Arungi Muara – Keping Lima Belas
“Pengadilan Perasaan”
Hal pertama yang Risa lakukan begitu ia menyadari bahwa ia tertidur semalaman dalam dekapan Rain adalah… menjerit.
“AAHHHH!” Risa langsung melonjak dari atas kasur dan merapatkan diri ke dinding.
Rain—yang sebelumnya masih terlelap—langsung bangkit dari tempat tidur dan berdiri tegak dengan waspada. “APA?! APA?! ADA APA?! RAMPOK?! KEBAKARAN?!”
Tak merespon, Risa malah kembali menjerit. “AAHHHHH!”
Rain yang panik, malah ikut berteriak, “HUWAAH!”
Lantas, keduanya mendadak diam dan saling menatap. Dengan bodohnya, Rain malah nyengir. Wajah Risa mutlak bersemu kemerahan. Gadis itu mengumpat dalam hati. Mengapa lelaki ini malah memasang wajah konyol seperti itu?! batin Risa memprotes sengit.
“Hehe, kita… ngapain, kok, teriak-teriak?” tanya Rain selagi menggaruk rambut.
“Harusnya saya yang nanya! Semalem Mas Rain ngapain saya?!” jerit Risa. Ia menyilangkan tangannya di depan dada, begitu defensif.
Mendengar hal itu, Rain malah menyernyit. “Hah? Maksud kamu apa?” Rain balik bertanya. “Emang semalem aku ngapain?”
Risa siap untuk berteriak. “JELAS-JELAS SEMALEM—” tiba-tiba ucapannya terpotong. Otaknya memproses data dengan begitu cepat. Jadi, Rain sama sekali tidak ingat apa yang terjadi semalam? Rain sama sekali tidak menyadari bahwa dia tidur nyenyak selagi memeluk Risa di dalam dekapannya?
“Ris?” Rain menggugah Risa dari lamunannya. “Semalem aku ngapain?”
Risa berusaha menguasai dirinya kembali. Gadis itu menghirup napas dalam-dalam, lantas berkata, “Nggak, nggak pa-pa.”
Rain segera mengerutu, “Kalo gitu, kamu ngapain pake acara teriak-teriak segala? Nggak tahu aku ini gampang kaget, ya?” Rain mengerucutkan bibir. Seolah tak berdosa, Rain memutar tubuh dan berucap, “Ya udah, aku mau lanjut tidur bentar.”
Lelaki itu baru saja hendak meraih daun pintu ketika pintu kamar Risa terayun terbuka hingga nyaris membuat Rain terantuk. Dari luar, muncullah dua wajah yang tak asing. Itu Thessa dan pacarnya, Joshua.
“Well, well, kalian udah bangun?” tanya Thessa sarkastik selagi melipat kedua tangan di depan dada.
Rain yang tak menangkap maksud ucapan Thessa malah menjawab santai, “Iya. Ini aku mau lanjut tidur. Coba aja kalo Risa nggak teriak-teriak, mungkin aku—”
“Kalian pacaran serasa suami-istri, ya?” potong Joshua setengah tertawa.
Rain memandang Joshua dengan tatapan penuh tanda tanya. “Pacaran? Suami-istri?” Rain mengulangi kata-kata Joshua. “Kayaknya kalian salah paham, deh. Aku sama Risa sekamar cuma karena tadi malam kamarku di loteng kerendam air. Lagian, kita juga nggak ngapa-ngapain, kok.”
Thessa tertawa sarkastik. “Kamu bilang ‘nggak ngapa-ngapain’?”
Rain mengangguk mantap. Joshua terkikik. Sedangkan Risa, ia merasa seolah nyawanya sedang dicabut. Tidak salah lagi. Thessa dan Joshua pasti sudah menyaksikan segalanya!
“Nggak usah malu-malu, Rain,” ujar Joshua selagi menepuk-nepuk punggung Rain. “I’m proud of you, Big Bro. I don’t even have the nerve to do that with Thessa,” bisiknya.
Rain semakin dibuat tidak mengerti. “Do what, exactly?”
“Wah, Mas bener-bener lupa, ya?” Joshua tersenyum penuh makna. “Atau… pura-pura lupa?”
Lama-lama, Rain merasa geram sendiri. “Maksud kamu apa, sih?”
“Rain, stop pretending as if you don’t know,” sahut Thessa gemas. “You obviously did sleep with Risa last night, don’t you remember?”
Mulut Rain langsung ternganga. Namun, otaknya yang masih belum sepenuhnya sadar itu tak bisa memproses ucapan Thessa dengan baik. “I did what to Risa…?” Tatapan Rain beralih antara Thessa dan Joshua. Lelaki itu jelas-jelas tak menyadari bahwa ia berada di ujung tanduk.
“You slept with Risa last night,” ulang Thessa pada akhirnya.
Ada jeda yang begitu canggung setelah Thessa melontarkan kalimat itu. Otak Rain seolah berputar-putar. Mendadak pikirannya mereka ulang ketika Risa berteriak-teriak barusan dan pertanyaan-pertanyaan aneh yang diajukan kedua temannya itu. Kemudian, hening yang panjang itu segera diakhiri oleh teriakan nyaring dari Rain.
“NGGAK, NGGAK MUNGKIN!”
*
Setelah Rain sadar akan apa yang telah diperbuatnya, akhirnya dia dan Risa pun digiring oleh Thessa serta Joshua untuk menuju ke ruang makan. Mereka berempat duduk saling berhadap-hadapan. Risa di samping Rain dan Thessa di sebelah Joshua. Atmosfer udara mendadak menjadi serius. Risa bisa merasakan perutnya mendadak melilit. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Sedangkan Rain, masih bingung kepalang mengenai apa yang sudah dia perbuat tadi malam.
“Jadi, aku mau minta klarifikasi dari kalian berdua,” ujar Thessa memecah hening.
Rain langsung menyahut cepat, “Oke, gini. Aku dan Risa sama sekali enggak ada apa-apa. Risa nawarin aku untuk tidur di kamarnya karena kamar di lotengku kebanjiran dan—”
“Kalau kalian nggak ada apa-apa, kenapa kalian bisa bobok bareng?” potong Joshua selagi memiringkan kepala.
“Udah aku bilang kamarku kebanjiran!” seru Rain tak sabaran. “Lagian kalian ini kenapa, sih, gitu aja dibuat serius?” Kini Rain sudah bersungut-sungut.
“Masalahnya, bukan hal ini aja yang bikin aku gemes sama kalian,” jawab Thessa. Gadis bertubuh aduhai itu berdecak selagi bersedekap. “Kalau kalian emang sama-sama suka, apa susahnya, sih, buat saling mengakui?”
Risa mendelik mendengar perkataan Thessa. Rain tak kalah kagetnya. Rahangnya sudah terbuka lebar, siap untuk dimasuki pasukan lalat.
“Kita… apa? Saling suka?” akhirnya Risa angkat bicara. Ia memandang Thessa dengan tatapan tajam dan skeptis. Biasanya, orang yang menerima tatapan seperti itu sudah ciut, tetapi karena Thessa sudah kebal, hal itu tak berpengaruh apa-apa. Tinggal serumah dengan Risa memang membuat mental siapa saja menjadi lebih kuat.
“Menurutku… bukannya udah jelas?” Joshua bersuara. “Kalian digosipin satu kampus kalau kalian itu punya hubungan. Terus pagi ini, aku dan Thessa lihat kalian berdua berada di kamar yang sama, bahkan tidur di atas ranjang yang sama. Kurang bukti apa lagi?”
“Saya nggak nyangka kalau kamu bisa dengan semudah itu termakan omongan orang,” jawab Risa dingin.
“Awalnya aku nggak percaya, Ris,” ujar Joshua. “Tapi masalahnya, aku udah jadi saksi kalau kalian emang—”
“Saya dan Mas Rain nggak ada hubungan apa-apa,” potong Risa.
“Itu menurutmu,” jawab Thessa. Pandangan gadis itu beralih ke Rain. “Kalau buat Mas Rain, gimana?”
Rain langsung tampak kikuk. “Eh? Maksudnya gimana?”
“Apa Mas rasa Mas memandang Risa sebagai orang yang lebih dari teman?” tanya Thessa pada akhirnya.
Mendengar pertanyaan itu, isi kepala Rain mendadak carut-marut. Banyak hal mengelilingi kepalanya di saat yang bersamaan. Hal itu malah membuat otak Rain tiba-tiba saja korslet. Rain hanya bisa menunduk tanpa sanggup berkata apa-apa. Memangnya, pertanyaan macam apa itu? Mengapa tiba-tiba Thessa dan Joshua mengonfrontasinya begini?
Setelah lama terdiam, Rain pun membuka mulut, “Ya, aku memandang Risa sebagai teman dekat.”
“You know that it’s not the point here,” ucap Thessa geram.
“Emang harus dibikin sejelas apa, sih?” timpal Joshua, ikut-ikutan gemas terhadap dua orang di hadapannya. “Oke, then, let me make it all clear.”
Dengan lagak yang tenang, Joshua duduk tegak di atas kursinya. Wajahnya sangat serius hingga Rain merasakan keringat dingin seukuran jagung meluncur bebas di sudut wajahnya. Joshua berdeham sejenak. Kemudian, satu pertanyaan mematikan itu terlontar dari bibirnya,
“Mas Rain, apa Mas Rain suka sama Risa?”
Risa mendesah resah. “Kalian itu apa-apaan, sih?” sergahnya. “Kalian sama sekali nggak berhak untuk ikut campur urusan orang kayak gini.”
“Risa, kita cuma mau bantu kalian, nggak lebih,” jawab Thessa. “Aku mau kalian saling jujur satu sama lain tentang apa yang kalian rasakan. That’s all.”
“Tapi mau bagaimanapun—”
“KALIAN BERISIK BANGET, SIH?!!” tiba-tiba saja Rain berteriak lantang.
Satu ruangan sontak jadi hening. Perhatian mereka semua tertuju pada Rain yang kini wajahnya sudah merah padam. Jelas saja, lelaki itu tengah berusaha menahan malu dan amarah di saat yang bersamaan. Namun, alih-alih terlihat garang, ekspresi Rain malah tampak jenaka dan imut. Lihatlah itu, mulutnya mengerucut dengan sempurna.
Thessa menjadi yang pertama untuk bicara, “Mas Rain apa-apaan—”
“DIEM KALIAN SEMUA!” sentak Rain. “Kalian, tuh, yang apa-apaan?! Lagian, pertanyaan apa itu? It definitely is not your goddamn business.”
Joshua berusaha menengahi, “Kita cuma—”
“JUST SHUT UP!” potong Rain untuk kesekian kalinya. “Aku nggak mau denger apa-apa lagi tentang ini. Oke?!!”
Dengan langkah yang panjang-panjang dan wajah yang merah padam, Rain meninggalkan ketiga orang yang hingga kini masih terkaget-kaget dengan perbuatan Rain. Ketika lelaki itu sudah sepenuhnya menghilang dari pandangan, tawa Thessa dan Joshua pecah.
Keduanya terbahak-bahak dengan hebatnya. Joshua bahkan memukuli meja makan dan memegangi perutnya yang tegang. Sedangkan Thessa, suara tawanya sampai hilang. Menyisakannya dengan mulut terbuka lebar, mirip ikan yang kehabisan air. Hingga kini, Risa masih tak mengerti mengapa keduanya malah tertawa lepas melihat Rain merajuk.
“Oh, goodness, why is he so innocent?” ujar Joshua di sela-sela tawanya.
“I know right,” timpal Thessa. “The answer was all over his face, you know? It’s obvious that he’s into Risa.”
“Excuse me…?” Risa merasa terganggu dengan ucapan Thessa. “That can’t be true.”
“Risa, I know that you’re a pro at almost everything, but, for this one, trust me, you know nothing,” jawab Thessa selagi terkikik. “Percaya sama aku, he is into you.”
Risa tak mampu berkata-kata. Ia memandang murka ke arah Thessa dan Joshua yang sampai kini masih tertawa tak karuan. Satu-satunya hal yang bisa Risa lakukan adalah bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kamar.
Gadis itu langsung terduduk tegang di tepi tempat tidurnya. Pikirannya seolah mereka ulang kejadian semalam berulang-ulang, mirip kaset yang sudah rusak. Kemudian, entah mengapa, Risa merasakan suatu gejolak aneh dalam dirinya. Gejolak membuncah yang membuat Risa ingin menjerit dan hilang dari muka bumi saat itu juga.
Risa memukuli dadanya sendiri, berusaha menepis perasaan aneh itu dari dalam dirinya. Namun, perasaan itu seolah tak ingin enyah. Pada akhirnya Risa hanya sanggup memeluk dirinya sendiri. Tanpa sadar, tubuhnya gemetar.
Jika Thessa dan Joshua tidak main hakim sendiri seperti tadi, Risa pasti tak akan seperti ini. Jika pengadilan perasaan itu tak pernah terjadi, Risa kini tak perlu merasakan tekanan batin yang membuatnya merasa ingin mati.
Risa tahu satu hal: berhadapan dengan perasaannya sendiri adalah hal yang sangat berbahaya.
*
“Jangan pernah pertanyakan perasaanku,
aku tak pandai dalam berkata-kata
Namun, mintalah aku untuk buktikan cintaku,
aku pandai saat waktunya untuk menunjukkanmu
pembuktian nyata.” – NLH