HARI ITU
Hari itu dia sangat ingin mati:
Dicarinya danau untuk menenggelamkan,
Dicarinya obat untuk melelapkan,
Dicarinya belati untuk menikam,
Dicarinya tambang untuk mencekik.
Ia hanya ingin mati!
Benar-benar mati ...
Sampai tak bisa lagi
mengucapkan kata mati dan
memikirkan tentang mati
Hari itu ia menyalahkan Tuhan:
Dia pun bertanya, “apa salahku?”
Sebab ia memang tak bersalah kepada kehidupan
Dia adalah mahluk yang murni korban keegoisan
Terlahir pun ia disalahkan,
padahal dia lebih senang menjadi darah berceceran
Dia hampir buta karena menangis seharian
Dia telah lelah berbasah-basahan dengan kemalangan
Geruh ...
Ia merasa menanggung segala kesialan;
Seakan-akan segala dosa manusia
membuat hidup kejam padanya;
Seakan-akan dosa buyutnya
ditanggung oleh hatinya.
Pula yang melukainya
tidur dengan liur kepuasan
Hari itu dia merintih sendirian:
Duduk di kursi cokelat dengan tiang tajam
Baginya ...
Mematikan lampu,
Duduk di pojokan,
Menangis sendirian,
Adalah berkah kehidupan.
Dia mencari-cari dongeng orang
Dia mencari ke mana saja yang bisa dia temukan
Cerita orang lain
Yang tampaknya:
Membuat dia bukanlah yang paling jatuh
Membuat dia terlihat sebagai seorang pengeluh handal
Membuat dia mencaci dirinya lemah.
Namun sayang ... tak dia temukan
kisah yang lebih kelam lagi
daripada kisah “Hari Itu”
Medan, 09 Agustus 2019