Read More >>"> Black Lady the Violinist (Kapitel xii) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Black Lady the Violinist
MENU
About Us  

Kenan tersedak lalu batuk-batuk. “Kau kenapa!?” tanya Sam kaget.

Kenan menggeleng-geleng. “Tidak, tidak. Maafkan aku. Aku hanya kaget.”

Rasa penasaran itu jelas di jidatnya. “Kaget? Mengapa? Kau kenal tuan Ferliaz ini? Oh ya, kudengar ia juga blasteran Asia sepertimu. Ibunya orang Singapura.”

Tuan? Jijik aku dengarnya. Semua orang sepertinya selalu kagum pada darah Challysto kami ini. Ah, bibi Vani orang Singapura ya? Aku baru tahu.

Tentu Kenan pura-pura kaget supaya Sam tidak curiga. “Bagaimana bisa kenal orang yang sangat terkenal seperti itu? Namanya cuma familiar. Aku kan baru sampai Inggris. Mana mungkin aku bisa kenal. Lalu, bagaimana lagi dia?”

“Di Brokeveth ini, Ferliaz bintang musik!!. Dia ceria, dewasa, keren, dan jadi incaran nomor satu para siswi di semua kalangan,” tambahnya.

Pesawat kemarin salah tempat mendarat ya? Atau pramugari sukses membuang Ryan yang asli ke samudra Artik sebelum landing waktu aku tidur?? Tapi yang paling parah, Sam kok tak ada malunya kagum begitu, batin Kenan tak tahan ingin muntah-muntah.

 “Oh ya, alat musik apa yang ia bisa mainkan?” tanya Kenan mengalihkan pembicaraan sebelum telinganya bernanah.

Sam tersenyum. “Alunan pianonya sungguh mengagumkan. Lalu, kuderngar ia ia bisa main violin, flute, bassoon, perkusi... ?”

“Masih ada yang lainnya? Hebat sekali dia. Padahal menguasai satu alat musik saja susah, kan?” Mulanya Kenan ingin kagum tapi mengingat kelakuan asli Ryan malah jadi jijik.

Pundak Sam naik. “Begitulah. Itu alasanku kagum padanya.”

Andai kau tahu aslinya dia, Sam. Kenan melirik Sam. “Oh ya, kau main alat musik apa? Kudengar di sini pelajaran musiknya yang terbaik ya?” tanyanya.

Sam mengangguk. “Benar. Aku, aku main violin, kadang viola,” jawabnya ragu.

Kenan tersenyum ketika ia berkata violin, dan sebenarnya ia juga ingin mengatakan ‘aku juga!’ dengan antusias tapi sayang itu mustahil.

“Kalau kamu, Grace?” tanyanya balik.

“Panggil Kenan saja,” pinta Kenan. “Tidak, aku tidak main musik,” jawabnya berbohong. Sam memandang dengan kaget. Matanya terbelalak bagai ikan koki yang secara tak sengaja menelan koin Time Zone.

“Hei! Ada anak lainnya yang tak bisa main musik di sini!?” potong seseorang dengan tawa yang meledek. Kenan ingat anak itu. Jerish Consta. Karena tawanya,  semua mata jadi tertuju padanya. “Ada pecundang kedua selain Sadykova di sini!” Kenan diam. “Kalian memang pantas berteman karena kalian sama-sama pecundang!”

“Lalu masalahmu apa, Consta? Yang tidak main musik aku dan tidak ada urusannya denganmu. Lagipula, dasar hinaanmu apa? Padahal selama ini kau bisa mengejek orang lain karena kekayaan orang tuamu. Orang tuamu, bukan kau.”

Jerish terkejut. Kenan, anak baru dan sudah dua kali membalasnya. Padahal seumur-umur belum pernah ada orang yang menghinanya. Tangannya menggapai-gapai siap memukul Kenan tapi untung saja Sam menyelamatkannya karena kalau tidak pulang sekolah nanti pipi Kenan pasti bonyok. Sam menarik Kenan ke luar kelas.

“Apa kau gila!? Consta itu dari keluarga pemusik yang berpengaruh bagi sekolah ini! Kau bisa langsung dikeluarkan kalau melawannya!! Kau baru masuk sudah berulah, Kenan!” seru Sam berkali-kali.

“Ergh, diamlah Sam.” Kenan menutupi telinganya dari jeritan teman barunya itu. “Kau tenang saja. Aku takkan dikeluarkan dari sekolah ini. Jadi, kita tinggal lihat, yang kalah aku atau Conta dari Brokeveth ini.”

Sam memandang ngeri. “Kau, benarkah ceritamu tadi soal kerabat?”

“Buat apa aku mengarang cerita?” Alis Kenan terangkat. “Tentu saja.”

Tentu saja aku bohong, Sam. Aku bukan orang yang bisa dipercaya. Mulai sekarang pertaruhanku akan jadi seru sebagai seorang violinist dari keluarga masyur Challysto dan sebagai putri Ritsena Angelina yang disembunyikan.

 

 

Dua minggu sudah Kenan bertahan di sekolah barunya. Meski selalu ada gangguan tiap harinya, khususnya dari Jerish Consta, tak sekalipun Kenan mengeluh. Satu hal yang membuatnya tahan banting, Lena yang terbaring di rumah sakit. Hatinya perih tiap kali menjenguk dan mendapati dirinya dengan selang-selang itu sedang menatap ke kaca. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menghiburnya dengan voilin.

“Ayo main lagu kesyukaanku!” pinta Lena berulang-ulang.

Kenan mengehela nafas sambil melepaskan violinnya dari pundaknya yang pegal.

“Kapan kau bosan sama lagu itu?” Lena menggeleng senang. “Oke oke.” Kenan meletakkan kembali violinnya di pundak. “Wieniawski: Polonaise Brillante No.1 Op.4.”

Kenan menggesekkan kembali violin agar sahabatnya tersenyum.

Ketika saat jenguk terlarut sudah berakhir dan Kenan diusir oleh perawat di rumah sakit itu, dengan sedih ia melambai pergi pada Lena yang lagi-lagi kembali menatap ke kaca dengan pandangan kosong.

“Aku tahu, Lena. Kau rindu sekolah, kau rindu kehidupan lamamu yang tak bisa kau dapatkan lagi,” bisik Kenan dengan wajahnya yang tersiksa.

Ketika tiba di rumah, Kenan melenggang masuk ke kamar. Hatinya sakit tiap kali ingat Lena yang hanya bisa menghabiskan waktunya di rumah sakit, sedangkan ia menikmati kemewahan itu. Keduanya tidak adil! Kenan memeluk bantal seakan-akan ia memeluk perasaan bersalah yang ada di hatinya.

Pagi harinya Kenan bangun dan melihat pesan dari Ryan di ponselnya.

Hei, besok libur karena rapat tahunan sekolah. Jadi, aku ke rumahmu ya? Jangan ke tempat Lena dulu.

Dengan perasaan bad mood Kenan membalas pesan Ryan. “Orang yang bernama Ryan tidak diterima di pemukiman Kenan.”

Kenan meletakkan ponselnya di tempat tidur dan pergi mandi. Selesai mandi ia mendapat balasan pesan dari Ryan.

Ok. Aku datang jam sembilan.

Kenan meringut kesal. “Orang ini bodoh atau bego sih? Dibilang tidak boleh datang malah bilang ok. Biar saja nanti aku pergi sebelum jam sembilan.”

Dengan kesal Kenan meletakkan kembali ponselnya dan tak ada niat untuk membawanya. Kenan keluar dari kamar dan menikmati sarapannya. Rasa asing masakan Inggris sudah mulai terbiasa di lidah Indonesianya tapi itu membuatnya rindu sama nasi dan tahu tempe. Andai saja ia bisa membeli itu. Dengan pikiran sedangkal itu ia pergi ke minimart terdekat. Kakinya menjelajahi tiap rak dan sama sekali tak menemukan tahu tempe di sana.

“Mengesalkan.”

Selesai dari market dan membeli sekotak susu, Kenan melanjutkan perjalanan ke sekolah. Sampai di kelas Sam menyapanya dengan cerianya seperti biasa. “Hai Kenan! Kau bawa alat musik apa buat pelajaran seni musik nanti?”

Kenan baru teringat dengan pelajaran seni musik yang dimaksudkan Sam.

“Aku tak pernah ingat ada pelajaran itu. Kau bawa apa, Sam? Violin? Viola?”

Sam menghela nafas. “Dasar kau ini. Ya tentu saja aku bawa violin. Oh ya, Ken, apa kau dengar gosip yang sedang beredar sekarang tentang ruang musik?”

Kenan menggeleng. “Memangnya gosip apa?”

The Pernambuco’.”

“Hah? Perambocko?”

“Pohon pernambuco[1] yang digunakan untuk membuat bow. Dia, si ‘Pernambuco’, akan memaikan alunan violin paling indah di ruang musik, kadang di atap saat sekolah sudah sepi. Kau tahu kenapa orang-orang menyebutnya ‘Pernambuco’? Pohon ini kayunya berkilau bagai kilatan cahaya matahari. Si ‘Pernambuco’, bak violinist emas bagi sekolah ini!!” jelas seseorang tiba-tiba.

 “Kenapa malah kau yang cerita, Melque!? Darimana kau datang!? Aku lihat tadi kau masih di ujung kelas.” Sam meringut kesal.

“Aku selalu tertarik pada gosip. Apalagi soal anak baru yang menarik,” aku Melque, teman sekelas yang hampir tak pernah ngobrol dengan Kenan.

“Kenapa aku menarik jadi gosip?” tanya Kenan heran.

“Anak baru yang berani melawan Consta dan belum juga dikeluarkan. Semua anak yang melawan Consta drop out karena keluarganya tapi karena kau tak kunjung dikeluarkan, tentu saja itu jadi bahan omongan.” Melque tersenyum.

Tak akan ada yang pernah bisa mengeluarkanku dari sekolah ini.

Melque melanjutkan kata-katanya. “Kau bilang waktu itu bahwa kerabatmu menemukanmu lalu menyekolahkanmu di sini? Ayolah, siapa yang percaya pada dongeng Cinderrela macam itu?” Kubu perempuan seksama mendengar perkataan Melque. “Tak pernah ada cerita lengkap tentang kerabatmu itu. Kau juga jarang tersenyum. Ekspresi datar. Kau anak yang misterius ya.”

Mata Melque bersinar-sinar. Ia mengharapkan sedikit penjelasan dari segudang pertanyaannya–untuk jadi sumber gosipnya.

“Oh, kalau begitu biar saja tetap seperti itu.”

Melque tertunduk kecewa. Beberapa yang lain yang mendengar tertawa.

“Hei, aku ada di sini!” Sam merasa dirinya dilupakan. “Ayo ke ruang seni musik,” ajak Sam. Ia menarik tangan Kenan seperti merebut Kenan dari Melque.

Di ruang musik ada satu grand piano di depan. Di ujung ruang musik yang sebesar hall itu tersimpan banyak sekali alat musik mengilat. Banyak instrumen yang baru pertama kali Kenan lihat tapi tetap saja matanya hanya tertuju pada keindahan violin. Apalagi violin-viola-cello-double bass yang terpajang di sana instrumen string profesional.

“Kau bisa bilang ke guru kalau kau jadi choir saja, Ken.” Sam berbicara dengan ragu-ragu karena takut perkataannya menyinggung Kenan.

“Tidak. Aku di sini saja. Aku akan bilang kalau aku mau belajar violin.”

 “Eh? Jangan, jangan! Permainanku masih payah dan selalu saja salah!”

“Mungkin yang perlu kau perbaiki hanya rasa percaya dirimu saja.”

 Sejenak perhatian Kenan tersita dari ocehannya bapak guru kepada Sam yang mengajar seni musik. Beliau adalah seorang arrangement dari kelompok musik opera. Kenan pernah melihatnya di beberapa majalah musik.

Dewa sekali sekolah ini menyewa pengajar high class demi murid SMP.

Habis puas mengoceh pada Sam karena salah terus, beliau melirik Kenan. Karena Kenan tidak bermain instrumen apa pun, ia tak diacuhkan. Hmm, paman Anderson sudah menyewa banyak guru lain untukku. Tanpanya permainanku sudah cukup mahir. Giliran Kenan yang memandang sang guru dengan bosan.

“Kau tahu? Baru kali ini aku sungguh kagum padamu, Sam. Kau orang pertama yang kulihat bermain violin dengan meletakkan ujung dagu di atas chin rest,” puji Kenan.

Sam langsung berhenti menggesek violin. “I, itu karena leherku sakit kalau dimiringkan terus.”

Kenan menghela nafas. “Sudah berapa lama kau main violin??” Sam terdiam.

“Kadang-kadang itu juga yang membuatku geli,” potong Melque setelah satu score habis. “Hei, Grace. Aku mau tanya padamu. Kau sama sekali tak main instrumen tapi kau tahu darimana kalau itu namanya chin rest?”

Kenan mematung. Ia keceplosan. Hal itu mengundang Sam dan Melque meliriknya curiga. “A, aku tadi tak sengaja dengar soal bagian-bagian violin.”

“Ada ya di materi pelajaran kita, Mel?”

Alisnya terangkat. Jelas ratu gossip tidak mudah dibohongi. “Hmm…?”

“Ehm, melihat kalian aku sebenarnya ingin belajar violin makanya sedikit mencari tahu. Yah, alat musik mahal dan belajarnya sulit. Mungkin aku mau beli harmonika nanti,” jawab Kenan spontan. “Lagi pula aku tak tahu kalau kau juga main violin seperti Sam?”

“Kau tidak tanya.” Akhirnya perhatian Melque teralihkan. “Kalau begitu violin ini untukmu saja,” tawarnya. “Harmonika mungkin bagus untukmu.”

“Hah? Mudah sekali kau memberi violin ke orang lain? Dasar orang kaya.”

Melque tertawa renyah. “Tidak juga. Aku tidak terlalu cocok pada violin. Aku lebih senang pada harpa atau harpsikoda.”

 

 

“Hei Kenan!!” sapa Lena senang begitu Kenan tiba di kamarnya saat senja. “Gimana dengan syekolahmu tadi? Ah, aku ingin syekali keluar lalu memegang gumpalan syalju yang putih itu.” Lena menoleh ke arah kaca jendela.

Mata Kenan memandang Lena dengan sendu. “Salju itu dingin. Tak ada enaknya menyentuhnya dan aku harap aku bisa membawamu ke sekolahku juga–meskipun di sana busuk.” Lena memalingkan wajahnya. “Hari ini aku ada pelajaran musik.”

Telinga Lena berdiri. “Musyik? Lalu kau mainkan biolamu yang keren itu?” tanya Lena antusias. Kenan menggeleng. “Kenapa?”

Kenan berjalan mendekati Lena lalu duduk di sebelah tempat tidurnya. Ia duduk membelakangi Lena. Perlahan Kenan memejamkan matanya, berusaha menahan diri.

“Aku takkan memperdengarkan permainan biolaku pada orang lain selain kau.”

Lena tertawa. “Kenapa? Aku syeistyimewa ityukah bagimu?”

Mataku terbuka. “Kau lebih berharga dari apa pun yang kupunya.”

Lena cekikikan. “Kalau begitu ayo mainkan lagi!” pinta Lena.

Kenan berdiri dan mengeluarkan violin yang ia bawa-bawa. Violin ia letakkan di pundaknya. Tuhan, ini anak-Mu, sembuhkan dia supaya selamanya jangan hanya salju saja yang ditatapnya.

“Wolfgang Amadaus Mozart: Eine Kleine Nachtmusik.”

 

[1] Pohon pernambuco (Caesalpinia echinata), tumbuhan keluarga ercis asal Brazil. Kayunya digunakan sebagai bow instrument biola dan pewarna berkualitas tinggi

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
F I R D A U S
12      6     0     
Fantasy
Salju di Kampung Bulan
10      6     0     
Inspirational
Itu namanya salju, Oja, ia putih dan suci. Sebagaimana kau ini Itu cerita lama, aku bahkan sudah lupa usiaku kala itu. Seperti Salju. Putih dan suci. Cih, aku mual. Mengingatnya membuatku tertawa. Usia beliaku yang berangan menjadi seperti salju. Tidak, walau seperti apapun aku berusaha. aku tidak akan bisa. ***
A - Z
30      12     0     
Fan Fiction
Asila seorang gadis bermata coklat berjalan menyusuri lorong sekolah dengan membawa tas ransel hijau tosca dan buku di tangan nya. Tiba tiba di belokkan lorong ada yang menabraknya. "Awws. Jalan tuh pake mata dong!" ucap Asila dengan nada kesalnya masih mengambil buku buku yang dibawa nya tergeletak di lantai "Dimana mana jalan tuh jalan pakai kaki" jawab si penabrak da...
An Hourglass from the Opus Kingdom
5      5     0     
Science Fiction
When a girl, rather accidentaly, met three dwarfs from the Opus Kingdom. What will happen next?
To Be Feminine
8      4     0     
Romance
Seorang gadis adalah sosok yang diciptakan Tuhan dengan segala kelembutan dan keanggunannya. Tapi... Apa jadinya kalau ada seorang gadis yang berbeda dari gadis biasanya? Gadis tangguh yang bisa melukai siapa saja. Lee Seha bukan seorang gadis biasa. Sekali mengangkat tangan seseorang akan terluka. Dan orang itu adalah sahabatnya. Sebuah janji terjalin dan menuntunnya pada perubahan baru da...
A & B without C
4      4     0     
Romance
Alfa dan Bella merupakan sepasang mahasiswa di sebuah universitas yang saling menyayangi tanpa mengerti arti sayang itu sendiri.
Double F
9      6     0     
Romance
Dean dan Dee bersahabat sejak lama. Dean tahu apa pun tentang Dee, tapi gadis itu tak tahu banyak tentangnya. Seperti cangkang kapsul yang memang diciptakan untuk menyamarkan bahkan menutupi rasa pahit serta bau obat, Dean pun sama. Dia mengemas masalah juga kesedihannya dengan baik, menutup pahit hidupnya dengan sempurna. Dean mencintai Dee. Namun hati seorang Dee tertinggal di masa lalu. Ter...
The Reason
125      30     0     
Romance
"Maafkan aku yang tak akan pernah bisa memaafkanmu. Tapi dia benar, yang lalu biarlah berlalu dan dirimu yang pernah hadir dalam hidupku akan menjadi kenangan.." Masa lalu yang bertalian dengan kehidupannya kini, membuat seorang Sean mengalami rasa takut yang ia anggap mustahil. Ketika ketakutannya hilang karena seorang gadis, masa lalu kembali menjerat. Membuatnya nyaris kehilan...
IMAGINATIVE GIRL
45      18     0     
Romance
Rose Sri Ningsih, perempuan keturunan Indonesia Jerman ini merupakan perempuan yang memiliki kebiasaan ber-imajinasi setiap saat. Ia selalu ber-imajinasi jika ia akan menikahi seorang pangeran tampan yang selalu ada di imajinasinya itu. Tapi apa mungkin ia akan menikah dengan pangeran imajinasinya itu? Atau dia akan menemukan pangeran di kehidupan nyatanya?
My Sunset
61      24     0     
Romance
You are my sunset.