Read More >>"> fixing a broken heart (2. Percakapan Pisang Susu) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - fixing a broken heart
MENU
About Us  

Arungi Muara - Keping Dua
“Percakapan Pisang Susu”

Rain menyesap es teh manisnya itu sambil menatap sekeliling. Sebenarnya dia ingin cepat pulang, tetapi dia rindu kampus yang sudah dia tinggal sejak beberapa bulan lalu itu. Terutama kantin ini. Pisang susu goreng ditambah topping cokelat keju di atasnya bahkan menjadi daya tarik tersendiri yang tak bisa Rain jumpai di tempat lain. Padahal Rain sadar, itu hanya pisang susu goreng biasa.

Rain tersenyum sekilas ke arah ibu kantin yang sedang menyiapkan mi rebus pesanannya. Ibu itu membalas senyum Rain dengan pertanyaan yang diajukan dengan logat Jawa yang khas.

“Mas Rain tumben ke sini? Bukannya sudah lulus?”

“Iya, Bu. Kangen aja.” Rain nyengir. Satu buah pisang susu goreng mendarat di lidahnya lagi. Membuat dia ketagihan.

“Walah, kalau pisangnya enak, ya, biasa aja makannya, Mas.” Ibu kantin terbahak.

Rain tergelak pula. “Justru karena enak saya enggak bisa biasa, Bu. Resepnya apa, to?”

“Cuma pisang susu goreng biasa saja, Mas. Ndak ada istimewanya, kok.”

Na! Rain mengangkat alis. Rain sudah menduga jawaban itu sebelumnya. Tetapi mengapa lidahnya kecanduan pisang susu ini hingga tidak bisa berhenti mengunyah? Sialan. Apa yang membuat pisang goreng ini enak, sih?

“Mas Rain!” suara yang terdengar tak asing itu membuat Rain menoleh. Sesosok gadis dengan model poni batok itu lantas menghenyakkan pantat tepat ke bangku di sebelah Rain.

“Hoi, De,” sapa Rain, masih mengunyah pisang.

“Apa kabar, Mas? Lama banget enggak ketemu.” Dea tersenyum girang.

“Iya, nih. Maklumlah, akukan pengacara.”

Dea menyernyit. “Ada, ya, sarjana SI jadi pengacara?”

Rain tertawa. “Pengangguran banyak acara, maksudnya.” Lalu Dea mencibir.

“Eh, lihat Risa enggak, Mas?” tanya Dea tiba-tiba. Rain mengangkat alis.

“Risa?”

“Iya, si Cewe Muka Datar itu, lho. Inget enggak?”

Rain hanya diam. Bagaimana dia bisa lupa dengan gadis yang telah dinobatkan sebagai cewek berwajah paling datar di kampus? Malas berargumen, Rain menggeleng.

“Enggak lihat,” katanya. “Kalau nggak salah dia sidang hari ini, kan?” Rain berpura-pura tak tahu. Padahal Rain tahu jelas akan jawaban dari pertanyaannya sendiri.

“Iya. Mas Rain, kok, tahu?”

“Tadi kebetulan ketemu,” jawabnya.

Dea berdecak sambil mengedarkan pandangan. “Ke mana, sih, itu anak,” gumam Dea.

“Setahuku... belakangan ini kamu deket sama Risa, ya?” tanya Rain, tanpa sadar.

“Iya, lumayan deket,” jawab Dea tak acuh. Matanya masih mencari.

Rain terkekeh. “Aku heran, kok dia mau aja deket sama cewek rumpi kayak kamu, De.”

Dea mengerucutkan bibir. “Ih, ngeledek! Harusnya dia yang bersyukur aku mau temenan sama dia!”

“Emangnya kenapa kamu mau temenan sama dia?” goda Rain.

“Sebenernya ogah, sih, Mas. Lihat aja, deh. Masak aku curhat gitu dia malah bilang kalo aku enggak rasional gara-gara sakit hati, apa, kek. Kayak enggak punya hati banget dia!” Dea melipat tangan di depan dadanya. Ia bersungut-sungut sebal. Rain tertawa geli.

“Lah, terus, kenapa kamu masih mau temenan sama dia?”

“Jujur, sebenernya aku enggak mau temenan sama Risa. Siapa juga yang mau punya temen kayak robot gitu? Tapi… beberapa bulan ke depan aku harus nahan emosi. Soalnya aku butuh bantuan dia buat bikin skripsi,” ucap Dea tanpa beban.

Rain tertegun. “Jadi… kamu deketin Risa cuma buat manfaatin dia, gitu?”

Dea mengangguk. Lantas tertawa sendiri. “Jahat banget kayaknya, ya?” ujarnya, “tapi enggak pa-palah! Risa emang pantes buat digituin sekali-kali biar kapok.”

Belum sempat Rain membuka mulut, tetapi Dea sudah izin pergi untuk mencari Risa. Rain menggeleng kepala heran. Tanpa sadar, mi rebus yang ia tunggu sudah hadir di mejanya. Uap panasnya seolah merontokkan alis Rain begitu saja. Rain tertawa kecil. Dia berulang kali membuat mi sendiri di kos, tapi tidak tahu mengapa, tidak ada yang senikmat mi rebus kantin kampus.

Tiba-tiba sebersit ide muncul dalam benak Rain. Dia meraih teleponnya dan menatap satu kontak itu beberapa saat. Hingga jarinya mengetik sesuatu di kolom pesan.

Hey, Ris.

Begitu pesan itu terkirim, Rain meletakkan ponselnya di atas meja, was-was menunggu. Kira-kira balasan apa yang akan dia dapat? Dan tanpa terduga, tulisan ‘Read’ tertera di samping pesan Rain. Pertanda seseorang di sana sudah membaca pesan yang Rain kirim. Tetapi hingga mi rebus Rain habis, pesan itu tidak berbalas. Rain geram. Diketiklah lagi satu pesan.

Cuma di read, gitu? Enggak niat ngebales?

Tiba-tiba muncul satu pesan.

Kalau saya read pesan Mas Rain barusan, berarti buruan ngomong maksud Mas nge-chat saya itu apa.

Rain dibuat diam beberapa saat. Rain mendadak kikuk. Sialan. Dia bahkan bisa salah tingkah hanya dengan membaca satu pesan itu. Rain mampu membayangkan wajah datar Risa andai dia mengucapkan kalimat itu barusan.

Aku cuma mau bilang kalo barusan Dea nyariin kamu.

Rain menjawab pesan itu dengan wajah gusar.

Oh, ya? Sekarang Dea di mana?

Di kantin. Lagi sama aku.

Rain berdusta. Namun tak lama setelah Risa membaca pesannya, gadis itu dengan lagak tenang seperti biasa menghampiri Rain. Rain mendadak canggung.

“Mana Dea?” tanya Risa, straight to the point.

Rain berusaha tertawa, meski akhirnya terdengar dipaksakan. “Dea emang sama aku… tadi.”

Risa mengerutkan kening. “Maksudnya?”

“Yaa… Dea emang sama aku tadi. Tapi... sekarang udah enggak.”

Jika reaksi harfiah cewek lain adalah marah atau merajuk tidak jelas, namun beda dengan Risa. Wajahnya tak menunjukkan perubahan yang drastis. Cenderung dingin dan datar yang sungguh membuat Rain mati gaya. Dia hanya menghela napas kemudian duduk di sebelah Rain, tepat mengambil satu jarak bangku. Dia memang tidak terbiasa bercengkerama dengan pria.

“Enggak marah?” tanya Rain, masih dengan nada menggoda, yang sepertinya gagal total.

“Kecuali kalau marah bisa bikin Dea di sini, saya bakal marah,” jawab Risa singkat.

Rain mangut-mangut mengerti. “Kamu sama Dea deket, ya,” kata Rain, “aku baru tahu kalau kamu bisa juga punya temen.” Kini Rain malah menyesali ucapannya barusan.

Risa tersenyum kecut. “Yang barusan itu ngehina, ya?”

Rain terkekeh. “Dea bilang kalau dia mau temenan sama kamu supaya kamu bantu dia bikin skripsi aja,” kata Rain, “jadi lebih baik—”

“Saya sudah tahu, Mas,” sela Risa.

Rain sedikit tersentak mendengar jawaban Risa. “Kamu udah tahu? Emangnya Dea bilang ke kamu?”

“Enggak.” Tangan kanan Risa diam-diam mencomot pisang susu goreng yang sedari tadi berada di sisi Rain, “Saya sudah tahu sejak awal. Emang apa yang bisa buat Dea, si cewe hitz kampus rela deket sama saya? Kan non sense banget.” Risa mengucapkan hal itu dengan intonasi suara datar. Meski sebenarnya tak pantas karena kalimatnya itu lebih tepat dilontarkan dengan lagak penuh kebencian.

Rain melipat dahi. “Terus? Kamu enggak ngerasa enggak terima gitu setelah temen kamu—”

“Perlu Mas Rain garis bawahi, saya enggak pernah menganggap Dea itu teman saya,” lagi-lagi Risa menyela. Rain bungkam.

“Terus… Dea itu... siapa kamu?” tanya Rain, hati-hati.

“Cuma orang yang minta tolong saya bantuin bikin skripsi,” kata Risa jelas.

As simple as that?” ujar Rain sambil menaikkan satu alisnya. Risa mengangguk. Rain tidak tahan lagi untuk menahan rasa penasarannya. Lidahnya seolah disumpal oleh berbagai pertanyaan yang entah harus yang mana dulu yang ia ucapkan.

“Terus kenapa kamu masih mau bantuin dia kalau dia bukan siapa-siapa kamu?” tanya Rain.

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama. Itu prinsip yang saya pegang.” Risa mengidikkan bahu. Tangan Risa kembali menyelinap mengambil pisang susu itu, lagi dan lagi.

“Kalau gitu, aku mau minta tolong,” kata Rain cepat.

Risa menoleh dan menatap Rain penuh selidik. “Minta tolong apa?”

“Tolong cariin aku kerjaan.”

Giliran Risa yang menaikkan alis. “Cari kerja?” ulangnya. “Hampir setahun Mas Rain lulus, tapi belum dapet kerja?”

Rain nyengir. Risa menggeleng takjub. Tiba-tiba gadis itu terkekeh. Membuat Rain heran. Ini pertama kalinya Rain melihat ekspresi lain dari Risa selain tatapan dingin sedingin pantat beruang kutub yang biasa ia pertontonkan.

“Itu masalah gampang.” Risa menyelundupkan pisang susu lagi ke mulutnya. “Saya jamin besok, Mas Rain sudah dapat kerjaan.”

Rain tampak antusias. “Kerjaan apa, Ris?”

Risa mengangkat bahu. “Lihat saja besok,” katanya, “ya udah, makasih udah bohongin saya buat dateng ke sini. Saya duluan.”

Rain hendak memanggil Risa, tapi gadis dengan ikat rambut ekor kuda itu sudah menghilang di belokan koridor. Rain menggeleng heran. Tetapi dia tak sanggup menyembunyikan seulas senyum di sudut bibirnya. Rain masih menatap jalan di mana Risa menghilang. Lalu tersenyum lebar—mirip orang gila.

Tangan Rain meraih piring pisang susu itu berada. Namun kosong. Tangan Rain tak mendapatkan apa-apa. Pisang-pisang seksi itu sudah raib dari tempat begitu Risa pergi. Kemudian belum sempat Rain berpikir, ibu kantin sudah menegur.

“Lho, Mas. Kok pisangnya abis?” tanya ibu kantin selagi menggaruk rambut, “Walah. Saking senengnya, ya, Mas Rain sama pisang buatan Ibu?”

Rain membela diri, “Ini yang habisin bukan saya aja, lho, Bu. Cewek yang barusan juga.”

“Ya… kalau gitu sekalian bayarin aja, Mas,” ujar ibu kantin tanpa dosa.

Pada akhirnya Rain meraih dompetnya dan membayarkan sejumlah uang pada ibu kantin tanpa meminta kembaliannya. Rain sengaja. Entah mengapa hatinya girang. Ditatapnya lagi piring plastik kosong yang hanya menyisakan cokelat dan ceceran keju saja.

Sialan. Pisang susu jatahnya sudah kandas.

Namun Rain tetap tersenyum hingga sampai di parkiran.

Entah girang karena esok akan mendapat kerjaan, atau girang karena sesuatu yang tidak ia ketahui sebabnya.

***

Apa pun yang dunia perbincangkan, selama itu tentang kamu, aku akan di sana. Memerhatikan, mendengarkan. Tanpa ada satu kata pun yang aku lewatkan.” -NLH

Tags: twm18

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
SarangHaerang
60      46     0     
Romance
(Sudah Terbit, sebentar lagi ada di toko buku dekat rumahmu) Kecelakaan yang menimpa saudara kembarnya membuat Hae-rang harus menyamar menjadi cewek. Awalnya dia hanya ingin memastikan Sa-rang menerima beasiswanya, akan tetapi buku harian milik Sa-rang serta teror bunga yang terjadi memberikan petunjuk lain kalau apa yang menimpa adiknya bukan kecelakaan. Kecurigaan mengarah pada Da-ra. Berb...
My sweetheart senior
563      320     0     
Romance
Berawal dari kata Benci. Senior? Kata itu sungguh membuat seorang gadis sangat sebal apalagi posisinya kini berada di antara senior dan junior. Gadis itu bernama Titania dia sangat membenci seniornya di tambah lagi juniornya yang tingkahnya membuat ia gereget bukan main itu selalu mendapat pembelaan dari sang senior hal itu membuat tania benci. Dan pada suatu kejadian rencana untuk me...
Drama untuk Skenario Kehidupan
343      205     0     
Romance
Kehidupan kuliah Michelle benar-benar menjadi masa hidup terburuknya setelah keluar dari klub film fakultas. Demi melupakan kenangan-kenangan terburuknya, dia ingin fokus mengerjakan skripsi dan lulus secepatnya pada tahun terakhir kuliah. Namun, Ivan, ketua klub film fakultas baru, ingin Michelle menjadi aktris utama dalam sebuah proyek film pendek. Bayu, salah satu anggota klub film, rela menga...
Aleya
0      0     0     
Romance
Kau memberiku sepucuk harapan yang tak bisa kuhindari. Kau memberiku kenangan yang susah untuk kulupakan. Aku hanyalah bayangan bagimu. Kita telah melewati beberapa rute tetapi masih saja perasaan itu tidak bisa kukendalikan, perasaanmu masih sama dengan orang yang sama. Kalau begitu, kenapa kau membiarkan aku terus menyukaimu? Kenapa kau membiarkan aku memperbesar perasaanku padamu? Kena...
Apakah kehidupan SMA-ku akan hancur hanya karena RomCom? [Volume 2]
45      31     0     
Romance
Di jilid dua kali ini, Kisaragi Yuuichi kembali dibuat repot oleh Sakuraba Aika, yaitu ia disuruh untuk bergabung dengan klub relawan yang selama ini ia anggap, bahwa melakukan hal seperti itu tidak ada untungnya. Karena godaan dan paksaan dari Sakuraba Aika terus menghantui pikirannya. Akhirnya ia pun terpaksa bergabung. Seiring ia menjadi anggota klub relawan. Masalah-masalah merepotkan pun d...
BANADIS 2
261      161     0     
Fantasy
Banadis, sebuah kerajaan imajiner yang berdiri pada abad pertengahan di Nusantara. Kerajaan Banadis begitu melegenda, merupakan pusat perdagangan yang maju, Dengan kemampuan militer yang tiada tandingannya. Orang - orang Banadis hidup sejahtera, aman dan penuh rasa cinta. Sungguh kerajaan Banadis menjadi sebuah kerajaan yang sangat ideal pada masa itu, Hingga ketidakberuntungan dialami kerajaan ...
Panggil Namaku!
252      165     0     
Action
"Aku tahu sebenarnya dari lubuk hatimu yang paling dalam kau ingin sekali memanggil namaku!" "T-Tapi...jika aku memanggil namamu, kau akan mati..." balas Tia suaranya bergetar hebat. "Kalau begitu aku akan menyumpahimu. Jika kau tidak memanggil namaku dalam waktu 3 detik, aku akan mati!" "Apa?!" "Hoo~ Jadi, 3 detik ya?" gumam Aoba sena...
Sunset In Surabaya
10      9     0     
Romance
Diujung putus asa yang dirasakan Kevin, keadaan mempertemukannya dengan sosok gadis yang kuat bernama Dea. Hangatnya mentari dan hembusan angin sore mempertemukan mereka dalam keadaan yang dramatis. Keputusasaan yang dirasakan Kevin sirna sekejap, harapan yang besar menggantikan keputusasaan di hatinya saat itu. Apakah tujuan Kevin akan tercapai? Disaat masa lalu keduanya, saling terikat dan mem...
SHEINA
9      9     0     
Fantasy
Nothing is Impossimble
Black Roses
910      478     0     
Fan Fiction
Jika kau berani untuk mencintai seseorang, maka kau juga harus siap untuk membencinya. Cinta yang terlalu berlebihan, akan berujung pada kebencian. Karena bagaimanapun, cinta dan benci memang hanya dipisahkan oleh selembar tabir tipis.