Tangannya sangat dingin. Tubuhnya masih bergetar. Ketakutan. Aku mengelus pipinya. Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Aku ingin mengucapkan beberapa kata itu, tapi entah mengapa mulutku masih saja terkunci. Tetap diam dan hanya bisa memandanginya.
“Sakit?” tanyaku. Ada memar merah di pipi kanannya. Sudah pasti Dina menampar Yuli dengan teramat keras. Aku tahu dia merasa sakit, tapi kepalanya tetap menggeleng.
“Aku tidak pantas berada di sini,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Aku tidak pernah tahu bahwa Yuli bisa menunjukkan sisi lemahnya sekali lagi padaku. Seperti belasan tahun yang lalu.
“Ini permintaan Dini.” Aku meyakinkan, namun dia tetap menggeleng.
“Tidak ada yang mengharapkanku ada di sini,” dia tetap menolak. Aku menggeleng. Menangkup wajahnya agar berhenti bergerak dan menatapku.
“Dini yang memintamu ada di sini,” ucapku, penuh penekanan. Dia terdiam. Dan setetes air matanya keluar tepat di depanku.
Sebegitu nelangsa kah apa yang dia rasakan saat ini? Katakanlah aku pengecut yang mengatas namakan Dini sebagai alasan agar Yuli tetap berada di sisiku. Tapi tidak bisakah kali ini menjadi waktu untuk kebebasan hatiku? Untuk hatinya? Untuk hati kita?
“Ini adalah takdir yang selama ini kita nantikan, yang selalu menjadi mimpi panjang,” suaraku tercekat. Mata Yuli yang menatapku memilih untuk terpejam. Membiarkan segala air matanya tumpah ruah. Setelah delapan belas tahun, ini adalah tangisan kedua yang dia tunjukkan padaku.
“Aku merasa bersalah…”
Tangan Yuli mencengkram kemejaku sambil terus menangis dan menundukkan kepala. Perempuan keras kepala yang sok kuat ini benar-benar lemah sekali hatinya.
“Harusnya kamu berhenti mengejarku saat itu. Harusnya kamu nggak menungguku di depan toko. Harusnya kamu menjauh…” Yuli terus terisak. Kali ini cengkraman tangannya berubah menjadi pukulan-pukulan tak bertenaga di dadaku.
“Tidak… harusnya aku yang bisa menahan perasaanku untuk berhenti mencintaimu.”
Kalimat terakhir Yuli membuatku menatapnya dalam, lalu entah mengapa air mata ikut turun menyusuri wajah.
“Ternyata membutuhkan waktu delapan belas tahun,” lirihku. Wajah Yuli yang sejak tadi menunduk, terngadah, menatapku. “Butuh delapan belas tahun untuk mendengar pengakuan cintamu.”
Yuli kembali memukul dada dan lenganku sambil terus menangis, lalu berganti memukul punggungku saat tubuhnya tenggelam dalam pelukan. Kalimat ‘kita tidak boleh seperti ini’, ‘aku harus pergi’, ‘aku tidak pantas’, berulang-ulang ia bisikkan. Dan aku tidak peduli. Sama sekali tidak peduli. Biarlah orang berkata aku tidak punya hati. Telah memeluk perempuan lain di hari kematian sang istri. Mulai detik ini aku tidak peduli apa kata orang-orang itu. Siapa yang peduli dengan apa yang orang lain katakan saat mereka hanya bisa menerka dan merangkai cerita sesuai apa yang mereka inginkan?
Sedihhh bgt tapi baguss lanjut terus yaa????
Comment on chapter Prolog