Namaku Aquarius Bii. Entahlah, beberapa temanku (yang peduli) bertanya mengapa orang tuaku memberi nama zodiak kesebelas dalam urutan perbintangan Yunani. Hanya aku yang diberi nama begitu. Menurutku itu unik, juga sedikit aneh.
Aku lahir tanggal 19 Februari 1998. Aku baru saja berulang tahun ke 15 kemaren. Beberapa temanku memberi ucapan selamat seadanya. Aku juga tidak berharap lebih pada mereka, sebuah kado atau kejutan di dalam kelas.
Bagiku, peringatan bertambahnya umur itu tidaklah terlalu penting. Yang terpenting adalah keluargaku mengingatnya. Jadi, pada akhirnya aku masih menunggu pada hari kedua. Tidak ada yang mengenaliku seperti seseorang yang sedang berulang tahun.
Sejak hari itu aku tidak pernah ingin mengingat hari ulang tahunku lagi.
***
Sejak makan malam yang memalukan bagi Riu, dia selalu melarikan diri dari Ana dan Leo. Kedua orang itu juga nampak tidak ingin bertatap mata atau mengucapkan sepatah dua patah kata dengan Riu. Rasanya canggung sekali di keadaan seperti ini. Diam-diam melarikan diri, diam-diam bersembunyi.
"Kamu ngapain? Kayak maling yang dikejar-kejar warga aja," tanya Gilang heran memperhatikan Riu yang sedang berjalan di belakangnya, menyembunyikan wajahnya setiap kali ada yang berpapasan dengan mereka.
Pagi ini mereka ke kantor bersama. Gilang menjemput Riu ke rumah kontrakannya.
"Ngga apa-apa," kata Riu singkat, sambil terus menyembunyikan tubuh kecilnya di balik punggung Gilang yang lebar.
Gilang berdecak. Dia menarik Riu untuk berjalan di sampingnya. "Jalan yang benar," cetusnya.
Tepat saat Riu tertarik ke samping Gilang, tubuhnya hampir menabrak seseorang yang tidak tahu akan insiden itu.
Mata Riu melotot ketika berhadapan dengan Leo. Pria berwajah datar yang memiliki mata unik seperti kucing itu di balik kaca matanya. Riu menahan napas untuk beberapa detik. Sampai akhirnya Gilang menariknya menjauh, memberi jarak antara dirinya dengan Leo.
Gilang memutar bola matanya malas. "Bii? Sadar!" Dia menepuk bahu Riu membuat gadis itu tersentak kaget.
Leo, laki-laki itu tersenyum kecil pada Gilang dan memberi hormat. Lalu pergi dari sana, melanjutkan pekerjaannya, mungkin.
Riu tersadar. Dia melengok ke kanan dan ke kiri. Pria itu sudah pergi.
"Dia sudah pergi," kata Gilang menjawab pikiran Riu. Dia berjalan lebih dulu, masuk ke dalam ruangan editor dan melesat ke dalam ruangan pribadinya.
Riu menepuk dahinya. "Bodoh!" katanya meringis. Dia masuk ke dalam ruangan bercat warna abu-abu pudar itu. Berjalan ke mejanya dan duduk dengan wajah memerah.
Di samping mejanya, Tara si gadis berambut pendek itu melihat Riu penasaran. "Wajah kamu kenapa, Riu? Digoda sama Pak Gilang, ya?" tanyanya.
"Hah?" Riu tersentak. Dia menganggkat kepala, mendongak menatap Tara kaget. Sedetik kemudian dia menggelengkan kepala. "E-enggak, kok," jawabnya terbata.
Tara terkikik. Gadis itu memiliki wajah imut dengan mata sipit dan bibir kecil berwarna pink cerah. "Semua orang di kantor juga tahu kamu dengan Pak Gilang deket," katanya. Dia membuat kedua jari telunjuknya beradu. Gadis itu duduk di samping Riu.
"Apa? Apa maksudnya itu?" tanya Riu bodoh, menunjuk pada jari Tara.
Tara tertawa. Dia menjulurkan lidah sebagai jawaban. Lalu kembali menatap layar monitornya, mengedit video wawancara, laporan pengamatan dan beberapa hal lain yang akan dirangkum untuk di kirim ke tim percetakan untuk diketik nantinya.
"Tara. Siapa? Apa? Aku ngga ada hubungan apa-apa sama Pak Gilang," kata Riu berisik. Dia menggoyang-goyangkan lengan Tara untuk menerima penjelasan.
Lagi, Tara tertawa. "Lihat, deh! Kamu salah tingkah. Aku ngga akan beri tahu siapapun," dia mendelik.
"Beri tahu apa?" Riu semakin tidak mengerti. Dia menatap lamat-lamat gadis berusia 23 tahun itu menunggu jawaban.
"Kalian sering ke mana-mana bersama, kan?" kata Tara masih fokus pada layar komputer.
"Lalu?"
"Itu menandakan kalian memiliki hubungan spesial."
"Tidak ada."
"Mungkin tidak akan lama lagi. Atau.. entahlah."
"Atau apa?"
Tara menghembuskan napas. Dia berdecak lalu menoleh pada Riu. "Riu kamu cerewet."
"Aku ingin tahu."
"Hanya itu yang aku tahu," kata Tara jujur. "Sudah! Jangan menganggu!" katanya sebelum Riu bertanya lagi.
Riu cemberut. Dia menekuk kepala menatap meja kerjanya. Lalu menoleh ke kiri melirik Gilang dari balik kaca transaran, laki-laki itu sedang menerima telepon dari seseorang. Dia menghela napas panjang. Apa-apaan, sih. Memangnya kita terlihat seperti dua orang yang berkencan? Mustahil. Batinnya.
***
Leo tidak tenang di meja kerjanya. Beberapa kali dia melepas kaca mata, mengusap mata dengan tangan, lalu kembali menatap layar komputer.
Dia menghela napas, memutar duduknya menatap ke luar jendela. Ada masalah dengan matanya atau mungkin pikirannya.
Sejak makan malam bersama si anak baru itu, sikap gadis itu menjadi sedikit aneh. Pernah Leo pergoki gadis itu sedang mengendap-endap berjalan di lorong lantai atas. Melihat ke kanan dan ke kirim, menutup wajah dengan buku, atau menunduk sepanjang jalan. Jadi Leo beranikan diri untuk berjalan berpapasan dengan gadis itu.
Benar saja. Gadis itu menatapnya kaget. Lalu buru-buru menundukkan wajah dan melesat secepat kilat menuju lift. Beberapa kali kejadian itu terulang. Semisal mereka tidak sengaja bertemu di dapur, menggunakan lift bersama, atau sekedar berpapasan tidak sengaja seperti tadi pagi.
Leo memejamkan mata sebentar. Sebelumnya dia tidak tertarik pada kedekatan gadis itu dengan kepala editor majalah The Blue ini. Melihat keduanya sering datang dan pulang ke kantor bersama membuat Leo penasaran apa hubungan keduanya. Tapi tidak Leo temukan barang satu pun yang bisa menjawab rasa penasarannya itu. Kedua orang berbeda umur itu nampak biasa-biasa saja seperti rekan kerja lainnya.
Leo membuka matanya. Memperhatikan gedung-gedung tinggi yang mengisi penjuru Ibu Kota. Dia tidak yakin apakah selama ini terlalu sibuk atau memang tidak peduli hingga tidak tahu betapa banyak gedung-gedung itu bertengger di mana-mana.
"Pembaca kita semakin banyak," kata Dani, si pria yag satu-satunya memiliki rambut keriting di kantor ini.
"Ya," sahut Leo singkat. Dia memutar kembali duduknya menghadap layar komputer yang masih menyala.
"Kerja bagus kawan," katanya bangga.
Leo tersenyum kecil, tidak berminat dengan ucapan itu.
"Oh, iya. Ada anak baru di bagian tim editor, ya?"
"Iya," sahutnya sambil menggulir layar komputer.
"Dia orang yang ramah. Aku bahkan bisa berkenalan dengannya dalam sehari. Dia banyak biacara, sedikit lucu dan yah.. menyenangkan untuk ukuran anak seumur dia," tutur Dani mengangguk-angguk mengingat perkenalan mereka.
"Dia umur berapa?" tanya Leo tidak berminat.
"20 tahun."
Kedua alis Leo bertaut. "20 tahun?" mengulang kata-kata Dani.
Dani menganggukkan kepala. Dia berdecak kagum. "Coba saja aku bisa masuk ke kantor ini seperti Riu. Tanpa syarat apa pun. Enak, kan?"
"Tanpa syarat?" tanya Leo lagi.
Dani memasang wajah serius. Dia mendekatkan wajah pada Leo. Leo juga mendekat untuk mendengarkan apa yang ingin Dani katakan.
"Berita yang beredar.. mereka memiliki hubungan spesial. Semacam berpacaran," bisik Dani hati-hati, takut ada yang mendengarkan.
"Serius?" Leo menatap Dani penasaran.
"Yang aku dengar begitu," sahut Dani.
"Bagaimana beritanya beredar secepat itu? Bahkan gadis itu baru bekerja selama 3 minggu," sanggah Leo.
Dani mengangkat bahu. "Mana aku tahu. Mungkin saja mereka sudah saling mengenal sebelum ini. Dilihat dari cara mereka berbicara, dekat, mereka memang sudah lama saling mengenal."
Leo terdiam. Mungkin saja, batinnya.
"Jangan bilang kamu tertarik dengannya. Dia sudah milik kepala editor. Kita tidak akan bisa mengalahkan si laki-laki tampan itu." Dani tertawa, yang hanya dibalas Leo dengan memalingkan wajah.
Tawa berderai Dai hilang. "Sudahlah. Aku mau ambil minum," katanya. Merasa tidak diacuhkan, Dani memilih pergi mengambil minuman dingin ke dapur di lantai 1.
Leo membiarkan Dani pergi. Dia kembali menatap monitor komputer. Namun pikirannya diambil alih oleh Riu dan berita burung yang dibawa oleh Dani kepadanya.
Mungkin saja kedua orang itu sudah mengenal sebelumnya. Sebab itu keduanya tampak akrab, sering berdua di jam makan siang, datang ke kantor bersama. Sesekali juga Leo lihat keduanya pulang dengan mobil Gilang.
Entahlah, Leo jadi memikirkan gadis itu. Sebenarnya Leo hanya ingin tahu tentang alasan gadis itu menjauhinya. Pasalnya Ana juga tidak lagi nampak berbicara dengan Riu, seperti awal perkenalan mereka yang menyenangkan.
Ah, Leo lupa kalau Ana juga menghindarinya sejak saat itu. Leo akan berbicara dengan Ana nanti. Mungkin juga dengan gadis itu suatu saat.
***