Read More >>"> Aku Mau (Boneka baru dan usang) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Aku Mau
MENU
About Us  

Aku sudah tidak bisa menahan tawaku saat Ayu melancarkan aksi cemberutnya yang sudah menyaingi angsa karena dia memajukan bibirnya. Belum lagi pipinya yang tembam itu ia kembungkan seperti balon. Dia melirikku tajam yang berarti jika itu adalah peringatan untukku agar berhenti tertawa.
“Kenapa?” Kucubit satu pipinya yang tembam itu.
“Ish!” Ia menepis tanganku dan bersidekap dada.
“Uuuu… Ayu marah,” Aku menusuk-nusuk pinggangnya yang merupakan kelemahannya, karena Ayu paling tidak tahan jika digelitiki.
“Iiish, Farhan!” Ia terus berusaha menepis tanganku. Tapi aku tidak peduli dan terus berusaha menggelitinya dan membuat tawanya pecah.
Aku mengejar Ayu yang melarikan diri dari gelitikan mautku. Tingkah kami sukses membuat perhatian murid-murid di sekitar kami tertuju pada kami. Tapi kami sudah terbiasa dengan pandangan mereka karena kami sudah terlalu sering bertingkah konyol seperti ini di depan umum.
Ayu masuk ke dalam mobil dengan sedikit membanting pintu mobil. Aku terkekeh pelan melihat wajahnya yang di tekuk. Aku mengitari mobil dan masuk ke dalam. Aku duduk di kursi kemudi.
“Udah dong gak usah di tekuk gitu mukanya,” Aku memasangkan seatbelt untuk Ayu yang masih memasang wajah ditekuknya.
Ia menatap padaku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku balas menatapnya. “Kenapa?” Tanyaku penuh kelembutan.
“Ayu malu..” Rengeknya. “Tadi orang-orang pada liatin Ayu yang lagi dihukum di tengah lapang sambil hormat. Terus Farhan malah ngejek Ayu tadi. Kan Ayu jadi kesel,” Tangannya sudah mulai mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
Aku segera menjauhkan tangannya dari wajahnya dan menggantinya dengan tanganku yang mengusap air matanya. “Makanya jangan keseringan tidur di kelas.”
“Ish! Farhan bukannya bikin adem hati Ayu, malah bikin tambah kesel!” Ayu bersidekap dada dan memalingkan wajahnya ke arah jendela di sampingnya.
Aku menggelengkan kepala. Sifat manjanya sudah keluar. Satu-satunya yang bisa mengobati sifatnya ini adalah toko boneka.
~
Aku menatap keluar jendela ruang tamu. Sudah dua hari ini gadis menyeramkan itu terdiam di trotoar depan rumahnya sembari menatap ke rumahku. Aku semakin menatapnya horor terutama pada boneka beruang usang miliknya itu. Hari sudah sore dan gadis menyeramkan itu masih saja berdiri. Apa dia tidak kelelahan berdiri dari pagi hingga sore.
Terdengar suara derungan mobil dari sebelah kiri. Gadis menyeramkan itu mengalihkan pandangannya pada sebuah mobil yang baru saja berhenti di dekatnya. Salah satu penumpangnya turun. Dari yang kuliat wanita yang turun dari mobil itu seumuran dengan bunda. Wanita itu membuka gerbang agar mobil mengkilap itu masuk.
Aku melihat gadis menyeramkan itu mulai melangkahkan kakinya menuju wanita itu sembari menggusur boneka beruang usangnya. Tapi aku melihat wanita itu melotot ke arah gadis menyeramkan itu. Gadis itu diam tidak kembali melangkah mendekat dan menundukannya kepalanya. Bersamaan dengan itu aku melihat pintu gerbang dikunci dari dalam dan wanita itu berjalan masuk meninggalkan gadis menyeramkan itu terdiam sendirian di trotoar jalan.
~
Aku menghentikan mobil di parkiran sebuah mall. Aku menatap Ayu yang matanya sudah berbinar. Dia bukan gadis yang suka berbelanja setiap akhir pekan. Yang ia tahu dari luasnya mall ini adalah toko boneka. Tak ada benda lain yang ia beli selain boneka di sini.
“Tu-“ Belum juga aku selesai berbicara Ayu sudah turun dan melesat menuju mall. Aku membuka pintu dan segera menyusul Ayu yang sudah melangkah riang menuju dalam mall.
Aku segera menyeimbangkan langkahku dengan Ayu. “Mau beli boneka apa sekarang?” Tanyaku yang sudah tahu jika Ayu tidak akan membeli boneka yang sama setiap kali datang ke mall.
“Ayu lagi pengen beli boneka kucing yang warnanya item,” Ayu terus melangkah menuju toko boneka yang sudah menjadi langganannya.
Aku mengerutkan keningku. “Bukannya takut kucing?”
“Ish! Farhan kok oon,” Aku mendengus kasar mendengar perkataannya. “Kan ini boneka kucing, bukan kucing hidup yang bisa nyuri ikan yang ada di aquarium di rumahnya Ayu.”
Ayu langsung melasat masuk ke dalam toko. Aku lagi-lagi menggelengkan kepalaku pelan mengingat tingkah Ayu yang luar biasa diluar nalar itu.
~
Aku sedang makan di ruang makan bersama Ayah, dan kak Baba. Aku sedari tadi celingak celinguk mencari bunda yang menghilang entah kemana. Ayah dan kak Baba juga tidak mengatakan bunda kemana.
Aku memutar kepalaku saat aku mendengar pintu depan rumah di buka. Dan bulu kudukku langsung berdiri saat sosok gadis menyeramkan itu sedang berdiri di bibir pintu ruang makan dan langsung menatap ke arahku.
Seingatku gadis itu tadi masih ada di trotoar, duduk sambil memeluk boneka beruang usang miliknya yang sekarang berada di tangan kirinya.
“Ayo, masuk,” Aku mengalihkan padanganku pada ibu yang berada di belakang gadis menyeramkan itu.
Gadis itu melangkah dengan ragu dan hal itu malah membuatku semakin ketakutan. Aku terus menggeserkan tubuhku hingga di ujung kursi. Gadis menyeramkan itu duduk di hadapanku. Rambut panjang hitamnya menjuntai menutupi wajahnya.
Rasanya aku sudah mau mengompol di celana saat bunda meletakkan boneka beruang usang milik gadis menyeramkan itu di kursi yang berada di sampingku.
“Bunda..” Rengekku pada bunda yang duduk di sebelah kananku. Bunda menatap ke arahku yang sudah memegang celana karena aku benar-benar sudah mengompol di celana.
“Ya ampun, kamu ngompol di celana?” Aku sudah mulai menangis pada bunda. Bunda menggelengkan kepalanya pelan dan meraih diriku.
~
Ayu melihat beragam pakaian boneka yang ada di hadapannya dengan serius. Di dalam pelukannya sudah ada boneka kucing berwarna hitam yang tadi membuatnya teriak kegirangan di dalam toko.
“Farhan! Bantu pilihin baju buat Jojo dong. Ayu bingung milihnya,” Jojo adalah nama untuk boneka kucing hitam yang baru di beli Ayu.
“Udah jelas warnanya hitam bukannya di kasih nama Tamtam malah Jojo.”
“Suka-suka Ayu dong kan ini kucing Ayu bukan kucing Farhan!” Jawabnya cepat.
Ayu tetaplah Ayu. Ia keras kepala, manja, cengeng, kebo, malas, ngeselin, dan masih banyak lagi sifatnya yang menguras kesabaran. Beruntung aku sudah terbiasa menghadapi sifatnya itu.
“Farhan, bagusan yang mana? Yang kuning atau pink?” Ayu mengangkat dua potong baju.
“Bukannya Jojo itu buat nama cowok, ya? Kenapa milih warna kayak cewek gitu?”
“Eh! Iya ya? Ayu lupa,” Ia menunjukan cengiran konyolnya dan meletakkan kembali pakaian itu.
“Kenapa gak beli yang warnanya putih aja?” Aku menyambar asal pakaian yang ada dan menyodorkan pada Ayu.
“Ihh..Fahran kan itu cuman nutup atasnya Jojo doang. Nanti kalo Jojo kedinginan gimana?”
Pramuniaga yang sedang mendampingi kami hanya terkekeh pelan melihat tingkah konyol Ayu. Aku mengusap pelan dada sambil menggumamkan kata ‘sabar’ berulang kali.
~
TBC
BY L U T H F I T A

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Stuck In Memories
332      241     0     
Romance
Cinta tidak akan menjanjikanmu untuk mampu hidup bersama. Tapi dengan mencintai kau akan mengerti alasan untuk menghidupi satu sama lain.
Romance To Publisher
136      47     0     
Romance
Bayangkan... sebuah dunia di mana segalanya mungkin! Di negeri ajaib, di mana langit berwarna pelangi dan sungai-sungai terbuat dari permen, hidup seorang anak pemberani bernama Noah. Suatu hari, saat sedang berjalan di hutan, ia menemukan sebuah pintu rahasia... pintu yang, ketika dibuka, membawanya ke petualangan tak terlupakan! 🌟 Di balik pintu tersebut, Noah bertemu dengan makhluk-makhl...
My love doctor
12      12     0     
Romance
seorang Dokter berparas tampan berwajah oriental bernama Rezky Mahardika yang jatuh hati pada seorang Perawat Salsabila Annisa sejak pertama kali bertemu. Namun ada sebuah rahasia tentang Salsa (nama panggilan perawat) yang belum Dokter Rezky ketahui, hingga Dokter Rezky mengetahui tentang status Salsa serta masa lalunya . Salsa mengira setelah mengetahui tentang dirinya Dokter Rezky akan menja...
Kesempatan
463      262     0     
Romance
Bagi Emilia, Alvaro adalah segalanya. Kekasih yang sangat memahaminya, yang ingin ia buat bahagia. Bagi Alvaro, Emilia adalah pasangan terbaiknya. Cewek itu hangat dan tak pernah menghakiminya. Lantas, bagaimana jika kehadiran orang baru dan berbagai peristiwa merenggangkan hubungan mereka? Masih adakah kesempatan bagi keduanya untuk tetap bersama?
Supardi dan Supangat
51      35     0     
Humor
Ini adalah kisah Supardi dan Supangat si Double S yang Bermukim di Kampung Mawar. Keduanya bagaikan GALIH DAN RATNA yang selalu bersama mengukir kenangan (ceuilehh.. apasih) Terlahir dari rahim yang berbeda tetapi takdir mempertemukan mereka dengan segala ke-iba-an yang melanda
Roger
76      60     0     
Romance
Tentang Primadona Sial yang selalu berurusan sama Prince Charming Menyebalkan. Gue udah cantik dari lahir. Hal paling sial yang pernah gue alami adalah bertemu seorang Navin. Namun siapa sangka bertemu Navin ternyata sebuah keberuntungan. "Kita sedang dalam perjalanan" Akan ada rumor-rumor aneh yang beredar di seluruh penjuru sekolah. Kesetiaan mereka diuji. . . . 'Gu...
Di Balik Jeruji Penjara Suci
0      0     0     
Inspirational
Sebuah konfrontasi antara hati dan kenyataan sangat berbeda. Sepenggal jalan hidup yang dipijak Lufita Safira membawanya ke lubang pemikiran panjang. Sisi kehidupan lain yang ia temui di perantauan membuatnya semakin mengerti arti kehidupan. Akankah ia menemukan titik puncak perjalanannya itu?
Frasa Berasa
1691      580     0     
Romance
Apakah mencintai harus menjadi pesakit? Apakah mencintai harus menjadi gila? Jika iya, maka akan kulakukan semua demi Hartowardojo. Aku seorang gadis yang lahir dan dibesarkan di Batavia. Kekasih hatiku Hartowardojo pergi ke Borneo tahun 1942 karena idealismenya yang bahkan aku tidak mengerti. Apakah aku harus menyusulnya ke Borneo selepas berbulan-bulan kau di sana? Hartowardojo, kau bah...
When Home Become You
14      14     0     
Romance
"When home become a person not place." Her. "Pada akhirnya, tempatmu berpulang hanyalah aku." Him.
Flowers
18      18     0     
Inspirational
Zahra, remaja yang sering menggunakan waktu liburnya dengan bermalas-malasan di rumah, menggunakan satu minggu dari libur semesternya untuk mengunjungi tempat yang ingin dikunjungi mendiang Kakaknya. Bukan hanya demi melaksanakan keinginan terakhir Kakaknya, perjalanan ini juga menjadi jawaban atas semua pertanyaannya.