Read More >>"> Kamu, Histeria, & Logika (24. Tidak Terbendung) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Kamu, Histeria, & Logika
MENU
About Us  

Ketika Abriel hampir saja sampai di gerbang kompleksnya, secara kebetulan ia melirik ponselnya yang sedang di-charge di dalam mobilnya. Entah sejak kapan ponselnya itu bergetar. Layarnya memberitahunya bahwa Muamar-lah yang menelepon. Kening Abriel berkerut, sejak kapan Muamar menghubunginya? Rasa-rasanya sudah lama sekali Muamar dan ia tidak mengobrol. Dan hanya saling menyapa sekadarnya ketika mereka berpapasan.Terutama sejak Abriel jadian dengan Febby, ia sedikit merasa Muamar menjaga jarak dengannya.

Abriel memelankan laju mobilnya, mencabut ponselnya dari kabel charger-nya. Kemudian menjawab panggilan yang masuk.

Singkat dan padat, itulah yang bisa Abriel simpulkan dari percakapannya yang sebentar barusan dengan Muamar. Cowok itu hanya minta agar Abriel memberinya waktu untuk bicara empat mata. Tanpa berpikir panjang, Abriel langsung menyetujuinya. Mereka akhirnya janjian di depan minimarket yang berdiri di salah ruko depan kompleks perumahannya, tempat yang sering Abriel datangi untuk membeli sesuatu. Kebetulan, minimarket tersebut menyediakan beberapa pasang kursi dan meja untuk nongkrong.

Setengah jam kemudian, motor Muamar yang berwarna hitam diparkirkannya di depan minimarket tersebut. Abriel mengangkat sedikit tangannya yang bebas dari sekaleng kopi yang baru dibelinya  untuk menyapa cowok itu.

Setelah melepaskan helm full face-nya dan menggantungnya dengan asal di spion, tanpa tedeng aling-aling Muamar menghampiri Abriel. Kalimat bernada marah yang terlontar dari mulut Muamar, sontak mengejutkan Abriel.

"Belum cukup lo bikin Febby ancur? Masih aja lo nyakitin dia."

Muamar berdiri dengan gestur profokatif, menekan meja yang sedang Abriel duduki. Membuat bagian atas perutnya tergencet.

"Apa maksud lo sih, Mar?" tuntut Abriel, kaget, tak menduga reaksi itu.

Muamar sekali lagi mendorong meja Abriel dengan satu sentakan kasar. "Ngapain lo bawa cewek lo ke sekolah tadi? Febby lihat. Sakit hati dia!"

"Mar, nggak usah rusuh kayak gini, dong." Abriel balas mendorong mejanya, bangkit dengan segera. Kaleng kopinya jatuh dan tumpah ke lantai semen di bawahnya. Muamar tampak bergeming dan semakin keras.

Minimarket itu sedang lumayan sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang sedang sibuk berbelanja dan membayar di kasir. Tak ada seorang pun yang sadar apa yang sedang terjadi di luar.

"Gue sabar-sabarin sejak lo pacaran sama Febby, mendam perasaan gue karena lo teman gue. Nyatanya lo ancurin hati dia," Muamar berkata dengan menggeram. "Kalau lo nggak cinta sama dia, ngapain lo pacarin dia?"

Abriel mendengus. "Salah gue, Mar, kalau lo pengecut dan nggak berani ngasih tahu ke Febby kalau lo cinta sama dia sejak lama?"

"Febby mana suka sama orang kayak gue," bantah Muamar sambil memalingkan wajahnya sekilas. "Selama lo pacaran sama Febby, udah lo apain aja Febby sampai dia segitunya sama lo?"

Abriel terkekeh kering. "Maksudnya apa lo nanya soal itu?"

"Lo apain aja dia?" hardik Muamar lebih keras.

"Wajar orang pacaran gimanalah," dengus Abriel. "Lagian, kalau emang lo sayang sama Febby, ya lo nyatainlah, bukannya nemuin gue."

"Febby cuma cintanya sama lo dari dulu. Tapi lo malah sia-siain perasaan dia!"

"Lo sebenarnya tahu perasaan lo ke dia nggak ada hubungannya sama gue. Lo cuma cari kambing hitam aja sekarang, agar lo merasa udah berbuat sesuatu, berkorban buat Febby. Tapi apaan? Kalau lo terus bersembunyi, yang ada Febby malah nganggap lo cuma kacungnya."

"Anjing, jaga mulut lo!" Semakin terbakar emosi yang sudah menyulut hatinya sejak awal, Muamar maju dan dengan kilat melayangkan bogem mentahnya ke pelipis Abriel. Tepat sasaran, telak, dan keras, bersama harga diri dan rasa cemburunya pada Abriel sejak lama, yang sudah melapis-lapis dan mengerak di dalam dirinya. Abriel mundur akibat pukulan telak yang digencarkannya. Muamar tidak melewatkan kesempatan itu, ia gunakan untuk melancarkan pukulan-pukulan berikutnya.

Hanya satu kali Abriel mendapatkan kesempatan untuk balas menonjok rahang Muamar, sebelum Muamar menangkis serangan selanjutnya. Pukulan pertamanya tadi, di pelipis Abriel, adalah penentu serangan Muamar selanjutnya.

Andai waktunya diputar dan Abriel tahu Muamar akan menyerangnya, melayangkan serangan di pelipisnya. Hasilnya tentu akan berbeda, tak akan ada serangan-serangan dari Muamar berikutnya yang akan masuk dan mengenai Abriel. Abriel adalah lelaki yang tangguh, bahkan Adit mengakuinya. Ia lincah, gesit, kuat, memiliki koordinasi dan keseimbangan yang bagus. Muamar bukanlah lawannya jika mereka bertarung secara adil.

Serangan Muamar belumlah berakhir meski Abriel sudah terjatuh dan menyeret serta sebuah kursi terbaring di lantai semen bersamanya, tapi dengan membabi buta ia terus menggencarkan pukulan ke wajah Abriel. Hingga salah seorang pegawai minimarket yang akhirnya menyadari kejadian itu datang melerai.

Muamar menepis kasar tangan pegawai minimarket itu. Dengan lekas, ia segera memakai helmnya dan bergegas meninggalkan tempat itu.

Meringis, seraya menahan kucuran darah dari hidungnya, Abriel berusaha bangkit. Ia berhasil dalam percobaan pertama. Pengunjung minimarket berhamburan keluar, mengerubungi Abriel yang bersimbah darah: bibir bagian bawahnya sobek, pelipisnya luka, hidung kanannya basah oleh cairan kental pekat.

Abriel menerima bantuan yang ditawarkan oleh dua pegawai minimarket itu. Sigap, keduanya mendudukkan Abriel di salah satu kursi.

"Saya nggak apa-apa. Nggak usah telepon siapa-siapa," pinta Abriel pada salah satu pegawai yang hendak menelepon polisi dan ambulance. "Dia teman saya. Masalahnya udah clear, kok."

Kepala Abriel terasa penang. Bukan karena terkena pukul saja, tapi pening karena orang-orang yang terus saja melontarkan spekulasi sendiri, berbicara dengan suara keras, beberapa malah ada yang mengeluarkan ponsel dan merekam. Abriel ingin segera meninggalkan tempat itu, ia merasa keadaannya tidak terlalu buruk, hanya saja ia butuh sebutir aspirinparacetamol, apa saja untuk meredakan nyeri di kepalanya. Sungguh, ia rela melakukan apa saja asalkan semua orang yang mengerubunginya ini menghilang. Sekejap, Abriel memejamkan mata. Hingga di tengah kebisingan itu, ia mendengar sebuah suara.

"Udah tahu ada yang cedera, masih aja pada berisik! Bubar, bubar, kalau nggak tahu mesti ngapain!" protes gadis itu dengan tegas, sebelum merengkuh kepala Abriel dengan hati-hati. "Kamu nggak apa-apa? Darah kamu keluar terus. Kayaknya ada yang harus dijahit." Tenang, gadis itu mengeluarkan sesuatu dari kantong kertas batiknya. Selembar kaus berkerah yang masih baru. Lalu tanpa menunggu, ia langsung menekan bagian yang paling banyak mengeluarkan darah dengan kaus itu, mulut Abriel akhirnya dibungkam karena mengalirkan darah paling banyak. "Mas, tolong bawain obat merah, plaster, gunting, kasa. Cepetan," perintahnya, kali ini pada pegawai minimarket yang berdiri di dekat Abriel.

Abriel hendak mengatakan sesuatu pada gadis itu. Bukan sesuatu. Seribu pertanyaan seperti: bagaimana ia bisa di sini? Apa ia pulang bersama Adit? Milik siapa baju yang ia gunakan untuk menekan bibirnya, apakah milik Adit? Ketika ia meninggalkannya tadi di restoran itu, apakah ia sedih, menangis? Apakah ada kata-katanya yang melukai hatinya? Dan masih banyak lagi... Tapi tangan gadis itu membekap mulutnya.

Abriel baru sadar, gadis itu masih memandanginya, fokus. Lalu, ketika alat-alat yang dimintanya diantarkan, dengan cekatan gadis itu melakukan tugasnya.

"Sekarang, kita pergi ke klinik. Pelipis dan bagian dalam bibir kamu kayaknya perlu dijahit," katanya, tampak sedikit berpuas diri karena ia melakukan tugasnya dengan cepat dan sempurna. "Biar saya yang nyetir. Kamu istirahat aja."

Setelah Abriel naik ke dalam mobilnya, duduk di kursi penumpang, Isabel kembali untuk memberikan uang kepada pegawai minimarket tersebut. Abriel hanya memerhatikan gerakan gesit gadis itu berpindah-pindah tempat.

"Kamu bisa minum? Barusan saya beliin air mineral," ujar Isabel yang sudah duduk di kursi kemudi.

Abriel mengangguk. Ia memang butuh air.

Sementara Abriel meneguk airnya hingga setengah botol, Isabel sudah melajukan mobil Abriel.

Abriel melirik wajah serius Isabel saat memegang kemudi mobilnya, diam-diam ia bersyukur karena Muamar datang dan menghajarnya. Semua rasa sakitnya sebanding dengan apa yang ia terima. Ia bahkan rela dipukuli lagi demi mendapatkan saat-saat seperti sekarang, batinnya.

"Kamu nggak ngerasa pengin muntah, kan? Jawab, ini angka berapa?" Mendadak Isabel menjulurkan dua jarinya di depan wajah Abriel.

"Satu," Abriel berkata. "Satu kesempatan buat aku. Kamu bisa kasih?"

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (19)
  • Andrafedya

    @shalsabillaa semoga ga mengecewakan ya, terima kasih banyak buat apresiasinya

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • defreeya

    Actually, It's not my typical genre. But, si author menceritakannya dgn indah sih *lanjut baca lagi*

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • shalsabillaa

    narasinya menarik. Membuat ikut hanyut dalam cerita. Ingin bisa menulis sebagus ini amin XD

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • Andrafedya

    @Zeee terima kasih banyak udah ngingetin, sangat seneng ada yg apresiasi

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • Zeee

    Luak atau luwak? *bertanya2

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • Andrafedya

    @hijauoren tapi untunglah mereka sebetulnya saling menyayangi. terima kasih sudah comment

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • Andrafedya

    @ysrsyd terima kasih untuk semangatnya

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • dayana_putri

    Sakit itu ketika adik kita lebih belain pasangan kita daripada saudara kandungnya

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • ysrsyd

    Seruuu semangat

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
Similar Tags
Like Butterfly Effect, The Lost Trail
166      104     0     
Inspirational
Jika kamu adalah orang yang melakukan usaha keras demi mendapatkan sesuatu, apa perasaanmu ketika melihat orang yang bisa mendapatkan sesuatu itu dengan mudah? Hassan yang memulai kehidupan mandirinya berusaha untuk menemukan jati dirinya sebagai orang pintar. Di hari pertamanya, ia menemukan gadis dengan pencarian tak masuk akal. Awalnya dia anggap itu sesuatu lelucon sampai akhirnya Hassan m...
Dark Fantasia
130      114     0     
Fantasy
Suatu hari Robert, seorang pria paruh baya yang berprofesi sebagai pengusaha besar di bidang jasa dan dagang tiba-tiba jatuh sakit, dan dalam waktu yang singkat segala apa yang telah ia kumpulkan lenyap seketika untuk biaya pengobatannya. Robert yang jatuh miskin ditinggalkan istrinya, anaknya, kolega, dan semua orang terdekatnya karena dianggap sudah tidak berguna lagi. Harta dan koneksi yang...
Suara Kala
132      99     0     
Fantasy
"Kamu akan meninggal 30 hari lagi!" Anggap saja Ardy tipe cowok masokis karena menikmati hidupnya yang buruk. Pembulian secara verbal di sekolah, hidup tanpa afeksi dari orang tua, hingga pertengkaran yang selalu menyeret ketidak bergunaannya sebagai seorang anak. Untunglah ada Kana yang yang masih peduli padanya, meski cewek itu lebih sering marah-marah ketimbang menghibur. Da...
An Invisible Star
104      71     0     
Romance
Cinta suatu hal yang lucu, Kamu merasa bahwa itu begitu nyata dan kamu berpikir kamu akan mati untuk hidup tanpa orang itu, tetapi kemudian suatu hari, Kamu terbangun tidak merasakan apa-apa tentang dia. Seperti, perasaan itu menghilang begitu saja. Dan kamu melihat orang itu tanpa apa pun. Dan sering bertanya-tanya, 'bagaimana saya akhirnya mencintai pria ini?' Yah, cinta itu lucu. Hidup itu luc...
Diary of Time
42      30     0     
Romance
Berkisah tentang sebuah catatan harian yang melintasi waktu yang ditulis oleh Danakitri Prameswari, seorang gadis remaja berusia 15 tahun. Dana berasal dari keluarga berada yang tinggal di perumahan elit Menteng, Jakarta. Ayahnya seorang dokter senior yang disegani dan memiliki pergaulan yang luas di kalangan pejabat pada era pemerintahan Presiden Soekarno. Ibunya seorang dosen di UI. Ia memiliki...
#SedikitCemasBanyakRindunya
105      66     2     
Romance
Sebuah novel fiksi yang terinspirasi dari 4 lagu band "Payung Teduh"; Menuju Senja, Perempuan Yang Sedang dalam Pelukan, Resah dan Berdua Saja.
Dream Space
14      13     0     
Fantasy
Takdir, selalu menyatukan yang terpisah. Ataupun memisahkan yang dekat. Tak ada yang pernah tahu. Begitu juga takdir yang dialami oleh mereka. Mempersatukan kejadian demi kejadian menjadi sebuah rangakaian perjalanan hidup yang tidak akan dialami oleh yang membaca ataupun yang menuliskan. Welcome to DREAM SPACE. Cause You was born to be winner!
Astronaut
149      110     0     
Action
Suatu hari aku akan berada di dalam sana, melintasi batas dengan kecepatan tujuh mil per detik
Di Bawah Langit
96      76     0     
Inspirational
Saiful Bahri atau yang sering dipanggil Ipul, adalah anak asli Mangopoh yang tak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Namun, Ipul begitu yakin bahwa seseorang bisa sukses tanpa harus memiliki ijazah. Bersama kedua temannya Togar dan Satria, Ipul pergi merantau ke Ibu Kota. Mereka terlonjak ketika bertemu dengan pengusaha kaya yang menawarkan sebuah pekerjaan sesampainya di Jakarta. ...
L & A
152      112     0     
Romance
LA (From Aquarius to Leo) ____ The Blue adalah sebuah perusahaan majalah tempat di mana Riu bekerja. Dia bisa ada di sana karena bantuan seorang kepala editor yang memberikan ia kesempatan bekerja di sana. Riu bertemu dengan banyak orang. Dia memiliki usia paling muda di antara semua orang di perusahaan itu. Riu bekerja di tim editor bersama beberapa orang lainnya. Hari itu ia tidak s...