Read More >>"> fixing a broken heart (4. Menotalkan Suka) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - fixing a broken heart
MENU
About Us  

Arungi Muara - Keping Empat
“Menotalkan suka”

Thessa, gadis dengan tubuh ideal asal Brazil itu resmi menjadi housemate Risa semenjak mereka menjadi mahasiswa baru di kampus. Risa yang dingin dan Thessa yang baik hati memang sebuah perpaduan yang berlawanan. Tetapi mereka betah-betah saja tinggal satu rumah. Risa tak harus repot membayar kos, karena Thessa bilang, ayahnya yang pengusaha tambang itu yang akan membiayai. Thessa sejahtera. Risa pun bahagia.

Pernah, suatu sore saat mereka sedang berkumpul untuk sekedar ngopi di ruang makan, Risa bertanya, “Sebenarnya, alasan apa yang buat kamu mau kuliah di Indonesia?”

Thessa tampak berpikir. “Hmm… alasan pertama, karena ayah saya emang kerja di sini. But… I think it's not the only reason.

Risa mengangkat alis. “So? What are your… reasons?”

It's just as simple as… I love Indonesia,” jawab Thessa, “I love the people, the scenery, the atmosphere. Indonesia gives me everything that Brazil doesn't give.”

But I think Brazil's education is more advance than Indonesia. Have you discussed about it?”

Yes, I have,” jawab Thessa, “but it doesn't change my mind at all.”

Risa menggeleng tak percaya. “Saya enggak habis pikir, Thes. Kamu punya peluang yang lebih bagus kalau kamu kuliah di negara kamu sendiri, dan bukan jadi imigran seperti ini. Faktor eksternal seperti tadi bisa disingkarkan dulu.”

Thessa diam.

“Lagipula, pasti suasana Brazil jauh lebih nyaman untuk kamu. Orang-orangnya juga. Sorry to say, Thes, but… honestly, your reasons are so triviality.

Thessa malah tertawa kecil mendengar ucapan Risa. “Kamu bisa bilang itu karena kamu enggak pernah berada di posisi saya, Ris,” jawabnya dengan logat yang khas.

Risa tak menjawab.

Try to imagine, Ris. Coba bayangkan kamu ada di ruang makan ini sekarang. Lalu kamu bayangkan dengan ruang makan yang ada di rumahmu. Apa suasananya sama?”

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Karena tempatnya berbeda.”

“Nah, you got my point,” kata Thessa, “Indonesia ini cuma ada satu. Mungkin kalau ada Indonesia lain di Brazil, saya pasti pulang, Ris. I'd go home. Tapi, kamu lihat sendiri. Langit Indonesia dan langit Brazil itu berbeda. Dan—”

“Secara ilmiah, Thes, bumi mengalami rotasi. Dan langit yang kita lihat itu sama, hanya saja dilihat pada saat yang berbeda,” sela Risa.

Thessa tak memedulikan ocehan Risa dan melanjutkan, “Orang Indonesia pun juga beda dengan orang Brazil, begitu juga sebaliknya. Dan untuk menemukan orang yang bersifat sama di tempat berbeda itu pasti susah, Ris.”

“Gampang aja. Tinggal cari yang sifatnya mirip, selesai perkara.” Risa mengangkat bahu. Thessa menggelengkan kepala.

“Tidak akan semudah itu, Ris,” kata Thessa, “ini bukan hal yang bisa dijelaskan. Kamu enggak akan paham sebelum mengalami sendiri.”

Risa menjawab cuek selagi menyeruput kopi hitamnya, “Kalau begitu lihat saja nanti.”

*

Risa meletakkan secangkir teh di hadapan Rain yang baru saja duduk di ruang makan rumah itu. Kedua mata Rain mengamati rumah yang menurut kehendak hatinya akan menjadi tempat barunya setelah ini. Rain tak memerhatikan Risa yang telah duduk di hadapannya.

“Thessa mana?” tanya Rain.

“Kayaknya belum pulang. Tunggu aja,” jawab Risa tak acuh.

Rain mengangguk. Risa sudah sibuk dengan laptopnya. Risa pikir jauh lebih asik memandangi laman thread google ketimbang menatap Rain yang ada di hadapannya. Rain sendiri heran dengan sikap Risa. Rain membatin bahwa Risa tak ada sopan-sopannya. Masak tamu dikacangin begini? Pikir Rain.

“Thessa orangnya gimana, Ris?” Rain terpaksa bertanya. Karena dia tidak terbiasa dengan keheningan.

“Sikapnya?” sahut Risa.

“Heem.”

Risa menghela napas sejenak. Seolah-olah pertanyaan Rain lebih susah dari soal algoritma tiga karat. “Menurut saya, sih, dia cukup humble, supel, eksis tapi enggak sok eksis, dan… mandiri. Itu aja.”

Rain mengangguk khidmat sambil cengar-cengir sendiri. Risa yang menangkap senyum itu langsung mengerutkan kening.

“Kenapa muka Mas Rain kayak gitu?” tanya Risa penuh kecurigaan.

“Enggak pa-pa. Tapi berdasarkan deskripsi kamu barusan, kayaknya peluangku buat dibolehin tinggal di sini semakin besar.” Rain mengelus dahunya, bak cenayang yang sedang mendiagnosis kapan Risa punya pacar.

“Kok bisa gitu?” tanya Risa.

“Ya… gitu, deh. Eh, omong-omong… kamar aku di mana, Ris?”

Risa kembali melipat dahi. “Kamar?” ulangnya. “Kamar di rumah ini cuma ada  dua, kamar saya dan kamar Thessa.”

Giliran Rain yang menyernyit. “Lho? Terus aku mau tidur di mana?”

Risa mengidikkan bahi tidak peduli. “Terserah Mas Rain mau tidur di mana. Di ruang tamu, di dapur, kek. Yang penting, enggak ada kamar lagi selain itu.”

Rain ternganga. Risa terkekeh penuh kemenangan. Akhirnya, Rain mengetahui hal yang sebenarnya. Rain pun menyadari bahwa dia telah dipermainkan lagi oleh Risa. Dan nahasnya, dia memercayai Risa dengan begitu mudah.

“Jadi... percuma aku dateng ke sini?” kata Rain, setengah tak percaya. Wajahnya masih melongo, nyaris membuat Risa menyemburkan tawa.

“Sebenernya masih ada loteng nganggur, sih, di atas,” kata Risa.

“Loteng?” ulang Rain tak percaya. “Kamu jahat banget nyuruh aku tidur di loteng, Ris!” Rain menatap Risa sinis.

Risa tertawa kecil. “Siapa suruh terlalu bersemangat buat serumah sama Thessa?”

“Tapi ya at least kamu bilang dululah kalo emang enggak ada kamar,” gerutu Rain.

“Emang kalau saya bilang gitu, Mas Rain bakal tinggal di mana? Nyari duit dalam tiga hari itu terlalu mustahil buat Mas Rain,” kata Risa, tanpa beban. Rain terbelalak mendengar ucapan Risa barusan. Kemudian mata Rain menyipit pertanda murka.

“Kamu tahu enggak, yang kamu lakuin ke aku itu…,” Rain menggantung kalimatnya. Risa melirik sekilas.

“Apa?”

“Kurang ajar.”

Risa tak dapat menahan tawanya. Risa terkikik sendiri mendengar ucapan Rain barusan. Rain masih mengerutu tidak jelas. Bersamaan dengan itu, suara atap dan air hujan yang turun menginterupsi hening di antara mereka berdua. Meski begitu Rain tak mengindahkan suara hujan. Ia meneguk tehnya bulat-bulat sebab dongkol kepada Risa. Tiba-tiba, benak Risa tergelitik oleh satu pertanyaan yang selalu ingin ia ajukan pada orang yang ada sedang bersamanya ketika hujan turun. Akhirnya berucaplah ia.

“Mas Rain suka hujan atau cuaca panas?”

Rain mendongak, separuh tak menyangka jika Risa akan mengajaknya bicara. “Hujan,” jawabnya.

Risa terkekeh. “Sudah saya duga,” kata Risa.

Rain melengos. “Kalo udah tahu ngapain nanya?”

Risa tidak memedulikan ucapan Rain. “Banyak orang yang suka hujan, tapi kalau lagi hujan malah pake jas hujan. Yang suka panas, malah berjalan di bawah bayangan. Ngakunya, sih, suka. Tapi apa emang begitu bisa dibilang suka?”

“Memangnya kamu sendiri lebih suka yang mana?” tanya Rain.

“Mendung,” jawab Risa singkat.

Rain terbahak. “Kalau gitu kamu enggak punya pendirian.”

Risa agak tersinggung dengan perkataan Rain itu. “Saya bukannya enggak punya pendirian, ya, Mas. Tapi itu emang apa yang saya lakukan,” sangkal Risa, “saya enggak suka hujan karena saya saat hujan, saya pake payung. Saya juga enggak suka panas, karena saat panas, saya jalan di bawah bayangan. Bullshit sekali kalau saya bilang saya suka satu di antara keduanya.”

Rain tersenyum tipis, senang jika mendengar Risa mulai bermain-main dengan teorinya sendiri. Risa yang biasanya irit bicara, bisa menjelaskan pemikirannya dengan panjang lebar jika ia mau. Rain tahu bahwa Risa bukan seperti gadis pada umumnya. Paradigma serta isi kepala Risa jauh beda dari yang lain. Rain terlalu naif untuk mengakui, tetapi ia memang tertarik.

“Aku, sih, yakin kamu suka salah satu dari dua hal itu. Tapi kamu aja yang enggak bisa menotalkan rasa sukamu itu, Ris,” ujar Rain, “kalau aku, enggak pernah setengah-setengah kalau aku udah bilang ‘suka’ sama sesuatu.”

Risa ingin menyangkal, tetapi tiba-tiba suara deringan telepon menyela. Risa langsung mencomot ponselnya yang ada di atas meja. Setelah bercakap dengan orang di seberang sana sejenak, Risa menutup telepon dan mengalihkan pandangannya ke arah Rain.

“Thessa enggak bisa datang, Mas. Dia baru pulang nanti malam. Dia lagi ada urusan di kampus,” ujar Risa.

Rain mengangkat alis. “Ya udahlah. Kalo gitu, aku pulang dulu.”

Risa melipat dahi. “Enggak mau nunggu hujan reda dulu?”

Rain tersenyum jahil. “Kamu betah sama aku, ya?”

Risa langsung memberengut dan menatap Rain jijik. “Maaf, saya mending dating sama tembok China daripada sama Mas Rain.”

Rain tergelak. “Oke, aku duluan, ya. Take care.”

Rain bangkit, disusul oleh Risa yang mengekor dari belakang. Di halaman depan, Rain langsung melonjak ke atas motor bebeknya. Rain langsung menggiring motornya itu ke depan gerbang. Risa berteriak panik.

“Mas Rain! Mas Rain gimana, sih? Enggak pake jas hujan dulu, kok, malah langsung keluar?!” Dalam hati, Risa telah menobatkan Rain sebagai seniornya yang paling koplak yang pernah ia kenal.

Rain hanya nyengir, sedang pakaiannya sudah basah kuyup diterjang hujan. “Aku enggak pernah bawa jas hujan, Ris!” teriak Rain, suaranya beradu dengan bisingnya hujan.

“Mau saya pinjemin?” tanya Risa, setengah memekik pula.

“Enggak usah!”

“Tapi Mas Rain basah!”

Dari kejauhan, Risa bisa menangkap senyum manis Rain. Lelaki itu hanya mengacungkan ibu jarinya kepada Risa. Seolah mengatakan bahwa dia tidak apa-apa. Risa pun heran, mengapa tiba-tiba dia jadi perhatian begini? Sejak kapan Risa peduli pada orang selain dirinya sendiri?

Kemudian, masih dengan memamerkan senyum, Rain kembali bersuara, “Kan udah aku bilang, aku suka hujan!”

Risa termangu. Mulutnya separuh terbuka. Tak sempat Risa membuka mulut, Rain sudah hilang dari pandangannya. Risa masih termenung di situ sampai beberapa saat. Pikirannya hanya tertuju pada Rain. Baru kali ini Risa menemui lelaki seunik Rain. Yang tak malu meledak-ledak dengan lucunya di hadapan orang yang baru dikenal. Yang gemar hujan-hujanan hanya karena ia mengaku suka dengan hujan.

Risa tak habis pikir.

Apa itu yang namanya menotalkan suka?

*

“You say you love rain, but you use an umbrella to walk under it. You say you love sun, but you seek shade when it’s shining. So that’s why I’m scared when you say you love me.” -BM

Tags: twm18

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Melawan Tuhan
83      63     0     
Inspirational
Tenang tidak senang Senang tidak tenang Tenang senang Jadi tegang Tegang, jadi perang Namaku Raja, tapi nasibku tak seperti Raja dalam nyata. Hanya bisa bermimpi dalam keramaian kota. Hingga diriku mengerti arti cinta. Cinta yang mengajarkanku untuk tetap bisa bertahan dalam kerasnya hidup. Tanpa sedikit pun menolak cahaya yang mulai redup. Cinta datang tanpa apa apa Bukan datang...
My Naughty Wolf
0      0     0     
Fantasy
Rencana liburan musim dingin yang akan dihabiskan Elizabeth Brown di salah satu resor di pulau tropis bersama sahabat-sahabat terbaiknya hanya menjadi rencana ketika Ayahnya, pemilik kerajaan bisnis Brown Corp. , menantang Eli untuk menaikan keuntungan salah satu bisnisnya yang mulai merugi selama musim dingin. Brown Chemical Factory adalah perusahaan yang bergerak di bidang bahan kimia dan ter...
Dark Fantasia
130      114     0     
Fantasy
Suatu hari Robert, seorang pria paruh baya yang berprofesi sebagai pengusaha besar di bidang jasa dan dagang tiba-tiba jatuh sakit, dan dalam waktu yang singkat segala apa yang telah ia kumpulkan lenyap seketika untuk biaya pengobatannya. Robert yang jatuh miskin ditinggalkan istrinya, anaknya, kolega, dan semua orang terdekatnya karena dianggap sudah tidak berguna lagi. Harta dan koneksi yang...
Beach love story telling
30      25     0     
Romance
"Kau harus tau hatiku sama seperti batu karang. Tak peduli seberapa keras ombak menerjang batu karang, ia tetap berdiri kokoh. Aku tidak akan pernah mencintaimu. Aku akan tetap pada prinsipku." -............ "Jika kau batu karang maka aku akan menjadi ombak. Tak peduli seberapa keras batu karang, ombak akan terus menerjang sampai batu karang terkikis. Aku yakin bisa melulu...
Help Me
169      112     0     
Inspirational
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jika manusia berfikir bahwa dunia adalah kehidupan yang mampu memberi kebahagiaan terbesar hingga mereka bangun pagi di fikirannya hanya memikirkan dunia yang bersifat fana. Padahal nyatanya kehidupan yang sesungguhnya yang menentukan kebahagiaan serta kepedihan yakni di akhirat. Semua di adili seadil adilnya oleh sang maha pencipta. Allah swt. Pe...
ALUSI
243      134     0     
Romance
Banyak orang memberikan identitas "bodoh" pada orang-orang yang rela tidak dicintai balik oleh orang yang mereka cintai. Jika seperti itu adanya lalu, identitas macam apa yang cocok untuk seseorang seperti Nhaya yang tidak hanya rela tidak dicintai, tetapi juga harus berjuang menghidupi orang yang ia cintai? Goblok? Idiot?! Gila?! Pada nyatanya ada banyak alur aneh tentang cinta yang t...
The Yesterday You
17      17     0     
Romance
Hidup ini, lucunya, merupakan rangkaian kisah dan jalinan sebab-akibat. Namun, apalah daya manusia, jika segala skenario kehidupan ada di tangan-Nya. Tak ada seorang pun yang pernah mengira, bahkan Via sang protagonis pun, bahwa keputusannya untuk meminjam barang pada sebuah nama akan mengantarnya pada perjalanan panjang yang melibatkan hati. Tak ada yang perlu pun ingin Via sesali. Hanya saja, j...
Jendral takut kucing
13      13     0     
Humor
Teman atau gebetan? Kamu pilih yang mana?. Itu hal yang harus aku pilih. Ditambah temenmu suka sama gebetanmu dan curhat ke kamu. Itu berat, lebih berat dari satu ton beras. Tapi itulah jendral, cowok yang selalu memimpin para prajurit untuk mendahulukan cinta mereka.
Roger
76      60     0     
Romance
Tentang Primadona Sial yang selalu berurusan sama Prince Charming Menyebalkan. Gue udah cantik dari lahir. Hal paling sial yang pernah gue alami adalah bertemu seorang Navin. Namun siapa sangka bertemu Navin ternyata sebuah keberuntungan. "Kita sedang dalam perjalanan" Akan ada rumor-rumor aneh yang beredar di seluruh penjuru sekolah. Kesetiaan mereka diuji. . . . 'Gu...
Simplicity
325      196     0     
Fan Fiction
Hwang Sinb adalah siswi pindahan dan harus bertahanan di sekolah barunya yang dipenuhi dengan herarki dan tingkatan sesuai kedudukan keluarga mereka. Menghadapi begitu banyak orang asing yang membuatnya nampak tak sederhana seperti hidupnya dulu.