Baby I think about you
And I feel it, deep in my heart
Maybe we just ain't meant to be something
Maybe we are?
I just wanna dive in the water, with you
Baby, we can't see the bottom
It's so easy to fall for each other
I'm just hoping we catch one another
~ No Promises, Cheat Codes ~
Beberapa hari setelah kejadian dia mengingat beberapa penggalan kenangan dalam ingatan masa lalunya itu dia merasa ada yang aneh dalam dirinya. Dia menyadari sesuatu akhirnya dia pun melakukan panggilan pada seseorang diseberang sana.
Ara Calling :
“Assalamu’alaikum, Mas….”
Mahdi Calling :
“Wa’alaikum salam… Iya Ra, ada apa?”
Ara Calling :
“Mas Mahdi apakah free hari sabtu esok?”
Mahdi Calling :
“Iya Ra…,”
Ara Calling :
“Em…em…apa bisa Mas Mahdi datang ke Sragen ? Ada sesuatu yang ingin Ara tanyakan, tapi tidak bisa melalui telepon..,” jelas Ara.
Mahdi Calling :
“Iya baiklah, lagipula Mas juga memang berencana untuk mengunjungimu besok..,”
Ara Calling :
“Ya, sudah kalau begitu Mas. Sampai bertemu hari Sabtu esok. Terima kasih…,”
Mahdi Calling :
“Ya, sama-sama…,”
Ara Calling :
“Wassalamu’alaikum…,”
Mahdi Calling :
“Wa’alaikum salam…,”
Tuuutttt…tuuuuttt…..tuuuttt…………………….
Ara pun menutup panggilannya pada Mahdi. Dia masih saja merasa penasaran dengan berbagai ingatan-ingatan masa lalunya yang kembali namun hanya samar-samar yang dapat di ingatnya. Hingga dia memutuskan untuk membertahu Mahdi esok hari saat mereka bertemu. Kini dia kembali menatap leptopnya yang menampilkan beberapa foto di masalalunya. Dia mendengus agak keras namun segera mengclose tampilan foto-foto yang ada di layar monitor laptopnya dan segera membuka file yang berisi beberapa novel yang ditulisnya dulu yang belum selesai ditulisnya.
Namun tiba-tiba ketika menscroll pilihan file-file itu dia menemukan beberapa file puisinya dan membaca salah satunya yaitu file puisi yang berjudul “Semua Tentangmu”, di bukanya file itu yang kemudian menampilkan beberapa judul puisi di dalamnya. Di bacanya salah satu puisi yang berada dalam file yang berisi kumpulan beberapa judul puisinya itu dengan judul yang sama seperti judul file tersebut sembari mengingat-ngingat kapan dan untuk siapa tepatnya puisi itu dilusnya, karena meskipun tertera tanggal di bagian bawah puisi itu, dia tetap tak mengingat kepada siapa puisi itu ditujukannya.
SEMUA TENTANGMU
Mungkin, kau tak akan pernah mengerti
Setiap kata yang ku ukir dengan tinta di kertas putih ini
Setiap rasa yang tercurah dengan air mata yang mengiringi
Semua tentangmu, hanya tentangmu
Masih tentangmu,,,
Sebuah kisah singkat hidupmu yang pernah kau ceritakan dulu
Tak akan pernah lelah ku uraikan
Dengan ingatan yang sesekali menjelajah
Pada setiap kenanganku denganmu di masa lalu
Beribu kata yang kurangkai tak akan pernah selesai
Jika pena ini mengukir tiap aksara membentuk rangkaian namamu
Aku hanya berani menulis rasaku untukmu pada kertas putih ini
Aku hanya berani bercerita pada-Nya di setiap sujudku
Ketika kerinduan padamu tiba-tiba merengkuhku
Biarkan aku tetap mencintaimu meski hanya dalam diam
Biarkan aku tetap mencintaimu meski hanya lewat untaian kata tersembunyi
Yang mungkin tak kan pernah kau jamah maknanya
Aku ingin mencintaimu seperti udara
Yang tak akan dapat kau lihat namun dapat kau rasa
Aku ingin mencintaimu layaknya hujan
Yang akan selalu kembali meski jatuh berkali-kali
Mungkin bagimu aku tak kasat mata
Yang tak pernah kau ketahui kehadirannya
Yang tak kau mengerti perasaannya
Tentangmu, semua tentangmu
Dan masih tentangmu..
Cerita panjang yang kuraikan dalam kertas putih ini
Setiap rangkaian kata-kata manis yang ku pintai ini
Dan setiap do’a yang kurapalkan dalam sujudku dipertengahan malam
Semua tentangmu...
Masih tentangmu...
Dan selamanya hanya tentangmu...
“Siapa sebenarnya dia, yang menjadi inspirasiku dalam puisi ini?” batin Ara ketika ia telah selesai membaca salah satu puisinya itu.
*****
Aku tak lagi mencarinya kali ini. Bukan, tentu saja bukan karena aku menyerah, hanya saja kali ini aku hendak menata hatiku terlebih dahulu. Sebelum aku berhasil menemukannya, aku akan mencari tahu dulu apa yang sebenarnya hatiku inginkan, agar ketika aku bertemu kembali denggannya nanti hatiku tidak lagi goyah dan tidak berakhir menyakitinya seperti dulu. Yah, aku sadar terlampau banyak kesakitan yang ku buat padanya adalah karena aku tidak bisa menetapkan dimana seharusnya hatiku tinggal.
Aku merasa nyaman dengannya, bersamanya aku tak perlu menjadi orang lain. Aku bisa menjadi aku apa adanya karena dia menerima semua hal tentangku, entah itu kelemahan atau kelebihannya sekalipun yang jelas adalah kekuranganku yang lebih banyak di banding dirinya. Dia selalu sabar menghadapiku, menghadapi sikapku yang selalu berubah-ubah seketika dan aku masih ingat saat temannya mengataiku “bunglon” dan dia hanya tersenyum menanggapinya dan tetap sabar dengan tingkahku yang menjengkelkan itu. Aku tahu kenapa sampai-sampai aku mendapat predikat seperti itu dari sahabatnya, yah..itu semua memang karena aku selalu bertindak seenaknya padanya yang jelas saja mungkin tidak hanya sahabatnya yang memberiku predikat seperti itu namun semua teman-temanku yang juga tentu saja teman-temannya jika melihat sikapku padanya.
Aku bisa bersikap baik padanya, bersikap cuek, dingin, menjahilinya, memarahinya atau bahkan mendiamkannya hanya dalam satu waktu. Aneh bukan? Ya, aku memang seperti itu namun yang ku bingungkan adalah kenapa hanya dengannya aku merasakan semua perasaan aneh itu dalam waktu yang bersamaan? Padahal jika dengan yang lainnya aku hanya menampilkan dua sisiku yang semua orang tahu yaitu baik kepada beberapa teman yang ku suka atau bersikap cuek kepada teman yang kurang kusukai.Aku kembali membuka Al-Qur’an terjemahan kecil berwarna coklat, hadiah yang ku dapatkan darinya saat terakhir kali aku bertemu denggannya.
Dia menulis sebuah pesan di kertas kecil itu yang mengatakan : Selamat atas kelusannya temanku. Ini sebuah hadiah kecil dariku. Entah kau menganggapnya sebagai apa : apakah sebagai hadiah kelulusan, hadiah ulang tahun ataukah hadiah perpisahan terserah kau sajalah. Hehe… Mungkin ini bukan sesuatu yang mahal, tapi paling tidak dengan ini dapat membantumu setidaknya mengurangi pikiran mesummu itu. Baca ya tiap hari meskipun hanya satu ayat, “ucapnya di akhir note nya. Aku menyeringai kecil setiap kali selesai membaca Al-Qur’an itu, yang tidak saja membuatku lebih tenang karena merasa dekat dengan Allah setiap kali membacanya, aku juga merasa dekat dengannya setiapkali aku teringat pesannya itu. Dan tak hanya itu bahkan akupun mengingat bagaimana ekspresinya dulu saat ku ceritakan tentang keburukanku yang suka menonton film dewasa.
Flashback On
“Ra, loe tahu nggak…?”tanyaku.
“Nggak kamu belum ngomong, gimana aku bisa tahu…,”
“Ish…loe tuh ya….,” ucapku sebel.
“Hahaha…bercanda kali Gha, toh kamu biasanya juga bilang gitu ke aku kalau aku mulai ceritaku dengan pertanyaan itu…,” ucap Ara dengan senyum karena melihat mukaku yang berkerut karena sebel terhadapnya.
“Oh, jadi loe bales dendam nie. Gak boleh balas dendam Ra, balas dendam itu dosa loh…,”
“Hahaha…sorry…sorry beneran deh gak maksud balas dendam,” katanya sambil tetap menahan tawanya. “Sudah-sudah…jangan pasang tampang kusut kayak gitu dong. Senyum…,” ucapnya sembari menampilkan ekspresi senyum ke arahku seraya mengajariku cara untuk tersenyum sepertinya. “Jadi ngambek nie? Yah..gak seru…,” ucapnya lagi.”Cerita ya…ayolah jangan bikin aku penasaran…,” pintanya kemudian merayuku agar aku melanjutkan ceritaku yang belum dimulai itu.
Flashback Off
Aku tahu kalau kali itu ekspresinya penasaran banget dan akupun langsung cerita tentang banyak hal padanya. Aku bercerita tentang kehidupanku selama sekolah, tentang bagaimana ibuku selalu memaksaku untuk ikut kursus bahasa inggris, dan bahkan aku bercerita tentang saat pertama kalinya aku menonton film dewasa. Aku mengaku padanya aku telah menonton film itu saat aku duduk di bangku SMP. Aku bercerita padanya kalau pertama kalinya aku nonton film itu aku langsung muntah-muntah. Tapi aku tetap menontonnya karena penasaran sebenarnya apa yang membuatku bisa muntah-muntah. Hingga akhirnya akupun mulai kebiasaan nonton film seperti itu.
Aku lihat ekspresi wajahnya saat itu terkejut tak percaya mendengar ceritaku. Bagaimana tidak, aku dikenal pendiam oleh banyak orang dan teman-teman kita tetapi aku malah seperti itu. Tapi, aku tidak merasa menyesal bercerita kepadanya seperti itu. Pikirku saat itu adalah jika dia memang teman yang baik, dia pasti tidak akan pergi meninggalkanku hanya karena aku menceritakan keburukanku kepadanya. Dan aku menuai kebenaran akan pikiran positifku saat itu bahwa dia memang tidak menjauhiku hanya karena merasa jijik kepadaku. Dia malah membantuku termasuk dalam hal-hal kecil seperti menutup mataku meski tak menyentuh secara langsung ketika aku tengah menatap adik tingkat yang seksi, menyuruhku untuk berpuasa agar aku bisa mengurangi kebiasaan burukku itu dan yang terakhir adalah memberiku Al-Qur’an kecil yang telah selesai dan masih ku pegang saat ini sembari mengingat kejadian masa lalu dengannya.
Yah, Qur’an ini adalah yang terakhir caranya melindungiku dari kebiasaan burukku itu. Bagaimana mungkin tidak yang terakhir, karena setelah perpisahan saat itu aku tak lagi bertemu dengannya selama tiga tahun lamanya. Hingga ketika Tuhan mengizinkanku bertemu dengannya beberapa kali, Tuhan mengambil ingatannya tentangku. Dan aku tak tahu kapan dan di situasi yang seperti apa lagi Tuhan akan mempertemukanku kembali dengannya.
*****
Ceritanya bagus, menginspirasi.
Comment on chapter Di Batas Rindubaca ceritaku juga ya,