KISAH PANJANG SEPASANG KAKAK BERADIK
Satu lampu kuning mereka sebar dua, yang bolanya tak terbelah tetapi cahayanya meluas menyelimuti mata, mereka berhimpitan tapi tak hampa, dalam hening kakak belajar fisika lalu adik belajar sastra.
Kala itu ibu mereka tersayat banyak luka, yang membuat kepala mereka terantuk palang kasta, pula dunia senantiasa memeras kantong mereka, adalah dusta jika mereka tak iri pada Si Sendok Emas, sebab mereka adalah Si Sendok Daun.
Darah mereka sama tetapi menjalar lewat hayat yang berbeda, Kakak menyisir naik rambutnya, sedangkan Adik menyisir turun rambutnya, dalam dogeng petang mereka: Kakak adalah Prabu cerdas yang dermawan, kemudian Adik adalah Permasuri menawan yang bermaslahat.
Nanti... tiga puluh tahun lagi, rambut mereka akan memutih sebab mencintai, kulit mereka akan menyusut sebab menekuni, hingga syair ini menyusup dalam rak buku cucu mereka, yang kemudian mereka dekap sembari meneguk remedi.
Medan, 18 Juli 2019