Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
~Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana, Sapardi Djoko Darmono~
Ara masih belum bisa menghentikan tawanya karena pernyataan lelaki yang kini duduk di hadapannya itu. Namun, kemudian ia menghentikan tawanya ketika ia melihat wajah kesal lelaki itu. Ia masih ingat dengan jelas bahwa wajah yang ditampakkan oleh lelaki itu detik ini adalah wajah kesalnya yang dikenalnya sejak dulu.
“Kenapa kamu tertawa?” tanya Erlangga dengan mengerucutkan bibirnya karena kesal.
“Apa ada larangan untuk tertawa?” tanya Ara balik yang membuat Erlangga kembali mendengus kesal. Ara yang kemudian tidak tega lelaki itu menahan kesalnya akhirnya menghentikan tawanya dengan senyum simpulnya. “Aku hanya tidak percaya seorang Erlangga bisa berkata seperti itu….,” ucap Ara.
“Karena itukah kamu tertawa?” tanya Erlangga.
“Ya, tentu saja. Kamu pikir kenapa aku tertawa?”
“Astaga…kenapa kamu sekarang jadi selalu membalikkan pertanyaanku Ra..,” dengus Erlangga kesal.
“Hahaha…benarkah? Memangnya dulu aku tidak begitu?” tanya Ara.
“Iya, tentu saja. Kamu dulu dikenal sebagai gadis yang lugu dan pendiam…,”
“Benarkah? Itu berarti mereka tidak mengenalku jika berpikiran seperti itu…,”
“Ya, tentu saja mereka tidak mengenalmu. Mereka tidak mengenalmu dengan baik sampai mereka tahu bahwa ternyata dirimu itu bukan sependiam yang mereka kira. Kamu itu cerewet, suka memerintah kadang-kadang, kalau punya keinginan selalu pingin di turutin, dan kamu juga gampang ngambek dan kesal. Bukan seperti sekarang yang malah membuat orang lain yang merasa kesal dengan kelakuanmu…,” jelas Erlangga.
“Wow….aku nggak nyangka kalau kamu tahu semua sifatku. Itu berarti kamu cukup mengenalku dengan baik ya?” ucap Ara.
“Ya, tentu saja. Aku mengenalmu dengan cukup baik dibandingkan dengan yang lainnya. Memangnya kamu pikir kenapa aku bisa tahu kalau kamu tidak suka makan ayam dan tidak bisa berenang saat kita bertemu di acara reuni saat itu kalau aku tidak mengenalmu,” ucap Erlangga. Erlangga melihat Ara yang manggut-manggut mendengar penjelasannya.
“Aku juga tahu yang lainnya tentang kamu…,” ucap Erlangga dengan senyum simpulnya, yang tentu saja membuat Ara kemudian menatapnya dengan saksama dan menunggu penjelasan lelaki itu.
“Benarkah? APa hal lainnya yang kamu ketahui tentangku?” tanya Ara penasaran dengan apa yang akan dijelaskan oleh lelaki dihadapannya itu.
“Em…aku tahu kamu phobia sama ular, takut gelap, paling tidak suka dengan film horror dan lebih suka menonton drama korea romantis, selain drama korea, kamu juga sangat menyukai anime sama sepertiku, terus selain itu….,” ucap Erlangga sembari menjentikkan tanggannya di bibirnya seraya mengingat-ingat.
“Kamu menjadi takut dengan suara ambulance sejak ibumu meninggal dan dibawa oleh mobil jenazah ke rumahmu, kamu juga mempunyai kebiasaan aneh seperti suka mengobrol dengan benda mati entah itu handphone atau laptopmu, kamu mudah sekali menangis jika itu menyangkut ibu atau keluargamu, kamu mudah cemas setiap kali menghadapi masalah, tapi satu hal yang jadi kebiasaan baikmu adalah kamu suka sekali menulis terutama novel dan puisi, selain itu juga kamu lebih suka menghabiskan waktu senggangmu di perpustakaan dengan sekumpulan buku dibandingkan dengan hangout bersama dengan teman-temanmu. Dan hal itulah yang membuat kamu dijuluki sebagai perpustakaan berjalan oleh teman-temanmu karena setiap mereka mengajukan pertanyaan apapun, kamu pasti bisa menjawabnya layaknya mbah google..,” jelas Erlangga panjang lebar. Ara yang mendengar semua penjelasan detail Erlangga menatap lelaki itu tidak percaya bahwa lelaki itu benar-benar tahu banyak hal tentang dirinya dan bahkan lelaki itu masih mengingatnya sampai sekarang termasuk dengan kebiasaan buruknya itu.
Erlangga yang sadar bahwa Ara kini tengah menatapnya dengan raut wajah tidak percaya hanya menyunggingkan senyumnya menanggapi ekspresi gadis itu.
“Sejak kapan?” tanya Ara kemudian.
“Apanya?”
“Sejak kapan kamu bisa tahu semuanya tentangku? Apa kamu menyewa mata-mata untuk menyelidikiku?” selidik Ara.
“Hahaha….memangnya kamu siapa sampai aku harus buang-buang uang buat menyelidikimu…,” ucap Erlangga.
“Ah…kamu benar, aku bukan siapa-siapa kan… Bukankah sejak dulu kamu selalu bertanya tentang hal itu…?” ucap ARa tanpa maksud tertentu dan hanya ingin mengajak bercanda lelaki itu. Namun, lelaki itu mempertajam tatapan matanya pada dirinya dan bukannya menanggapi pertanyaan yang lebih mengarah pada pernyataan itu.
“Kamu mengingatnya?” tanya Erlangga dengan raut wajah penuh rasa penasaran. Ara terkejut mendengar pertanyaan Erlangga. Ia tidak tahu bahwa lelaki itu bisa mengetahui kembalinya ingatannya hanya dari pernyataan kecil yang ia ucapkan.
“Kamu mengingatnya. Iya kan?” tanya Erlangga lagi yang kemudian di jawab Ara dengan anggukan kecil.
“Sejak kapan? Tanya Erlangga lagi.
“Apanya?”
“Sejak kapan kamu mendapatkan ingatanmu kembali Ara?” tanya Erlangga sedikit geram.
“Sejak beberapa bulan yang lalu…,”
“Beberapa bulan yang lalu. It…itu berarti saat kamu bertemu kembali denganku di rumah, kamu sudah mengingatku?” tanya Erlangga yang kembali di jawab anggukan oleh Ara.
“Itukah sebabnya kamu mengatakan hal itu? Itukah sebabnya kamu mengucapkan kata ma’af padaku?” tanya Erlangga lagi yang tentu saja dijawab anggukan oleh Ara. “Kenapa?”
“Hmmm…?”
“Kenapa kamu meminta ma’af Ara…?”
“It…itu…karena aku merasa bersalah….aku sudah cukup sering mengganggumu dulu….,” ucap Ara yang kini dengan raut wajah sendu.
“Omong kosong, kenapa kamu merasa bersalah, kenapa kamu berpikiran bahwa kamu menggangguku? Aku tidak pernah merasa terganggu olehmu..aku tidak pernah….,”
“Lalu kenapa kamu menjauh Gha? Kalau bukan karena merasa terganggu dengan keberadaanku kenapa kamu menjauh…?”
“Karena aku bingung dengan situasi saat itu. Aku bingung bagaimana caraku untuk menghadapimu. Sejak ada sebuah perasaan lain yang muncul dari diriku untukmu, aku..aku tidak mengerti bagaimana caranya agar aku dapat menyembunyikannya setiap kali aku berada di dekatmu…..,” jelas Erlangga.
“Gha….kamu…..,”
“Ma’afkan aku Ra, harusnya aku yang mengatakan itu..,” ucap Erlangga sembari meneguk salivanya dengan sudah payah sebelum akhirnya berkata-kata lagi. “Ma’afkan aku karena aku menghindarimu, ma’afkan aku karena aku tiba-tiba menghilang dan tidak ada lagi disisimu saat kamu butuh, ma’afkan aku karena aku sering bersikap kasar kepadamu, ma’afkan aku..karena aku…aku..bersikap egois saat itu….,” ucap Erlangga dengan wajah sendu yang sama seperti Ara. Rasa sesak di dadanya perlahan hilang setelah ia mengatakan satu kata itu pada Ara. Satu kata dimana dia sering mendengar Ara mengatakan itu padanya, sementara dirinya baru pertama kalinya mengucapkan kata itu pada Ara, padahal kesalahannya lebih banyak dan lebih besar dari Ara.
Ketegangan diantara mereka pun akhirnya mereda ketika terucap satu kata itu dari bibir Erlangga. Satu kata itu seolah mampu menghapus segala luka yang ada di hati Ara, begitu pula dengan Erlangga yang merasakan kelegaan setelah kata itu meluncur dengan mulus dari bibirnya.
“Ternyata memang benar ya kata orang. Bahwa manusia itu sangat sulit mengatakan dua kata dalam hidupnya, satu adalah ma’af dan yang kedua adalah terima kasih,” ucap Erlangga.
“Ya, kamu benar. Tapi,,,,bukankah kamu bisa mengatakannya? Kamu hebat berarti…,”
“Hebat apanya? Jika ada orang yang lebih hebat dariku maka itu adalah dirimu,”
“Hah…kenapa?”
“Karena kamu lebih sering mengucapkan kedua kata itu padaku…,”
“Hah…astaga….sejak kapan kamu belajar memuji orang Gha…,” ucap Ara yang tentu saja mendapat kekehan dari Erlangga. “Sudah-sudah…ayo makan siang, sudah waktunya makan…,” ucap Ara.
“Kamu masak?”
“Iya, aku sudah masak tadi. Tinggal panasin sup aja…,” ucapnya. Dan kemudian keduanya pun makan siang bersama.
*****
Hari sudah menjelang sore, tapi Erlangga masih saja belum mau pulang. Padahal Ara sudah memakai segala cara untuk mengusir lelaki itu, tapi tetap saja lelaki itu tak beranjak dari tempat duduknya di rumah Ara.
“Astaga…Gha..kamu beneran nggak mau pulang?” tanya Ara dan dijawab gelengan kepala oleh Erlangga. “Pulang sana, nggak baik tahu seorang lelaki bertamu terlalu lama di rumah seorang gadis, nanti jatuhnya timbul fitnah…,”
“Nggak mungkin timbul fitnah Ra, toh pintu rumah kamu terbuka lebar tuh…semuanya bahkan tahu kalau aku dan kamu nggak lagi ngapa-ngapain…,” ucap Erlangga.
“Ish…kamu tuh ya, pokoknya pulang sana sekarang, nanti orang tua kamu nyariin…,”
“Mana ada, orang aku kesini juga dapat izin dari mama jadi dia nggak mungkin bakal khawatir nyariin aku…,”
“Haahhh….jadi Tante Rahayu…..,”
“That’s right sesuai dugaanmu mama sudah tahu semua tentang kita, bahkan Ares juga….,”
“Astaga…!!! Memalukan….,” ucap Ara sembari menutup kedua wajahnya dengan tangannya.
“Haahhh…apanya yang memalukan?”
“Ya memalukan, Gha…memalukan ya memalukan…,” ucap Ara. Bagaimana mungkin tidak memalukan kalau Ara pernah bercerita tentang seseorang yang disukainya dulu pada Rahayu yang ternyata adalah mama lelaki itu. Dan setelah mendengar cerita dari Erlangga yang mungkin gak jauh berbeda dengan ceritanya pasti wanita separuh baya itu tahu sekarang siapa lelaki yang Ara ceritakan kepadanya dulu. Namun, melihat dari wajah Erlangga yang kebingungan, Ara tahu bahwa Rahayu belum menceritakan tentang cerita yang pernah diceritakan Ara kepadanya.
“Ish…kamu kenapa sih, jadi aneh gitu,” ucap Erlangga yang langsung mendapat tatapan tajam dari Ara.
Keheningan kembali tercipta diantara keduanya sampai Erlangga memecahkannya dengan sebuah pertanyaan.
“Jadi..bagaimana?”
“Apanya yang bagaimana?”
“Tentang permintaanku tadi…?”
“Permintaan yang mana Erlangga…,”
“Itu..permintaanku yang memintamu jangan pergi. Kamu mau mengabulkannya kan…?”
“Ish…mana ada, aku tetap harus pergi…,”
“Kemana lagi? Kemana lagi kamu akan pergi..,” gerutu Erlangga.
“Kamu tahu kemana harus mencariku kalau aku pergi Erlangga….,” ucap Ara.
“Benarkah?”
“Tentu saja. Ikuti kata hatimu, dan kamu akan menemukan dimana keberadaanku..,”
“Ra, sebenarnya kamu mengerti nggak sih omonganku yang tadi…,”
“Aku mengerti Erlangga…sangat mengerti,”
“Trus, jawabannya apa? Iya atau tidak?”
“Haahhh…,”
“Ini tentang yang tadi ituloh Ra, tentang pernyataanku yang terakhir tadi. Apa tanggapanmu?”
“Kamu akan menemukan jawabannya ketika kamu berhasil menemukanku kembali. Jadi, sekarang kamu lebih baik pulang, karena aku mau istirahat untuk perjalananku besok,” jelas Ara.
“Astaga…!!! Sungguh kejamnya kamu mengusirku. Kenapa kamu harus pergi tiba-tiba sih. Memangnya kamu nggak pamit dulu sama mama?”
“Aku sudah pamit kok sama Tante Rahayu jauh-jauh hari,”
“Haahh…jadi mama tahu…,”
“Iya, tentu saja….,”
“Itu berarti mama juga tahu kemana kamu akan pergi?” tanya Erlangga yang dijawab gelengan kepala oleh Ara.
“Mama kamu sengaja nggak aku beritahu….,”
“Lah terus gimana aku mencari kamu nanti kalau kamu pergi…,”
“Erlangga Satya Pradipta, bukankah sudah aku bilang tadi kalau kamu bisa ikutin kata hati kamu untuk menemukanku kembali…,”
“Bagaimana mungkin kamu menyuruhku meletakkan kepercayaanku pada hatiku Ra, sementara kamu sendiri tahu bahwa hati mudah berubah,”
“Tidak, hati tidak akan mudah berubah jika kamu meminta ketetapan pada sang pemilik hati Egha…,” ucap Ara terakhir kalinya sebelum akhirnya ia menutup pintunya dengan paksa dan menatap punggung lelaki itu yang menjauh dari halaman rumahnya lewat jendela kaca.
*****
Ceritanya bagus, menginspirasi.
Comment on chapter Di Batas Rindubaca ceritaku juga ya,