita tidak pernah bertemu. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk melepaskanmu dan mencoba mengikhlaskanmu. Tapi, ketika Tuhan mempertemukanku kembali denganmu beberapa waktu lalu, aku merasa senang. Dan aku tidak mau lagi melepaskanmu. Tidak! Aku tidak mau melewati hari-hari yang buruk itu lagi. Jadi ku mohon jangan pergi. Jangan pergi lagi dan tetaplah disini…,” ucapku panjang lebar dalam satu tarikan nafas. Aku bahkan tidak sadar kalau aku tengah dalam posisi berdiri saat ini.
Aku yang menyadari tingkah dan pernyataan konyolku itu kini kembali duduk dari posisi berdiriku semula. Aku melihat gadis itu menatapku dengan tatapan penuh tanya setelah mendengarkan pernyataanku itu. Dan aku tak mengerti harus berbuat apa. Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal kemudian untuk menyembunyikan kegugupanku atas tingkah konyolku itu. Keheningan kembali tercipta diantara aku dengannya kemudian hingga akhirnya ku dengar suaranya bertanya padaku.
“Kenapa?” tanyanya singkat. Aku terkejut mendengar pertanyaannya. Aku kembali menatap wajahnya namun dia malah menundukkan wajahnya. Entah apa yang dia lihat dari lantai putih itu, yang jelas saat ini dia tengah fokus pada lantai putih di bawah kakinya itu daripada melihat wajahku selepas ia mengajukan pertanyaan itu.
“It…itu…kar…karena…aku ingin kamu selalu bersamaku….,” ucapku. Dia menatapku dengan wajah terkejutnya begitupun dengan diriku sendiri, aku juga terkejut bahwa kata-kata itu keluar dari bibirku. Beberapa detik berikutnya dia pun tertawa dengan anggunnya dan aku tak mengerti alasan kenapa dia tertawa seperti itu. Aku berpikir apa ini semua karena tingkah konyolku?
*****
Ceritanya bagus, menginspirasi.
Comment on chapter Di Batas Rindubaca ceritaku juga ya,