Read More >>"> Kamu, Histeria, & Logika (25. Intens) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Kamu, Histeria, & Logika
MENU
About Us  

Waktu sudah menunjukan jam sembilan malam lewat, Abriel selesai menebus vitamin, obat penahan nyeri dan sekotak perlengkapan untuk membersihkan lukanya. Nyatanya perawat di klinik itu tidak menyarankan agar luka di pelipis Abriel dijahit. Ia hanya membersihkan dengan antiseptik kemudian memasangkan kasa steril dan plaster di sana. Vitamin yang nantinya diminum Abriel berfungsi untuk mempercepat penyembuhan luka di bibir bagian dalamnya. Hidungnya sudah tak lagi mengeluarkan darah. Abriel tampak sehat walafiat, kecuali tulang pipinya yang tampak sedikit lebam dan penampakan kasa terekatkan plaster di alisnya yang menunjukan bahwa di balik itu ada segurat luka.

Di lahan parkir, Abriel menodongkan tangannya meminta kunci mobilnya kepada Isabel. "Aku udah nggak apa-apa nyetir. Kamu sekarang bisa istirahat."

Seolah teringat sesuatu, Isabel menggenggam kembali kunci mobil yang hampir ia geletakan di telapak tangan Abriel. "Kamu besok bisa bolos nggak?" tanyanya dengan mimik serius.

"Bolos?" Abriel mengerutkan keningnya, berusaha mengejar maksud Isabel. "Memang ada apa?"

Isabel mengerucutkan bibirnya. Menatap wajah Abriel seraya menimbang-nimbang untuk melibatkan cowok ini atau tidak ke dalam misinya.

"Saya butuh kamu. Tepatnya butuh mobil kamu."

"Emang, kamu mau ke mana?"

"Subang," jawab Isabel mantap. "Ke Desa Cibitung. Kita berangkat besok subuh. Pulangnya besok sore. Gimana?"

"Mau ngapain ke sana?"

"Itu rahasia. Pasti saya ceritain semua. Tapi nanti." Isabel tampak memberengut, wajahnya masih tampak berpikir. "Kamu bisa atau nggak ngantar saya?"

"Subang kan nggak gitu jauh..."

"Ini masuk pedalaman, lho."

"Hmm, okelah. Anggap aja satu setengah jam sampai. Kenapa harus berangkat subuh-subuh?"

"Karena lebih cepat sampai lebih baik. Eh, di dalam yuk ngobrolnya, anginnya lagi nggak enak, nih." Ia pun segera duduk ke kursi kemudi. Sementara Abriel otomatis kembali ke kursi penumpang di sebelahnya. "Gimana kalau kamu sekarang nggak usah balik dulu. Telepon orangtua kamu, alasan nginap di rumah teman kamu. Terus kita cari tempat istirahat . Subuh langsung cabut. Kepala kamu udah nggak kenapa-kenapa, kan?"

Abriel menggeleng, kepalanya memang sudah terasa jauh lebih baik. "Kalaupun aku ikut, aku tetap harus balik dulu." Abriel menarik kerah seragamnya yang berbercak darah. Meskipun hanya kerahnya yang kotor karena noda merah-kehitaman, sebab Abriel melapisi seragamnya dengan sweter, ia tetap tampak tidak nyaman. "Selain masih pakai seragam. Risi juga pakai baju yang banyak darahnya gini. Pengin banget bersihin badan."

"Kalau kamu mau ngantar saya, sebaiknya nggak perlu balik dulu segala, deh. Setelah saya pikirin, kalau kamu balik sekarang, yang ada orangtua kamu bakal shock banget lihat tampang kamu. Memang kamu udah bikin alasan kenapa muka kamu babak-belur gitu? Apa mereka akan terima kalau tahu kamu digebukin sama teman kamu sendiri? Yang ada mereka pasti bakal datangin sekolah kamu dan laporin kejadian ini. Kamu bakal buat satu sekolah heboh. Percaya deh sama saya."

Sejujurnya Abriel belum memikirkan sejauh ini. "Kalaupun aku pergi bareng kamu sekarang, luka ini nggak akan sembuh dalam satu hari. Orangtua aku bakal tetap tahu." Sekarang, kenyataan itu sedikit mengganggunya. Ia sudah bisa membayangkan seperti apa reaksi orangtuanya, terutama mamanya. Semua ramalan Isabel akan menjadi kenyataan.

"Saya punya cara," ujar Isabel, kedua alisnya terangkat tinggi. "Kemungkinan berhasilnya delapan puluh persen. Saya hanya bisa kasih tahu setelah kamu setuju antar saya ke Subang."

"Aku sih mau banget antar kamu, betulan. Tapi..."

"Soal baju? Soal mandi? Pakaian dalam ganti? Itu sih gampang. Cetek banget. Beli di minimarket. Kaus polos ada. Celana dalam sekotak isi tiga kan juga ada. Tempat mandi? Pasti ada di tempat istirahat kita nanti."

"Emang kamu sendiri udah bawa perlengkapan kamu?"

"Saya bawa tas segede gajah gitu bukan tanpa alasan." Isabel menunjuk tas besar kulitnya yang tergeletak di jok belakang bersama dengan kantong kertasnya. "Kalau aja tadi saya nggak mampir dulu ke minimarket, nemu kamu lagi dikerumunin orang. Saya pasti udah nyampai penginapan. Rencananya saya mau rental mobil tadi itu."

"Malam-malam gini? Kamu nggak takut diculik?"

Isabel berdecak geli. "Nah, sekarang apalagi masalah kamu? Kamu pusing? Saya yang nyetir, kamu tinggal duduk doang. Kamu udah lihat kan, saya nyetirnya serapi Michael Schumacher." Itu adalah nama pemalap Formula 1 yang terkenal.

Mau tak mau Abriel mendenguskan tawa ironis. "Nah, soal itu... Aku sebenarnya nggak nyangka kalau kamu nyetirnya jago. Kenapa kamu nggak bawa mobil sendiri aja?"

"Nggak niat punya mobil pribadi, cuma bikin macet kota aja," jawab Isabel sederhana. "Jadi, gimana? Mau bergabung?"

Mendadak Abriel pun tidak lagi ingin berpikir rumit. "Oke, deh. Kita berangkat ke Subang. Sisanya gimana, aku ngikut aturan kamu aja."

"Beneran? Asyik kalau gitu!" pekik Isabel seraya merengkuh dagu Abriel.

Sebenarnya tekanan di rahangnya itu cukup nyeri. Tapi Abriel berhasil menahan dirinya untuk tidak mengerang. Senyum Isabel adalah obatnya yang paling mujarab. Melebihi obat pereda rasa sakit yang diberikan perawat di klinik. Mendadak, ia merasa bahunya terasa begitu ringan. Ia sangat yakin sudah mengambil keputusan yang tepat.

 

* * *

 

Usai membeli perlengkapannya di minimarket Jalan Setiabudhi, mengganti pakaiannya dengan kaus oblong hitam yang ia beli. Abriel segera menelepon ponsel mamanya. Awalnya, mamanya sempat mengeluhkan karena sudah hampir pukul sepuluh tapi ia belum juga pulang atau mengabari. Namun, setelah ia mengatakan alasan yang sudah ia dan Isabel rencanakan sebelumnya, yakni akan menginap di rumah Tomi untuk menemani Tomi yang baru putus dari pacarnya (Nama Adit tampaknya mendadak menjadi topik sensitif untuk keduanya sehingga Tomi-lah yang menjadi alternatif), mamanya pun melunak.

Setelah mamanya memutus sambungan teleponnya, perasaannya menjadi sedikit tak enak. Ia jarang membohongi orangtuanya selama ini. Kalaupun ia harus beralasan, ia akan menyelipkan separo kejujuran ke dalamnya. Tapi kali ini, ia tak punya pilihan. Ia sudah berjanji dalam hati untuk tidak lagi melakukannya, paling tidak sering-sering atau untuk kasus yang gawat.

Abriel menghampiri Isabel yang sedang membeli beberapa potong surabi di pinggir jalan, ia segera memberitahunya mengenai kesuksesan alasan yang mereka rencanakan tadi.

"Artinya habis ini kita tinggal cari tempat istirahat. Kalau bisa sih di daerah Lembang, biar lebih dekat," ujar Isabel.

"Kita nginap di penginapan? Berdua?" Abriel sedikit tak yakin itulah rencana Isabel.

"Beda kamar. Tapi kalaupun satu kamar, kamu tidurnya di sofa, saya di kasur."

"Tenaaaang. Aku bukan cowok yang suka aneh-aneh gitu. Kalau bukan sama pacar sendiri," goda Abriel seraya terkekeh jahil.

"Idih," dengus Isabel seraya mengalihkan tatapannya ke sepatunya. "Kita pesan dua kamar. Fix."

Tak lama kemudian antrean surabi sudah lumayan padat. Setelah menerima surabi mereka, mereka segera memindahkan jojodok mereka ke pinggir trotoar dekat selokan.

Sambil asyik menyantap surabi rasa oncomnya, Isabel melirik Abriel. "El, apa kamu marah juga sama Adit?" tanyanya tiba-tiba.

Abriel otomatis mengunyah lebih lambat. Tadi, meskipun rahangnya sakit, dengan suasana malam yang hangat bersama Isabel, rasa sakitnya sama sekali tidak terasa. Sekarang, mendadak saja rahangnya terasa ngilu.

"Nggak marah. Cuma... aneh aja," ujarnya. Sedari tadi barulah sekarang mereka membahas kembali topik sore tadi.

"Adit itu cuma kebetulan dari Tuhan. Kebetulan juga dia teman kamu. Segalanya udah diatur. Meski itu kadang nggak selalu menguntungkan kita."

"Terus perasaan kamu juga, apa Tuhan yang menggerakkan?"

Isabel terdiam sejenak sebelum mengangguk. "Iya."

"Kalau gitu gimana perasaan kamu sekarang sama Adit, yang sebenar-benarnya? Kamu ada rasa sama dia?" tanya Abriel, masih memandangi surabi di dalam wadah dari koran bekas berlapis kertas minyak di tangannya.

"Nggak tahu. Belum bisa mastiin. Mungkin sekarang saya bisa bilang suka, tapi besok pagi saya bisa bilang enggak," Isabel menjawab langsung. "Kalau belum mantap, hati manusia memang suka oleng. Barangkali bisikan setannya lebih kuat."

Abriel tidak tahu harus bereaksi apa. Dan di tengah jeda lama kebisuan Abriel, tukang surabi tadi mengantarkan kantong plastik berisi pesanan tambahan mereka yang dibungkus. Setelah menerima bungkusan itu dan membayarnya, mereka kembali ke dalam mobil. Abriel sudah menempati kursi dikemudi, dan Isabel tahu sudah saatnya ia duduk manis.

"Menuju kota Lembang!" seru Isabel. Setelah menyeruput habis sisa seperempat kaleng cappuccino-nya, ia mendadak menyerongkan tubuhnya dan mengenyakkan kepalanya di bahu Abriel. Seperti refleks, Abriel pun mendekatkan bahunya ke kiri agar Isabel lebih nyaman.

Panas di hati Abriel melebur seketika. Sejenak, ia melupakan perasaannya yang tadi sempat drop, mengingat selama ini Isabel-lah orang yang sangat disukai sahabatnya. Sesaat, hatinya mendadak diliputi kesejukan. Sekali lagi, ia bisa mencium aroma mint lembut yang menguar dari rambut Isabel. Sekilas, ia mengecup sisi kanan puncak rambut Isabel dengan tidak kentara. Kali ini, ia tidak lagi bisa mengabaikan perasaannya pada gadis ini.

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (19)
  • Cassanouva

    Teenlit namun lbh matang. Metropop namun tidak ngepop amat. Kadarnya pas, bakal lanjut membaca cerita cantik ini. Trims Author untuk cerita ini

    Kalau suda beres saya akan kasih review.

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • ruriantysavana

    ka cek inbox ya aku ada pertanyaan2 tentang cerita ini
    mau di sini tp tkt spoiler hehe, thx

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • ala_fifi

    baca karya ini jd pgn nulis yg bagus jg rasanya, pgn latihan banyak biar bisa gini

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
  • Retha_Halim

    Good job, Author. On chaper41

    Comment on chapter 41. Dua Hati (TAMAT)
  • yurriansan

    diksinya mantep banget, kudu banyak belajar nih

    Comment on chapter 2. Pantomim Waktu
  • Andrafedya

    @firlyfreditha silakan dibaca sampai beres, kalau masih blm ketemu nanti kukasih tau deh :)

    Comment on chapter 14. Saling Melarutkan
  • Andrafedya

    @ayuasha febby baik, cuma temperamental. Tapi dia juga punya sisi baik, kok :) terima kasih sudah membaca

    Comment on chapter 14. Saling Melarutkan
  • firlyfreditha

    bersetting tahun brp kak?

    Comment on chapter 3. Pemantauan
  • ayuasha

    kesel sama Febby sumpah

    Comment on chapter 9. Tergelincir
  • Andrafedya

    @defreeya selamat membaca, jangan berhenti ya. Terima kasih banyak buat apresiasinya

    Comment on chapter 1. Makhluk Malang
Similar Tags
krul
141      106     0     
Action
perjalan balas dendam seorang gadis yang berujung dengan berbagai kisah yang mengharukan,menyedihkan,menyakitkan,dan keromantisan,,,
Cheossarang (Complete)
298      179     0     
Romance
Cinta pertama... Saat kau merasakannya kau tak kan mampu mempercayai degupan jantungmu yang berdegup keras di atas suara peluit kereta api yang memekikkan telinga Kau tak akan mempercayai desiran aliran darahmu yang tiba-tiba berpacu melebihi kecepatan cahaya Kau tak akan mempercayai duniamu yang penuh dengan sesak orang, karena yang terlihat dalam pandanganmu di sana hanyalah dirinya ...
Lentera
38      34     0     
Romance
Renata mengenal Dimas karena ketidaksengajaan. Kesepian yang dirasakan Renata akibat perceraian kedua orang tuanya membuat ia merasa nyaman dengan kehadiran lelaki itu. Dimas memberikan sebuah perasaan hangat dan mengisi tempat kosong dihatinya yang telah hilang akibat permasalahan kedua orang tuanya. Kedekatan yang terjalin diantara mereka lambat laun tanpa disadari telah membawa perasaan me...
Journey to Survive in a Zombie Apocalypse
31      26     0     
Action
Ardhika Dharmawangsa, 15 tahun. Suatu hari, sebuah wabah telah mengambil kehidupannya sebagai anak SMP biasa. Bersama Fajar Latiful Habib, Enggar Rizki Sanjaya, Fitria Ramadhani, dan Rangga Zeinurohman, mereka berlima berusaha bertahan dari kematian yang ada dimana-mana. Copyright 2016 by IKadekSyra Sebenarnya bingung ini cerita sudut pandangnya apa ya? Auk ah karena udah telan...
Rumah Laut Chronicles
57      47     0     
Horror
Sebuah rumah bisa menyimpan misteri. Dan kematian. Banyak kematian. Sebuah penjara bagi jiwa-jiwa yang tak bersalah, juga gudang cerita yang memberi mimpi buruk.
Dendam
51      37     0     
Mystery
Rian Putra Dinata, seorang pelajar SMU Tunas Muda, memiliki sahabat bernama Sandara. Mereka berdua duduk di bangku yang sama, kelas XI.A. Sandara seorang gadis ceria dan riang, namun berubah menjadi tertutup sejak perceraian kedua orang tuanya. Meskipun Sandara banyak berubah, Rian tetap setia menemani sahabatnya sejak kecil. Mereka berjanji akan terus menjaga persahabatan hingga maut memisahk...
Black Roses
910      478     0     
Fan Fiction
Jika kau berani untuk mencintai seseorang, maka kau juga harus siap untuk membencinya. Cinta yang terlalu berlebihan, akan berujung pada kebencian. Karena bagaimanapun, cinta dan benci memang hanya dipisahkan oleh selembar tabir tipis.
Iblis Merah
243      180     0     
Fantasy
Gandi adalah seorang anak yang berasal dari keturunan terkutuk, akibat kutukan tersebut seluruh keluarga gandi mendapatkan kekuatan supranatural. hal itu membuat seluruh keluarganya dapat melihat makhluk gaib dan bahkan melakukan kontak dengan mereka. tapi suatu hari datang sesosok bayangan hitam yang sangat kuat yang membunuh seluruh keluarga gandi tanpa belas kasihan. gandi berhasil selamat dal...
The Friends of Romeo and Juliet
766      366     0     
Romance
Freya dan Dilar bukan Romeo dan Juliet. Tapi hidup mereka serasa seperti kedua sejoli tragis dari masa lalu itu. Mereka tetanggaan, satu SMP, dan sekarang setelah masuk SMA, mereka akhirnya pacaran. Keluarga mereka akur, akur banget malah. Yang musuhan itu justru....sahabat mereka! Yuki tidak suka sikap semena-mena Hamka si Ketua OSIS. dan Hamka tidak suka Yuki yang dianggapnya sombong dan tid...
Error of Love
48      37     0     
Romance
Kita akan baik-baik saja ketika digoda laki-laki, asalkan mau melawan. Namun, kehancuran akan kita hadapi jika menyerah pada segalanya demi cinta. Karena segala sesuatu jika terlalu dibawa perasaan akan binasa. Sama seperti Sassy, semua impiannya harus hancur karena cinta.