Read More >>"> fixing a broken heart (14. Keluguan yang Memesona) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - fixing a broken heart
MENU
About Us  

Arungi Muara – Keping Empat Belas

“Keluguan yang Memesona”

Sejak kejadian malan di graha, keadaan kembali normal. Tidak ada lagi Risa yang mengabaikan Rain, atau Rain yang berusaha setengah mati untuk didengar oleh Risa. Mereka berdua bersikap seperti biasanya. Risa yang cuek dan Rain yang tak bisa diam. Malah, jika diperhatikan, belakangan sifat Risa jauh lebih lunak terhadap Rain. Entahlah mengapa.

Lalu, malam itu, Thessa keluar dengan kekasihnya, Joshua, dan meninggalkan Rain dan Risa berdua di rumah. Keduanya sepakat jika mereka tidak akan memulai perdebatan sebelum Thessa datang. Karena, tak perlu ditanya, tanpa sosok sang mediator seksi asal Brazil itu, rumah ini pasti sudah roboh saking hebatnya mereka berdebat.

Tidak, bukannya Rain dan Risa sedang adu jotos atau senang silat mulut, melainkan, mereka kadang bisa lupa diri jika mereka sudah memperdebatkan sesuatu. Keduanya bahkan bisa membahas hal yang tidak penting sekalipun hanya demi mendapatkan sesuatu untuk diperdebatkan. Sebenarnya, Rain membenci itu semua. Namun, selama itu bisa membuat Rain berbicara lebih banyak dengan Risa, apa pun akan ia lakukan.

Seperti saat ini. Kala itu hujan deras tengah mewarnai langit Kota Surabaya dengan semburat keabu-abuan. Namun, alih-alih hujan-hujanan seperti biasanya, Rain malah iseng memerhatikan Risa yang tengah membuat secangkir kopi di dapur. Rain hanya memerhatikan gadis itu selagi menyandarkan punggungnya ke kabinet dapur. Sesekali, ia tersenyum tanpa alasan yang jelas.

“Mas Rain nggak bosen ngelihatin saya kayak gitu?” tanya Risa pada akhirnya. Ia menatap Rain tajam.

Yang ditanyai hanya bisa meringis. “Aku punya pertanyaan,” ujar Rain. “Menurutmu, untuk apa manusia diciptakan?” Inilah permainan Rain. Ia sedang menguji Risa dengan topik-topik pembicaraan acak yang tidak mungkin bisa gadis itu tolak.

Risa memandang Rain dengan tatapan aneh. “Kenapa tiba-tiba nanya gitu?”

Rain mengangkat bahu. “Yah, nggak pa-pa. Tiba-tiba aja kepikiran,” jawab Rain asal.

Risa meletakkan sendok gula yang tadi dipegangnya. Kemudian, ia menatap Rain lurus-lurus. Rain bersorak gembira dalam hati. Sudah jelas sekarang Risa tengah mencurahkan sepenuh perhatiannya pada Rain saat ini. Hal itu membuat Rain hampir saja terkikik.

“Kalau menurut Mas Rain sendiri, kenapa?” tanya Risa.

Rain sempat berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Well, kita diciptakan untuk merasakan kenikmatan hidup, mungkin? Tuhan ‘kan maha penyayang.”

“Kenikmatan seperti apa yang Mas Rain maksud?” Risa mengangkat sebelah alis. Ia menegak kopi dari cangkirnya.

“Kenikmatan hidup seperti… kekayaan, kemewahan, kesejahteraan,” Rain menyebutkan. “Dan mungkin… perena-enaan?” Rain mengucapkannya dengan kerlingan mata. Sedangkan Risa, ia sudah tersedak kopi yang tengah diminumnya.

“Ohok-ohok!” Risa memukuli dadanya sendiri. “What the fuck did you just say…?

Rain mengulangi dengan senag hati, “Aku tadi bilang nikmatnya perena-en—”

“SHH!” Risa memotong dengan desis panjang. “Jangan diulangi.”

“Nah, ‘kan yang minta aku ulangi itu kamu?” Rain terkekeh.

Risa langsung mengalihkan pembicaraan, “Kalau Tuhan itu Maha Penyayang, kenapa masih ada orang yang dibuat menderita di luar sana?”

“Itu salah satu bentuk kasih sayang Tuhan,” Rain mulai berasumsi.

Risa tersenyum miring. “Jawaban yang klasik.”

“Klasik?” ulang Rain tak mengerti.

“Kalau Mas Rain mau bilang Tuhan sayang kita dengan cara memberikan penderitaan, saya rasa saya harus akhiri diskusi ini sampai sini aja,” jawab Risa ringan. Ia mengangkat cangkir kopinya dan melangkah melalui Rain. Namun, Rain segera mencegat pergelangan tangan Risa.

“Tunggu,” ucap Rain. “Kenapa? Bukannya barusan kamu excited banget dengan topik ini?”

“Gagasan yang menarik, memang,” Risa menghempaskan tangan Rain, “tapi kalau lawan debat saya kayak Mas Rain yang kurang research, saya yakin nggak akan ada serunya.”

Rain merasa tertohok dengan apa yang Risa ucapkan. Risa pun kembali melangkah, tetapi tiba-tiba saja sesuatu membuat kakinya terpeleset hingga ia nyaring terjungkal ke belakang. Nyaris karena sebelum itu terjadi, kedua tangan kokoh Rain sudah menangkap tubuh semampai Risa dari belakang. Rain melingkarkan tangannya ke sekitar pinggul gadis itu. Dan Risa yang menerima sentuhan itu, langsung terbelalak.

Tiba-tiba Rain terkekeh. “Hukum karma itu ada, ya?” guraunya. “Baru aja kamu ngatain aku, kamu udah dapet karma.”

Wajah Risa merah padam. Ia langsung meloloskan diri dari rengkuhan Rain yang tanpa sadar membuat gadis itu merasa… terlindungi. Risa tak seberapa memahami, yang jelas, debur jantungnya kini seolah berlomba dengan suara gemerisik rintik hujan yang beradu dengan genting.

“Apa… apa yang buat saya kepeleset?” Risa lagi-lagi mengalihkan pembicaraan.

Sesaat kemudian, Rain dan Risa menyadari ada hal yang aneh dari lantai dapur itu. Kemana pun mata memandang, lantai di sekeliling mereka tergenang oleh air yang terus mengalir yang entah dari mana datangnya. Lalu, Rain dan Risa bertukar pandang untuk sesaat. Hingga akhirnya, mereka berdua sama-sama terbelalak.

“Lubang di loteng!” seru mereka berdua serentak.

Rain dan Risa langsung melesat untuk melihat apa dugaan mereka memang benar. Dan setelah bersusah payah melampaui genangan air yang semakin ke lama semakin tinggi itu, akhirnya mereka menyaksikan satu hal yang cukup untuk membuat bulu roma mereka berdiri tegak: lubang di kamar loteng Rain sudah membawa hujan di luar masuk ke dalam!

Mereka menjumpai air yang dengan deras mengalir menuruni anak-anak tangga dan merendam apa pun yang ada dilaluinya. Sepersekian detik kemudian, Rain menjerit histeris.

Holy shit! Laptopku masih ada di atas!”

Rain langsung melesat ke atas menerjang banjir yang menuruni anak tangga. Sedangkan Risa, ia masih terbengong-bengong di sana. Gadis itu sibuk mengamati sekitarnya, hingga tanpa sadar, ia malah melangkah mendekati tangga di mana Rain baru saja naik. Pikiran aneh menggelitik benaknya.

“Kalau kekuatan air yang mengalir segini… kira-kira, berapa menit lagi air ini bakal sampai ke kamarku yang ada di depan?” gumam Risa. Ia menyentuh aliran air di sela-sela kakinya, berusaha menghitung debit air yang mengalir.

Tiba-tiba, Rain yang dengan limbung melangkah muncul dari ujung tangga. “Untung laptopnya aku taruh di dalam lemari, jadi nggak kena air,” ujar Rain.

Kemudian entah bagaimana, salah satu kaki Rain terpeleset. Rain yang gagal berpegangan pun akhirnya terjun bebas ke bawah. Rain terbelalak begitu menyadari sosok Risa yang entah sedang apa di bawah tangga.

“RISA, MINGGIR!!” jerit Rain.

Risa mendongak. Namun, semuanya sudah terlambat.

*

Sekujur tubuh Risa rasanya remuk redam. Selagi mencoba untuk memiringkan badan di atas ranjangnya, Risa merintih lirih sebelum setelahnya mengumpat-umpat.

Pikirannya mereka ulang kejadian memalukan barusan. Rain tadi dengan cerobohnya terpeleset dari tangga dan malah jatuh menimpa Risa yang ada di ujung tangga. Tubuh keduanya langsung basah kuyup. Namun, yang membuat Risa kesal bukanlah hal itu. Melainkan, tubuhnya dan Rain benar-benar menyentuh satu sama lain tadi. Dan yang semakin membuat Risa kesal adalah, Rain berpura-pura seolah tak menyadari apa-apa dan malah langsung menanyakan keadaan Risa di saat mereka masih dalam posisi yang canggung itu!

Lalu, adegan memalukan itu ditutup dengan Risa yang langsung berhamburan kembali ke kamarnya sendiri.

Wajah Risa merah padam menahan malu dan amarah di saat yang bersamaan. Risa bahkan terlalu murka untuk menyadari bahwa satu rumah kini sudah nyaris tergenang banjir kecuali kamarnya yang memang memiliki posisi yang lebih tinggi dari permukaan lantai yang lain.

Selagi melirik ke arah pintu, Risa tanpa sadar bertanya-tanya. Ini udah jam 11 malam. Kira-kira Mas Rain tidur di mana?

Kemudian, dengan rasa penasaran yang semakin menggelitik benaknya, Risa memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur dan melangkahkan kaki keluar kamar.

Risa mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah yang kini mutlak tergenang air. Hujan memang sudah berhenti sejak tadi, tetapi air ini tidak kunjung surut. Lama Risa mencari, ia tak menemukan sosok yang ia cari.

“Mas Rain?” Risa mulai memanggil. Gadis itu memutuskan untuk berjalan lebih jauh keluar dari kamarnya. Begitu ia sampai di ruang tamu, ia akhirnya menemukan lelaki yang ingin dijumpainya.

Dengan menyedihkan, tubuh Rain yang tinggi itu seolah dipaksa untuk muat berbaring di atas sofa yang tak seberapa panjang. Hal itu membuat Rain harus memeluk lututnya sendiri jika tak ingin jatuh dari atas sofa.

“Mas Rain?” panggil Risa sekali lagi.

Namun, Rain benar-benar tidur seperti orang mati. Bahkan, ketika Risa mengguncang pundak lelaki itu, ia sama sekali tak bergeming dari tempat barang sejengkal pun. Pada akhirnya, Risa pun jengah dan memutuskan untuk bertindak usil.

Gadis itu beringsut mendekati Rain. Kini Risa berlutut tepat di depan wajah lelaki yang sedang tertidur pulas itu. Lalu, dengan tarikan napas yang mantap, Risa mengehembuskan napasnya tepat di samping telinga Rain. Dengan sekali tiupan, tubuh Rain langsung menggeliat.

“Aduh, geli, ah,” gumam Rain tak jelas.

Risa tersenyum jahil. Ia pun terus melanjutkan perbuatannya. Risa mencondongkan kepalanya ke arah Rain. Dengan setiap tiupan, Rain semakin menggeliat hebat dan pada akhirnya membuka mata.

Begitu terjaga, hal pertama yang Rain lakukan adalah… menjerit. “ADOH, INI APAAN, SIH?!” Lelaki itu langsung terduduk tegak di atas sofa. Melihat perlakuan Rain, Risa pun bangkit dari tempatnya. Benaknya tergelitik melihat ekspresi Rain yang lucu dan murka di saat yang bersamaan. Namun, tentu saja, Risa jelas tak ingin ketahuan terbahak karena Rain.

Ketika Rain sudah sepenuhnya sadar, ia memutar kepala ke arah Risa. Dengan kedua mata yang masih separuh lengket, Rain berkedip-kedip, seolah masih memproses apa yang sedang terjadi padanya. Bersamaan dengan itu, tawa Risa pun mau tak mau pecah.

Gadis itu terpingkal-pingkal selagi memegangi perutnya yang mendadak melilit lantaran terlalu banyak tertawa. Rain menatap Risa dengan tatapan penuh selidik.

“Risa? Kamu ngapain di sini?”

Ketika tawanya sudah mulai mereda, Risa pun menjawab, “Harusnya saya yang nanya. Mas Rain ngapain tidur di sini?”

Selagi menguap dan mengucek kedua mata, Rain berkata, “Emangnya aku mau tidur di mana lagi? Di loteng kasurku resmi kerendam air.”

Risa membuang napas. “Mau tidur di kamar saya aja?” Risa akhirnya menawarkan diri.

Rain langsung melipat dahi. “Kalo aku tidur di kamarmu, kamu mau tidur di mana?”

Risa mengangkat bahu. “Saya jarang tidur malam, kok. Saya masih mau bikin research paper saya.”

Research paper?” ulang Rain. “Buat apa?”

“Saya pingin daftar beasiswa S2—”

“Shhh!” tiba-tiba Rain menempatkan jari telunjuknya ke atas bibir Risa. “Penjelasannya besok aja. Sekarang, aku pake kamarmu dulu, ya.”

Tanpa memberikan aba-aba, Rain langsung melonjak dari atas sofa dan secepat kilat melesat ke dalam kamar Risa. Risa pun mengekor dari belakang. Begitu sampai di kamarnya, Risa menyaksikan Rain sudah terkapar di atas tempat tidurnya dengan posisi kedua tangan dan kaki terlentang lebar ke sisi tubuhnya. Rain mutlak menguasai ranjang king size itu untuk dirinya sendiri.

Risa pun mendengus geli lantas menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda heran. Tak mau ambil pusing, gadis itu langsung menghenyakan tubuhnya ke atas kursi meja belajar. Kemudian ia segera menyalakan laptop miliknya dan mengetik berderet-deret paragraf di sana. Tak lupa, Risa pun berulang kali membolak-balik buku-buku tebal yang ia gunakan sebagai referensi untuk penelitiannya. Suara berisik yang ia timbulkan sama sekali tak membuat Rain terbangun. Risa semakin tak habis pikir. Bagaimana jika rumah ini terbakar? Apakah Rain masih akan tidur dengan pulas seperti itu?

Dalam hati, Risa bertekad untuk mendapatkan beasiswa S2 itu. Dengan membuat research paper yang baik, ia akan lolos tahap seleksi pertama dan akan diuji lagi dalam tes tulis dan Bahasa Inggris.

Jauh dalam lubuk hati Risa, sejatinya gadis itu hanya ingin pergi. Pergi dari kota itu. Dari tempat di mana ia sudah dibesarkan. Ia tak ingin lagi bertemu dengan orang-orang itu lagi. Ia tak ingin.

Risa hanya ingin melarikan diri. Dari kehidupannya. Dari kenyataannya. Bahkan, dari dirinya sendiri.

Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari ketika pada akhirnya Risa memutuskan untuk menyudahi aktivitasnya. Gadis itu membenamkan punggungnya ke sandaran kursi selagi membuang napas lelah. Ia memijit pelipis kepalanya sendiri yang mendadak nyeri. Jika ia sudah terlalu memaksakan diri, ia pasti akan selalu begini.

Kemudian, Risa melirik ke arah Rain. Lelaki itu masih tak berganti posisi sejak pertama Risa memerhatikannya. Lalu, entah mengapa, Risa tersenyum kecil. Tanpa sadar, Risa bangkit dari kursi dan membaringkan badan di samping sosok Rain yang kini tengah pulas tertidur.

Setelahnya, Risa menemukan dirinya sendiri tengah memerhatikan tiap jengkal wajah Rain yang tampak begitu polos saat terlelap. Tanpa pernah Risa sadari sebelumnya, rupanya Rain memiliki wajah yang rupawan. Lihatlah garis rahang yang tegas serta hidungnya yang mancung itu. Rain mungkin tak pernah menyadari, tetapi ketika berjalan bersama dengan Risa, Rain berulang kali menjadi pusat perhatian. Banyak gadis-gadis yang menggilai lelaki yang berbaring di samping Risa saat ini. Namun, tampaknya Rain sama sekali tak menyadari hal itu.

Rain memang terlalu polos, atau bodoh sebenarnya? Jika Risa pikir-pikir, dengan wajahnya yang seperti ini, Rain bisa dengan mudah menakhlukan hati wanita mana pun—kecuali Risa, tentu saja. Namun, mengapa malah Rain harus terjebak dengan Kirana yang jelas-jelas mencampakannya?

Risa menggelengkan kepalanya sendiri. Ia pun menegaskan satu hal kepada dirinya: itu sama sekali bukan urusannya.

Risa ingin bangkit dari posisinya, tetapi sekonyong-konyong Rain membalikkan badan dan tiba-tiba saja memeluk tubuh Risa dengan erat, seolah-olah Risa adalah bantal yang empuk untuk ditiduri. Risa nyaris menjerit menerima perlakuan itu, tetapi urung sebab sebelum ia sempat berbuat apa-apa, ia sudah terpaku di tempat. Jantung Risa berpacu tak karuan.

Wajah Risa dan Rain hanya terpaut beberapa senti. Dan dari jarak yang begitu intim, Risa menyadari satu hal: keluguan wajah Rain mampu membuat Risa kehilangan separuh kesadarannya.

Rain tampak sama sekali tak menyadari apa yang tengah terjadi. Sebab wajahnya tak terganggu meski Risa yakin lelaki itu sudah bisa merasakan hangat hela napas Risa di depan wajahnya.

Rain mendekap Risa dengan erat. Mereka nyaris tak berjarak. Dengan jarak yang sangat dekat itu, Risa kembali menyadari betapa menawannya wajah Rain jika ditatap lamat-lamat. Rain terlihat begitu… damai dalam tidurnya. Risa bahkan tak ingat kapan terakhir kali dirinya terlelap dengan begitu nyenyaknya.

Lama kelamaan, memerhatikan Rain yang terlelap itu, membuat otot-otot tubuh Risa yang tegang mendadak jadi kendur. Gejolak batinnya yang beberapa saat lalu membuncah itu pun perlahan-lahan jadi tenang. Hanya dengan menatap dan didekap oleh Rain seperti itu… Risa merasakan ketenangan yang sudah lama tak ia jamah.

Maka, tak perlu waktu lama bagi Risa untuk segera menyusul Rain ke dunia non-materi yang sudah lama ia damba-dambakan.

*

"Jangan bangunkan aku dari mimpiku,

hanya di sanalah aku bisa memelukmu,

dengan kedua tanganku yang lelah menggapai-gapai

ragamu yang seolah tak ingin terbuai." - NLH

Tags: twm18

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Mahar Seribu Nadhom
61      25     0     
Fantasy
Sinopsis: Jea Ayuningtyas berusaha menemukan ayahnya yang dikabarkan hilang di hutan banawasa. Ketikdak percayaannya akan berita tersebut, membuat gadis itu memilih meninggalkan pesantren. Dia melakukan perjalanan antar dimensi demi menemukan jejak sang ayah. Namun, rasa tidak keyakin Jea justru membawanya membuka kisah kelam. Tentang masalalunya, dan tentang rahasia orang-orang yang selama in...
Cheossarang (Complete)
94      30     0     
Romance
Cinta pertama... Saat kau merasakannya kau tak kan mampu mempercayai degupan jantungmu yang berdegup keras di atas suara peluit kereta api yang memekikkan telinga Kau tak akan mempercayai desiran aliran darahmu yang tiba-tiba berpacu melebihi kecepatan cahaya Kau tak akan mempercayai duniamu yang penuh dengan sesak orang, karena yang terlihat dalam pandanganmu di sana hanyalah dirinya ...
Catatan 19 September
214      42     0     
Romance
Apa kamu tahu bagaimana definisi siapa mencintai siapa yang sebenarnya? Aku mencintai kamu dan kamu mencintai dia. Kira-kira seperti itulah singkatnya. Aku ingin bercerita sedikit kepadamu tentang bagaimana kita dulu, baiklah, ku harap kamu tetap mau mendengarkan cerita ini sampai akhir tanpa ada bagian yang tertinggal sedikit pun. Teruntuk kamu sosok 19 September ketahuilah bahwa dir...
Somehow 1949
81      27     0     
Fantasy
Selama ini Geo hidup di sekitar orang-orang yang sangat menghormati sejarah. Bahkan ayahnya merupakan seorang ketua RT yang terpandang dan sering terlibat dalam setiap acara perayaan di hari bersejarah. Geo tidak pernah antusias dengan semua perayaan itu. Hingga suatu kali ayahnya menjadi koordinator untuk sebuah perayaan -Serangan Umum dan memaksa Geo untuk ikut terlibat. Tak sanggup lagi, G...
TeKaWe
14      10     0     
Humor
bagaimana sih kehidupan seorang yang bekerja di Luar Negeri sebagai asisten rumah tangga? apa benar gaji di Luar Negeri itu besar?
Who Is My Husband?
182      65     0     
Romance
Mempunyai 4 kepribadian berbeda setelah kecelakaan?? Bagaimana jadinya tuh?! Namaku.....aku tidak yakin siapa diriku. Tapi, bisakah kamu menebak siapa suamiku dari ke empat sahabatku??
THE LIGHT OF TEARS
107      28     0     
Romance
Jika mencintai Sari adalah sebuah Racun, Sari adalah racun termanis yang pernah Adam rasakan. Racun yang tak butuh penawar. Jika merindukan Sari adalah sebuah kesalahan, Sari adalah kesalahan terindah yang pernah Adam lakukan. Kesalahan yang tak perlu pembenaran. Jika menyayangi Sari adalah sebuah kegelapan, Sari adalah kegelapan yang hakiki yang pernah Adam nikmati. Kegelapan yang tak butuh pene...
CEO VS DOKTER
5      5     0     
Romance
ketika sebuah pertemuan yang tidak diinginkan terjadi dan terus terulang hingga membuat pertemuan itu di rindukan. dua manusia dengan jenis dan profesi yang berbeda di satukan oleh sebuah pertemuan. akan kah pertemuan itu membawa sebuah kisah indah untuk mereka berdua ?
Should I Go(?)
58      17     0     
Fan Fiction
Kim Hyuna dan Bang Chan. Saling mencintai namun sulit untuk saling memiliki. Setiap ada kesempatan pasti ada pengganggu. Sampai akhirnya Chan terjebak di masa lalunya yang datang lagi ke kehidupannya dan membuat hubungan Chan dan Hyuna renggang. Apakah Hyuna harus merelakan Chan dengan masa lalunya? Apakah Kim Hyuna harus meninggalkan Chan? Atau justru Chan yang akan meninggalkan Hyuna dan k...
The watchers other world
28      13     0     
Fantasy
6 orang pelajar SMA terseret sebuah lingkarang sihir pemanggil ke dunia lain, 5 dari 6 orang pelajar itu memiliki tittle Hero dalam status mereka, namun 1 orang pelajar yang tersisa mendapatkan gelar lain yaitu observer (pengamat). 1 pelajar yang tersisih itu bernama rendi orang yang suka menyendiri dan senang belajar banyak hal. dia memutuskan untuk meninggalkan 5 orang teman sekelasnya yang ber...