Read More >>"> Aku. Kamu. Waktu (Bab 4: Aku Yang Mengejar Takdir) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Aku. Kamu. Waktu
MENU
About Us  

 

April, 2001

 

Aku melihatnya.

            Aku melihat punggung gadis itu menjauh dengan terburu-buru saat aku membuka pintu. Dan hal itu cukup untuk membuatku termenung di depan pintu.

            Dia mendengar semuanya. Aku yakin jika gadis itu telah mendengar semuanya. Yang artinya, dia telah mengetahui perasaanku. Rasa yang tak aku kira menguat saat melihatnya berlarian di ruang UGD dengan air mata dan seragam sekolah yang penuh dengan darah.

            “Yanuar, kamu masih di sini? Katanya mau berangkat les?” Ayah bertanya saat baru saja keluar dari ruangannya.

            “Yah.”

            “Ada apa?”

            “Aku bolos les hari ini.”

            “Lho? Kenapa?”

            Aku tidak sempat menjawab pertanyaan ayah karena kakiku sudah bergerak dengan gerakan cepat. Membawaku mengejar jejak gadis itu.

            Tidak sulit untuk menemukannya. Aku tahu pasti tujuannya. Dia pasti kembali ke ruangan ibunya.

            “Tunggu.”

            Aku menarik tangannya sebelum menyentuh gagang pintu. Dia berbalik. Melebarkan mata.

            “Ah, maaf.”

            Secara spontan aku melepaskan tangan mendapat tatapan tajamnya.

            “Aku rasa kita perlu bicara,” ucapku. Dahinya merengut.

            “Kenapa?” tanyanya, membuatku mati kutu.

            Aku menggaruk belakang leherku dengn salah tingkah. Aku juga tidak tahu kenapa harus berlarian mengejarnya, ditambah menarik tangannya seperti tadi. Hanya saja, aku rasa ada yang perlu aku jelaskan saat mengetahui gadis itu mendengar pembicaraanku dengan ayah.

            “Masalah di ruangan ayahku tadi—”

            “Jangan bicara di sini,” gadis itu memotong ucapanku. Berjalan lurus melewatiku. Aku termenung menatap punggungnya.

            “Kenapa berdiri di sana saja?” Dia berbalik, bertanya padaku.

            “Eh?” Dan dengan bodohnya aku hanya bisa melongo. Dia kembali berjalan, dua detik kemudian aku tersadar dan mencoba berjalan menyamai langkahnya.

            Aku dan dia tidak banyak bicara. Ah, bahkan tidak bicara sama sekali selama melewati koridor rumah sakit.

            “Aku akan membayar semuanya.”

            “Apa?”

            Aku cukup terkejut saat dia tiba-tiba menghentikan langkah saat tiba di sudut koridor yang sepi.

            “Hutangku,” tegasnya.

            Aku menggeleng. “Aku tidak menganggapnya sebagai hutang.”

            “Mungkin butuh waktu yang lama, tapi akan aku lunasi,” tegasnya lagi.

            “Aku tidak mau.”

            “Lima bulan. Tolong beri aku waktu lima bulan untuk melunasinya.”

            “Aku tidak mau.”

            “Tiga bulan.”

            “Bukan seperti itu maksudku.”

            “Apa terlalu lama? Satu bulan?”

            Aku menghela napas panjang. Gadis ini sangat keras kepala. Lihat bagaimana dia menatapku dengan mata yang tajam itu.

            “Lima bulan.” Aku tidak bisa menangani keras kepalanya. “Aku beri waktu lima bulan.”

            Gadis itu mengangguk, lalu berlalu begitu saja dari hadapanku. Membuatku kembali berjalan untuk menyamai langkahnya.

            “Kamu hanya membicarakan itu?” tanyaku, tapi tidak mendapat jawaban. Langkahnya semakin cepat.

            “Kamu tidak ingin bertanya tentang…” Aku menggantungkan ucapanku. Menghentikan langkah saat menyadari dia sudah mulai berlari dariku.

            “Apa kamu tidak ingin bertanya tentang perasaanku?” pertanyaanku menggantung di udara.

            Kenapa rasanya menyedihkan saat melihatnya berlari menjauh karena dia telah mengetahui hatiku? Ini terlihat seperti aku yang telah kalah bahkan sebelum memulai. Memberiku pertanda bahwa tidak akan mudah untuk berada di sisinya.

            Aku sendiri juga tidak tahu bagaimana bisa aku tertarik dengan gadis itu hanya dengan mencuri dengar dari pembicaraannya di kantin? Bagaimana bisa aku menyukai seseorang yang telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan jatuh cinta dan menikah?

            “Aku tahu kamu seperti ini karena ayahmu, tapi nggak semua laki-laki itu kasar, brengsek. Jangan berpikir laki-laki jahat hanya karena ayahmu…”

            Seperti apa ayahnya hingga membuat gadis itu mengalami luka dan menganggap semua laki-laki sama?

            Aku tidak tahu kenapa hari itu dia bisa menabrakku dua kali. Aku tidak mengerti kenapa harus duduk di belakangnya saat menikmati makan siang di kantin dan mendengar kisah sedihnya. Dan aku tidak paham bagaimana bisa aku jatuh hati karena pertemuan itu. Pertemuan yang mungkin tidak diingat olehnya.

            Dan, kenapa aku menjadi orang yang ingin melindunginya? Bahkan menukar masa depanku hanya untuknya?

***

            Ibunya keluar rumah sakit tiga hari kemudian. Aku melihat dari kejauhan saat gadis itu menggandeng ibunya dengan lemah lembut berjalan menyusuri koridor. Aku membuang muka saat dia berjalan semakin mendekatiku. Berpura-pura tidak melihat, tapi aku tahu dia menyadari keberadaanku sejak tadi.

            Saat dia berjalan semakin jauh, aku hanya kembali menatap punggungnya. Seorang perempuan yang beberapa hari lalu ikut menemaninya di rumah sakit datang dan ikut menggandeng ibunya. Gadis itu berbicara cukup lama sebelum akhirnya membalikkan badan setelah melambaikan tangan pada ibunya dan perempuan itu.

            Tunggu, apa dia tengah berjalan ke arahku?

            “Yuli.”

            Aku sungguh mengedipkan mata berkali-kali saat dia berdiri di depanku dan mengucapkan sepatah nama.

            “Apa?” Aku bertanya, bingung.

            “Namaku Yuli,” ucapnya. Tanpa ada senyum sedikit pun, tapi aku sangat bahagia saat tahu dia benar-benar ada di depanku dan kini memberitahu namanya tanpa kutanya. Aku rasa malam ini aku bisa mimpi indah karena akhirnya bisa mengetahui namanya.

            “Namaku Yanuar.”

            Aku menjulurkan tangan. Mengajak bersalaman, tapi dia menatap dengan datar uluran tanganku. Membuatku salah tingkah. Aku akan menurunkan tanganku saat dia membalas salaman itu dengan waktu yang singkat.

            Aku tersenyum. Lebar sekali.

            “Terima kasih, Yanuar,” ucapnya. “Hari ini tanggal 28 April. Lima bulan lagi, 28 September aku janji akan membayar lunas hutangku.”

            “Sebenarnya tidak perlu—” Aku menghentikan ucapanku saat merasa air muka Yuli yang sangat tidak bersahabat. “Baik. Akan aku tunggu,” ucapku, pada akhirnya. Dia mengangguk. Lalu tersenyum. Aku tidak tahu apa penglihatanku yang bermasalah, tapi aku benar-benar melihat senyumnya saat ini, walau itu hanya senyuman kecil.

            “Aku tidak tahu kenapa kamu rela melakukan itu semua, tapi sungguh berterima kasih. Jika saja ibuku tidak ditangani dengan cepat, aku tidak yakin masih memiliki seorang ibu hari ini.”

            Yuli berkata dengan begitu lembut namun nadanya memberikan ketegasan.           

            “Aku juga minta maaf atas kejadian beberapa hari yang lalu, tidak dapat berterima kasih secara langsung. Maaf.”

            “Tidak masalah. Aku faham kamu pasti terkejut saat mendengar percakapanku dengan ayahku saat itu.”

            Yuli tidak menjawab secara langsung. Dia hanya menundukkan kepala. Lima detik. Dan tatapan matanya kembali menghunusku.

            “Saat itu aku hanya masih tidak percaya ada orang yang melakukan kebaikan seperti itu dan bahkan rela melepas masa depannya hanya karena aku.”

            “Lalu apa sekarang kamu percaya?”

            “Tidak.”

            Aku tersenyum. Bukan apa-apa. Hanya saja menyadari betul betapa keras kepalanya gadis ini. Dia benar-benar tipe orang yang berpendirian teguh.

            “Tanggal 28 di tiap bulan aku akan menemuimu untuk membayar hutang. Di mana kita bisa bertemu?” tanyanya. Mengganti topik pembicaraan.

            “Kita bisa bertemu sepulang sekolah,” jawabku. Dia mengganguk.

            “Baik. Di mana sekolahmu? Aku akan ke sana nanti,” sahutnya. Aku menghela napas panjang. Sudah kukira jika dia benar-benar tidak mengingatku.

            “Aku satu sekolah denganmu.”

            “Apa?”

            Dahi Yuli merengut, bingung.

            “Seminggu yang lalu kamu menabrakku dua kali di koridor.”

            Yuli terdiam. Sepertinya berusaha memutar kembali ingatannya.  

            “Saat kamu ditarik-tarik temanmu.”

            Dia masih menatapku dengan dahinya yang melipat-lipat. Ekspresi wajahnya membuatku tertawa kecil. Dia terlihat lucu sekali saat berusaha keras mengingat kejadian itu, yang sepertinya benar-benar tidak akan dia ingat. Mungkin ada banyak orang yang telah dia tabrak di koridor setiap harinya.

            “Aku kelas 11 IPA 3. Kalau kamu mencariku, aku di sana,” ucapku, mengganti lagi topik pembicaraan agar dia berhenti dengan kebingungannya.

            Benar saja, kerutan di dahinya spontan menghilang.

            “Baiklah.”

            Kembali hening.

            “Kamu… tidak jatuh cinta padaku karena bertabrakan denganku, kan?” tanyanya, tiba-tiba. Membuatku tersendak dan terbatuk begitu saja.

            “Tentu saja tidak!” Aku mengelak. Dia kembali mengangguk.

            “Baguslah.”

            “Memangnya jika iya kenapa?”

            “Terlihat konyol sekali. Ini realita kehidupan, bukan drama,” suara Yuli terdengar sarkastik dengan kalimat itu. Telak membuatku terdiam. Dan yang aku bingungkan, kenapa juga aku bisa terdiam.  

            “Lalu kenapa kamu jatuh cinta padaku?”

            “Kamu serius menanyakan ini?”

            “Kenapa? Apa aku salah?”

            Aku menganga. Gadis ini sungguh luar biasa. Lihatlah bagaimana pancaran matanya benar-benar datar, tapi berusaha menelisik jawaban dariku.

            “Kenapa?” tanyanya lagi, mulai tak sabar.

            Aku menggidikkan bahu. “Jangan tanya.”

            “Kenapa?”

            “Karena aku sendiri tidak tahu.”

            Dia terdiam. Tiga detik dengan tiga kedipan mata saat dia mencerna ucapanku.

            “Baguslah.” Yuli mengangguk.

            “Kenapa?” Kali ini aku yang bertanya.

            “Mungkin itu karena hanya perasaan sesaat.”

            “Apa?”

            “Karena sebaiknya hilangkan saja perasaanmu. Aku tidak bisa membalasnya.”

            “Kenapa?” Aku sungguh menjadi pengganti perannya untuk mengucap kata ‘kenapa’.

            “Karena aku tidak bisa jatuh cinta.”

            “Bagaimana jika suatu saat nanti aku bisa membuatmu mencintaiku?”

            “Kita masih terlalu muda untuk berbicara tentang cinta.”

            “Kenapa? Masa muda adalah masa bagi para pecinta. Kamu pasti belum pernah pacaran, dan mungkin belum pernah… jatuh cinta?” candaku, tapi dia masih memandangku dengan datar.

            “Memang.”

            “Apa?”

            “Apa salahnya tidak pernah pacaran dan jatuh cinta.”

            “Tidak salah sih.”

            “Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai ketemu satu bulan lagi.”

            “Besok kita pasti bertemu lagi di sekolah.”

            Dia tidak menjawab. Memberiku tatapan datarnya sebelum berbalik pergi. Dia gadis yang penuh dengan keyakinan. Terutama tentang cinta. Tidak akan ada manusia yang tidak jatuh cinta di dunia ini. Dan entah mengapa aku ingin mematahkan keyakinannya. Aku akan membuatnya merasakan seperti apa jatuh cinta. Aku ingin membuatnya mengerti kenapa aku rela melakukan ini semua untuknya.

***

            Saat aku bilang ingin mematahkan keyakinannya tentang cinta. Aku bersungguh-sungguh untuk itu. Aku juga tidak tahu aku begitu tertarik dengan seorang gadis saat tahu bahwa dia tidak ingin jatuh cinta dan menikah suatu hari nanti.

            “Itu perasaan kasihan, Yan,” Bima mengambil kesimpulan dari apa yang aku ceritakan padanya beberapa saat yang lalu. Dengan membereskan beberapa buku di atas meja dia terus berbicara, “Nggak usah terlalu dipikirin. Masih banyak noh cewek yang pingin jadi cewek lo.”

            Bima mengerling pada beberapa teman kelas perempuan yang duduk di sebelah kanan. Aku sendiri diam saja. Sebenarnya masih memikirkan apa yang Bima ucapkan tentang perasaan kasihan.

            Benarkah?

            “Gue tahu sih lo emang hatinya kupu-kupu, tapi nggak usah sok gitulah. Ngapain tetep jomblo kalau banyak yang nunggu lo. Jangan malah berharap sama cewek yang nggak jelas.”

            “Diem lo.”

            Aku benar-benar tidak suka dengan perkataan Bima kali ini. Rasanya percuma saja sudah bercerita dan berharap mendapat jawaban yang lebih baik tetapi malah tidak memberi apa-apa. Aku keluar kelas tanpa menunggu Bima. Berjalan melewati lorong dengan pikiran yang masih penuh dengan satu nama. Sudah empat hari dari perbincangan terakhir di rumah sakit, dan aku sama sekali masih belum bertegur sapa di sekolah.

            Bagaimana bisa bertegur sapa jika saat aku mencoba melihat dan tersenyum padanya secara otomatis dia membuang wajah dariku, lalu berjalan lebih cepat.

            “Kamu nggak capek nambah jam kerja?”

            “Biasa.”

            Aku kenal suara ini. Nada datar ini. Sudah pasti Yuli.

            “Bohong. Pasti capek lah. Lagian ngapain sih jadi kerja sampai malem?”

            Aku berusaha mati-matian untuk tidak membalikkan badan demi tetap mencuri dengar pembicaraan Yuli dan temannya ini.

            “Nggak apa-apa.”

            Aku bisa mendengar dengusan dari temannya, dan begitu pula yang terjadi padaku. Kenapa gadis ini benar-benar irit bicara. Dan tadi mereka membicarakan penambahan jam kerja, apa dia bekerja sampai malam untuk membayar hutang padaku?

            Hal itu seketika saja menghentikan langkahku, yang kemudian mendapat protes dari orang di belakangku karena berhenti mendadak. Saat aku menoleh, yang aku tahu dia teman Yuli. Menatapku dengan kesal.

            “Kalau jalan yang bener dong,” keluhnya. Aku diam. Malah tidak memerhatikannya karena mataku sudah terkunci pada wajah gadis yang kini ikut menatapku dengan tatapan datarnya itu.

            Hanya lima detik, lalu aku kembali berjalan. Masih kudengar beberapa keluhan teman Yuli tentangku, tapi aku tidak peduli. Yang aku pedulikan percakapan mereka selanjutnya.

            “Siapa sih? Kamu kenal? Dia liatin kamu.”

            “Nggak tahu.”

            Dan jawaban itu entah mengapa membuat hatiku tidak suka dan merasa menyesal kenapa aku berada di sini, mendengarnya.

***

            Baik. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan ini benar. Tapi aku sungguh penasaran di mana tempat kerja Yuli hingga membuatku seperti penjahat yang sedari tadi berusaha sembunyi demi tidak ketahuan mengikutinya.

            Lima belas menit berjalan dari sekolah, Yuli akhirnya memasuki sebuah toko yang terletak di kanan jalan. Aku menunggu di luar hampir dua puluh menit. Dan akhirnya mengira bahwa di tempat itu Yuli bekerja.

            Dengan percaya diri aku memasuki toko itu. Tersenyum lebar pada si penjaga, tapi senyum itu seketika membeku menjadi kecanggungan. Bukan Yuli yang berada di belakang meja kasir itu.

            “Selamat datang. Selamat berbelanja,” penjaga itu memberi sambutan. Aku mengangguk kaku. Berjalan memasuki toko dengan arah tak menentu. Pada akhirnya aku berdiri diam di depan rak makanan ringan. Sambil berpikir, “Apa aku salah lihat?”

            Kepalaku kembali menoleh. Memerhatikan seisi toko. Tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Yuli. Membuatku pada akhirnya mengambil satu makanan ringan secara acak dan segera kembali ke meja kasir.

            “Dua ribu,” ucap perempuan penjaga kasir. Aku merogoh sisa uang saku dan bersyukur menemukan uang pas.

            “Terima kasih sudah berbelanja.” Perempuan penjaga kasir menyerahkan makanan ringan yang sudah dibungkus plastik belanja kepadaku dengan tetap mempertahankan senyum. Aku menerimanya dengan senyuman ringan.

            Sebelum benar-benar berbalik, aku kembali menghadap perempuan itu dan bertanya, “Apa sebelum saya  tadi ada perempuan yang masuk ke tempat ini?”

            Perempuan itu mengernytitkan dahi, menggeleng. “Tidak ada.”

            Tidak ada? Sungguh?

            Aku ingin menanyakannya sekali lagi, tapi memilih untuk membalas dengan anggukan kecil dan keluar dari toko.

            Aneh. Aku benar-benar melihat Yuli masuk ke toko ini, kenapa dia menghilang?

***

            Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang kulakukan. Kenapa aku masih berada di tempat ini. Duduk di sudut jalan sambil mata yang terus memerhatikan toko yang sudah hampir lima jam menjadi objek pandanganku. Katakanlah aku gila—yah mungkin saja, tapi aku sungguh percaya jika Yuli berada di sana.

            Matahari sudah tergelincir satu jam yang lalu, panas yang menyengat di atas kepala telah mengilang dan terganti oleh awan hitam. Nyamuk-nyamuk mulai berterbangan mencari mangsa. Wajar saja karena ini sudah masuk jam kerja mereka. Mungkin hanya aku saja yang belum melakukan pergerakan. Karena kebosanan, selama beberapa menit terakhir aku sering menguap, lalu sesekali merenggangkan badan. Padahal hanya duduk-duduk saja tapi cukup membuat otot tegang dan kelelahan. Aku tidak bisa membayangkan betapa lelahnya Yuli jika harus bekerja sampai malam.

            Baru beberapa saat aku memikirkan tentang Yuli, seorang perempuan berseragam biru keluar dari toko dengan menenteng dua kantong plastik besar. Berjalan lambat menuju tempat sampah yang berada di samping toko. Aku membuka mata lebar-lebar, memerhatikan. Cukup lima detik untuk menyadarkan keyakinan, lalu dengan cepat kakiku melangkah menghampiri perempuan itu sebelum kembali memasuki toko.

            “Yuli.”

            Dia menoleh, kemudian memelototkan matanya terkejut.

            “Ternyata memang benar kamu,” Aku tersenyum. Lega karena penantianku sejak siang tadi tidak menjadi kesia-siaan.

            “Kamu gila ya?”

            Aku tertawa. Setelah beberapa hari tidak saling bertegur sapa, ternyata itu adalah kalimat pembuka pertama yang dia lontarkan padaku.

            “Mungkin.” Dan hanya inilah yang bisa kujawab. Kulihat dia membuka mulutnya. Ingin berkata, tapi entah harus bilang apa.

            “Kamu nggak perlu kerja sampai malam untuk membayar hutangmu padaku,” ucapku. Yah, inilah yang sangat ingin aku ucapkan pada Yuli hingga rela duduk setengah hari menunggunya. “Karena aku melakukan semua itu bukan untuk membuatmu terbebani,” lanjutku.

            Yuli tertawa. Tawa yang mengejek. Aku tahu. Dan aku tidak suka melihatnya.

            “Maksudnya kamu melakukannya dengan tulus? Dengan alasan cinta?” tanyanya. Aku diam saja. Toh, walau aku menjawab ‘iya’ dia tidak akan percaya. “Tidak ada yang tulus di dunia ini. Semuanya harus bermateri.”

            “Ada.”

            Yuli bersendekap dada. Pose menantang atas  ucapanku tentang ketulusan.

            “Kamu mau diberi contoh?” tanyaku.

            Yuli mendengus. “Apa? Perasaanmu? Jangan bercanda.”

            Aku menggeleng. “Kalau perasaanku nggak bisa membuktikan, perasaanmu sendiri bisa.”

            “Apa?”                                Dia bertanya, tak mengerti.

            “Perasaanmu pada ibumu,” jelasku. Cukup untuk membuatnya terdiam. Dan hal ini juga cukup membuatku tertawa senang. Aku tidak tahu bisa menang dari perdebatan kecil dengan Yuli bisa membahagiakan.

            “Itu berbeda dengan kasus kita,” seloroh Yuli, masih tak mau mengalah. Namun mendengar apa yang baru saja ia ucapkan malah membuat senyumku semakin lebar.

            “Wah, aku terharu kamu menyebut kata ‘kita’.”

            Aku bisa melihat air muka Yuli yang sudah kesal setengah mati. Tatapan mata datar itu berubah menjadi tajam.

            “Pokoknya aku akan tetap bayar hutangku. Terserah nanti kamu mau menerima uang itu atau tidak,” ucapnya secara final. Dia berbalik meninggalkanku dan memasuki toko.

            Malam itu menjadi malam yang panjang dengan senyuman yang terus berkembang. Walau Bunda di depan pintu sudah siap memberi ceramah karena pulang terlambat tanpa izin dan meninggalkan les, entah mengapa aku masih bisa tertawa dan malah memeluk Bunda dengan eratnya.

            “Kamu ini kenapa?” Bunda terus bertanya, aku pun terus tertawa.

            Bun, anakmu ini sedang jatuh cinta.

***

            Kukatakan sekali lagi, mungkin aku memang sudah gila. Ah, atau jatuh cinta ini yang membuatku bersikap demikian? Sudah seminggu terakhir aku sering mampir ke toko tempat Yuli bekerja. Sepulang sekolah, menunggu di depan toko sampai waktu les tiba, lalu kembali lagi ke toko sepulang les.

            Jangan tanya bagaimana air muka Yuli setiap berhadapan denganku. Aku tahu dia muak setengah mati, tapi saat kakinya menginjak toko dan seragam sekolahnya berganti dengan seragam biru yang menjadi simbol toko ini membuatnya diam. Dia akan tetap melayaniku sebagai pembelinya.

            “Coba periksa ke dokter,” ucap Yuli di hari kedua saat aku selalu mengekor padanya.  Aku yang sedang menunggu Yuli selesai menghitung total belanjaanku mengerutkan dahi tak mengerti.

            “Aku pikir perutmu ada cacingnya,” ucapnya kemudian sambil menyerahkan kantong plastik belanjaanku.

            Haha. Apa dia tengah menyindir? Tapi kenapa terlihat imut sekali?

            “Jika iya, aku akan berterima kasih pada cacing di perut ini karena bisa menjadi alasan aku tetap ke sini,” timpalku. Yuli mendengus. Tidak berkomentar lagi.

            Kalau sudah seperti itu, aku akan pergi. Duduk di teras toko sambil menghabiskan makanan ringan, roti, atau minuman kaleng yang aku beli. Menunggu jam empat sore untuk les. Kembali ke tempat ini pukul tujuh, tepat saat Yuli keluar dari toko untuk membuang sampah. Dan inilah salah satu kesempatanku bisa mengobrol padanya tanpa batasan pelayan dan pembeli.

            “Kamu kok aneh ya. Langit sudah malam, kamu keluar bawa dua kantong sampah super besar dan tetap kelihatan cantik.”

            Aku tidak tahu kalau memiliki bakat untuk memilah kata romansa. Ayah, Bunda, bahkan Bima mungkin akan keheranan jika melihatku. Sisi ini benar-benar terbuka karena Yuli dan untuk Yuli.

            Malam ini Yuli tidak menanggapi rayuanku. Dia hanya mendengus. Melirik tajam dan buru-buru kembali ke toko. Aku yang masih di belakangnya mencoba untuk menahan bibir agar tidak tersenyum terlalu lebar. Yuli kembali ke meja kasir, aku menuju ke lemari pendingin. Mengambil sekaleng minuman bersoda.

            “Malam-malam begini kamu mau minum ini?” tanya Yuli sambil menggoyang-goyangkan kaleng minumanku. Aku hanya menggidikkan bahu dan mengangguk.

            Aku pikir Yuli akan diam saja dan segera menghitung harganya, tapi dia membawa kaleng minumanku kembali ke lemari pendingin. Meninggalkanku yang berdiri termenung di depan meja kasir dengan mata yang terus memerhatikan gerakan gadis itu.

            Setelah menyimpan kembali kaleng minuman, dia berjalan ke pojok toko yang mana terletak tempat tremos. Aku yang terdiam semakin kehabisan kata-kata saat membayangkan jika dia tengah menyeduh minuman hangat untukku.

            Yuli berbalik, berjalan ke arahku dengan membawa segelas minuman dengan kepulan asap di atasnya. Menyerahkan minuman itu padaku yang mendadak menjadi patung.

            “Tidak mau?” tanyanya.

            Aku tersadar. Sebelum dia menarik kembali tangannya, aku buru-buru mengambil alih gelas itu sampai-sampai air panas di dalam gelas bergejolak dan terciprat ke telapak tanganku.

            “Ah!”

            “Dasar ceroboh.”

            Yuli kembali ke meja kasirnya. Aku yang masih mengalami mode patung tetap diam di tempat yang sama.

            “Mana?” Yuli bertanya. Aku lagi-lagi tak mengerti maksudnya.

            “Apa? Ini?” Aku balik bertanya sambil menjulurkan gelas kopiku. Bola mata Yuli berotasi.

            “Uang kopinya. Kamu harus bayar.”

            Di detik itu, aku tertawa. Aku merasa pukul tujuh malam di hari ke tujuh ini menjadi berharga.

***

            Aku menikmati kopi di teras toko dengan senyum yang tak berhenti untuk terulas. Kopi ini manis, seperti rasa dari perjuanganku yang tidak menjadi kesia-siaan. Aku masih ingat benar hari ketiga saat Yuli marah-marah karena aku masih saja duduk di kursi teras toko pukul sepuluh malam.

            “Kamu ini sangat mengganggu! Pulang sana!”

            Dan aku akhirnya mengalah, segera undur diri. Di hari ke-empat dia kembali marah-marah, tapi dengan bahasa yang lebih elegan namun menusuk.

            “Aku tidak akan dan tidak bisa jatuh cinta, jadi jangan melakukan hal yang bodoh seperti ini.”

            “Jangan memvonis dirimu sendiri. Nanti kemakan omongan lho,” timpalku saat itu. Dan dia hanya memasang wajah datarnya.

            “Jangan terlalu menggunakan perasaan, kamu laki-laki.” Seketika itu aku terdiam. Rasanya itu adalah kalimat paling menyakitkan daripada amarah Bunda saat aku mendapat nilai jelek sewaktu kelas lima SD.

            “Lagi pula itu hanya perasaan sesaat. Aku juga tidak tahu apa yang kamu lihat dariku sampai jatuh hati. Yang jelas, kamu terlalu—”

            “Yang jelas kamu nggak bakal ngerti. Jadi jangan menyimpulkan perasaanku dari sepihak.”

            Aku tidak tahu kenapa malam itu aku merasa marah pada Yuli. Aku kecewa karena dia benar-benar menganggap sepeleh tentang sebuah rasa. Memang dia belum mengerti dan belum pernah merasakan, jadi bisa dimaklumi. Tapi tetap saja rasanya keterlaluan jika harus berkali-kali dia ucapkan padaku. Aku sendiri juga manusia baru dalam soal asmara. Bahkan sikapku tidak bisa dikontrol oleh pikiran lagi hingga selama beberapa hari terakhir aku mencoba untuk selalu dekat dengannya. Katakan juga aku salah karena terlalu mengekor padanya. Aku akui itu. Dia pasti merasa risih se-risih risihnya.

            Aduh, kenapa aku jadi bicara sesulit ini? Lagi pula itu kejadian beberapa hari yang lalu. Lebih baik lupakan saja. Toh, sekarang dia mulai baik padaku. Setidaknya tidak komplain lagi walau aku masih sering mengunjungi toko. Bahkan dia sampai menyeduh kopi ini untukku adalah hal yang luar biasa.

            Saat aku baru menghabiskan setengah gelas, Yuli membuka pintu toko dengan keras, lalu berlari secepat mungkin menuju utara. Tanpa berpikir panjang aku segera meletakkan kopi berharga itu dan mengendarai motor untuk menyusul Yuli.

            “Kamu mau kemana?” tanyaku, tepat di sampingnya. Dia menghentikan larinya. Menatapku. Aku terkejut melihat air mata yang berlinangan di wajahnya.

            “Tolong aku…”

            Dan malam ini menjadi malam akan pendalaman sebuah rasa. Malam di mana aku berhenti bertanya kenapa aku mencintainya. Aku tidak tahu apakah ini perasaan kasihan atau cinta, yang aku tahu: aku ingin menjadi orang yang selalu ada di sisinya saat ini—dan nanti.

 

Tags: twm18 romance

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (5)
  • Chocolavaa

    Sedihhh bgt tapi baguss lanjut terus yaa????

    Comment on chapter Prolog
  • Fatih

    Bagusss lanjutt

    Comment on chapter BAB 1: Aku Adalah Dosa
  • 9davv

    I just saw the ad

    Comment on chapter Prolog
  • Vidyakus_

    :"(

    Comment on chapter Prolog
  • ibl

    Ceritanya bagus dan recommended ???? semangaat thor dan ditunggu kelanjutannya

    Comment on chapter Prolog
Similar Tags
Past Infinity
10      4     0     
Romance
Ara membutuhkan uang, lebih tepatnya tiket ke Irak untuk menemui ibunya yang menjadi relawan di sana, maka ketika Om Muh berkata akan memenuhi semua logistik Ara untuk pergi ke Irak dengan syarat harus menjaga putra semata wayangnya Ara langsung menyetujui hal tersebut. Tanpa Ara ketahui putra om Muh, Dewa Syailendra, adalah lelaki dingin, pemarah, dan sinis yang sangat membenci keberadaan Ara. ...
Once Upon A Time: Peach
13      7     0     
Romance
Deskripsi tidak memiliki hubungan apapun dengan isi cerita. Bila penasaran langsung saja cek ke bagian abstraksi dan prologue... :)) ------------ Seorang pembaca sedang berjalan di sepanjang trotoar yang dipenuhi dengan banyak toko buku di samping kanannya yang memasang cerita-cerita mereka di rak depan dengan rapi. Seorang pembaca itu tertarik untuk memasuki sebuah toko buku yang menarik p...
Flowers
4      4     0     
Inspirational
Zahra, remaja yang sering menggunakan waktu liburnya dengan bermalas-malasan di rumah, menggunakan satu minggu dari libur semesternya untuk mengunjungi tempat yang ingin dikunjungi mendiang Kakaknya. Bukan hanya demi melaksanakan keinginan terakhir Kakaknya, perjalanan ini juga menjadi jawaban atas semua pertanyaannya.
Aku benci kehidupanku
3      3     0     
Inspirational
Berdasarkan kisah nyata
Purple Ink My Story
0      0     0     
Mystery
Berawal dari kado misterius dan diary yang dia temukan, dia berkeinginan untuk mencari tahu siapa pemiliknya dan mengungkap misteri yang terurai dalam buku tersebut. Namun terjadi suatu kecelakaan yang membuat Lusy mengalami koma. Rohnya masih bisa berkeliaran dengan bebas, dia menginginkan hidup kembali dan tidak sengaja berjanji tidak akan bangun dari koma jika belum berhasil menemukan jawaban ...
School, Love, and Friends
200      57     0     
Romance
Ketika Athia dihadapkan pada pilihan yang sulit, manakah yang harus ia pilih? Sekolahnya, kehidupan cintanya, atau temannya?
A & B without C
5      5     0     
Romance
Alfa dan Bella merupakan sepasang mahasiswa di sebuah universitas yang saling menyayangi tanpa mengerti arti sayang itu sendiri.
When I Found You
38      13     0     
Romance
"Jika ada makhluk yang bertolak belakang dan kontras dengan laki-laki, itulah perempuan. Jika ada makhluk yang sanggup menaklukan hati hanya dengan sebuah senyuman, itulah perempuan." Andra Samudra sudah meyakinkan dirinya tidak akan pernah tertarik dengan Caitlin Zhefania, Perempuan yang sangat menyebalkan bahkan di saat mereka belum saling mengenal. Namun ketidak tertarikan anta...
Cazador The First Mission
63      24     0     
Action
Seorang Pria yang menjadi tokoh penting pemicu Perang Seratus Tahun. Abad ke-12, awal dari Malapetaka yang menyelimuti belahan dunia utara. Sebuah perang yang akan tercatat dalam sejarah sebagai perang paling brutal.
Lost in Drama
26      12     0     
Romance
"Drama itu hanya untuk perempuan, ceritanya terlalu manis dan terkesan dibuat-buat." Ujar seorang pemuda yang menatap cuek seorang gadis yang tengah bertolak pinggang di dekatnya itu. Si gadis mendengus. "Kau berkata begitu karena iri pada pemeran utama laki-laki yang lebih daripadamu." "Jangan berkata sembarangan." "Memang benar, kau tidak bisa berb...