Read More >>"> Kisah Tak Berbingkai (Pengeluh Andal) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Kisah Tak Berbingkai
MENU
About Us  

Pengeluh Andal

Juni Sari

Sebuah ujian tidak hanya tentang ujian, melainkan mengandung hadiah besar. Lebih tepatnya, Cobaan adalah sebuah kotak kado yang tak mampu kita buka akibat kegelapan mata hati dan kurangnya kebijaksanaan.” – Juni Sari

***

“Saya mau mati saja!” Pekikku segera dengan air mata yang berderai deras saat menyambar kursi di hadapan dokter Leo, psikiater langgananku. Aku untuk yang kesekian kalinya menyampaikan niatan haram itu kepada seseorang yang mungkin sudah bosan mendengarnya.

“Kamu tenang dulu, ayo sini … kita bicara. Ceritakanlah, ada apa?” Balas dokter Leo dengan suara lembut nan menghibur. Dan lagi, perkataan itu terluncurkan dari bibirnya. Kini kami sama-sama bosan mendengar pernyataan masing-masing. Ia bosan denganku yang sering kali penasaran dengan maut, dan aku pun bosan dengannya yang bersusah payah membantuku bertahan. Anehnya, kenapa aku masih saja datang ke tempat ini? Aku tengah terjebak dalam kebingunggan; hidup segan mati tak mau.

“Aku sangat kecewa, terluka, dan capek dengan semua ini!” Curhatku.

Lagi dan lagi, aku menggunakan kata-kata kelam sebagai awalan percakapan - baik di antara aku dengan Dokter Leo, juga dengan Tuhan. Apapun masalah yang kuhadapi, pembukaan dan penutupan kesahku adalah, “Aku lelah, semuanya sangat berantakan, aku sudah tidak sanggup lagi.”

***

Pagi selalu cerah bukan? Ya … hari ini pun sama. Cuaca yang baik untuk bertanya mengapa aku masih hidup … hidup bersama dengan semua kegetiran ini. Apalagi harus menghadapi orang-orang dengan omong kosongnya itu. Melelahkan sekali.

“Pagi Taeryn,” sapa Vanessa dari telepon. Vanessa adalah editor yang akan bekerja sama denganku untuk buku terbaru. Tanpa kusadari, deadline naskah sudah dekat. Tetapi aku tiba-tiba saja tidak mood menyelesaikannya.

“Pagi juga,” balasku.

“Bagaimana kabarnya? Naskah sudah sampai mana?” tanyanya lagi.

“Baik,” bibirku berkata.

Tidak,” hatiku berkata.

“Naskah yang aku janjikan kemarin sebentar ya. Ini sisa 30 halaman lagi kok. Akhir-akhir ini aku lagi stres banget, susah mau ngelanjutin soal percintaan. Hatiku lagi mendung soalnya.” Jelasku.

Oke, jangan sampai lewat deadline ya. Kamu sih, mendung mulu. Dikit-dikit mendung, banyak-banyak berdoa makanya. He…he…he…

“Baik Kak,” jawabku kemudian mematikan telepon.

Sungguh memuakkan rasanya menghadapi kekelaman yang kemudian diberi stigma juga oleh orang-orang yang tidak paham arti sebuah perjuangan; perjuangan untuk tetap bernafas. Seakan-akan apapun di dunia ini akan selesai semata-mata hanya dengan berdoa. Mendekatkan diri kepada Tuhan memang cara yang ampuh, tetapi tentu tidak bisa hanya mengandalkan itu semata.

Mereka di luar sana tidak tahu seberapa keras aku berusaha mempertahankan nyawa yang kian sirna. Bagi mereka, aku adalah tentang cerah, bukan mendung, apa lagi hujan. Padahal aku sudah banyak berperang dengan petir, terseok-seok bahkan tertatih-tatih melewati badai.

“Lagi pula mengapa psikiater itu Tuhan ciptakan jika hanya dengan berdoa saja, sakit mental bisa sembuh. Ada-ada saja!” Kesalku sembari membanting lemari sehabis mengambil jaket, dan bergegas pergi ke luar untuk mencari inspirasi guna merampungkan buku kumpulan puisi terbaruku yang bertemakan romantisme. Sungguh sangat bertolak- belakang dengan realitaku saat ini.

***

Aku terduduk di taman, menoleh ke kiri dan ke kanan. Berusaha menyerap atmosfer bahagia dari sekeliling, agar aku lebih mudah menyelesaikan puisi-puisi indah. Alih-alih berbahagia, aku malah diserang pikiran sendu lagi. Emosiku masih belum surut, aku masih kesal dengan pernyataan Vanessa tadi.

Aku gemar berdialog dalam batin dengan dedaunan kering yang dicampakkan pohon dan terdampar berceceran di tanah yang gersang juga. Mereka tampak serasi di sana. Aku juga berteman dengan sampah-sampah yang berserakan di jalanan. Sebab, kadang kala aku merasa senasib dengan mereka. Sudah terbuang, terinjak pula. Paket lengkap. Belum lagi terkadang harus menghadapi wejangan-wejangan yang semakin meremukkan kejiwaan. Seperti halnya dedaunan kering dan sampah itu, sudah terbuang malah turut diombang-ambing angin juga, terhempas semakin jauh dari kampung halamannya.

Makanya, lain kali berpeganggan eratlah!” kataku bernasehat pada dedaunan kering yang berceceran dekat bangku yang ku duduki.

Bagaimana bisa engkau menahan seseorang yang memang sudah merencanakan untuk mencampakkanmu – serta tega menjodohkanmu dengan kesepian,” jawab daun itu di dalam pikiranku.

Semua itu benar, aku dan apapun di dunia ini tak benar-benar bisa menghentikan apa yang telah dizinkan Tuhan untuk terjadi, termasuk menelan banyak kekecewaan. Aku sadari pula, dedaunan kering itu tidak butuh wejangan apapun. Dia juga sama tidak berdayanya sepertiku. Kami tidak butuh wejangan dari pemikiran siapapun. Sebab, luka mengajari kami lebih baik daripada omong kosong orang-orang yang tak pernah menggores pisau pada nadinya. Kami bukanlah budak-budak yang tumbuh dari petuah buyut kami, melainkan tumbuh dari siraman air mata kami sendiri.

Fiuh ... Bukannya mendapatkan inspirasi, aku malah semakin galau dan termenung seperti orang gila di taman ini. Tanpa basa-basi, aku kembali meneguk obat penenang yang diresepkan oleh dokter Leo, kepiluan dan dahaga pun kularutkan dalam sekali teguk, kemudian bergegas kembali ke rumah.

***

 

Di dalam kamarku yang pengap, aku kembali hilang kendali dan tersesat ke dalam lingkaran gelap pikiranku. Memikirkan alasan mengapa aku terlahirkan di tengah dunia yang kerap meninggalkan aku sendirian bersama duka, seakan-akan tersisihkan jauh sekali dari definisi kebahagiaan, atau paling tidak ... kehidupan yang datar.

Kehidupan datar yang tanpa emosi, baik tawa ataupun tangis. Aku tengah berada di titik tidak ingin merasakan emosi apapun. Tetapi kini masih saja berperang dengan rasa kesepian dan ingin mati. Aku hanya bersama Tuhan dalam upaya menyembuhkan luka akibat orang-orang egois di luar sana. Bahkan psikiater sekalipun, aku perlu merogoh kocek cukup dalam agar ia mau membantuku.

 Aku selalu terbuka kepada siapa saja yang butuh telingaku, tetapi ... tak satupun yang sesiaga aku dalam menenangkan gusar. Aku selalu berusaha menjadi jagoan bagi diriku sendiri, karena katanya hakikat kehidupan memang seperti itu; yaitu berharaplah hanya kepada diri sendiri dan kepada Tuhan. Tetapi, bahkan setelah meminta kepada Tuhan sekalipun, masih butuh kaki sendiri untuk bergerak menjemput lapang.

Setelah 30 menit menitikkan air mata untuk menenangkan jiwa, ponselku berdering keras, padahal aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun. Aku mengintip sedikit layar ponselku untuk memastikan panggilan itu penting atau tidak, dan ternyata kakaku yang menelepon. Aku pun menyambar tombol hijau.

“Halo kak ....”

“Taeryn! Ibu masuk rumah sakit. Kamu segera ke sini ya.”

“....” Aku membeku karena syok.

***

Tibalah aku di tempat yang berambu pekat obat dan karbol. Selang putih bergelantungan dimana-mana. Wajah pucat pasi terpampang jelas dari tiap kamar dengan pintu yang terbuka lebar. Suasana hening membuat kakiku gemetaran. Aku duduk di ruang tunggu bersama kakak dalam rangka menanti kabar dari dokter. Setelah pemeriksaan panjang, dokter pun keluar dari UGD.

“Dengan keluarga Ibu Valani?” tanya dokter.

“Benar. Saya anaknya,” jawabku.

“Saat ini kondisi Ibu anda sangat lemah, saya sarankan untuk opname. Kita akan ambil darahnya malam ini untuk cek di labolatorium besok pagi, agar bisa mendapatkan diagnosa yang tepat.” Jelas dokter.

“Baik dok ... saya akan mengikuti semua prosedur yang terbaik untuk Ibu saya.”

Setelah pemeriksaan panjang itu, ibuku pun di pindahkan ke kamar inap untuk mendapatkan perawatan. Aku pun duduk di samping ranjang Ibu sembari memegang erat tangannya. Air mataku jatuh tepat di atas tangan Ibu, aku merasa seakan duniaku runtuh.

Aku kembali menyebut Tuhan di dalam hati, berharap agar Tuhan dapat dengan segera memulihkan Ibu. Tiba-tiba saja penyesalan menusukku dengan tajam. Sebab, detik ini Tuhan mengajariku seberapa pentingnya sebuah nyawa lewat Ibu yang kini terkapar lesu. Tuhan sedang menegurku lewat Ibu, sebab aku sering kali menganggap remeh sebuah kesehatan dan nyawa yang kini masih ia percayakan kepadaku.

Aku kembali teringat pada hati-hari dimana aku bisa mengeluh dan berdoa tentang banyak hal kepada Tuhan. Tetapi kini, aku hanya bisa meminta satu hal saja kepada-Nya yaitu kesembuhan Ibu. Telah banyak anugerah Tuhan yang ku dustakan sehingga hanya dengan teguran keraslah mataku baru bisa melihat betapa benderanganya lorong kehidupan - yang selama ini tampak remang oleh mata hatiku.

***

Pukul 09:00, aku masih tertidur pulas yang kemudian di bangunkan oleh bisingnya dering ponselku.

“Wahai pengeluh andal, bangunlah. Temani Ibu ke pasar!” Pinta Ibu.

“Apaan sih, Bu. Berlebihan! aku hari ini mau ke praktek dokter Leo.”

Lo? ngapain? bukannya kamu sudah pensiun dari dunia perbunuh-dirian?”

“Ya memang. Ini makanya aku mau ke sana untuk mengurus penghentian paket langganan.  Hahaha.

Tags: cerpen

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
LUCID DREAM
4      4     0     
Short Story
aku bertemu dengan orang yang misterius selalu hadir di mimpi walapun aku tidak kenal dengannya. aku berharap aku bisa kenal dia dan dia akan menjadi prioritas utama bagi hidupku.
Lilian,Gelasmu Terisi Setengah
5      5     0     
Short Story
\"Aku bahkan tidak dikenali oleh beberapa guru. Sekolah ini tidak lain adalah tempat mereka bersinar dan aku adalah bagian dari figuran. Sesuatu yang tidak terlihat\"
Milikku
6      6     0     
Short Story
Menceritakannya mudah, Kamu mengkhianati, aku tersakiti, kamu menyesal dan ingin kembali. Mudah, tapi tidak dengan perasaan setiap kali kau ada. Hati ini bimbang, dan sulit bagiku untuk menahannya agar tidak tumbang. ~ *'Soy' dalam bahasa Spanyol memiliki arti yang sama dengan kata 'My'.
Woozi's Hoshi
171      81     0     
Fan Fiction
Ji Hoon dan Soonyoung selalu bersama sejak di bangku Sekolah Dasar, dan Ji Hoon tidak pernah menyangka bahwa suatu hari Soonyoung akan pergi meninggalkannya...
TERSESAT
411      328     6     
Short Story
Cerpen Romantis penuh kejutan
ATHALEA
21      12     0     
Romance
Ini cerita tentang bagaimana Tuhan masih menyayangiku. Tentang pertahanan hidupku yang akan kubagikan denganmu. Tepatnya, tentang masa laluku.
Sending My Love To Heaven
5      5     0     
Short Story
Untukmu, lelaki yang pernah membuat hidupku berwarna. Walau hanya sementara.
Kamu
7      7     0     
Short Story
Untuk kalian semua yang mempunyai seorang kamu.
Secarik Puisi, Gadis Senja dan Arti Cinta
4      4     0     
Short Story
Sebuah kisah yang bermula dari suatu senja hingga menumbuhkan sebuah romansa. Seta dan Shabrina
Oscar
5      5     0     
Short Story
Oscar. Si kucing orange, yang diduga sebagai kucing jadi-jadian, akan membuat seorang pasien meninggal dunia saat didekatinya. Apakah benar Oscar sedang mencari tumbal selanjutnya?