Read More >>"> Foxelia ( Chapter 1) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Foxelia
MENU
About Us  

Gadis itu berlumuran darah. Tubuhnya babak belur, dan hanya dibalut kaus yang kotor. Langkahnya tertatih-tatih seraya menahan lengan kanannya yang remuk. Surai pirangnya tertiup angin seiring ia berjalan menyeret sebelah kakinya. Tidak seorang pun mencoba menolong. Di kegelapan malam, sang gadis menahan rintihan. Rasa sakit seolah menusuk setiap indranya. Namun ia tetap tegar melewati hari. 

"Alexa," panggil seorang lelaki dari belakang gadis yang dipanggil Alexa itu. 

Alexa menoleh, dan mendapati sosok lelaki berjas hitam diiringi para anteknya. "Apa maumu?" tanya nya sebelum melihat lelaki di hadapannya menodongkan pistol hitam. Gadis itu tidak berusaha melarikan diri. Ia setia menunggu lawannya datang. Mereka berdua kini bertukar pandang. "Menyerahlah!" Alexa berlari mendekat, dan mengerahkan tenaga terakhirnya untuk menyerang. Suara tendangan round kicknya bahkan terdengar nyaring seolah sudah meremukkan sesuatu yang keras. Mematikan, dan tepat sasaran. 

"Kau... bukan tandinganku," ucap Alexa menekankan kata terakhirnya.

"CUT!" teriak seseorang saat Alexa selesai mengucapkan dialog terakhir. "Astaga! Kau memang stuntman terbaik yang kita miliki!" Sontak semua orang bertepuk tangan, mengisi suasana serius sebelumnya dengan riuh. "Tidak mengherankan mengapa bayaranmu sangat mahal." Orang itu adalah sutradara Snory, orang yang bertanggung jawab atas pengarahan film. Walau Snory sedikit ceroboh, juga aneh. Lihat, Snory mengenakan jaket berbulu di dalam studio yang panas. Semua kru pun ikut gelisah melihat segala kelakuan sutradara mereka. Namun kepintaran Snory tidak perlu diragukan. Kemampuan kepimpinannya juga hebat. 

Saat para kru memindahkan kamera, seorang wanita berkacamata bulat menghampiri mereka dengan beberapa alat makeup di tangan. Brush, sponge, blush, berbagai macam barang yang asing di mata para pemeran. Mereka cenderung sibuk melatih akting, juga mengecek peralatan yang akan digunakan di skenario. Setting, kostum, properti bukanlah bidang kemampuan mereka, dan yang paling utama adalah gadis pirang yang memerankan karakter bernama Alexa itu. Ia stuntman utama di film bertema aksi. Terluka di tengah aktinya bukanlah hal yang perlu diperhatikan. Pekerjaannya sebagai pemeran pengganti memang terkadang menantang maut. Wanita berkacamata itu berjalan mendekati mereka, sibuk menata penampilan setiap aktor sebaik mungkin supaya cocok dengan deskripsi karakter di skenario.

"Red!" Itulah nama aktor pemeran Alexa. Red Foxelia. 

Gadis yang merasa dipanggil sang artist makeup kemudian menoleh. "Oh maaf, maaf," ucapnya baru menyadari ia terlalu banyak bergerak sehingga makeupnya sedikit berantakan. Selama riasan wajahnya dihapus, Red melepas wig pirangnya penuh kesal. Ia benci sekali mengenakan properti yang serba rumit. Apa daya pekerjaan memaksanya begini. Red sejenak terdiam, membiarkan wanita di hadapannya menghapus pernak-pernik yang terlukis di wajah mungilnya. Seharusnya masih ada sekitar lima adegan lain. Namun kru lain harus mengurus tampilan film. Apalagi sutradara Snory yang tidak kunjung berhenti ke sana kemari disibukkan pekerjaan. 

"Nah sudah. Sekarang lihat kemari." 

Red menoleh sesuai perintah wanita berkacamata itu. Tidak ada lagi lipstick merah, atau hiasan tambahan. Melihat dirinya di pantulan cermin, Red langsung menghembuskan napas berat. Sepertinya ia perlu menjaga dirinya baik-baik. Tanpa bedak, kini lingkar hitam di bawah matanya nampak jelas sedangkan obat untuk kondisinya yang bagaikan mayat hidup adalah tidur. Red berdiri, mengambil tas ransel miliknya, lalu berjalan keluar dari studio. 

"Aku pulang dulu!" teriaknya yang dibalas anggukan para kru. 

Red melangkah ke parkiran. Ia mengenakan helm, dan tidak lama kemudian, ia menancap gas motor besar yang sepertinya terlalu berat untuk tubuh selemahnya. Iris mata merahnya memicing memperhatikan jalan raya. Ia melesat melalui keramaian mobil menuju rumah tercinta. Tidak butuh waktu lama sampai Red berhenti di depan sebuah gedung bertingkat bercat abu-abu. Jarak antara studio ke rumah memang tidak terlalu jauh. Ia mematikan motornya begitu sudah membawanya ke parkiran di samping pintu masuk. 

Banyak orang, dari anak kecil hingga nenek tua menyapa Red yang pulang bekerja. Seluruh tetangga sangat senang melihat Red. Khususnya setiap lelaki remaja yang selalu dibuat kagum oleh paras cantik Red. Rambut merah bergelombangnya yang bersinar di bawah terik matahari semakin memukau. Red sendiri gemar bermain bersama anak-anak di sebelah rumahnya. Ia suka menemani mereka di hari Sabtu. Itulah mengapa Red sangat terkenal di kalangan tetangganya. 

Gadis itu menaiki lift yang mengantarnya ke lantai lima. Setelah keluar, ia bergegas berbelok, dan langsung menemukan pintu kayu. Itulah rumahnya. Di antara ruangan apartemen lainnya. Red memang menyebut apartemennya sebagai rumah. Sedari dulu ia hidup sesederhana mungkin, tidak seperti aktor yang melemparkan uang hasil kerja keras untuk berfoya-foya. Apartemennya bukanlah villa mewah. Namun ia cukup puas. Sang gadis bersurai merah melangkah maju, dan kaki jenjangnya menginjak lantai keramik berwarna putih. Ia melompat ke sofa empuk yang menunggunya dipeluk. Sungguh, beristirahat seperti ini saja sudah membuat Red kembali bernyawa. 

Apartemen Red tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Ukuran tepat bagi gadis yang hidup seorang diri. Hanya ada ruang tamu dilengkapi sofa, televisi kecil yang di sebelahnya adalah ruang tidur beserta kamar mandi. Sepulang kerja Red tidak sanggup bergerak lebih banyak, jadi ia langsung terlelap. Hal biasa yang dilakukannya setiap hari. 

Red menutup mata, membiarkan mimpi mengalir di imajinasi bawah sadarnya. Namun sebelum ia terseret arus itu, terdengar suara ketukan pintu. Red mau tidak mau bangun. "Siapa?" tanya nya heran. 

"Ini aku, Floyd Wade!" Suara khas menarik perhatian. Red pun terlebih dahulu mencuci mukanya supaya nampak lebih segar. Ia kemudian membuka pintu apartemen diiringi senyuman ceria. 

Red memiringkan kepala. "Tetangga sebelah, ya," batinnya sebelum bertanya, "Ada apa?" 

"Oh, tidak. Aku ingin tahu apakah kau besok bisa menjemput anakku pulang sekolah?" Floyd sedikit ragu meminta bantuan Red. Bukan karena Red tidak berpengalaman menjaga anak kecil. Namun wanita berkepang itu tidak ingin merepotkan Red, wanita pekerja yang sepertinya akan menghabiskan waktu di studio seharian.

Red menyipitkan mata, menyelidik raut Floyd. "Baiklah!" balas sang gadis seraya mengacungkan jempol kegirangan setelah bertukar pandang dengan Floyd beberapa kali. "Aku akan meminta izin pada sutradaraku." 

Floyd membungkuk hormat, menandakan rasa terima kasih. "Kau satu-satunya yang bisa kupercaya. Terima kasih banyak!" Floyd mengeluarkan ponsel, lalu menunjuk ke lelaki bertubuh mungil di layar. "Ini anakku. Namanya Max Wade!" 

Red mengangguk-angguk, berusaha menahan amarah saat risih melihat wajah Max yang sedikit menyebalkan. Terlihat jelas Max tidak suka difoto Ibunya, dan Red merasa Max bukanlah tipikal anak kecil pada umumnya. Bukan lelaki yang suka bermain sepeda, atau mungkin belajar sesuai perintah kedua orangtuanya. Max mengenakan kemeja biru muda berdasi navy di foto itu. Tanpa senyuman, menyisakan cemberut di wajah Max. 

"Ini pertama kalinya..." ujar Red asal.

Floyd tertawa canggung. "Ya, aku tidak pernah mengenalkan Max padamu. Kau pasti kaget, ya!"

Red kemudian melirik ke arah Floyd. Padahal wanita yang asyik membicarakan anaknya itu sangat sopan. Berambut panjang, mengenakan gaun, sedikit pemalu, terdengar seperti Ibu penyayang. Jika Red bisa berganti posisi, ia mau menjadi anak Floyd. Diberi makanan rumahan bukanlah sesuatu yang remeh. Ia merasa seharusnya Max bersyukur memiliki Ibu sebaik Floyd. 

Floyd mendongak ke Red yang lebih tinggi darinya. "Bagaimana? Max imut, bukan?" Floyd menunjukkan tawa termanisnya sehingga Red terpaksa menyetujui apa kata Floyd. 

"Baiklah, kalau begitu tolong jemput dia." Floyd memberinya memo berisi alamat dimana Max bersekolah. "Sekali lagi, terima kasih banyak!" Floyd pergi berlari menuju apartemennya, meninggalkan Red yang masih berdiri di depan pintu. Gaun Floyd berayun ke kanan-kiri seiring tertiup angin dingin. Benar-benar wanita yang bertolak belakang dengan Red. 

Red kembali masuk. Tangannya meraih sebuah ponsel lipat. Ia menekan beberapa tombol nomor, lalu mengangkatnya ke telinga kanan Red. "Halo. Maaf menganggu. Uhm... besok bolehkah aku pulang lebih awal?" Ia menelpon sutradara Snory, berharap mendapat belas kasihan. Red tidak terlalu enak hati karena ia tahu aktor yang benar-benar penting di skenario adalah dirinya sendiri. Tidak ada aktor yang mampu menyaingi Red. Aksi Red dalam memerankan Alexa benar-benar mengundang perhatian penonton sehingga Snory memaksa Red terus mengganti aktor utama. 

"Alasannya?" tanya Snory di balik ponsel.

"Uhm..." Red tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan Snory. Rasanya bodoh jika ia blak-blakan bahwa harus menjemput Max pulang sekolah. Padahal itulah kenyataannya.

Terdengar helaan napas berat. "Baiklah. Sehari saja, oke?" usul Snory singkat. Entah apakah Red tengah memiliki masalah keluarga, perlu istirahat, ingin liburan, apapun itu Snory tidak tahu alasan sebenarnya. Namun Snory akan memberikan izin sehari. Cukup sehari. Tidak boleh lebih dari itu. "Kalau kau bolos lain kali, pasti kau tahu konsekuensinya, kan?" tanya Snory ketus membuat Red bergidik ngeri. Ia tidak ingin mengalami kejadian yang sama lagi. Dulu ia pernah bolos, dan akibatnya, Snory datang menyeret Red dari apartemen ke studio. Mengerikan. 

"A, aku mengerti." Red mematikan ponsel.

Seharusnya menjemput Max bukanlah hal yang berat. Namun tidak ada yang menyangka satu keputusan akan mengubah kehidupan Red untuk selamanya. Max menjadi sandera sekelompok perampok. 

How do you feel about this chapter?

0 0 3 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
My Brother Falling in Love
975      530     0     
Fan Fiction
Pernah terlintas berjuang untuk pura-pura tidak mengenal orang yang kita suka? Drama. Sis Kae berani ambil peran demi menyenangkan orang yang disukainya. Menjadi pihak yang selalu mengalah dalam diam dan tak berani mengungkapkan. Gadis yang selalu ceria mendadak merubah banyak warna dihidupnya setelah pindah ke Seoul dan bertemu kembali dengan Xiumin, penuh dengan kasus teror disekolah dan te...
SIREN [ RE ]
13      13     0     
Short Story
nyanyian nya mampu meluluhkan hati. namanya dan suara merdunya mengingatkanku pada salah satu makhluk mitologi.
The Presidents Savior
250      138     0     
Action
Semua remaja berbahaya! Namun bahaya yang sering mereka hadapi berputar di masalah membuat onar di sekolah, masuk perkumpulan tidak jelas yang sok keren atau berkelahi dengan sesama remaja lainnya demi merebutkan cinta monyet. Bahaya yang Diana hadapi tentu berbeda karena ia bukan sembarang remaja. Karena ia adalah putri tunggal presiden dan Diana akan menjaga nama baik ayahnya, meskipun seten...
Dissolve
14      14     0     
Romance
Could you tell me what am I to you?
The Eye
9      9     0     
Action
Hidup sebagai anak yang mempunyai kemampuan khusus yang kata orang namanya indigo tentu ada suka dan dukanya. Sukanya adalah aku jadi bisa berhati-hati dalam bertindak dan dapat melihat apakah orang ini baik atau jahat dan dukanya adalah aku dapat melihat masa depan dan masa lalu orang tersebut bahkan aku dapat melihat kematian seseorang. Bahkan saat memilih calon suamipun itu sangat membantu. Ak...
IMAGINATIVE GIRL
125      90     0     
Romance
Rose Sri Ningsih, perempuan keturunan Indonesia Jerman ini merupakan perempuan yang memiliki kebiasaan ber-imajinasi setiap saat. Ia selalu ber-imajinasi jika ia akan menikahi seorang pangeran tampan yang selalu ada di imajinasinya itu. Tapi apa mungkin ia akan menikah dengan pangeran imajinasinya itu? Atau dia akan menemukan pangeran di kehidupan nyatanya?
Man in a Green Hoodie
160      90     0     
Romance
Kirana, seorang gadis SMA yang supel dan ceria, telah memiliki jalan hidup yang terencana dengan matang, bahkan dari sejak ia baru dilahirkan ke dunia. Siapa yang menyangka, pertemuan singkat dan tak terduga dirinya dengan Dirga di taman sebuah rumah sakit, membuat dirinya berani untuk melangkah dan memilih jalan yang baru. Sanggupkah Kirana bertahan dengan pilihannya? Atau menyerah dan kem...
Daniel : A Ruineed Soul
15      15     0     
Romance
Ini kisah tentang Alsha Maura si gadis tomboy dan Daniel Azkara Vernanda si Raja ceroboh yang manja. Tapi ini bukan kisah biasa. Ini kisah Daniel dengan rasa frustrasinya terhadap hidup, tentang rasa bersalahnya pada sang sahabat juga 'dia' yang pernah hadir di hidupnya, tentang perasaannya yang terpendam, tentang ketakutannya untuk mencintai. Hingga Alsha si gadis tomboy yang selalu dibuat...
Rinai dan Sudut Lampu Kota
18      17     0     
Short Story
Teruntuk mereka, kaki-kaki kecil yang berjalan di persimpangan lampu merah, juga petikan gitar usang pencari nafkah. Terimakasih pada kalian yang tidak terlahir manja, pada kalian yang rela tersita masa kecilnya. Pada kalian yang sanggup bertahan hidup meski dilema, apakah hari ini bisa makan? apakah esok bisa makan? Belajar pada mereka, bocah-bocah lampu merah, yang bahkan diuji apapun dan tid...
Deepest
32      29     0     
Romance
Jika Ririn adalah orang yang santai di kelasnya, maka Ravin adalah sebaliknya. Ririn hanya mengikuti eskul jurnalistik sedangkan Ravin adalah kapten futsal. Ravin dan Ririn bertemu disaat yang tak terduga. Dimana pertemuan pertama itu Ravin mengetahui sesuatu yang membuat hatinya meringis.