Hal terbaik dan paling indah di dunia tidak dapat dilihat atau di sentuh
Tetapi dirasakan dengan hati
Karenanya, ketika kau hanya menggunakan matamu dan bukan hatimu
Maka kau tak akan pernah tahu
Bahkan sekalipun semua dunia tahu akan hal itu
Kau tetap akan menjadi satu-satunya yang tak tahu
Dia dekat, namun tak terlihat
Entah sudah berapa banyak hari, minggu atau bulan ku mencari dia. Tak ku temukan dia di mana-mana. Dan bahkan di rumahnya, aku melihat dari kejauhan rumah tempat tinggalnya itu. Sebuah rumah kecil yang terletak di gang sempit itu. Tak banyak yang berubah hanya pintunya yang berubah, mungkin pintu lamanya sudah rusak atau usang. Ya, aku masih ingat dulu ketika gadis itu naik ke jendela untuk mencari kunci agar bisa membuka pintu rumahnya. Rumah itu sepi saat kami datangi dulu karena ayahnya pergi ke rumah temannya. Aku bertanya padanya kala itu ketika dia mulai menaiki jendela kaca yang tersusun berbuku-buku itu.
Flasback On
Beberapa TahunYang Lalu..
“Kamu ngapain….?” Tanyaku dulu.
“Ambil kunci…,” jawabnya sembari nyengir.
“Ayahmu….?”
“Gak ada lagi keluar ke rumah temannya,” jawabnya. Seolah tahu dengan pandanganku melihat suasana yang begitu sunyi dia pun akhirnya bicara. “Rumahku memang selalu seperti ini. Sepi…,” jelasnya dengan tetap nyengir seperti tadi. Tak tersirat rasa kecewa di wajahnya meskipun aku tahu bahwa sebenarnya dia sangat kecewa. Pasalnya alasannya minta antarkan pulang ke rumahnya adalah agar bisa pamit ke ayahnya kalau dia tidak akan pulang selama satu bulan ke depan karena harus menjalani KKN. Kemudian dia langsung membuka rumahnya, masuk ke dalam rumahnya tanpa mempersilahkan aku masuk. Aku tahu alasaannya bukan karena dia tidak mau mengajakku masuk, tapi lebih pada karena di rumahnya tidak ada siapapun makanya dia hanya masuk seorang diri. Namun, ketika dia hendak beranjak masuk dengan membuka gorden berwarna merah hati dia kemudian berbalik dan menyuruhku untuk sholat di mushola depan rumahnya. Setelah itu, setelah rangkaian perjalanan hari itu akhirnya kami kembali ke tempat dimana kami tinggal selama kuliah. Yaitu di kota lain yang tak begitu jauh dari rumahnya kala itu.
Flashback Off
*****
Aku berjalan gontai menuju rumah temanku, tempat Vino, kali ini aku tidak ingin sendiri. Aku ingin membagi bebanku bersama dengan teman-temanku. Meskipun aku tahu tak akan ada yang berubah sekalipun aku melakukan itu, tapi setidaknya bebanku dapat sedikit berkurang jika aku membaginya hingga tak akan ada lagi sesak yang kan ku rasa. Aku memarkir mobilku di garasi ketika pembantu rumah tangga di rumah Vino membukakan pintu gerbang. Aku yang beberapa detik kemudian keluar dari mobil, mendapati ketiga temanku sedang memandang jalanan dari beranda lantai dua, tepatnya di beranda kamar Vino. Aku menepuk pundak mereka, hingga mereka tiba-tiba terperanjat melihat kedatanganku. Aku merasa penasaran dengan objek apa yang sedang asyik mereka lihat hingga tak sadar jika sedari tadi aku datang dan bahkan mungkin mereka juga tak mendengar suara mobilku.
“Apa sih yang kalian lihat, sampai-sampai kaget gitu liat gue...,” tanya Erlangga.
“Eh, loe Gha, loh sih tiba-tiba nongol kan gue jadi kaget...,” seru Vino sembari menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
“Shit...jangan bohong deh loh bertiga, jelas-jelas suara mobil kedengeran sampai sini, tapi kalian bahkan gak denger suara mobil gue, jadi pasti ada hal yang menyita perhatian kalian bertiga. Jangan bilang kalau kalian lagi asyik nonton bokep ya..?” tuduh Erlangga.
“Sembarangan loh Gha, gue udah insyaf kali...,” ucap Ferdhy.
“Halah sok-sok an insyaf, loe kan pemasoknya mana mungkin loe bisa insyaf cepet gitu..,” ucap Erlangga sembari nyengir.
“Hehe...ketahuan deh....,” ucap Ferdhy dengan sikap sok polosnya.
“Jujur, sekarang beritahu gue apa yang asyik kalian liat hingga gak sadar kalau gue dateng?” pinta Erlangga.
“Hehe...kita-kita cuman lagi liatin bidadari cantik kok Gha...,” cengir Andi.
“Bidadari cantik? Siapa? Bakal korban kalian bertiga lagi...?” celetuk Erlangga.
“Kali ini kita-kita serius Gha, kita bakal berusaha sesportif mungkin buat dapetin tuh gadis..,” jelas Ferdhy.
“Enak aja kalian berdua, itu gadis milik gue, gue yang suka duluan sama gadis itu...,” jelas Vino tak mau kalah.
“Eh Vin, gak boleh gitulah. Sekalipun loe yang liat duluan dan ngincer tuh gadis sejak lama, belum tentu tuh gadis mau sama loe. Jadi mending kita bertiga berjuang secara sportif buat dapetin tuh gadis...,” jelas Andi yang kemudian di jawab anggukan oleh Ferdhy.
“Is...loe berdua dasar licik. Tau gitu gue gak kasih tahu gadis itu sama loe berdua...,” ucap Vino dengan cemberut yang di sahuti dengan gelak tawa oleh ketiga temannya.
“Emang secantik apa sih gadis yang loe rebutin bertiga?” tanya Erlangga penasaran.
“Nggak gue gak bakal kasih tahu loe Gha, ntar yang ada loe bakal ikutan jatuh cinta pada pandangan pertama atau gaulnya bisa love first sight sama kayak mereka berdua...,” ucap Vino.
“Hahaha...dasar loe. Bilang aja loe takut bersaing sama gue...,” ucap Erlangga.
*****
“Ngomong..ngomong, muka loe kenapa Gha....?” tanya Andi penuh selidik pada Erlangga.
Bagaimanapun Erlangga sudah dapat menebak bahwa teman-temannya akan menanyakan perihal alasan yang membuat dirinya menjadi seperti zombie saat ini. Matanya terlihat sangat cekung seperti tidak tidur selama beberapa hari, lingkaran hitam juga bertengger di sekitar matannya yang akan mempertegas bahwa memang benar lelaki itu tidak tidur selama beberapa hari ini.
“Kau masih belum menemukan gadis itu?” tanya Vino seketika melihat ekspresi frustasi sahabatnya itu.
“Kenapa kau masih mencari gadis itu Gha? Kau benar-benar mencintainya?” tanya Ferdhy kemudian.
“Jangan bercanda, aku tidak menyukai gadis itu…,” jelas Erlangga.
“Kalau nggak menyukainya, lantas kenapa loe mati-matian buat nyari tuh cewek Gha…,” ucap Andi.
“Gue…gue hanya ngerasa bersalah sama dia. Dan gue harus minta ma’af ke dia agar gue bisa merasa lega…,” kilah Erlangga.
“Jangan bohongin diri loe sendiri Gha. Benarkah itu cuman perasaan rasa bersalah dan bukannya cinta? tanya Vino.
“Bener kata Vino Gha, apa loe bener-bener yakin kalau loe gak cinta sama gadis itu? Loe mati-matian cari dia buat bantuin dia untuk ngembaliin ingatannya. Loe yakin hanya karena loe ngerasa bersalah dan bukannya ingin dia kembali mengingat loe yang mendasari alasan loe nerima permintaan dari teman-temannya tuh gadis?” tandas Andi.
Erlangga pun kincep tak bisa berkata apa-apapun lagi. Dia mencoba untuk mencerna setiap perkataan dari teman-temannya itu. Ya, dia sendiri memang belum tahu apa yang sebenarnya hatinya rasakan. Dia yakin bahwa perasaan bersalahlah yang mendasarinya untuk mencari gadis itu bukan perasaan cinta atau semacamnya. Tapi, dia juga tak bisa membohongi bahwa memang pernah terlintas dalam pikirannya untuk membantu gadis itu mengembalikan ingatannya agar tuh gadis dapat mengingat siapa dirinya.
“Loe gak bisa jawab kan Gha? Sebaiknya loe cari tahu dulu apa sebenarnya perasaan yang tersimpan jauh di dalam hati loe…,” ucap Vino.
“Gue…gue gak mencintai dia dan gue pastikan itu…,” ucap Erlangga sembari meyakinkan dirinya sendiri. “Gue mencintai Sabrina, hanya Sabrina dan bukan yang lain…,” jelas Erlangga.
“Loe beneran yakin bahwa perasaan loe gak keliru?” tanya Ferdhy.
“Maksud Loe?” tanya balik Erlangga.
“Loe yakin perasaan loe gak keliru?” tanya Ferdhy lagi.
“Apa maksud loe keliru?” tanya Erlangga lagi geram karena tak memahami maksud pertanyaan yang diajukan oleh Ferdhy.
“Gini maksud gue Gha. Loe gak keliru mengartikan perasaan loe ke Sabrina sama perasaan loeke gadis itu?” tanya Ferdhy lagi.
Erlangga hanya menatap Ferdhy tak percaya dan menuntut penjelasan lebih lanjut dari kawannya itu. Dan Ferdhy pun yang mengerti tatapan tajam Erlangga yang menuntut penjelasan darinya. Dan akhirnya dia pun menjelaskan maksud dari ucapannya itu.
“Maksud gue gini Gha. Loe bilang loe cinta sama Sabrina, apa loe yakin kalau itu beneran cinta dan bukannya perasaan bersalah? Apakah loe yakin yang menjadi alasan loe balikan sama dia adalah karena loe masih cinta sama dia dan bukannya rasa bersalah loe karena udah pernah minta putus sama dia dan tinggalin dia beberapa tahun yang lalu?” tanya Ferdhy penuh selidik pada Erlangga dan Erlangga pun kembali mencoba mencerna pertanyaan itu dan belum mengajukan jawaban atas pertanyaan Ferdhy itu.
Ferdhy yang tahu kalau Erlangga masih belum memiliki jawaban atas pertanyaannya kembali menjelaskan hipotesisnya sendiri. “Gini Gha, kalau menurut gue loe hanya merasa bersalah pada Sabrina, Gha. Loe gak ingin dia merasa tersakiti karena loe, makanya loe ingin kembali sama dia dan menunggu waktu buat dia yang meminta putus dari loe dan bukannya loe yang mutusin dia agar gadis itu tidak menaruh sakit hati ke loe,” jelas Ferdhy.
“Atas dasar apa loe bisa memiliki pemikiran kayak gitu…?” tanya Erlangga balik.
“Mudah saja Gha, sekarang kalau loe beneran cinta sama dia, kenapa loe mencoba menghindari dia semenjak loe pulang dari Singapura sampai sekarang?” tanya Vino kemudian membantu Ferdhy yang ternyata memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya. “Jika loe benaran cinta sama Sabrina, loe gak mungkin habisin waktu loe hanya untuk mencari satu gadis yang loe sendiri gak tahu dimana keberadaan gadis itu. Loe bakal habisin waktu loe dengan Sabrina mengingat bahwa kalian sudah lama tidak bertemu dan bahkan jarang bisa bersama,” jelas Vino lagi.
“Iya Gha, Vino benar. Aku juga merasa aneh dengan sikap loe. Jika loe memang benar mencintai Sabrina, kenapa bukan Sabrina yang menjadi alasan loe untuk break kuliah loe yang tinggal sedikit lagi di Singapura. Bukankah yang menjadi alasan loe adalah karena loe pingin mencari gadis itu dan membantunya untuk mengingat kembali kenangannya bersama loe…,” jelas Andi.
Skakmat, penjelasan Andi dan teman-temannya membuatnya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semua penuturan teman-temannya itu benar, tapi dia tidak pernah menyadari sampai sejauh mana perasaannya itu. Apakah benar dia tidak benar-benar mencintai Sabrina tetapi mencintai gadis itu? Gadis yang selalu diganggunya dulu, namun selalu dapat membuat dunianya ceria. Gadis yang sangat sering menangis, meminta bantuannya dan selalu saja menyusahkannya namun juga tak pernah bisa meninggalkannya jika dirinya sendiri kesusahan ataupun bersedih. Apa benar aku mencintainya?” batin Erlangga.
“Loe gak bisa jawab kan Gha? Sekarang lebih baik loe cari tahu dulu bagaimana sebenarnya perasaan loe Gha, sebelum loe bisa menemukan gadis itu dan memutuskan apa yang akan loe lakuin ketika sudah bertemu dengan gadis itu…,” jelas Ferdhy. Dan Erlangga pun mengangguk mengiyakan perkataan teman-temannya itu.
“Kita semua tahu Gha, dan seluruh dunia juga tahu, hanya kamu yang tidak,” ucap Vino kemudian. Yang mendapat tatapan heran dan bingung dari Erlangga. Namun, Vino tak menjelaskan perkataannya lebih lanjut dan hanya membiarkan temannya itu mencari tahu sendiri apa maksud dari perkataan terakhirnya itu.
*****
Ara merasa ada yang aneh dalam dirinya. Bulu matanya jatuh dan sedari tadi matanya tak henti-hentinya berkedut seolah ada yang tengah membicarakannya saat ini. Namun, tak dipedulikannya perasaannya itu dan dia hanya kembali fokus pada komputernya yang menampilkan neraca keuangan perusahaannya di setiap bulannya. Dia kembali sibuk mengotak-atik neraca perusahaannya itu agar dapat di temukannya item yang membuat kenapa neracanya jadi tak seimbang. Namun, beberapa detik berlalu dan dia merasakan pusing yang teramat sakit kemudian. Dan samar-samar ia mengingat beberapa ingatannya di masa lalu meski tak diketahuinya secara pasti ingatan tentang apa itu.
Flashback On
3 tahun yang lalu
“Hei bocah, loe kenapa sih pingin banget ngajar dikelas ini?” tanya cowok berkacamata.
“Pingin aja, kenapa sih, kepo………….,” ucap Ara.
“Halah…loe gak usah bohong deh sama gue. Gue tahu alasan loe pingin ngajar di kelas gue karena loe pingin liatin gebetan loe kan…?”
“Sok tahu….,” sanggah Ara.
“Hahaha…loe tuh gak bisa bohongin gue lagi Ra, kalau loe beneran suka sama tuh cowok bilang aja. Atau loe mau gue bantuin buat ngomong sama tuh cowok…?
“Is…kamu itu sok tahu. Diem ja kalau loe gak tahu apa-apa,” ucap Ara.
“Emmm…loe piker gue gak tahu kalau loe kemaren rayu-rayu si Tama buat tuker jadwal loe hari ini dengan dia supaya loe bisa liatin tuh si adek tingkat cem-ceman loe…,” ucap cowok berkacamata sembari menunjuk cowok yang mejadi topic pembicaraan mereka.
“Is…loh tuh sok tahu banget sih….,” ucap Ara sembari mengabaikan cowok berkacamata itu dengan hipotesisnya sendiri.
Si cowok itupun cengar cengir melihat muka Ara yang bête karena tuduhannya. “Kamu seneng kan?” goda cowok itu lagi pada Ara yang masih membicarakan tentang topic yang sama yaitu tentang adek kelas mereka yang bernama Ethan.
Ara yang sudah mulai sebel dengan cowok berkacamata itu akhirnya pun menjawab pertanyaan cowok berkacamata itu sekenannya. Agar cowok itu diam dan tidak mengganggunya lagi.
“Hmmm…iya seneng banget bisa liat dia. Tapi sayang dia gak pakai kacamatanya…,” ucap Ara.
“Lah, kenapa Ra kalau dia gak pakai kacamata…?”
“Karena kalau dia pakai kacamatanya, wajahnya mirip sekali dengan orang yang aku kenal di masa lalu…,” jelas Ara.
“Oh….,” jawab cowok berkacamata itu dan langsung kincep tanpa berbicara apapun lagi.
Entah apa yang cowok berkacamata itu pikirkan saat itu, hingga dia kemudian terdiam dan seolah membisu seribu bahasa mendengar penjelasan Ara. Tapi, Ara bersyukur tuh cowok gak lagi menggodanya dengan menanyakan banyak hal tentang perkataannya beberapa menit lalu.
Flashback Off
*****
Ceritanya bagus, menginspirasi.
Comment on chapter Di Batas Rindubaca ceritaku juga ya,