Arungi Muara - Keping Satu
"Terlampau Sepi"
Rain tidak pernah merasa begitu tegang seperti saat ini. Bolak-balik lelaki berbadan tegap itu memaki-maki pintu kayu yang ada di dekatnya sebab tak kunjung terbuka. Rain menggenggam ponselnya erat. Ia siap berpura-pura memainkan sesuatu di teleponnya itu jika seseorang di dalam sana sudah menampakan diri. Rain menatap kanan dan kiri, tak ada orang. Bagus, batinnya.
Kemudian tanpa aba-aba, pintu yang menjadi pusat perhatiannya sejak setengah jam lalu itu terbuka. Rain langsung mengalihkan pandangan ke layar telepon selulernya. Ia sok-sok serius, sedangkan seseorang yang baru saja keluar dari dalam langsung mengehenyakkan tubuh di dekat Rain. Jarak mereka terpaut enam bangku.
Rain mencuri pandang pada orang itu. Gadis yang kini tengah meneguk air mineral botol itu tidak sadar jika sedang diperhatikan. Hingga mulut Rain tak tahan lagi untuk terus diam.
"Habis sidang, ya?"
Yang diajak bicara menoleh. "Iya," jawabnya, singkat. Rain sudah menduga reaksi itu. Bukan Risa namanya kalau tidak irit bicara begini.
"Lulus? Atau lulus dengan revisi?" tanya Rain lagi.
Risa terkekeh. "Kenapa 'tidak lulus' enggak ada di option Mas barusan?"
"Mahasiswi kesayangan dosen kayak kamu enggak bakal enggak lulus. Jadi mubazir juga kalo aku sebutin tadi," jawab Rain. Berusaha sedatar mungkin, walau sebenarnya girang sebab Risa menanggapi omongannya setelah tertawa kecil. Rain heran, cewe kayak dia bisa ketawa juga, batinnya.
"Saya lulus," ucap Risa.
"Tanpa revisi?"
"Tanpa revisi."
Rain memandang Risa takjub. Lalu tiba-tiba pikirannya terdampar pada ingatan ketika ia baru saja keluar dari ruang itu kurang lebih setahun lalu setelah 'dieksekusi' oleh beberapa dosen di dalam sana. Teman-temannya menyambut Rain penuh suka cita. Ada yang membawa bunga, banner bertuliskan 'RAINDRA SANJAYA SEDANG JAYA', dan sebagainya. Padahal Rain sadar, sidang skripsinya ini belum sempurna, namun euphoria kawan-kawannya sudah melebihi orang menang panjat pinang di Menara Eiffel.
Namun, kini Rain melihat ada hal yang ganjil. Orang yang justru lulus dengan sidang terbaik malah tidak disambut siapa pun di sini—jika Rain menjadi pengecualian.
Buktinya lorong ini sepi. Hanya ada mereka berdua dan beberapa mahasiswa yang numpang lewat saja. Tak ada ucapan selamat, tak ada teriakan atau siulan panjang dari teman-teman sejawat seperti yang ada di dalam pikiran Rain. Lalu, entah mengapa—mungkin karena simpati atau apa—Rain membuka mulut, "Selamat, ya," katanya.
Risa mengangguk. "Ya."
Rain yang masih sibuk menerka, mengapa dia begitu menikmati kesendirian?
Rain terus memerhatikan Risa dengan ekor matanya. Tiba-tiba Rain melihat Risa tersenyum lebar selagi memeluk mapnya yang Rain yakini berisi hard copy dari skripsinya. Gadis itu tersenyum sangat lebar, tetapi entah pada siapa.
Risa seolah dibawa pergi oleh dunianya sendiri. Seakan dunia ini begitu sempit dan hanya ada dia di dalamnya. Seakan orang-orang tak pernah ada dan hanya ada Risa di sana. Di dalam dunia yang tak pernah Rain pahami.
Namun, diam-diam, Rain ingin berada di sana. Terdampar di tempat itu dan tidak bisa kembali.
Hingga kini pun Risa masih tersenyum manis. Tidak tahu pada siapa. Entah karena lulus sidang tanpa revisi, atau karena menahan getir sebab sekali lagi ia rayakan bahagia dalam sepi.
Rain tidak pernah tahu.
*
"Biar aku enyah dari bising, cari tempat sepi. Supaya aku menyadari, sesuatu dari diriku telah ada yang dicuri. Tanpa sempat aku menyadari." –NLH