Read More >>"> Abay Dirgantara (07 : Kesayangan Mamih) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Abay Dirgantara
MENU
About Us  

Sore ini Serina berada di rumah Abay. Sebenarnya Serina sama sekali tidak berpikir kalau ia akan datang ke rumah Abay lagi. Ia kira bermain di rumah Abay saat malam minggu itu untuk terakhir kalinya. Tapi nyatanya tidak. Tadi, saat ia ingin pulang ponselnya bergetar ada yang menelepon dari nomor yang tidak ia kenal. Semakin Serina menolak panggilan itu, semakin membuat orang itu terus menelepon Serina. Dan ternyata itu adalah Mamihnya Abay.

Serina langsung menuju rumah Abay ketika tahu bahwa Mamih Abay memintanya untuk membantu membuat kue. Serina pun senang karena ia juga suka bereksperimen di dapur.

“Nana kenapa jarang main ke sini?” tanya Erta ketika sedang memasukan adonan ke dalam oven.

Serina yang sedang membersihkan meja pun berhenti sejenak. Tiba-tiba ia teringat panggilan itu. Panggilan yang Abay berikan untuknya saat pertama kali bertemu mamihnya.

“Kenalin Mih, namanya Serina. Panggil aja Nana. Tapi jangan Nana Dalem ya. Nanti dia malu,” katanya waktu itu yang langsung dihadiahi bogeman dari mamihnya.

“Nana sibuk Mih,” jawabnya seraya terkekeh. Serina memang tidak memanggil tante. Karena Erta itu menyuruh teman-teman Abay memanggilnya mamih saja. Katanya, anggap saja mamih bersama.

“Sibuk apa? Sibuk marahan sama Abay?” tanyanya kembali membuat Serina telak. “Abay bandel ya Na?”

“Bukan Mih. Enggak kok, Abay nggak bandel. Cuma males aja,” jawabnya jujur. Ya, Abay memang tidak nakal. Hanya saja malas dan tukang buat onar.

Serina pamit menuju ruang tamu untuk mengirim pesan pada adiknya agar menjemputnya. Baru saja mendaratkan bokongnya di sofa, pintu utama rumah keluarga Dirgantara ini terbuka lebar.

“ASSALAMUALAIKUM! MIHHH ABAY LAP—LAH ELO?” Abay berteriak seperti sedang berada di hutan. Ketika matanya menangkap sosok Serina ia malah melotot kaget.

“Waalaikumsalam.” Jawab Serina memutar bola matanya. Abay itu memang seperti anak bocah.

“Lo ngapain di sini? Nyariin gue ya? Sori hari ini gue main ke rumah Bintang. Emang ada apa?” tanyanya dengan bingung.

Serina memutar bola matanya lagi. “Kepedean lo.”

Abay duduk di samping Serina. “Terus ngapain?”

Serina diam tidak menjawab. Ia malas meladeni Abay.

“Astaghfirullah, anak siapa sih kucel banget baru pulang sore-sore begini? Mandi dong Bay! Kasian Nana kebauan tuh deket kamu!” seru Erta yang baru saja muncul dari dapur.

Abay langsung menatap mamihnya kesal. Mulai deh cerewetnya. “Mih, ini Serina ngapain Mih?”

“Nemenin mamih bikin kue. Kenapa nggak seneng nih?” balas Erta sewot.

Abay menghela napasnya. “Ya elah Mih, kan sekedar nanya,”

“Ya udah buruan mandi! Kamu bau sampah, ih!” seru Erta membuat Abay melotot kaget mendengar itu. Untung Abay sayang, kalau enggak, udah distreples tuh mulut.

Abay mengelus dada lalu berlalu ke kamarnya. Saat ia berhadapan dengan mamihnya Abay langsung memeluk mamihnya erat. Mamihnya pun meronta-ronta dilepaskan karena tidak mau dipeluk oleh Abay yang katanya bau sampah.

***

“Pulang sama gue aja,” Abay langsung berlari kecil ketika melihat Serina sudah siap ingin pulang.

Erta yang ada di situ pun menoleh. “Tuh, Nana pulang sama Abay aja ya? Kan Nono nggak bisa jemput. Nanti kalau kenapa-napa di jalan gimana hayo?”

Serina bimbang. Jadi bagaimana ini? Apa ia harus pulang bersama Abay? Atau...

“Ah, nggak usah kebanyakan mikir. Yuk sama gue,” pun, Abay langsung menarik Serina dan berpamitan pada Erta.

Serina yang merasa tangannya digenggam oleh Abay tidak bisa menolak. Seketika rasa itu kembali hadir. Rasa yang sudah menghancurkan dirinya sendiri.

“Lo udah ijin kan?” tanya Abay seraya menyalakan radio.

Serina mengangguk.

“Ya udah, boleh kan kalau waktu lo gue pinjem selama?” tanyanya lagi.

Serina kini menoleh. “Selama apaan?”

“Ya, karena nggak sebentar. Jadi selama. Tapi bukan berarti selama-lamanya juga,” jawabnya polos.

Serina hanya tersenyum miring. Abay dan kerecehannya mulai menjadi. “Emangnya mau ke mana?”

“Sky Coffee, Cafe,” Abay pun membelokan mobilnya menuju kafe itu. Kafe yang dulu ia sering kunjungi bersama orang di sampingnya.

Dan Serina yakin Abay ingin membicarakan masa lalu itu. Lihat saja nanti.

***

Seperti biasa dan masih sama, keduanya memesan kopi yang dicampur dengan vanilla latte. Menu yang membuat keduanya merasa cocok saat berada di pertemuan pertama kala itu.

“Jadi, apa yang mau lo omongin tentang “kita” yang dulu?” ucap Serina pada intinya seraya mengutip kata “kita”.

Abay menurunkan gelasnya. “Jadi lo tahu maksud gue bawa lo ke sini?” tanyanya menatap Serina intens.

“Karena otak gue di kepala. Bukan di dengkul.” Balasnya membuat Abay meringis.

Mulutnya itu, harus disiram air panas sepertinya.

“Gue mau berdamai sama lo.”

Serina hampir tersedak saat Abay mengucapkan kata-kata itu. “Emang kita lagi berperang?”

“Na, bisa nggak sih, lo nggak memperbalikan pertanyaan gue?” Abay seketika geram sendiri dengan tingkah Serina.

“Oke-oke. Bay, kita nggak lagi berperang. Kita juga dalam keadaan baik-baik aja. Lo nggak usah terlalu memperbesarnya.”

“Menjauh dari gue selama beberapa bulan namanya baik-baik aja? Kalau nggak karena tugas Bahasa Indonesia itu, nggak bakal kita ngobrol kayak gini Na. Sadar nggak sih lo?” Abay kembali mengingat beberapa bulan lalu saat Serina mencampakannya.

Serina bungkam. Ia juga sadar. Kalau bukan karena tugas itu, ia mungkin tidak akan pernah mengobrol lagi bersama Abay. Mungkin untuk waktu yang lebih lama lagi.

“Na, lo itu kesayangannya mamih. Lo tahu? Waktu lo menghilang gitu aja mamih selalu nanya-nanya gue. Dan gue selalu jawab asal kalau lo sibuk ini itulah, jadi nggak sempat untuk main. Dan selama beberapa hari mamih murung. Dan itu bikin gue merasa gagal jadi seorang anak. Dan saat lo main ke rumah gue tempo hari, mamih benar-benar bahagia. Dan gue senang..” Abay menghela napas. “Gue mohon Na sama lo. Lupain ucapan orang-orang yang nganggap lo begini begitu ke gue. Gue udah maafin lo, dan gue juga pengin lo maafin gue Na, gue, kangen sama kita yang dulu,” jelas Abay seraya memelankan ucapan terakhirnya.

Walaupun begitu, Serina masih bisa mendengarnya. Serina menatap Abay tepat di manik matanya. Tidak ada kebohongan di sana. Dan harus Serina akui kalau dirinya juga kangen pada Abay. Pada mereka yang dulu.

“Ya udah, kita jalanin semuanya dari awal,” ucap Serina mantap. Ia tersenyum manis pada Abay. 

Abay pun ikut tersenyum. Senyuman yang sudah tak pernah ia lihat lagi akhirnya kini muncul. Astaga, jangan baper lagi Bay.

“Lo emang nggak pernah tergantikan jadi kesayangannya mamih,” ucap Abay nyengir lebar.

Serina hanya terkekeh merasa malu. Namun detik berikutnya, Abay berhasil membuat pipi Serina merah padam.

“Lo juga nggak tergantikan jadi kesayangan gue,”

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
To Be Feminine
37      32     0     
Romance
Seorang gadis adalah sosok yang diciptakan Tuhan dengan segala kelembutan dan keanggunannya. Tapi... Apa jadinya kalau ada seorang gadis yang berbeda dari gadis biasanya? Gadis tangguh yang bisa melukai siapa saja. Lee Seha bukan seorang gadis biasa. Sekali mengangkat tangan seseorang akan terluka. Dan orang itu adalah sahabatnya. Sebuah janji terjalin dan menuntunnya pada perubahan baru da...
Daniel : A Ruineed Soul
15      15     0     
Romance
Ini kisah tentang Alsha Maura si gadis tomboy dan Daniel Azkara Vernanda si Raja ceroboh yang manja. Tapi ini bukan kisah biasa. Ini kisah Daniel dengan rasa frustrasinya terhadap hidup, tentang rasa bersalahnya pada sang sahabat juga 'dia' yang pernah hadir di hidupnya, tentang perasaannya yang terpendam, tentang ketakutannya untuk mencintai. Hingga Alsha si gadis tomboy yang selalu dibuat...
Sekretaris Kelas VS Atlet Basket
438      247     0     
Humor
Amira dan Gilang yang menyandang peran werewolf dan vampir di kelas 11 IPA 5 adalah ikon yang dibangga-banggakan kelasnya. Kelas yang murid-muridnya tidak jauh dari kata songong. Tidak, mereka tidak bodoh. Tetapi kreatif dengan cara mereka sendiri. Amira, Sekretaris kelas yang sering sibuk itu ternyata bodoh dalam urusan olahraga. Demi mendapatkan nilai B, ia rela melakukan apa saja. Dan entah...
Sebuah Musim Panas di Istanbul
9      9     0     
Romance
Meski tak ingin dan tak pernah mau, Rin harus berangkat ke Istanbul. Demi bertemu Reo dan menjemputnya pulang. Tapi, siapa sangka gadis itu harus berakhir dengan tinggal di sana dan diperistri oleh seorang pria pewaris kerajaan bisnis di Turki?
I FEEL YOU AS A HOME
183      133     0     
Romance
Ini seriusan, lho. Bagi Lentera Kamasean, dikejar-kejar cowok sekece Al Virzha Diemen Salim bukanlah berkah, melainkan musibah. Karena, sejak kehadiran cowok itu, hidupnya yang setenang langit malam di tengah samudra mendadak kacau kayak kota yang baru disapu puting beliung. Kesal, sebal, benci, marah, dan muak, semua itu Lentera rasakan serta lalui seorang diri sampai pahlawannya datang. Lalu ...
Me vs Idol
12      12     0     
Romance
Kama Labda
14      14     0     
Romance
Kirana tak pernah menyangka bahwa ia bisa berada di jaman dimana Majapahit masih menguasai Nusantara. Semua berawal saat gadis gothic di bsekolahnya yang mengatakan bahwa ia akan bertemu dengan seseorang dari masa lalu. Dan entah bagaimana, semua ramalan yang dikatakannya menjadi kenyataan! Kirana dipertemukan dengan seseorang yang mengaku bahwa dirinya adalah raja. Akankah Kirana kemba...
injured
70      44     0     
Fan Fiction
mungkin banyak sebagian orang memilih melupakan masa lalu. meninggalkannya tergeletak bersama dengan kenangan lainya. namun, bagaimana jika kenangan tak mau beranjak pergi? selalu membayang-bayangi, memberi pengaruh untuk kedepannya. mungkin inilah yang terjadi pada gadis belia bernama keira.
Persinggahan Hati
71      46     0     
Romance
Pesan dibalik artikel Azkia, membuatnya bertanya - tanya. Pasalnya, pesan tersebut dibuat oleh pelaku yang telah merusak mading sekolahnya, sekaligus orang yang akan mengkhitbahnya kelak setelah ia lulus sekolah. Siapakah orang tersebut ? Dan mengakhiri CInta Diamnya pada Rifqi ?
Kamu&Dia
13      13     0     
Short Story
Ku kira judul kisahnya adalah aku dan kamu, tapi nyatanya adalah kamu dan dia.