Arungi Muara - Keping Tiga
"Kilas Senyum"
"Ris, ayolah, buruan. Ini terus gimana? Aku harus ngapain lagi?" Dea mengguncang lengan Risa yang ada di sampingnya. Lab yang lengang membuat Dea harus merendahkan suaranya bahkan nyaris berbisik.
"Bentar, ya, De," jawab Risa singkat, "abis ini guru kamu dateng."
Dea mengerutkan kening. "Guru?"
Risa menyapukan pandangannya ke sekitar. Harusnya cowok itu datang jam.... Ah! Itu dia! Risa spontan melambaikan tangan ke arah lelaki yang sedang menyumpal telinganya dengan earphone itu.
Dea semakin tidak mengerti. "Ngapain kamu manggil Mas Rain?"
Rain yang baru datang langsung menghenyakkan tubuh di depan Dea. Tatapannya menuju kepada Risa lurus-lurus.
"Jadi... aku mau kerja apa, Ris? Aku udah bawa ijazah, SKL, dan lain-lain yang sekiranya butu-"
"Mas Rain enggak butuh itu," sela Risa, "karena kerjaan Mas Rain hari ini adalah bantuin Dea nggarap skripsi."
Rain dan Dea sontak melongo selagi menatap Risa tak percaya. Namun belum sempat dua orang itu berkata-kata, Risa sudah bangkit dan pergi dari sana. Seringai jahil tepat Risa beri pada Rain yang masih ternganga dengan tindakannya.
"Selamat jadi guru, ya, Mas Rain." Risa menepuk bahu Rain yang sudah misuh-misuh dalam hati.
*
Sialan, Risa. Batin Rain mengutuki gadis muka dingin itu berulang kali. Yang Rain ingin hanyalah memiliki pekerjaan tetap untuk membayar uang kosannya. Rain memang bertekad membiayai hidupnya sendiri sejak lulus kuliah. Rain ingin coba hidup tanpa bergantung pada orang tuanya. Tapi apa daya, hingga kini saja dia belum dapat pekerjaan. Sialnya, Risa malah mempermainkan niat Rain itu. Dapat ditebak, Rain hingga kini uring-uringan di kantin kampus selagi melahap pisang susu goreng yang ada di piring dengan buas.
"Makannya santai aja, Mas. Enggak usah keburu-buru kayak dikejar setan gitu," ujar Bu Kantin saat melihat Rain. Rain hanya memaksa senyum.
Bersamaan dengan itu telepon genggamnya berbunyi. Rain meraih ponsel yang ada di saku bajunya itu dengan geram. Lalu kedua mata Rain dibuat terbelalak ketika satu nama kontak yang tertera di sana.
Sekonyong-konyong, sebuah tepukan lembut jatuh di pundaknya. Rain menoleh cepat dan menemukan sosok Risa di sampingnya. Segera saja Rain tekan tombol merah di ponsel.
"Udah selesai ngajarin Dea?" tanya Risa selagi menempatkan diri di atas kursi, masih berjarak satu bangku.
Rain melengos. "Udah selesai ngerjain aku?"
Risa mendengus geli. "Itu juga kerjaan, kan?"
"Iya, tapi enggak berbayar. Enggak bisa buat bayar duit kos," gerutu Rain.
"Ada bayarannya, kok," sahut Risa, "tapi nanti di akhirat."
Rain mencibir. "Kamu harus tanggung jawab, Ris."
Risa melipat dahi. "Tanggung jawab atas apa?"
"Karena udah ngerjain aku," ucap Rain, "tiga hari lagi kalau aku nggak bisa lunasin duit kos, aku disuruh angkat kaki. Kalau sampe itu terjadi...." Rain mengalihkan pandangan ke arah Risa, "kamu tanggung risikonya."
"Memang apa risikonya?"
"Kamu harus biarin aku tinggal di rumahmu," ujar Rain menggebu-gebu.
Risa tampak tertegun untuk beberapa saat. Namun kemudian ia mengangkat bahu cuek. "Well, Mas Rain tahu, sebenernya itu bukan rumah saya. Itu rumah Thessa—"
"Iya, Thessa si bule seksi dari Brazil itu, kan? Iya, aku tahu," potong Rain cepat.
"Saya, sih, enggak keberatan kalau Mas Rain mau tinggal, ya. Tapi masalahnya, itu bukan rumah saya. Dan... dengan kata lain, Mas Rain harus izin dulu sama yang punya rumah," terang Risa. "Gimana pun, saya ini cuma home stay di rumah dia, lho, Mas."
"Tapi dia enggak tinggal sama bapak ibunya, kan? Gampang itu!" Rain mengibaskan tangannya angkuh. Risa tersenyum kecut.
"Mas Rain yakin banget bakalan diizinin," sahut Risa, sedikit dongkol.
"Setahuku, waktu masih jadi maba, kamu yang malah ditawarin Thessa buat tinggal di rumahnya dia gara-gara kamu enggak nemu kos-kosan," tutur Rain.
Risa menyernyit. "Kok Mas Rain bisa tahu?"
"Thessa bilang sendiri ke aku. Dan... feeling-ku, sih, aku bakal diizinin nginep di sana sampai aku bisa lunasin duit kosanku," jawab Rain mantap.
"Kalau Mas Rain enggak dapet-dapet duit, gimana?"
"Ya... terpaksa nginep lebih lama. Tapi enggak pa-palah, ya, hitung-hitung bisa ketemu bule seksi tiap hari." Rain nyengir, memamerkan deret giginya yang putih.
Risa berdecak. Ada pemberontakan sengit yang dilakukan oleh otaknya. "Kenapa enggak minta duit ke Papanya Mas Rain aja, sih? Kok repot banget," gerutu Risa.
Rain menggeleng kuat. "Sejak awal kuliah aku udah bertekad untuk hidup sendiri begitu aku lulus."
"Bukannya hidup sendiri, malah nyusahin temen sendiri," gumam Risa.
"Bilang apa barusan?" tanya Rain. Risa menggeleng.
"Saya bilang, mau ketemu sama Thessa kapan?"
"Mungkin—"
"Eh, buat apa saya nanya? Bukan urusan saya." Risa mengidikkan bahu, "saya duluan, Mas—"
Belum sempat Risa mengangkat pantat dari atas kursi, tetapi Rain sudah mencegat lengan tangan kiri Risa kuat-kuat.
"Ini semua jadi urusan kamu sekarang, semenjak kamu udah berani ngerjain aku kayak gini." Rain menatap Risa tajam. Namun Risa membalas Rain dengan pandangan datar dan dingin, khas sekali. Hingga akhirnya Risa mengatur napas.
"Oke, oke. Saya akan tanggung jawab," ujarnya, "sebagai ganti, saya akan antar Mas Rain ke rumah Thessa sekarang."
Risa menghempaskan tangan Rain yang masih melingkar apik di lengannya. Risa berjalan cepat meninggalkan kantin, termasuk meninggalkan Rain pula. Rain yang terburu-buru sebab takut kehilangan jejak gadis itu langsung bangkit dan lari terbirit-birit. Namun sebuah teriakan nyaring terdengar dari balik punggung Rain.
"MAS RAIN, PISANG SUSUNYA DIBAYAR DULU, TO! KOK LANGSUNG MELAYU*!" seru Bu Kantin geram. [Kok langsung lari!]
"NGUTANG DULU, BUK! LAGI ENGGAK ADA DUIT!" sahut Rain dengan memekik pula.
Risa yang ada beberapa meter di depan Rain terus berjalan cepat tanpa lelah. Sekilas Rain lihat gadis itu menutup mulut dengan kedua tangan, lalu pundaknya berguncang.
Sialan! Risa tertawa di atas kepayahan Rain.
*
Rain ingat benar itu adalah hari wisuda angkatannya, sarjana SI tahun 2011. Hari di mana harusnya dia berbahagia malah harus dilewatkan dengan sendu karena sebuah panggilan tak diundang yang masuk ke ponselnya. Awalnya hanya sebuah telepon tidak terjawab, tetapi rupanya adalah tonggak awal keretakan hubungannya dengan gadis itu.
Kirana.
Rain tak mengindahkan telepon misterius itu. Hingga pada satu waktu, Rain menangkap basah ponselnya berbunyi dengan nomor tanpa nama yang beberapa saat lalu meneleponnya. Tanpa ba-bi-bu, Rain mengankat telepon itu.
"Halo?" sapa Rain duluan. "Ini siapa?"
"Rain, ya?" jawab orang di seberang sana. Rain sempat termangu beberapa saat. Ini suara pria, begitu berat dan mendalam. Tetapi tak sekali pun Rain ingat siapa pemilik suara itu.
"Iya, saya Rain. Ini siapa?" jawab Rain pada akhirnya.
"Kamu enggak perlu tahu saya siapa," katanya, "yang jelas, Kirana sedang bersama saya."
Kuping Rain bak disambar petir begitu satu nama itu disebut. Pikiran-pikiran buruk menghantui kepala Rain dengan bertubi-tubi. Siapa sebenarnya pria ini? Pencuri? Penculik? Pemerkosa yang meminta tebusan? Sial. Rain panik bukan main, tetapi ia masih mencoba untuk tenang.
"Kirana? Untuk apa dia sama kamu?" tanya Rain was-was, "sebenarnya kamu ini siapa?"
"Tidak perlu kamu tahu siapa saya. Yang terpenting, detik ini juga, kamu sudah tidak punya hubungan apa-apa dengan Kirana," kata sosok itu, lebih cocok sebagai robot tanpa intuisi yang berbicara lewat telepon.
"Kamu apa-apaan? Maksud kamu apa?" Rain mengacak rambut frustasi.
"Jangan coba cari Kirana. Dia aman bersama saya. Dia bilang dia tidak ingin bertemu kamu lagi."
Rain terkekeh, nyaris gila. "Kamu enggak bisa-"
"Rain...."
Perkataan Rain terputus begitu mendengar suara yang amat dia damba di seberang telepon. "Kirana?? Kamu ada di mana? Kamu sama siapa, Na?" cerocos Rain.
"Aku... aku minta maaf. Aku enggak bisa lanjutin hubungan kita lagi," ujar Kirana, "aku harus pergi dari sini. Jangan cari aku. Sungguh, jangan cari aku."
Rain sangat kalap saat itu. Dia langsung tancap gas ke tempat kos Kirana. Namun nihil, gadis itu tak ada di sana. Rain mengobrak-abrik seisi kamar, hingga ia menemukan secarik kertas yang rupanya ada di laci meja.
Surat itu ditulis tangan, dan Rain tahu jelas, itu adalah tulisan Kirana. Rain membaca isinya dengan napas tercekat.
Ternyata Kirana kawin lari dengan mantan pacarnya sewaktu SMA. Selama ini Kirana belum bisa melupakan lelaki bernama Tio itu, tetapi dia menjadikan Rain sebagai pelarian—tertulis jelas di surat itu.
Mantan pacar Kirana sempat menghilang beberapa saat. Dan bodohnya, Rain malah menggunakan waktu kosong itu sebagai ajang untuk menjadikan Kirana sebagai kekasih. Orang tua kedua belah pihak sebenarnya tak ada yang menyetujui perkawinan mereka. Hingga mereka memutuskan hal gila-kawin lari.
Kirana bilang—seperti yang ada di surat—Tio telah menyiapkan segalanya untuk pernikahan tanpa restu itu. Tio katanya sudah mapan, punya kerjaan tetap, dan jadi manajer. Beda jauh dengan Rain yang mencari kerja hingga terkatung-kantung tidak karuan.
Rain pulang dengan tanpa hampa. Perasaannya remuk tak bersisa. Seminggu itu dia lewati dengan sengsara. Tak ada kabar dari Kirana. Gadis itu pergi tanpa dosa. Memang dia anggap Rain itu apa? Cuma pelarian semata? Keparat, batin Rain.
Selama itu Rain hanya menutup mulut. Dia memalsukan senyuman terbaik di hadapan teman-teman kampusnya. Namun hal itu malah memperburuk keadaan. Saat itu malam Minggu. Kawan-kawannya malah mengajak Rain untuk turut serta dalam pesta kecil-kecil yang gengnya adakan di halaman kampus. Rain yang tak punya alasan untuk menolak pun terpaksa datang, dengan mood yang sedang berantakan.
"Woy, kenapa muka kusut gitu?" tanya Gilang, teman terdekat Rain.
Rain memaksa senyum. "Lagi enggak enak badan aja, Lang."
"Kalo enggak enak badan ngapain dateng, hah?" Gilang bersungut-sungut. "Ya udah, masuk ke dalem, gih. Ke ruang kesehatan, cari minyak atau apa, kek."
Rain mengangguk takdzim. Ia segera bangkit dan masuk ke dalam kampus. Malam itu memang sedikit berangin di luar. Rain agak menggigil. Tetapi dia bukan melangkah ke ruang kesehatan, melainkan ke atap kampus yang konon katanya memiliki view yang bagus saat malam hari. Rain menyeret kaki gontai menuju atas. Ketika sampai, ia dibuat termangu sesaat begitu melihat seorang gadis dengan rambut ekor kuda yang sedang memunggunginya.
Rain memutar bola mata. Persetan dengan cewek itu, gumamnya. Rain hanya ingin menenangkan pikirannya yang kacau lantaran pacarnya yang kawin lari itu. Dia mengambil jarak aman dari gadis yang beberapa saat lalu ia lihat. Terlampau tiga meter jarak mereka. Rain pikir itu sudah termasuk jarak aman.
Lama Rain melamun, memandangi kawan-kawannya dari jauh yang kini tampak sekecil semut. Asap barbeque mengepul dari pemanggang mereka. Rain yang biasa tukang makan kini malah tidak berselera makan. Napsunya seolah direnggut tanpa sisa dari Rain, begitu juga perasaannya. Malam itu pun tak berbintang. Rain mendadak merasa seperti pemain film yang sedang merana sebab ditinggal mati pacar—ditinggal kawin lebih tepatnya.
Hingga Rain terusik dengan keheningan yang timbul di sekelilingnya. Mungkin jika tak ada orang Rain sudah bisa berteriak-teriak mencurahkan isi hati di sini. Tetapi kehadiran gadis yang sama sekali tak bersuara itu mengganggu ketenangan Rain. Rain pun sesekali mencuri pandang ke arah gadis itu. Dan Rain seketika tersentak.
Bukannya itu cewek yang punya muka paling datar satu kampus, ya? Pikir Rain. Selain terkenal dengan prestasi gemilangnya, gadis itu juga dinobatkan sebagai cewek paling dingin di kampus. Banyak julukan yang Rain ketahui yang ditujukan untuk cewek itu. Seperti Cewe Muka Datar, Robot Hidup, Cewe Kutub Utara, dan sebagainya. Selama ini Rain memang tahu wajah gadis itu, lagipula siapa penghuni kampus yang tidak tahu? Tetapi belum sekali pun Rain berbicara dengannya.
"Aku Rain," Rain memutuskan untuk membuka mulut, "kamu siapa?"
"Saya Risa," jawab gadis tadi tanpa menoleh. Rain mengangguk mengerti. Ternyata robot hidup itu namanya Risa.
"Lagi ngapain di sini?" tanya Rain, basa-basi.
"Bernapas."
Rain menghembuskan napas berat. Dia ingin mencairkan suasana, namun jawaban dari kawan bicaranya malah irit, singkat, dan terkesan cuek. Rain kehilangan selera untuk mengajaknya bicara lagi.
"Yang di bawah itu temannya Mas Rain?" Risa bertanya.
"Iya."
"Kenapa Mas Rain enggak ikutan?"
"Lagi enggak mood."
"Kenapa?"
"Ditinggal kawin pacar," ujar Rain, jelas. Rain sendiri bingung. Kepada teman dekatnya dia memilih bungkam. Tapi dia malah menjelaskan hal ini dengan gamblang di depan orang yang baru dia kenal tak lebih dari lima menit lalu. Patah hati memang membuat komposisi otak sarjana sekalipun menjadi agak asimetris.
Setelah hening beberapa saat, Risa menyahut, "Siapa?"
"Kirana."
"Kirana?" ulang Risa. "Kirana... Kirana bunga kampus itu?" tanya Risa, hati-hati.
Rain tersenyum masam. Pacarnya itu tak patut dijuluki 'bunga' saja, tetapi harus ada tambahan 'bangkai' sebagai akhirannya. Paras boleh cantik, tapi jika hal itu menjadikan dia semena-mena terhadap lelaki begini, itu jelas keterlaluan. Pikiran Rain memberontak keras. Tetapi yang keluar dari mulutnya hanya satu kata itu, "Iya."
"Lho, Mas Rain ini pacarnya Mbak Kirana? Saya baru tahu," kata Risa.
"Bukan pacar lagi, kok, Ris. Enggak usah dipermasalahkan. Dia udah kawin lari sama mantannya. Jadi aku bukan pacar dia lagi, dong?" cerocos Rain sebal.
"Kalau begitu... ya bukan," respon Risa singkat. "Jadi Mas Rain di sini ceritanya lagi galau, gitu?"
Rain menyangkal keras, "Enggak galau, kok! Cewek jalang kayak dia enggak pantes digalauin!"
Risa mendengus geli. "Ralat. Jadi Mas Rain di sini ceritanya... karena masih ngerasa enggak terima, gitu?"
"Jelaslah. Siapa juga yang terima ditinggal kayak gini, Ris?" jawab Rain gusar.
Kemudian menit-menit selanjutnya diisi oleh semburan kata-kata dari Rain yang Risa dengarkan dengan saksama. Sesekali Risa terkekeh. Perkataan Rain itu lebih mirip sebagai sebuah hiburan untuknya ketimbang curhatan dari teman. Rain begitu ekspresif dengan tiap perkataannya. Kedua tangan Rain mengayun di udara mengikuti intonasi suaranya yang naik turun. Kadang misuh-misuh, membentak, mengomel. Risa takjub ada lelaki yang tak malu melakukan itu dihadapan wanita. Sebersit rasa iri menyentuh hati Risa. Andai dia bisa begitu jelas mengungkapkan perasaannya—kurang lebih seperti Rain begini—mungkin tidak harus orang-orang salah menilai dirinya, pikir Risa.
Saat Rain selesai berbicara, Rain sibuk mengatur napasnya yang tak beraturan karena menahan emosi. Tetapi dia lega, akhirnya dia bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini.
Risa menyahut, "Kalau Mas Rain sakit hati, itu manusiawi, kok."
"Aku bukannya sakit hati, Ris. Tapi aku enggak terima," sangkal Rain.
"Mas Rain sakit hati. Tapi Mas Rain terlalu naif untuk mengakui itu. Ego Mas Rain terlalu tinggi." Risa mengidikkan bahu.
"Aku enggak sakit hati."
"Mas Rain sakit hati."
"Enggak. Sama sekali enggak."
"Iya."
"Enggak."
Risa terkekeh. "Segitu susahnya, ya, ngaku kalau sakit hati? Padahal sakit hati itu wajar," ujar Risa, "setidaknya itu jadi tanda kalau hati kita belum mati."
Rain terdiam. Otaknya sibuk mencerna maksud ucapan Risa barusan. Dipandangnya gadis berambut ekor kuda itu dengan penuh perhatian. Wajahnya datar. Tak menunjukkan reaksi simpati atau apa pun pada Rain.
"Terus... aku harus ngapain?" tanya Rain setelah itu.
"Jangan susul Mbak Kirana. Ini sudah keputusan dia. Lagipula, masih banyak cewek yang lain, kan? Masih banyak 'bunga-bunga' lain di kampus," saran Risa.
Rain terkekeh. "Ini kamu lagi ngode aku, Ris?"
Risa melipat dahi. "Ngode? Emang yang barusan itu ngode?" ia malah banyak bertanya. "Lagipula, ya, Mas, saya enggak akan termasuk dalam kandidat calon pacar baru Mas Rain. I'm the only exception."
Rain tersenyum menggoda. "Masak? Kok kamu tahu?"
"Cewek kayak saya sepertinya bukan tipenya Mas Rain."
"Masak?"
"Terserahlah."
Rain terbahak. "Terus, selain itu apa lagi yang harus aku lakuin?"
Tiba-tiba saja, tanpa Rain duga, Risa menoleh dan tersenyum. Amat manis hingga Rain tak sanggup lagi berdiri lagi rasanya.
"Selain itu... nikmati aja rasa sakit hatinya." Risa masih tersenyum selagi mengucapkan itu.
Namun ketika melanjutkan perkataannya, Risa berbalik. Wajahnya kembali mengeras. Rain tidak paham dengan perubahan ekspresi Risa yang begitu mencolok. Risa berkata sebelum akhirnya berjalan pergi, "Setidaknya sampai hati Mas Rain belum mati rasa."
***
"Dari miliaran senyum yang ada, aku malah memuja milikmu saja. Tidak tahu mengapa." -NLH